" Hei Leha, turun gak ? " Ibunya Juleha berkacak pinggang di bawah pohon mangga.
" Bentaran ! Nanggung "
Masih dengan santai nangkring diatas pohon mangga.
Bagaimana kisah perjalanan rumah tangga antara Juleha dan Zainal dan pasangan lainnya yang menikah karena minta dijodohkan ? ikuti terus kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Juleha dan Zainal ( Part. 6 )
" Dek, sudah jam sepuluh malam, gak tidur ? "
Zainal sudah duduk di tepi ranjang, ranjang pengantin yang dihias dengan indah oleh Juleha sendiri, tapi Ibuknya yang menyuruh.
Ada taburan kelopak bunga mawar yang Juleha petik dari tanamannya sendiri di depan rumah.
" Tidurlah dulu bang, Leha belum ngantuk "
Jawabnya tanpa melihat ke arah Zainal.
Padahal mata Juleha jangan ditanyakan lagi, jika kepalanya langsung menyentuh bantal, bisa dipastikan kalau Juleha langsung terlelap, andai gempa sekalipun dia tidak akan merasakan.
Eh, jangan dong ! Leha 'kan belum mengalami yang namanya malam pertama, masa' ada gempa.
Oh, jadi yang namanya malam pengantin itu, ternyata membuka kado dan isi amplop ya ? Bukan melakukan...
Zainal menggeleng gelengkan kepalanya, semua diluar ekspektasinya.
" Dek, besok saja dibuka, Abang sudah ngantuk capek, memangnya dek Leha enggak ? "
Zainal menguap sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan.
" Beneran cuma tidur ya ? "
Juleha mulai berjalan mendekati ranjang.
" Iya, tetapi kalau kamu mau melakukan sesuatu sebelum tidur juga gak apa apa, Dek, Abang bersedia "
Ngarep Zai.
Jangan lupakan senyum menggoda dari bibir Zainal.
" Dih, maunya Abang "
" Iya iya, udah ayo tidur ! "
Zainal menepuk nepuk bantalnya sebentar sebelum meletakkan kepalaya dibatas bantal.
Memiringkan badannya menghadap ke arah Juleha, lalu
mulai memejamkan kedua matanya, sepertinya dia benar benar mengantuk, karena tidak lama setelahnya, sudah terdengar dekuran halus yang keluar dari hidung Zainal.
Juleha belum bisa tidur padahal matanya sudah sangat mengantuk, antara dirinya dan Zainal sudah Leha batasi dengan bantal guling, Zainal dilarang melewati batas.
Eh Leha, ibuk tahu, lu belum cinta dengan Zainal, tetapi jika dia ntar meminta haknya sebagai suami, lu kudu memberikan apa yang dia mau, dosa lu kalau nolak.
Masalah cinta belakangan, ntar juga cinta.
Juleha ingat pesan Ibuknya sebelum masuk ke kamar tadi.
Juleha masih menatap wajah Zainal yang terlelap tepat menghadap ke arahnya.
Ah, laki gue emang ganteng.
Leha terus saja menatap wajah Zainal hingga tanpa disadari oleh dirinya sendiri, dia ikut tertidur nyenyak.
...*****...
" Yang penganten baru, bangunnya kesiangan " celetukan bik Romlah, saudara dari ibunya Juleha menyambut pasangan pengantin ketika membuka dan keluar dari pintu kamar.
" Kok rambutnya gak basah ? Apa belum.... "
" Basah kok Bi, 'kan ditutupi kerudung, jadi gak kelihatan, iya kan dek ? "
Zainal menggenggam tangan Juleha dan memberikan tekanan di sana, isyarat agar mengikuti sandiwaranya.
Juleha menundukkan kepalanya.
" Berapa ronde ? Kalau masih mau dilanjutkan, balik kanan aja lagi, mumpung masih di depan pintu kamar, kami maklum kok, sebelum bulan puasa, hajar terooss ! "
Sela yang lain.
Terdengar tawa tawa kecil, di depan mereka.
Sebagain sanak keluarga belum pulang ke rumah masing masing karena masih membantu membereskan segala sesuatu selepas pesta semalam.
" Sarapannya ntar aja, masih kuat kan ? masih muda kok "
Tanya sendiri, dijawab sendiri, dasar bik Romlah.
Bik Romlah masih belum puas menggoda pasangan pengantin baru itu.
Wajah Juleha sudah semakin memerah, apalagi Zainal masih tidak melepaskan genggaman tangannya.
Zainal tersenyum menatap wajah Juleha yang sudah semakin memerah.
" Udah balik kanan kunci pintu, kami ntar pura pura gak dengar "
mpok Atik semakin memanasi suasana.
" Zai, mending lu ke mari, nemenin gue nonton Upin Ipin, dari pada disitu, ntar lu di lahap sama emak emak "
Ujar Mahmud yang duduk manis di depan TV.
" Dek, buatkan Abang, kopi ya, tapi jangan pakai gula "
Pesan Zainal pelan pada Juleha sembari melangkahkan kakinya ke arah Mahmud.
" Pahit dong Bang "
" Manisnya kan ada di kamu dek "
Zainal mengedipkan sebelah matanya genit.
" Aseek, cuit cuit "
Mpok Atik gak bisa diem.
Para ibu ibu meleleh mendengar rayuan Zainal pada Juleha.
Tidak ingin terus menjadi bulan bulanan saudara ibunya, Juleha berjalan cepat menuju ke arah dapur untuk membuatkan kopi pesanan Zainal.
...*****...
...🌿🌿🌿🌿🌿...
..
maraton bacanya
Mira bete lagi nih, Thor ada dendam ya sama mira👻
👍🏼👏🏼🙏🏼☕
haduh porsinya pas Pasan bang jali👻
emang somplak mereka
hore Mahmud otw nikah juga Ama Lusi 👻🌹
rezeki nomplok si Abdul nikah nga modal 👻
awas ada yang kebakar leha👻
bang Zai ada yang kepanasan 👻