Pertemuan yang tidak disangka antara Fatur dan Anggita menjadikan mereka yang awalnya saling membenci menjadi saling cinta. Anggita yang niatnya pergi ke Batam untuk liburan karena sedang patah hati karena kekasihnya dan bertemu dengan Fatur mahasiswa jurusan arsitektur.
Awalnya Anggita hanya menganggap Fatur sebagai teman namun lama-kelamaan mereka saling mencintai dan menjalin hubungan pasca hubungannya dengan Damar putus. Namun tiba-tiba Anggita harus menikah dengan Damar karena kedua orang tuanya yang sudah dekat. Anggita terpaksa harus berbohong kepada Fatur dan meninggalkannya tanpa kabar membuat Fatur trauma serta patah hati hebat.
Setelah perpisahan mereka selama 4 tahun akhirnya Fatur kembali bertemu dengan Anggita. Mereka bertemu saat Anggita mencari seorang arsitek untuk membuat sebuah rumah setelah pernikahannya. Luka dan trauma yang ditinggalkan Anggita masih Fatur rasakan tapi anehnya Fatur kembali jatuh cinta untuk yang kedua kalinya?
Terinspirasi dari kisah ny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tidak Diundang
Hari ini Fatur sengaja memutuskan untuk tidak pergi ke kampus karena sakit kepala yang menyerangnya semalam pasca dirinya pulang demo. Begitu juga dengan Mili yang masih belum terlalu fit untuk kuliah. Rasa lapar menyelimuti Fatur pagi itu karena semalam pulang demo langsung tidur tidak sempat makan malam. Apalagi penyakit vertigo membuatnya ingin cepat berbaring di tempat tidur.
"Kalau makan pelan-pelan," ucap Mili saat melihat Fatur yang begitu tergesa-gesa dan lahap dengan menu sarapan paginya.
Namun Fatur tidak menggubris apa yang baru saja diucapkan kakaknya, ia lebih memilih untuk fokus menghabiskan sarapan favoritnya yaitu roti segelas susu murni. Fatur memang tidak suka susu rasa yang lain.
"Jangan ganggu aku," pinta Fatur tanpa menatap Mili dengan terus mengunyah makanan yang masih penuh di dalam rongga mulutnya.
"Kemarin kamu nggak kenapa-kenapa, kan?" Mili terus bertanya tanpa peduli akan permintaan Fatur.
Merasa terganggu dengan pertanyaan kakaknya membuat Fatur menunda sarapannya, diambilnya segelas air mineral yang tidak jauh dari tangan kanannya dan segera meneguknya pelan-pelan. Sementara itu Mili masih setia menunggu jawaban dari sang adik.
"Kalau aku sampai kenapa-kenapa nggak mungkin ada disini sekarang," jawab Fatur singkat menatap lekat Mili dan kembali memutuskan menghabiskan sarapannya.
Begitu singkat jawaban dari Fatur membuat Mili sedikit kesal. Wajah Mili mendadak sinis menatap adiknya dan gadis cantik berambut panjang memutuskan untuk kembali melanjutkan sarapannya. Memang Fatur bukanlah tipe orang yang enak untuk diajak bicara, lelaki itu terkesan kaku dan dingin.
Sedari tadi Tias Ayu terlihat sedikit gundah terlihat jelas sewaktu mereka bertiga menikmati sarapan sesekali Tias Ayu sesekali melirik jam dinding yang terpampang di ruangan itu. Membuat Fatur merasa heran saat dirinya berhasil menangkap basah mamanya selalu melihat jam dinding.
"Mama kenapa dari tadi diam terus?" tanya Fatur saat melihat sikap aneh mamanya yang tidak biasa.
"Mama nggak kenapa-kenapa, habiskan sarapan mu," jawab mamanya berbohong seraya tersenyum untuk meyakinkan Fatur.
"Mama sedang menunggu seseorang?" tebak Fatur kembali bertanya.
Belum sempat Tias Ayu menjawab akan pertanyaan Fatur, bel rumah berbunyi dan spontan membuat mereka bertiga tersentak kaget. Siapa tamu yang datang pagi-pagi seperti ini tidak biasanya. Fatur dan Mili saling menatap satu sama lain seolah saling bertanya siapa tamu itu. Tidak biasanya ada tamu yang datang ke rumah ini, apalagi saat jam sarapan pagi. Saat Fatur dan Mili dilanda rasa penasaran dan bertanya-tanya, berbeda dengan Tias Ayu yang mendadak gugup saat bel berbunyi. Degup jantungnya berdetak lebih kencang, sepetinya Tias Ayu tahu siapa yang datang pagi itu. Semoga saja tidak ada keributan yang terjadi.
"Biar Mama yang membuka pintu," pamit mamanya yang bangkit dari tempat duduk dan bergegas menuju ruang tamu.
Hanya anggukan kepala tanpa sepatah kata yang Fatur dan Mili lakukan dengan penuh rasa penasaran. Sebenarnya Mili ingin sekali bertanya kepada adiknya, siapa yang bertamu pagi-pagi seperti ini. Tapi Mili mengurungkan niatnya karena tahu akan jawaban adiknya. Pasti adiknya akan menjawab 'Mana Aku Tahu', jawaban itu yang akan terucap dari mulut Fatur dan akan membuat Mili kesal.
Sudah hampir 10 menit mamanya membuka pintu namun belum juga kembali membuat Fatur heran. Mengapa mamanya lama sekali, siapa tamu yang sebenarnya datang? Dan membuat sangat penasaran, akhirnya Fatur memutuskan untuk menyusul mamanya untuk memastikan jika mamanya baik-baik saja sekaligus ingin tahu siapa tamu yang datang.
"Kamu mau ke mana?" tanya Mili ketika melihat Fatur hendak pergi dari meja makan meninggalkannya.
"Mau menyusul Mama. Kenapa Mama lama sekali membuka pintu? Aku takut terjadi sesuatu." Fatur pergi meninggalkan Mili tanpa mengetahui apa yang akan kakaknya ucapkan.
Rasa penasaran juga dirasakan oleh Mili, dan gadis cantik ikut menyusul Fatur dari belakang mengikuti langkahnya. Bagai disambar petir di siang hari saat Fatur melihat mamanya sedang duduk berbicara dengan seseorang. Matanya Fatur menatap tajam saat dirinya mengenali seseorang yang sedang berbicara dengan mamanya. Seseorang yang sangat dibencinya, seseorang yang sudah meninggalkan luka yang mendalam serta rasa trauma, seseorang yang sudah membuatnya kecewa. Amarahnya mulai memuncak, rasa benci di dada mulai berkobar ibarat bola api yang menggebu-gebu. Begitu dengan Mili yang tak kalah terkejut saat melihat seseorang yang ada di depan matanya.
Sadar akan kedatangan putranya membuat Tias Ayu dan orang itu menatapnya dan Mili. Mereka saling menatap satu sama lain, tapi tatapan Fatur sangat tajam membidik orang itu seolah ingin memakannya.
"Buat apa kamu datang ke sini?" tanya Fatur dengan nada sinis dan ketus menatap orang itu dengan tajam yang tidak lain adalah papanya sendiri.
Kemarin Rudi menelpon mantan istrinya bertanya akan keadaan Fatur yang sedang ikut demo. Rudi ingin sekali bertemu dengan putra kesayangannya itu, namun Fatur selalu menolak dan melarang Mili dan mamanya untuk bertemu dengan papanya. Tias Ayu menyarankan agar mantan suaminya itu menemui kedua buah hatinya di rumah, karena bagaimana juga Fatur tidak akan pernah mengijinkan Mili bertemu dengan papanya. Oleh karena itu Tias Ayu memberitahu Rudi jika ingin menemui kedua anaknya ia harus datang ke rumah dan kini Rudi memenuhi keinginan Fatur.
"Papa datang untuk menemui kalian, sesuai keinginan kamu, Fatur," jawab papanya sambil berdiri menatap Fatur yang masih berdiri mematung tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Sepertinya kedatangan Rudi memang tidak pernah Fatur inginkan dan harapkan, sampai saat ini juga Fatur masih tidak bisa menerima kenyataan dan kehadiran papanya kembali. Mungkin ia sudah menganggap papanya sudah mati. Begitu juga dengan Mili yang percaya jika papanya datang untuk menemui mereka berdua. Mata indah Mili mulai berkaca-kaca ketika melihat papanya, serasa memori dahulu terulang lagi. Memori saat mereka masih bersama dan memori papanya meninggalkan dirinya.
"Aku nggak berharap kehadiranmu di sini!" ucap Fatur tegas dengan nada sinis dan menatap papanya.
Mata Rudi mulai berkaca-kaca saat melihat Fatur dan Mili yang sudah lama dirindukan olehnya. Sekarang mereka berdua sudah tumbuh menjadi seorang yang tampan dan juga cantik. Ingin sekali Rudi memeluk Fatur dan Mili, namun sayang Rudi bisa melihat rasa benci yang terpancar dari matanya. Hampir sama dengan Rudi, mata Fatur juga berkaca-kaca namun itu bukan karena rasa rindu kepada papanya melainkan rasa kecewa kepada papanya. Yang ingin dilakukannya saat ini adalah meluapkan rasa marah dan benci yang disimpan selama beberapa tahun. Hati Rudi begitu sakit ketika mendengar ucapan putranya mungkin itu adalah perlakuan yang pantas Rudi dapatkan setelah apa yang sudah dilakukan kepada Fatur dan Mili, dulu. Saat ini Rudi hanya ingin memeluk tubuhnya yang sudah menjelma menjadi lelaki gagah dan tampan.
"Fatur. Papa datang untuk meminta maaf kepada kalian semua." papanya mencoba untuk berbicara kepada Fatur yang sudah mulai emosi.
Amarah Fatur mulai memuncak dan air mata mulai memenuhi pelupuk matanya, mungkin ini saatnya Fatur melampiaskan emosi kepada papanya yang selama hampir 6 tahun dipendam. Yang seharusnya ia ucapkan dulu kepada sewaktu papanya meninggalkannya, Mili dan mamanya tanpa pesan dan kabar begitu saja. Sementara Mili hanya menjadi saksi luapan emosi Fatur kepada papanya.
"Meminta maaf! Setelah 6 tahun berlalu kamu datang hanya bilang ingin meminta maaf! Kemana saja kamu setelah 6 tahun pergi! Dan sekarang kamu datang menemui kami untuk meminta maaf!" teriak Fatur menggema di ruang tamu menatap Rudi dengan tatapan benci.
Melihat emosi Fatur yang sudah meledak tidak terkendali membuat Mili dan mamanya mulai menangis mendengar ucapan Fatur. Tias Ayu hanya duduk tertunduk sambil terus menangis tidak punya pilihan lagi selain membiarkan putranya berbicara tentang isi hatinya selama ini kepada mantan suaminya. Isi hati yang membuat dirinya terluka selama beberapa tahun. Rasa kecewa, benci, kesal, rindu, marah, yang disimpan oleh Fatur selama ini keluar bersamaan di depan papanya yang sudah meninggalkannya.
Rudi tahu dan bisa memahami amarah Fatur saat ini, pasti putranya akan menolak mentah-mentah dirinya. Tetapi karena Rudi ingin sekali meminta maaf kepada mantan istrinya, Mili dan terutama kepada Fatur. Ia tidak peduli jika Fatur berbicara apa saja kepadanya karena yang Rudi tahu saat ini dirinya ingin sekali bertemu dan meminta maaf kepada putranya.
"Apa kamu sudah bosan dengan wanita itu dan sekarang kamu kembali lagi ke dalam kehidupan kami?" lanjut Fatur terus memaki papanya dengan sinis sambil air mata mulai jatuh ke pipi.
Sungguh ucapan Fatur membuat Rudi sakit hati, sesakit itukah perasaan Fatur karenanya? Begitu benci dan kesalnya selama ini kepadanya? Rudi mulai menetaskan air mata dan bisa merasakan apa yang Fatur rasakan selama ini. Rasa sakit hati, benci, kecewa, trauma menjadi satu. Tapi Rudi tidak boleh pergi sebelum meminta maaf kepada Fatur walaupun mungkin putranya tidak akan pernah memaafkannya.
"Papa ke sini ingin meminta maaf kepadamu. Maafkan Papa yang sudah meninggalkanmu," jelas Rudi sambil memandang Fatur dengan lekat seraya air matanya terus menetas jatuh ke pipi.
"Meminta maaf! Apa kamu tahu bagaimana perasaanku sewaktu itu Hah!" balas Fatur lagi kembali berteriak untuk yang kedua kalinya dan membuat mamanya dan Mili menangis tersedu-sedu.
Tias Ayu dan Mili hanya bisa pasrah akan apa yang terjadi nantinya. Luka yang Fatur rasakan selama ini, itu juga yang Mili dan mamanya rasakan. Jadi wajar jika Fatur tidak bisa memaafkan papanya begitu saja setelah apa yang sudah ia lalui selama ini. Minta maaf saja tidak akan cukup baginya. Yang diinginkan adalah melihat papanya menderita.
"Apa kamu tahu bagaimana kondisi aku waktu itu? Apa kamu tahu bagaimana hancur dan frustasinya aku saat kamu meninggalkan kami tanpa pesan?" tambah Fatur yang begitu histeris karena amarahnya.
Hanya diam yang bisa Rudi lakukan sambil mendengarkan apa yang Fatur ucapkan. Ucapan yang sudah lama disimpan untuknya, ucapan yang ada di dalam hatinya, ucapan yang seharusnya Rudi dengar sejak dulu. Menyesal, itu yang Rudi rasakan sekarang.
"Sekarang kamu datang tiba-tiba meminta maaf dan memberikan semua fasilitas kepada kami tanpa perasaan bersalah? Apa kamu tahu bagaimana dulu kehidupan kami setelah kamu tinggalkan begitu saja?"
Tidak ada lagi kata maaf untuk Rudi karena pintu maaf Fatur sudah tertutup rapat baginya.
awas dingin ka
semangat Thor 😘
Hanya sebatas komen no like..
Hadir berdasarkan rekomendasi 🥰
jangan lupa mampir juga ya