"Menjadi anak pertama berarti harus siap menjadi benteng, harus siap mengalah, dan harus terlihat kuat meski hati rapuh.
Di mata semua orang, Zhira adalah anak yang beruntung. Tapi siapa sangka, di balik senyumnya yang tulus, tersimpan luka mendalam karena perlakuan dingin sang Ibu dan rasa tidak dianggap di rumah sendiri.
Ini adalah kisah perjuangan seorang anak sulung untuk membuktikan dirinya berharga, meski harus berjalan sendirian meniti jalan yang penuh duri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhikmatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beban di Bahu Kelas di bahu kelas tiga
POV Zhira
Hari-hari di kelas 3 SMA terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Suasana di sekolah penuh dengan tekanan. Tidak hanya soal nilai, tapi juga bayang-bayang ujian akhir dan pemilihan jurusan kuliah yang semakin dekat.
Teman-temanku sibuk membicarakan universitas mana yang ingin mereka masuki, jurusan apa yang disukai orang tua, atau persiapan les tambahan di sana-sini.
Dan aku... aku hanya bisa diam mendengarkan.
Sore itu, aku pulang sekolah dengan langkah gontai. Pikiran ini berat sekali. Guru Bimbingan Konseling sudah berbicara padaku beberapa hari yang lalu, menyarankan agar aku segera mendiskusikan rencana masa depanku dengan orang tua.
"Zhira, potensi kamu besar. Kamu bisa masuk ke universitas negeri kalau mau belajar lebih giat," kata Pak Guru waktu itu.
Tapi masalahnya bukan pada kemampuanku, melainkan pada siapa yang akan mendukungku.
Sesampainya di rumah, suasana tampak tenang. Ibu Zainal sedang duduk di ruang tamu sambil menjahit, sementara Ayah Alvin baru saja pulang dari kerja dan sedang melepas sepatu.
Aku menghela napas panjang, memberanikan diri. Hari ini aku harus bicara. Entah responnya bagaimana, aku harus mencoba.
"Assalamu’alaikum," sapaku pelan.
"Wa’alaikumsalam," jawab Ayah Alvin ramah. "Sudah pulang, Nak? Sini duduk dulu."
Aku mendekat dan duduk di ujung sofa, menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan Ibu. Jantungku berdegup kencang, seolah mau copot.
"Ada apa? Kok wajahnya muram begitu?" tanya Ayah Alvin sambil menegak air putih.
"Yah... Bu... Zhira mau bicara sedikit. Soal sekolah," mulailah aku dengan suara gemetar.
Ibu Zainal langsung menghentikan gerakan jarumnya. Ia menatapku tajam, alisnya terangkat sedikit. "Soal apa lagi? Jangan bilang kamu dapat nilai jelek atau berkelahi lagi?"
"Bukan itu, Bu. Zhira kan sekarang sudah kelas 3 SMA. Sebentar lagi ujian akhir, dan setelah itu harus kuliah. Guru di sekolah bilang, Zhira disarankan ambil jurusan Soshum karena nilainya bagus di sana," jelasku secepat mungkin, takut keburu dimarahi.
Suasana menjadi hening sejenak. Ayah Alvin mengangguk-angguk pelan, "Oh iya ya, kamu sudah kelas 3 ya. Cepat sekali waktu berlalu. Memangnya kamu mau ambil jurusan apa, Zhira?"
"Zhira pengen banget masuk jurusan Sastra atau Psikologi, Yah. Zhira suka menulis dan membaca," jawabku penuh harap. Mataku berbinar, membayangkan impian itu bisa menjadi nyata.
Namun, sebelum sempat Ayah menjawab, suara Ibu Zainal terdengar lebih dulu, dingin dan datar.
"Sastra? Psikologi? Untuk apa? Buat apa buang-buang uang dan waktu buat kuliah yang nggak jelas kerjanya itu? Kamu ini anak perempuan, Zhira. Nanti ujung-ujungnya juga nikah, ngurus suami dan anak. Buat apa pusing-pusing kuliah tinggi-tinggi?"
Kata-kata itu seperti gayung air es yang menyiramku hingga ke tulang sumsum.
"Tapi Bu... itu cita-cita Zhira. Zhira ingin belajar, ingin jadi orang sukses, bisa bantu Ayah dan Ibu nanti," bantahku pelan.
"Bantuan apaannya kalau kuliahnya malah bikin boncos? Lihat tuh adik-adikmu, mereka masih kecil, masih butuh biaya sekolah yang banyak. Uang di rumah ini tidak sebanyak yang kamu kira. Kalau kamu memang sayang sama keluarga, kenapa nggak kamu lanjut kerja saja setelah lulus nanti? Bantu Ibu cari uang, daripada minta bayaran sekolah mahal-mahal," cetus Ibu Zainal tanpa ampun.
"Zainal... jangan begitu dong. Zhira kan mau sekolah lagi," coba Ayah Alvin menengahi dengan suara lembut. "Lagipula Zhira anak pintar, sayang kalau nggak dikuliahkan."
"Alvin! Kamu ini tahu nggak sih keadaan keuangan kita? Kamu pikir uang tumbuh di pohon? Dia itu anak sulung, dia harusnya sadar diri! Adik-adiknya butuh masa depan juga. Kenapa harus Zhira yang diprioritaskan? Biarkan dia kerja, biar dia tahu rasanya susah payah cari uang, jangan manja terus!" Ibu mulai meninggikan suara, matanya melotot menatap Ayah, lalu beralih padaku.
Air mataku sudah siap tumpah, tapi aku tahan sekuat tenaga. Dadaku sesak sekali. Jadi... selama ini aku dianggap beban? Jadi cita-citaku, masa depanku, dianggap tidak penting dibandingkan adik-adikku?
"Jadi... Ibu tidak izinkan Zhira kuliah?" tanyaku, suaraku parau.
"Ibu bilang, pikirkan yang realistis saja! Kalau kamu mau sekolah lagi, cari sendiri uangnya! Jangan harap ada sepeser pun dari Ibu! Ibu lelah bekerja keras tapi anak sendiri tidak tahu berterima kasih!" bentak Ibu Zainal.
Aku menunduk dalam, membiarkan hinaan itu menghujam hatiku. Ayah Alvin hanya bisa menghela napas panjang, wajahnya terlihat kecewa dan tak berdaya. Aku tahu Ayah sayang padaku, tapi di rumah ini, keputusan Ibu adalah hukum mutlak yang tak bisa diganggu gugat.
"Baik, Bu..." jawabku lirih, nyaris tak terdengar. "Zhira mengerti. Zhira tidak akan minta uang kuliah. Zhira akan cari cara sendiri."
"Sudah sana! Masuk kamar! Jangan bikin suasana rumah jadi rusuh cuma karena mimpi-mimpi tinggimu!" usir Ibu.
Aku berdiri, kaki terasa lemas. Aku berjalan meninggalkan ruang tamu, meninggalkan Ayah yang hanya bisa menatapku dengan tatapan prihatin, dan Ibu yang kembali sibuk dengan jahitannya seolah tidak terjadi apa-apa.
Masuk ke dalam kamarku, pintu kututup perlahan. Aku bersandar di balik pintu, lalu meluncur ke bawah. Air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya jatuh juga.
Jadi begininya nasib anak pertama? Harus mengalah, harus berhenti bermimpi, harus rela menyerahkan segalanya demi yang lain?
Aku ingin kuliah. Aku ingin membanggakan nama mereka. Tapi kenapa justru mereka yang mematikan semangatku?
"Baiklah Bu... kalau Ibu bilang aku harus cari uang sendiri, aku akan lakukan itu. Aku akan buktikan, meski tanpa restu dan tanpa bantuan Ibu, aku tetap bisa jadi orang berguna," bisikku dalam hati, memantapkan tekad di tengah kepedihan yang mendalam.
Malam ini, langit di luar jendela tampak gelap gulita, tak ada satu pun bintang yang bersinar. Sama seperti masa depanku yang kini terasa samar dan penuh keraguan.
POV End