Kedua orang kaya yang tinggal di lingkungan sederhana ini menjadi bukti bahwa mereka pun bosan dengan hingar bingar kemewahan. Pernah merasa saling suka dan akhirnya ditinggal menikah oleh orang yang ia suka adalah sebuah mimpi buruk.
Bertemu kembali karena perjodohan adalah sebuah irama yang tak senada. Walaupun saling suka, kenangan masa lalu membuat mereka harus bekerja sama untuk saling menunjukkan rasa suka.
Trauma akan pernikahan pertamanya, membuat Rion jadi takut untuk mencintai seorang wanita. Sedangkan Neyza yang nyatanya suka dengan Rion saat Rion akan menikah, menaruh rasa sakit hati yang luar biasa. Bertemu kembali setelah Rion mengakhiri pernikahan adalah sebuah keputusan berat untuk Neyza.
Apakah mereka mampu bersama dan melewati banyak hari tanpa ada kekhawatiran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nora Kastella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Bareng
Rion menunggu di sebuah restoran untuk sebuah makan malam bersama Hani. Waktu menunjukkan pukul 6.30 malam. Rion terus -terusan tersenyum membayangkan wajah Hani yang akan duduk di depannya. Ia lihat ponselnya. Sesaat lagi mungkin Hani sedang memarkir mobilnya, atau sedang berjalan di lobi hotel.
Saking gembiranya, Rion menyenggol sapu tangan yang ada di atas meja. Rion membungkuk lalu mengambilnya. Bersamaan dengan itu, ia mendengar suara tawa yang tak begitu asing untuknya. Rion mengernyitkan alisnya. Ia ingin memutar otaknya untuk mencari memori tawa seseorang tersebut.
Penasaran, ia mendongakkan kepalanya dan mencari seseorang yang sedang tertawa. Tatapannya tertuju pada seorang perempuan cantik. Tawanya khas. Wajah yang ia sangat kenal dalam beberapa hari ini. Neyza.
"Neyza?", Batinnya. "Ngapain dia di sini?". Ia melirik seorang laki-laki tampan yang ada di depannya. "Oooo, si nenek punya pacar tho.". Rion mengangguk seakan-akan tahu informasi penting mengenai tetangganya tersebut. Kini, ia ingin privasi dengan Hani tak terlihat oleh Neyza. Ia berusaha membalikkan badan dan berjalan ke sebuah meja kosong yang tidak terlihat dari pandangan di meja Neyza.
"Aaa, gak keliatan gue.", Sesaat kemudian, Hani datang dengan dandanan yang cantik.
Hani yang menangkap gelagat aneh Rion tersenyum.
"Ada copet?", Rion tersadar. "Eh, Hani. Duduk. Nggak. Tadi kayaknya ada lalat."
Hani terkejut dengan jawaban Rion. "Restoran emang ada lalat? Alesan aja kamu." Akhirnya keduanya duduk bersama.
[5 jam yang lalu]
Neyza masuk ke ruang Dosen menemui Bu Mei. Konsultasi tentang skripsi yang akan di ambil.
Neyza : "Bu Mei. Sepertinya saya akan membuat program tentang teori yang ringkas saja. Seperti teori stepping stone."
Bu Mei : "Itu terlalu mudah, Neyza. Bagaimana jika tema Artificial Intelligence?. Kamu bisa buat apa saja."
Neyza : "Terlalu rumit, bu. Saya agak kesusahan untuk riset."
Bu Mei : "Kamu pasti bisa melakukan riset di perusahaan. Terserah mau mengambil dimana. Nanti saya bantu bikin surat tugasnya."
Neyza : "Apa gak terlalu lama, bu?"
Bu Mei : "Gak kok. Kamu bisa buat itu berdasarkan fakta di lapangan. Kamu bisa buat tema yang berbeda atau pure deskripsi program yang ada. Ini bisa lolos."
Neyza : "Perusahaan itu lho, bu."
"Permisi, bu. Kantor Papa saya bisa kok bikin kelonggaran mahasiswa untuk riset kampus. Saya bisa bantu untuk keperluannya.", Suara Tito tiba-tiba mengagetkan Bu Mei dan Neyza.
Bu Mei tersenyum melihat salah satu mahasiswa teladannya datang.
Bu Mei : "Ada jalan, Neyza.", Ia mencoba membuat Neyza yakin setelah pencerahan datang dari kedatangan Tito.
Neyza yang juga sama kagetnya dan melihat peluang akan selesainya skripsinya nanti, mau tak mau menerima tawaran Tito.
Tito dan Neyza berjalan di lorong kampus setelah keluar dari ruangan Dosen.
Neyza : "Tadi ngapain ke ruang dosen? Bimbingan?"
Tito : "Konsul biasa kayak kamu, Ney. Sama Pak Hamdan. Terus lihat kamu sama Bu Mei. Dengerin percakapan dikit. Terus punya inisiatif buat bantuin."
Neyza : "Gak perlu juga kayak gitu, To. Papaku kan juga punya perusahaan."
Tito : "Aku yakin kamu gak mau jadi a lucky girl. Kamu pingin usaha sendiri."
Neyza : "Nha itu tahu. Kenapa dibantuin?"
Tito : "Karena kamu cuma nolak bantuan Papa kamu. Bukan bantuanku. Yuk ah."
Neyza : "Nanti aku balas budinya agak susah. Maumu macam-macam, to."
Tito : "Aku gak mau ambil kesempatan ya, Ney. Yaudah. Biar kelaran. Nanti malam traktir aku makan. Gimana?"
Neyza : "Hmm...Ayok. Dimana?"
Tito : "Kamu kan suka masakan jepang. Di tempat yang pernah kita makan dulu aja. Hotel di jalan kapasan."
Neyza : "Ooo ya situ boleh deh. Lama gak ke situ."
Tito : "Yaudah yuk sini bareng."
Neyza : "Masih lama, kan?"
Tito : "Temenin aku bentaran kalo gitu."
Tito menarik tangan Neyza untuk segera mengikutinya.
[Di restoran]
Pesanan Hani dan Rion sudah lengkap di atas meja.
Rion : "Mas saya pesan es teh yang di pouch, ya?"
Pelayan : "Macha, ya?"
Rion : "Aaa, iya. Duh gegara main sama Bili di warteg jadinya kebiasaan es teh."
Hani : "Apa? Warteg?"
Rion : "Gak gak. Bukan. Ngomong sendiri. Hehehe..."
Hani : "Rion. Kamu tuh. Kenapa sih, sama mahasiswi lain pada jutek gitu?"
Rion : "Gombal aja. Paling ada maunya."
Hani : "Emang kamu ajakin aku makan gak ada maunya?"
Rion terkekeh. Tembakan Hani tepat sasaran.
Rion : "Ya gak gitu juga. Kalo kamu kan aku udah kenal. Kalo yang lain belum."
Hani : "Ya kan kasihan. Ada yang mau kasih kamu hadiah. Ambil aja. Ada yang mau nanya basa basi. Ladenin aja."
Rion : "Masalahnya aku gak suka basa basi."
Hani : "Gak gitu juga, sih. Maksudnya. Kamu bisa sedikit lebih ramah ke mereka. Jangan sampai dicap sombong atau gimana."
Rion : "Aku kok bodo amat ya, Hani?"
Hani : "Mungkin kita gak bisa bikin image kita baik ke semua orang. Tapi paling gak, kita gak egois merasa diri kita gimana-gimana."
Rion mengangguk. Kata-kata Hani seperti candu yang wajib ia taati dan ia lakukan.
Rion pamit menuju kamar mandi. Perutnya sedikit melilit. Pagi tadi, katering yang diantar Bili adalah masakan pedas.
7 menit berlalu, ia keluar kamar mandi. Ia lalu melihat Neyza berdiri di dekat kamar mandi.
Rion : "Woi, nek. Ngapain di sini?"
Neyza : "Eh... Rion. Kamu ngapain di sini?"
Rion : "Gue nanya duluan kok balik nanya."
Neyza : "Ya makan lah. Kamu ngapain disini?"
Rion : "Kirim barang. Eh nek. Sama pacarnya, ya?"
Neyza : "Apaan, sih?", Neyza akan memukul Rion dengan tasnya.
Tito : "Neyza, kenapa? Kamu diganggu?", tangan Tito di depan Neyza seakan-akan melindunginya.
Neyza : "Gak kok. Anaknya pembantuku. Kita uda kenal."
Rion berlalu dengan muka kusut.
"Awas kamu, nek."
Rion kembali duduk dengan Hani.
Hani : "Tumben lama? Diare?"
Rion : "Gak. Tadi ketemu teman."
Hani : "Oooh... Gitu."
Rion : "Hani. Ada yang mau omongin."
Hani : "Kenapa, Rion?"
Rion : "Hmm... Gimana ya ngomongnya?"
Hani : "Jangan bilang kalo kamu suka sama aku."
Rion : "Aku suka sama kamu, Hani."
[Neyza dan Tito]
Tito : "Ney. Kita ke rumahmu, ya?"
Neyza : "Eh. Jangan. Ke rumah Weni aja. Aku mau tidur di rumahnya. Gpp?"
Tito : "Ooo. Oke."
Neyza : "Eh, cantik ya awan kalo malam gak mendung gini? Kelihatan bintang."
Tito : "Cantikan di dalam mobil sini, Ney."
Neyza : "Ha?"
Tito : "Ada kamu."
Neyza : "Gombal."
Tito : "Serius, Ney. Kamu Cantik."
Neyza : "Mamaku juga bilang gitu "
Tito : "Makanya aku suka."
Neyza : "Udah tahu, To."
Tito : "Aku suka sama kamu, Ney."
Mata Neyza tak berkedip, dadanya bergemuruh.
Deg....
Jantung Hani dan Neyza mendadak berdegup kencang.
hihihi
hhhhh
misteri bgt cerita ini,q uda kyk detektif conan aja pusing mikir kasus yg menguras otak iiih
garis 2,pula hamil sm sapa hani???