NovelToon NovelToon
Brine Dan Marine Garis Takdir

Brine Dan Marine Garis Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Di bawah langit Jakarta yang lembap dan aroma melati yang pekat, Nikolai Brine tidak pernah menyangka akan menemukan kelemahannya. Sang predator berdarah Dubai-Rusia ini datang ke Indonesia untuk menghancurkan musuh, namun ia justru terpaku pada Clara Marine.
Pertemuan tak terduga itu memicu obsesi liar yang membawa Clara dari hangatnya tanah tropis menuju dinginnya benteng baja di Moskow. Nikolai tidak hanya menculik seorang wanita; ia menculik takdirnya sendiri. Di antara dinding es Rusia, sang mafia yang kejam harus belajar bahwa satu-satunya cara memiliki Clara adalah dengan bertekuk lutut pada kelembutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertunangan di atas kertas

Hotel Grand Aurora Jakarta malam itu berubah menjadi zona militer yang dibalut kemewahan. Silas Marine tidak main-main setelah insiden di pulau pribadi tempo hari. Ia menyewa satu lantai penuh dan menempatkan dua belas personel keamanan elit di setiap titik buta.

Di dalam kamar presidential suite, Clara Marine berdiri mematung di depan cermin setinggi langit-langit. Pelayan hotel baru saja selesai membantu mengenakan gaun putih gading berbahan sutra satin yang dikirim langsung dari Paris. Gaun itu memeluk tubuhnya dengan sempurna, namun bagi Clara, kain mahal itu terasa seperti kulit ular yang mencekik.

"Kau terlihat sangat cantik, Clara," suara berat Julian Tide memecah kesunyian.

Clara menoleh. Julian berdiri di ambang pintu dengan tuxedo hitam yang disetrika sempurna. Pria itu selalu memiliki pembawaan yang tenang—tipe pria yang akan tetap tenang meski dunia di sekitarnya terbakar. Itulah alasan mengapa ayahnya, Arthur Ocean, sangat memercayai Julian untuk menjaga Clara.

"Kenapa kau melakukan ini, Julian?" tanya Clara pelan. Suaranya sedikit bergetar. "Kau tahu aku baru saja diculik, nyawaku diincar, dan sekarang kakakku memaksaku bertunangan denganmu di tengah kekacauan ini. Kau bukan pria yang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan."

Julian melangkah masuk, langkah kakinya teredam karpet tebal. "Ini bukan soal romansa, Clara. Kau cerdas, kau tahu itu. Statusmu sebagai tunanganku memberikan protokol perlindungan legal yang berbeda. Secara hukum internasional, kau akan berada di bawah perlindungan Tide Security Group. Nikolai Brine tidak bisa menyentuhmu tanpa memicu perang terbuka dengan firma keamanan global."

"Jadi aku hanyalah sebuah aset yang perlu diasuransikan?" Clara tersenyum pahit. "Dua tahun aku mencoba menjadi orang biasa di Jakarta. Aku bekerja di perpustakaan, makan di pinggir jalan, dan berteman dengan orang-orang yang tulus. Sekarang, dalam sekejap, aku kembali menjadi pion di papan catur kalian."

Julian tidak menjawab. Ia hanya mengulurkan tangan, memberi isyarat agar Clara keluar menuju ballroom.

Jamuan yang Dingin

Pesta pertunangan itu lebih mirip rapat umum pemegang saham daripada perayaan cinta. Tamu yang hadir hanyalah orang-orang terpilih: kolega bisnis Arthur Ocean dari Belanda, beberapa pejabat tinggi yang telah dibayar Silas, dan rekan-rekan logistik di Asia Tenggara.

Silas Marine berdiri di tengah ruangan, memegang gelas kristal berisi sampanye mahal. Ia tampak seperti predator yang sedang beristirahat. Matanya terus bergerak, memantau setiap tamu dan setiap pelayan yang lewat.

"Senyum sedikit, Clara," bisik Silas saat adiknya tiba di sampingnya. "Para investor harus melihat bahwa keluarga Marine tetap stabil meskipun ada gertakan dari preman Rusia itu."

"Nikolai bukan sekadar preman, Silas. Kau tahu itu," balas Clara tanpa menoleh.

"Dia hanyalah gangguan kecil yang akan segera kuhapus," Silas meminum sampanyenya sekali teguk. "Malam ini, setelah pengumuman pertunangan, kau dan Julian akan langsung menuju bandara. Jet pribadi sudah siap. Kau kembali ke Amsterdam, tempat yang aman."

Acara dimulai. Silas naik ke podium kecil dan memberikan pidato singkat yang penuh dengan istilah bisnis dan stabilitas. Saat tiba waktunya penyematan cincin, lampu ballroom sengaja diredupkan untuk memberikan efek dramatis.

Julian mengeluarkan kotak beludru hitam. Di dalamnya melingkar cincin berlian 5 karat yang berkilau tajam di bawah lampu sorot. Saat Julian meraih jemari Clara, wanita itu merasakan dingin yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

Bzzzt.

Ponsel kecil yang disembunyikan Clara di balik korset gaunnya bergetar. Hanya satu pesan masuk dari nomor yang terenkripsi:

"Cincin itu terlalu berat untuk tanganmu yang lembut. Lepaskan, atau aku yang akan melepaskan tangan pria itu dari tubuhnya."

Clara tersentak, hampir menjatuhkan tangannya dari genggaman Julian. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang gelap. Di sudut balkon yang remang-remang, ia melihat sesosok pria tinggi berdiri dalam bayangan. Pria itu tidak mengenakan seragam pelayan maupun tuxedo tamu. Ia mengenakan jaket taktis hitam.

Kilatan mata biru yang tajam itu tidak salah lagi. Nikolai Brine ada di sana, menonton pertunangan itu seperti iblis yang sedang memantau mangsanya.

"Clara? Ada apa?" tanya Julian curiga melihat reaksi tunangannya.

"Tidak... tidak ada apa-apa," bohong Clara. Jantungnya berdegup kencang. Ia menyadari satu hal: penjagaan ketat Silas telah ditembus. Nikolai tidak datang untuk bernegosiasi. Dia datang untuk mengambil apa yang menurutnya adalah haknya.

Pesta berlanjut, namun bagi Clara, setiap detak jam terasa seperti hitungan mundur menuju ledakan. Ia tahu, ketenangan di ruangan ini hanyalah ilusi sebelum badai Nikolai Brine menghancurkan segalanya sekali lagi.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Mega Maharani
lanjut thor ditunggu update bab selanjutnya
olyv
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!