NovelToon NovelToon
THE DEVIL'S WIFE

THE DEVIL'S WIFE

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anonymous MC

Sebelum kau membaca kisah ini, kau harus tahu satu hal:

Aku bisa melihat bagaimana kau akan mati.

Bukan dengan bola kristal. Bukan dengan ritual aneh. Cukup dengan menyentuhmu. Satu sentuhan, dan mataku akan dipenuhi gambar—kau di ujung napas terakhir, dengan cara yang mungkin tidak pernah kau bayangkan.

Kakek bilang ini kutukan. Aku bilang ini hadiah.

Karena dengan hadiah ini, aku tahu siapa yang harus aku hindari.

Tapi malam itu, saat pertama kali menyentuh Damian Adhiratria, aku tidak melihat kematiannya.

Aku melihat kematianku sendiri.

Dan aku tersenyum.

Karena akhirnya, setelah 24 tahun, aku tahu kapan aku akan mati.

Tepat 6 bulan setelah menikahi iblis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: RANIA MENDEKAT, TAWARKAN BANTUAN. ALEA CURIGA...

Pukul 03.17 pagi. Alea menunggu.

Jam dinding antik di kamarnya berdetak lambat, setiap tik-tok seperti palu kecil yang memukul ubun-ubun. Alea duduk di tepi ranjang, punggung tegak, kedua tangan di pangkuan. Ia sudah melepas jam tangan sejak pukul sembilan—karena logamnya terlalu dingin—dan mengganti piyama sutra pemberian mereka dengan kaos longgar miliknya sendiri. Satu-satunya barang yang ia bawa dari rumah.

Tapi Damian Kecil tidak datang.

Biasanya, tepat pukul tiga, suara ketukan pelan akan terdengar dari balik dinding. Tiga kali. Pendek. Seperti kode. Lalu pintu lorong rahasia di balik lemari akan terbuka sedikit—cukup untuk sesosok kecil menyelinap masuk.

Malam ini sunyi.

Alea mengecek ponsel. Tidak ada sinyal. Sudah tiga hari ia di sini, dan belum sekali pun ponselnya menangkap jaringan. Kamar ini seperti sangkar Faraday—nyaman, mewah, tapi terisolasi total dari dunia luar.

Atau mungkin ia hanya tidak mau datang?

Pikiran itu mengganggu. Alea menarik napas, mencoba tenang. Ia psikiater. Ia tahu bahwa kepribadian ganda tidak bisa "milih-milih" waktu muncul. Tapi Damian Kecil berbeda. Ia seperti punya kesadaran sendiri. Kemauan sendiri.

Atau jangan-jangan Damian dewasa yang melarangnya?

Detak jam berubah. Tik-tok. Tik-tok.

Alea memejam. Membayangkan visi itu lagi—Damian mati ditikam. Wajahnya tenang. Bahkan tersenyum. Dan wanita penusuk itu... Alea membuka mata.

Tidak. Itu tidak akan terjadi.

---

"Selamat pagi, Nona Alea."

Suara itu datang dari balik pintu, lembut dan ramah. Alea menoleh. Piring berisi sarapan sudah tergeletak di meja dekat pintu—entah kapan diletakkan. Setiap pagi seperti ini. Makanan datang tanpa suara, piring kotor diambil tanpa jejak. Para pelayan di mansion ini seperti hantu: tak terlihat, tak terdengar, tapi selalu ada.

Tapi pagi ini berbeda.

Rania berdiri di ambang pintu. Tersenyum. Membawa nampan sendiri dengan dua cangkir kopi.

"Boleh saya masuk?"

Alea mengamati wanita itu. Rambut hitam lurus sebahu, blazer krem, rok pensil, sepatu hak lima senti—terlalu rapi untuk jam tujuh pagi di rumah sendiri. Wajahnya manis, dengan lesung pipi yang muncul saat tersenyum. Tapi mata Rania... Mata itu tidak ikut tersenyum.

"Pintu tidak terkunci," jawab Alea datar.

Rania masuk, meletakkan nampan di meja rias. Kopi hitam untuk Alea—tanpa gula, tanpa krim. Seperti yang Alea pesan kemarin. Rania mengingatnya.

"Aku minta maaf kalau mengganggu," Rania duduk di kursi dekat jendela, menyilangkan kaki. "Tapi kupikir kita perlu bicara."

Alea meraih cangkir kopi. Hangat. Wangi. Tapi ia tidak minum.

"Tuan Damian sedang rapat dengan pengacara sejak subuh," Rania melanjutkan. "Jadi kita punya waktu."

"Kita?"

Rania tersenyum lagi. Lesung pipi muncul. "Kau dan aku. Wanita di rumah ini."

Alea menatap Rania lekat. Wanita ini—sekretaris pribadi, kata Damian. Tapi di mata Alea, Rania lebih dari itu. Cara Rania berjalan, cara ia bicara, cara ia memandang Damian—semuanya seperti pemilik, bukan karyawan.

"Kau mau apa?" Alea langsung ke inti.

Rania tertawa kecil. "Langsung. Aku suka." Ia menyesap kopinya. "Aku mau membantu."

"Membantu apa?"

"Kau tahu... bertahan." Rania menatap Alea dengan pandangan penuh arti. "Tuan Damian bukan pria mudah. Aku di sini lima tahun, aku tahu."

Alea menahan senyum sinis. Jadi ini strateginya? Pendekatan "kita sama-sama wanita" untuk mendapatkan kepercayaan?

"Damian suamiku," Alea berkata hati-hati. "Aku tidak perlu bertahan. Aku perlu... mengenalnya."

Rania mengangguk pelan. "Tentu. Dan aku bisa bantu kau mengenalnya. Lebih cepat." Ia berhenti, menurunkan cangkir. "Tapi kau harus percaya padaku."

"Kepercayaan itu mahal, Rania."

"Mahal tapi bisa dibeli." Rania mencondongkan tubuh. "Aku punya informasi yang kau mau. Tentang ruang bawah tanah. Tentang... anak kecil yang kadang muncul di malam hari."

Darah Alea berdesir. Dia tahu?

Tapi ia tidak boleh menunjukkan reaksi. Ia psikiater forensik—ia terlatih membaca orang, juga terlatih menyembunyikan emosi.

"Anak kecil?" Alea mengerutkan dahi, pura-pura bingung. "Aku tidak paham."

Rania tersenyum lebar. Senyum yang tidak sampai ke mata. "Kau pandai berbohong, Nona Alea. Tapi aku juga. Jadi mari kita hentikan permainan ini." Ia duduk tegak. "Aku tahu kau sudah bertemu dia. Aku tahu kau bicara dengannya tiap jam tiga pagi. Dan aku tahu... kau mulai peduli."

Udara di kamar terasa menekan.

Alea meletakkan cangkir kopi dengan hati-hati. Suara porselen menyentuh kayu. "Kalau kau tahu banyak, kenapa kau tidak lapor ke Damian?"

"Karena Damian tidak perlu tahu."

"Kenapa?"

Rania diam beberapa detik. Lalu ia berdiri, berjalan ke jendela. Di luar, taman mansion tampak sunyi. Kabut tipis menyelimuti patung-patung marmer.

"Damian... bukan pria yang kukenal dulu," Rania berkata pelan. "Dia dulu lebih hangat. Lebih... manusiawi. Tapi beberapa tahun terakhir, dia berubah. Menjadi dingin. Kejam. Seperti mesin." Ia menoleh. "Aku pikir... itu karena dia."

Dia. Damian Kecil.

Alea mencerna informasi ini. Rania tahu tentang Damian Kecil—tapi ia menyebutnya sebagai penyebab perubahan Damian dewasa? Atau justru sebaliknya?

"Kau cinta padanya," Alea berkata tiba-tiba.

Rania membeku. Pundaknya naik sedikit. Lalu turun.

"Aku bekerja untuknya," jawab Rania datar.

"Bekerja atau mencintai, matamu bilang yang kedua."

Untuk pertama kalinya, senyum palsu Rania hilang. Ia menatap Alea dengan ekspresi baru—lebih tajam, lebih berbahaya.

"Kau pintar," Rania berkata. "Bagus. Karena aku butuh orang pintar."

"Untuk apa?"

Rania kembali ke kursi, duduk. Kali ini posisinya berbeda—lebih santai, lebih terbuka. Seperti topengnya jatuh.

"Aku mau menyelamatkan Damian. Dari dirinya sendiri. Dari monster di dalam dirinya." Ia menatap Alea lekat. "Kau psikiater. Kau bisa membantunya. Tapi kau tidak bisa melakukannya sendirian. Kau perlu akses ke dokumen-dokumen lama. Ke rekaman medis. Ke... ruang bawah tanah."

Alea mempertimbangkan. Tawaran ini menggiurkan. Ia butuh akses ke ruang bawah tanah—tempat ia yakin menyimpan jawaban tentang masa lalu Damian. Tapi...

"Kenapa kau tidak lakukan sendiri?" tanya Alea. "Lima tahun kau di sini. Pasti banyak kesempatan."

"Karena Damian tidak percaya padaku. Tidak lagi." Rania menunduk. "Dulu... sebelum kau datang, aku punya akses ke semuanya. Tapi setelah kau di sini, dia mengunci semua. Mengganti kode. Menghapus izinku." Ia mengangkat wajah. "Dia lebih percaya padamu, Nona Alea. Istri sahnya. Daripada aku."

Ada sakit di suara Rania. Sakit yang nyata.

Atau akting yang sangat bagus.

Alea butuh waktu. Butuh memikirkan semua ini. Tapi sebelum ia bisa menjawab, suara berat menggema dari balik pintu.

"Rania."

Damian.

Rania langsung berdiri, topengnya kembali dalam sekejap. Senyum manis, lesung pipi, tubuh tegak.

"Tuan Damian," sambutnya lembut.

Pintu terbuka. Damian masuk. Setelan hitam, wajah tanpa ekspresi. Ia menatap Rania, lalu Alea, lalu kembali ke Rania.

"Rapat pengacara sudah selesai?"

"Baru saja," jawab Rania. "Aku hanya... menemani Nona Alea sarapan."

Damian mendekati Alea. Ia berhenti tepat di samping kursinya. Alea bisa mencium aroma kayu cendana dan... sesuatu yang lain. Sesuatu yang mirip dengan bau di ruang bawah tanah.

"Kau tidak minum kopinya," Damian berkata. Suaranya datar, tapi matanya—matanya menatap cangkir Alea yang masih penuh.

Alea mengangkat cangkir. "Masih panas."

Damian mengambil cangkir itu dari tangannya. Menciumnya. Lalu menatap Rania.

"Kau buat ini?"

Rania mengangguk.

Damian diam. Lalu, tanpa peringatan, ia membalikkan cangkir. Kopi tumpah ke lantai. Alea terkesiap. Tapi Damian tidak peduli. Ia meraih tangan Alea, menariknya berdiri.

"Kamar mandi. Cuci tangan," perintahnya.

Alea bingung. "Tapi—"

"Cuci tangan. "

Rania tersenyum. Tapi kali ini senyumnya berbeda. Ada kemenangan di sana. Atau justru kekalahan?

Alea menurut. Ia berjalan ke kamar mandi, menyalakan keran. Air dingin mengalir di tangannya. Tidak ada yang salah dengan tangannya. Tapi ia paham: ini bukan tentang kebersihan. Ini tentang Damian tidak mau Alea menyentuh apa pun buatan Rania.

Dia tidak percaya Rania.

Atau justru dia tahu sesuatu?

Saat Alea keluar, Rania sudah pergi. Damian berdiri di dekat jendela, memunggunginya. Pundaknya tegang.

"Apa yang Rania inginkan?" tanya Damian tanpa menoleh.

"Dia bilang mau bantu."

"Bantu apa?"

Alea ragu. Haruskah ia jujur? Atau berbohong seperti tadi?

"Bantu aku... mengenalmu," jawab Alea akhirnya. Setengah jujur.

Damian berbalik. Matanya—untuk pertama kalinya—terlihat lelah. Sangat lelah.

"Jangan percaya padanya," bisik Damian. "Dia bukan teman."

"Apa kau yakin?" Alea mendekat. "Dia bilang dia di sini lima tahun. Dia pasti tahu banyak tentang—"

"Dia tahu karena dia yang menciptakan semua ini."

Udara di kamar terasa beku.

Alea berhenti. "Apa maksudmu?"

Damian menatapnya lama. Lalu ia menggeleng. "Tidak penting." Ia berjalan menuju pintu. "Istirahatlah. Nanti malam kita makan bersama."

"Damian!" Alea memanggil.

Damian berhenti. Tidak menoleh.

"Apa yang Rania ciptakan?" desak Alea.

Diam.

Jawaban tidak datang. Damian pergi, meninggalkan Alea dengan seribu pertanyaan. Dan di lantai, genangan kopi mulai mengering—meninggalkan bercak cokelat di karpet putih.

---

Pukul 23.47. Alea tidak bisa tidur.

Ia membolak-balikkan tubuh di ranjang. Pikirannya penuh: Rania, Damian, kopi yang tumpah. Dan kata-kata Damian: "Dia tahu karena dia yang menciptakan semua ini."

Apa maksudnya? Apa Rania yang menciptakan Damian Kecil? Atau... apa Rania yang menciptakan situasi yang membuat Damian Kecil lahir?

Alea duduk. Kepalanya pusing.

Jam menunjukkan hampir tengah malam. Satu jam lagi Damian Kecil akan datang—atau tidak datang, seperti tadi malam.

Atau mungkin ia menungguku?

Alea turun dari ranjang. Tanpa sadar, kakinya melangkah ke lemari. Pintu lorong rahasia. Tangannya meraba ukiran kayu—mencari tuas rahasia yang Damian Kecil tunjukkan.

Klik.

Pintu terbuka.

Lorong gelap di depan. Alea meraih ponsel, menyalakan senter. Cahaya putih menyorot dinding bata, lantai kayu berdebu, dan di ujung... tangga menurun.

Ruang bawah tanah.

Ia belum pernah ke sana. Setiap kali mencoba, pintu besi selalu terkunci. Tapi malam ini... malam ini pintu itu terbuka.

Seperti diundang.

Atau seperti dijebak.

Alea melangkah. Satu. Dua. Tiga. Udara makin dingin. Bau makin tajam—bau busuk yang manis, seperti bunga yang membusuk. Lampu ponselnya goyah.

Di dasar tangga, lorong bercabang. Kiri dan kanan. Alea memilih kiri.

Beberapa langkah, ia menemukan pintu kayu dengan ukiran angka: 8. Angka yang sama dengan usia Damian saat ia dikurung.

Alea membuka pintu.

Di dalam, kamar kecil. Kotor. Berdebu. Ada ranjang besi dengan kasur tipis, meja kayu dengan buku-buku, dan di dinding... coretan kapur merah. Ribuan coretan. Semuanya sama:

"Aku masih di sini."

"Aku masih di sini."

"Aku masih di sini."

Alea menekan dadanya. Jantungnya berdetak kencang.

Di meja, ada buku harian. Sampul cokelat, halaman menguning. Alea membukanya.

Hari 1: Papa bilang aku harus di sini sampai aku mau jadi anak baik. Aku tidak mau jadi anak baik. Aku mau pulang.

Hari 7: Mama datang. Tapi bukan mama. Mama baru. Dia bawa boneka. Aku benci boneka.

Hari 30: Aku tidak bisa keluar. Pintu dikunci. Aku teriak-teriak sampai suaraku hilang. Sekarang aku diam saja.

Hari 60: Aku melihat sesuatu di pojok. Dia diam. Dia menatapku. Aku takut.

Hari 90: Dia bilang namanya Damian. Sama sepertiku. Dia bilang dia akan menjagaku. Aku tidak sendiri lagi.

Hari terakhir: Aku bukan aku lagi. Aku Damian. Tapi ada Damian lain di dalam. Dia lebih kuat. Dia yang akan keluar nanti. Aku akan tidur. Selamanya.

Alea gemetar. Tangannya menggenggam buku itu erat.

Jadi begini awal mula Damian Kecil? Bukan kepribadian ganda biasa—tapi sosok yang diciptakan Damian kecil untuk bertahan di ruang ini?

Lalu, di halaman terakhir, ada tulisan baru. Bukan dengan tinta—tapi dengan darah kering.

"Kak, tolong. Rania jahat. Dia mau bunuh Damian dewasa."

Alea tercekat. Tulisan itu—tulisan anak kecil. Tapi tidak mungkin. Buku ini berusia 20 tahun. Darah ini...

Di belakangnya, suara langkah kaki.

Alea berbalik.

Rania berdiri di ambang pintu. Gaun tidur putih. Rambut tergerai. Wajah pucat di bawah cahaya redup. Dan di tangannya... pisau dapur.

"Kau menemukannya," Rania berkata pelan. "Bagus."

Alea mundur, menabrak meja. Buku harian jatuh.

"Apa yang kau lakukan di sini?" suara Alea bergetar.

Rania tersenyum. Tapi kali ini senyum itu tidak manis. Tidak palsu. Ini senyum yang berbeda—senyum orang yang sudah menunggu terlalu lama.

"Aku menjaga properti," jawab Rania. "Properti keluargaku."

Alea membeku. "Keluarga?"

Rania melangkah maju. Pisau di tangannya berkilat.

"Ayahku membangun rumah ini. Ibuku merawat Damian kecil. Dan aku... aku yang harusnya jadi istri Damian. Bukan kau."

Alea mencerna. Tidak mungkin. Ini tidak masuk akal.

Tapi Rania terus berjalan. Mendekat. Mendekat.

"Jangan khawatir," bisik Rania. "Kau akan mati cepat. Lalu aku akan mengambil kembali tempatku. Damian dewasa akan lupa padamu. Damian Kecil akan kembali padaku. Dan kita akan bahagia. Seperti dulu."

Alea meraba meja di belakangnya. Mencari apa pun yang bisa jadi senjata.

Tapi Rania lebih cepat.

Ia mengangkat pisau.

Dan di detik itu, cahaya senter Alea menyorot pojok ruangan. Di sana, di sudut gelap, sesosok kecil berdiri. Damian Kecil. Matanya merah. Tangannya mengepal.

"Jangan sentuh kakak!"

teriaknya.

Rania menoleh. Terkejut. Tapi sebelum ia bergerak, Damian Kecil sudah berlari. Tubuh kecil itu menabrak Rania dengan kekuatan yang tidak mungkin dimiliki anak seusianya. Rania jatuh. Pisau terlepas.

Alea mengambil pisau itu.

Tapi ia tidak menusuk. Ia tidak bisa.

Damian Kecil menatapnya. Matanya berair.

"Kak, cepat lari," bisiknya. "Aku akan tahan dia."

Rania bangkit. Wajahnya berubah—marah, beringas. Tapi Damian Kecil berdiri di depannya.

"Kau... kau pilih dia?" desis Rania. "Setahun aku rawat kau. Aku yang main dengan kau. Aku yang temani kau. Tapi kau pilih dia?"

Damian Kecil tidak menjawab. Ia hanya menatap Alea.

"Lari, Kak. Sekarang."

Alea ragu. Tapi logikanya menang. Ia berlari. Meninggalkan ruangan. Meninggalkan Damian Kecil. Meninggalkan Rania.

Tangga. Lorong. Pintu kayu. Lorong lagi. Tangga naik. Lemari. Kamar.

Alea jatuh di lantai kamar, terengah-engah. Pisau masih di tangannya. Berdarah? Tidak. Darah itu dari buku harian.

Lima menit. Sepuluh. Tidak ada suara.

Lalu ketukan di pintu.

Tiga kali. Pendek.

Kode Damian Kecil.

Alea membuka pintu.

Damian Kecil berdiri di sana. Piagamnya kotor. Wajahnya pucat. Tapi ia tersenyum.

"Aku selamatkan kakak, Kak," bisiknya. "Sekarang kakak harus janji sama aku."

Alea berlutut, menyamakan tinggi. "Janji apa?"

"Janji... kakak akan selamatkan Damian dewasa. Dari Rania. Dari semua." Damian Kecil mengangkat tangan kecilnya. "Karena aku capek. Aku capek jagain dia sendirian."

Alea menangis. Ia meraih tangan Damian Kecil. Hangat. Nyata.

"Aku janji."

Dan di detik itu, lampu kamar menyala terang. Damian dewasa berdiri di lorong. Wajahnya campuran marah dan takut. Rambut basah. Napas tersengal—seperti baru berlari.

Ia melihat Alea berlutut. Melihat Damian Kecil. Melihat pisau di lantai.

Diam.

Lalu Damian Kecil menoleh padanya.

"Kak Damian," bisik Damian Kecil. "Aku pulang."

Untuk pertama kalinya, Damian dewasa menunjukkan emosi. Matanya basah. Ia berlutut di samping Alea, meraih tangan Damian Kecil.

"Selamat datang di rumah," bisiknya.

Tapi Damian Kecil menggeleng. Ia menunjuk Alea.

"Dia rumahku sekarang."

Damian dewasa menatap Alea. Lama. Lalu ia mengulurkan tangan—bukan untuk menyakiti, tapi untuk menyentuh pipi Alea. Lembab.

"Maaf," bisiknya. "Maaf kau harus lihat semua ini."

Alea memegang tangannya. "Kau tidak sendiri lagi, Damian."

Di lorong, jauh di belakang, suara langkah mundur. Rania pergi. Tapi ini belum berakhir.

Ini baru awal.

---[BERSAMBUNG...]---(⁠ノ゚⁠0゚⁠)⁠ノ⁠→

Bagaimana menurut Raiders? Apakah Rania akan balas dendam? Apa yang akan dilakukan Damian pada Rania? Dan mampukah Alea menyatukan Damian dewasa dan Damian Kecil?

Jangan lewatkan Bab 8 Like, komen, dan share jika kalian ingin Damian Kecil tetap ada!

Selamat membaca, Raiders! Dukung terus cerita ini dengan power stone dan komen ya! 💕

#TheDevilsWife #NovelToon #MafiaRomance #HorrorPsikologi #DamianKecil #RaniaAntagonis

1
Amelia
Ceritanya penuh misteri Dokter RSJ vs Monster pasangan yang cocok jiwa mereka sama" kayak tidak memiliki Jiwa dan sakit jiwa😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!