Cinta, persahabatan, dan balas dendam, membawa Kairen dan Raizel ke dalam sebuah lingkaran kebimbangan untuk menuju sebuah kisah hidup yang sebenarnya. Cinta, persahabatan, atau balas dendam, hanya mereka yang menentukan.
"Gue akan temuin mereka dan bawa mereka kesini, hidup ataupun mati" ~Kairen Elashka Alexander
"Kalo harus ada yang yang disalahkan disini, maka itu adalah perasaan!!" ~Raizel Elashki Alexander
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suci Aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Playboy karatan
Kairen duduk sambil selonjoran setelah dihukum jadi tukang kebun dadakan sama Pak Jamet. Kini matanya serasa ada magnet, lengket banget ngajak tidur.
Saat matanya nyaris terpejam, suara bisik-bisik dari para siswa di kelas 11 IPS 1 memaksa matanya untuk kembali terbuka. Dengan nyawa yang tinggal ¼, Kairen menatap lurus ke depan, tepat kearah Bu Enting dan seorang gadis berdiri.
"Perhatian semuanya!!!" suara Bu Enting menarik perhatian semua penghuni kelas kearahnya. Siswa yang tadinya bisik-bisik, ghibah, ngamen keliling, bahkan yang jungkir balik pun langsung diam. Mereka takut, Bu Enting kadang suka cosplay jadi tukang ayam potong. Mereka takut lehernya dipotong sama Bu Enting.
"Hallo gaess, hari ini kita kedatangan murid baru Lohh. Cakep banget mirip sellena gowes" Bu Enting yang dulunya punya cita-cita jadi MC tapi nggak kesampean, akhirnya menunjukkan bakatnya disaat yang tidak tepat.
"Cakep, cakep, buat saya boleh nggak nih Bu?" sorak seorang siswa dari arah belakang sambil tersenyum jahil.
"Idih, dia aja liat muka kamu udah pengen muntah. Udah deh, kamu sama Kartika aja. Kan enak tiap hari dibikin tobat kalo ketemu dia" cibir Bu Enting yang mengundang tawa siswa satu kelas. Pemuda dengan nametag Rafael Yunanda itu mendelik malas. Kenapa kudu Kartika coba?, cewek Mipa 5 yang centilnya ngalah-ngalahin waria lampu merah. Meskipun emang bener sih, deket dia itu bisa bikin orang tobat. Bawaannya pengen baca istighfar mulu.
"Oke, oke, please silent sekedap nggeh bapak-bapak, Ibu-ibu. Biarkan teman baru kita memperkenalkan diri. Girls, tunjukkan pesona mu!!"
Kimy cuma bisa terheran-heran dalam hati. Ada ya guru modelan begindang?!.
"Kimy...." ucap Kimy dengan singat, padat, nyebelin. Membuat rahang satu kelas nyaris jatuh dan ilernya berceceran bisa buat ngepel.
"Yang panjangan dikit atuh Neng. Masak kenalan cuma begindang sihh, nggak seru deh you" ucap Bu Enting dengan nada ngondek yang mendayu-ndayu di perut. Jadi pengen muntah.
Gadis dengan nametag Kimyora Claresy .W itu menghela nafas panjang. Merasa males kalo di suruh ngulangin yang kedua kali.
"Hai guys, nama gue Kimyora Claresy .W , kalian bisa panggil gue Kimy. Semoga kedepannya kita bisa temenan"
"Oke, Kimy. Welcome di kelas 11 IPS 1. Saya Bu Enting, walikelas disini yang akan membimbing kamu dan semuanya selama satu tahun kedepan. Silahkan kamu cari tempat duduk yang mana kamu suka ya?" ucap Bu Enting dengan ramah.
Kimy mengangguk mengerti. Dengan langkah perlahan, dia berjalan melewati barisan para siswa laki-laki yang menatapnya takjub. Tapi bukan Kimy namanya kalo ngerespon. Gadis itu tidak peduli sama sekali. Pandangannya hanya tertuju kearah satu-satunya meja kosong. Dan sialnya, meja itu tepat berada di samping meja Manusia Cebong dan Nauval.
"Eneng Kikim disini uga. Nyariin Akang Ya?" goda Kairen saat Kimy sudah duduk disamping meja tempatnya duduk.
"Nyariin pala Lo gede?!. GR banget jadi orang" cebik Kimy sembari meletakkan tasnya di kursi.
"Galak bener sih Neng?. Belum sarapan ya?!. Tenang, nanti A'a beliin di Kantin. Tinggal sebut aja mau minta apa, biar si Opal yang bayar"
Ucapan itu, mengundang timpukan penghapus di Kepala Kairen. Nauval pelakunya. Habis dia asal nyablak sih, kan adek gemes.
"Sakit guoblog!!" desis Kairen sembari mengusap dahinya. Kepalanya miring, menatap kearah Nauval dengan tatapan tajamnya.
"Ya elo, napa bawa-bawa gue?!" desis Nauval sambil melotot kesal. Sabar Pallll, sabarr, ngadepin jelmaan cebong emang kudu nahan ngeden.
"Suka suka gue dong, mulut-mulut gue" sahut Kairen tanpa beban.
Kimy menatap Kairen tak minat. Hari pertama dia di sekolah baru hancur gara-gara manusia cebong. Niat mau TP-TP malah berujung jadi Tukang kebun dadakannya Pak Jamet. Nasib-nasib, untung Kimy orangnya sabar. Kalo nggakk, mungkin tadi pohon satu sekolah dia tebang semua.
"Kimy?" seorang gadis yang duduk di depan kursi Kimy memutar tubuhnya. Menatap kearahnya seolah mengenal.
"Lo kenal gue?" tanya Kimy bingung.
"Gue Gabriel. Masak Lo lupa sih?!" seru Gabriel dengan nada ngegas. Maklum, Briel ini kembarannya Vero. Kalo nggak ngegas nggak enak, tenggorokannya serasa sakit kayak orang gondokan.
Mata Kimy membola. Jelas dia ingat temannya yang kadang suka cosplay jadi tarzan.
"Gabriel?!. Gilaa, lama banget kita ga ketemu" pekik Kimy sembari meraup wajah Gabriel menggunakan tangan kanannya.
Gadis itu mencebik kesal. Dia melepas paksa tangan Kimy dari wajahnya.
"Tangan Lo bau bawang njirr"
Kimy nyengir anjing sambil garuk-garuk pantat. Menatap Gabriel tanpa dosa kayak bayi baru lair.
"Sorry, gue tadi abis bikin nasi goreng, lupa kagak pake sabun"
******************
Kantin SMA Garuda dipenuhi oleh para siswanya yang lagi isi bensin. Stand terjajar rapi kayak bazar, tinggal milih sama bawa duit.
Kedatangan rombongan Kairen membuat suasana yang semula tenang menjadi riuh. Pekikan para siswi mendominasi ruangan saat melihat Pangeran Cebong mereka datang. Belum lagi dayang dayangnya Kairen yang nggak kalah kecehh, dijamin langsung mleyot di tempat.
"Pacar gue ya gusti"
"Raizel, lope lope dehhh"
"Pacar gue cakep bangetttt"
"Dia pacar gue yaaa, gue baru ditembak dia tadi pagi"
"Gue sama dia udah jadian dari kemaren, jan ngipi deh Lo!!"
"Hey, hey, hey, pacarnya Raizel itu cuma Cassandra. Kalian rakyat jelata mending mingirrrrr yang jauh sampek ke ujung dunia" cewek dengan nametag Cassandra Putri itu bersorak keras sehingga membuat perhatian semua orang yang ada di Kantin terarah kepadanya, tak terkecuali Kairen dkk.
"Pacar Lo segitu Rai?" tanya Boy bingung. Setaunya, seorang Raizel tidak pernah punya pacar. Tapi ini?.
Kairen mengendikkan bahunya acuh. Dia duduk di salah satu meja, dan teman-temannya kompak mengikuti.
"Biasalah, mereka tuh halu" sahutnya cuek. Entahlah, dia sulit menerima interaksi dengan Boy. Padahal berulang kali pemuda itu mencoba mengajaknya bicara ataupun bercanda, tapi dia tetap tidak bisa simpati dengannya.
"Si Sandra, PD banget njirr pas ngakuin kalo dia pacarnya Ka-
Ucapan Vero terhenti saat Satya lebih dulu membungkam mulutnya menggunakan tissue. Dalam hati Satya mengumpat, nih anak satu kalo nggak dijagain mulutnya loer banget kek kolor tanpa koloran.
"Gue tabok bacot Lo pake setrika mau?!" desis Satya dengan nada berbisik. Dia mencengkram lengan Vero tapi matanya melirik kearah Boy yang menatap curiga kepada mereka.
"Si Vero o'on bangett deh. Pengen gue giling jadi baso" gumam Kairen dalam hati.
Nasib punya temen kek Vero. Selain tukang ngegas, dia juga tukang bocor.
"Emang Lo bawa setrika?" bisik balik Vero dengan gobloknya.
"Ya kagak sih, tapi entar gue pinjemin ke Mak Njingg kalo Lo mau" sahut Satya.
Sedangkan di meja yang berbeda, Kimy, Gabriel dan Elsa sedang duduk tanpa beban sembari menikmati makanan mereka. Masa bodo sama para cabe-cabean yang lagi ngebucin ke pangeran cebong. Yang penting kenyang dulu, begitu prinsip mereka.
"Jadi selama ini Lo di Aussie?" tanya Elsa. Gadis cantik dengan rambut panjang terurai itu bertanya sembari menarik tissue di sudut meja.
"Heem. Gue ikut bokap, tapi semingguan ini gue balik ke Indo. Males banget gue disana, dikekang mulu" sahut Kimy dengan mulut yang dipenuhi roti bakar.
"Nggak nyangka gue bisa ketemu Lo lagi. Gue pikir Lo nggak bakal balik lagi kesini" ucap Gabriel yang dibalas senyuman oleh Kimy. Dia tidak tau, ada satu alasan yang membuatnya kembali ke Kota yang sudah dia tinggalkan 12 tahun lamanya.
************
Kimy memasuki sebuah kamar kost yang tidak terlalu besar. Tubuh lelahnya dia baringkan diatas kasur springbed berukuran sedang yang dia beli seminggu yang lalu.
Satu yang dia rasakan saat ini. Sepi. Tak ada orang tua, tak ada kehangatan keluarga yang dia rasakan setelah kejadian itu.
Tinggal di Australia membuatnya terus menerus merasakan kecewa. Sehingga dia memilih kembali ke Indonesia tanpa sepengetahuan sang Papa. Kini hanya di tempat ini dia tinggal. Di sebuah kosan biasa yang jauh dari kata mewah. Tapi dia nyaman, karena disini dia tidak merasa tertekan.
Tangan gadis itu membuka sebuah laci samping tempat tidur. Dia mengambil sebuah buku diary yang sudah kusam dari sana. Lembar demi lembar dia buka, sehingga tulisan tiap halamannya terlihat.
Dia meraih bolpoin, siap menuliskan sesuatu di lembar berikutnya.
*Dear diary
Hari ini gue ketemu sama dia. Dia, seseorang yang jadi alesan gue buat kembali. Dia penghibur gue, orang spesial saat itu.
Tapi nyatanya, waktu berjalan sangat cepat dan gue ngelewatin semua perubahan yang terjadi ke dia. Ya, dia berubah. Dia bukan dia yang dulu. Gue bahkan nggak kenal sama dia.
Tapi gue seneng, setelah sekian lama akhirnya gue bisa ketemu sama Dia. Meskipun dengan situasi dan kepribadian yang berbeda*.
Kairen or Raizel
......***Hay All, maaf ya aku baru up. Otak lagi mapet, ga bisa mikir:>. jan lupa tinggalkan jejak yaa, cepat lambatnya up tergantung respon kalian.......
...Happy reading***:)...
mampir dulu ka,awal baca aja udh bikin ketawa dan kesel 🤭🤭