NovelToon NovelToon
Perisai Sang Mafia

Perisai Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.

Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 29 Jebakan

Meski musuh hanya enam orang, jika Reigan dan dua orangnya gegabah, itu artinya mereka bunuh diri. Karena musuh bisa langsung menyergap, mereka bukan orang bodoh.

Tangannya langsung menarik pelatuk. Satu orang lumpuh. "Sisa lima," bisik Hana menghitung anggota musuh. Namun saat melihat mereka hanya bersembunyi tanpa bergerak lebih, Hana menyadari sesuatu. "Orang-orang itu tidak tahu cara menyerang. Apakah ini ... jebakan?"

Hana langsung berdiri. "Diam ditempat! Ini mungkin jebakan!!" teriak Hana.

Reigan yang mendongak ke atas mendengar seruan pertama, langsung menghentikan kaki setelah seruan kedua.

"Jebakan?"

Mendengar teriakan Hana musuh yang tinggal lima orang itu kalang kabut. Mereka sadar musuh menemukan rencana mereka.

Hana langsung melompat dari kontainer satu ke kontainer lain. Hingga akhirnya dia sampai di kontainer dekat dengan Reigan berdiri.

Dengan gerakan melompat yang ringan, Hana sampai di belakang Reigan yang sudah menoleh ke arahnya.

"Apa yang kau katakan?" tegur Reigan menuntut.

"Aku rasa ini jebakan atau umpan. Musuh disana tinggal lima orang. Mereka tidak maju atau bergerak melindungi gudang, mereka hanya bersembunyi."

"Kau yakin?"

"Aku tidak bicara omong kosong."

Reigan menatap sorot mata tajam Hana. "Oke. Kita langsung maju!"

"Tidak." Hana menahan bahu Reigan. Pria itu menoleh.

"Tidak? Kau ingin aku mundur?" Reigan tidak suka jalannya dihalangi.

"Bukan mundur. Meski ini jebakan mereka tetap bersenjata," tegas Hana. "Jangan gegabah."

Marco yang lihat langsung mengawasi Hana yang berdebat dengan Reigan. Dia lihat perempuan itu cukup ahli membaca situasi.

Sepertinya Nico benar, dia bukan wanita biasa. Baru kali ini Marco mengakui.

"Gudang yang sebenarnya kemungkinan ada di labirin kontainer sebelah kanan," kata Hana.

"Bagaimana kau tahu?"

"Karena ini umpan. Kita diarahkan terus ke kiri untuk lengah. Karena itu kita coba ke kanan. Ada gedung yang tersamarkan tepat di belakang kontainer yang paling besar." Hana menjelaskan dengan runut.

Reigan terdiam beberapa detik.

"Pasukanmu arahkan ke kiri Marco. Kita ke kanan. Kemungkinan Gudang ada di sebelah kanan," ujar Reigan. Suaranya dingin, namun sepasang matanya tetap terkunci mati pada Hana, seolah sedang berusaha percaya tapi juga menuntut bahwa apa yang dikatakan Hana benar.

"Baik, Bos." Marco memberi arahan pada pasukannya ke arah kiri.

"Ikuti aku." Hana melangkah maju.

Nico tanpa bicara langsung mengikuti Hana. Sebagai orang yang ahli membaca data, logika Hana barusan terasa jauh lebih masuk akal di kepalanya. Ini gebrakan pertama kali dari Nico. Pria berkacamata itu pertama kalinya tidak mendengar dulu arahan dari Reigan. Mata Reigan menyalang geram.

"Dia sedang melakukan pemberontakan?" Sarkas Marco melihat Nico heran.

Reigan geram dan ikut arahan Hana.

"Jalan di belakang kami, Nico," perintah Reigan pada Nico yang berjalan sejajar dengan Hana.

Kaki Nico memelankan langkahnya. Dia langsung menyadari Reigan yang tidak suka ia berjalan sejajar dengan nyonya Reigan.

Gudang di labirin kanan itu akhirnya terlihat. Dugaan Hana tepat.

"Apa yang dikatakan Nyonya Reigan benar," ucap Nico.

Sebuah pintu baja tebal yang sedikit terbuka, memancarkan keheningan yang mencurigakan. Tidak ada satu pun penjaga di depannya.

Reigan mendorong pintu itu dengan laras senjatanya, bersiap memuntahkan peluru. Namun, ruangan di balik pintu itu kosong melompong. Tidak ada peti senjata, tidak ada amunisi. Hanya ada sebuah meja kayu di tengah ruangan yang diterangi lampu gantung temaram.

Di atas meja itu, bertumpuk lembaran berkas tebal berserakan.

"Tuan, ini... bukan gudang senjata," lapor Nico.

"Kosong?" Reigan menyipitkan mata.

Marco yang datang terengah-engah di belakang Reigan, heran. Dia langsung mengikuti mereka di belakang setelah memberi perintah ke kiri. Dengan waspada, bola matanya menyapu ruangan.

"Ini benar-benar sebuah jebakan saja? Bikin muak." Marco kesal.

Terdengar geraman tertahan. Reigan yang juga melihat gudang kosong, marah.

Reigan melangkah lebar menghampiri meja. Tangan kekarnya menyambar lembaran kertas teratas. Begitu sepasang matanya membaca kata tebal yang tertulis di sana, rahangnya langsung mengeras rapat.

VESPER.

Berkas-berkas itu penuh dengan catatan misi, kode agen elite, dan analisis taktis yang sangat rahasia.

Nico juga ikut menyentuh berkas-berkas itu. Aku mendapatkan informasi! Nico yang maniak mencari informasi, senang. Adrenalinnya naik.

Hana yang berdiri dua langkah di belakang Reigan langsung membeku saat melihat nama itu terpampang jelas. Napasnya sempat tertahan.

Sialan! umpat Hana dalam hati. Bajingan itu sengaja.

Rahangnya mengatup rapat, menahan gejolak panik yang jarang sekali menghampirinya. Ternyata ini semua juga jebakan untuknya. Leon tahu dia akan datang. Leon tahu dia akan membaca taktik di jalur kiri dan membawa Reigan ke jalur kanan ini. Leon sengaja menggunakan tangan Reigan untuk membongkar kedoknya.

"Vesper..." desis Reigan. Suaranya rendah, bergetar oleh amarah yang tertahan. Dia membalik lembar berikutnya, dan sebuah foto buram seorang wanita dengan mata elang yang sangat dia kenali ada di sana.

Reigan perlahan membalikkan tubuhnya. Sepasang matanya menyalang merah, menatap lurus ke arah Hana dengan pandangan mematikan. "Jadi, ini alasan Leon mengosongkan gudangnya? Dia tidak sedang menyembunyikan peluru, Hana. Dia sedang menyerahkan dirimu."

Hana menatap Reigan lurus. Identitasku terbuka, batin Hana.

Tit... Tit... Tit...

Suara detik digital yang nyaring mendadak memotong kalimat Hana. Bunyinya berasal dari bawah meja kayu, berdetak dengan ritme yang terlampau cepat.

"Tuan! Bom waktu!" teriak Nico panik.

"Sialan! Keluar!" perintah Reigan keras.

Reigan tidak punya waktu untuk menginterogasi Hana sekarang. Dia mencengkeram pergelangan tangan Hana dengan cepat. Pria itu menarik Hana dengan kasar, memaksa wanita itu berlari secepat mungkin keluar dari gudang.

Mereka baru saja melompat keluar dari pintu baja ketika suara detak itu berhenti.

BOOM!!!

Ledakan dahsyat menghancurkan gudang di belakang mereka. Gelombang panas melemparkan tubuh mereka ke tanah pelabuhan. Kepulan asap hitam pekat langsung membubung tinggi, melenyapkan sisa berkas yang tertinggal di dalam sana.

Telinga Hana berdenging hebat. Aroma pekat belerang, besi terbakar, dan debu pelabuhan langsung menusuk indra penciumannya saat kesadarannya perlahan kembali.

Pandangannya sempat kabur oleh kepulan asap hitam yang membubung di sekeliling mereka.

Reigan? Hana terkejut saat menyadari tubuh Reigan jadi tameng untuknya. Mata Hana berkedip, mencoba menjernihkan sisa keterkejutannya.

Sepasang lengan kekar terbalut kemeja hitam yang kini robek dan kotor oleh jelaga mendekap erat pinggang dan kepalanya, menyembunyikan wajah Hana dengan aman di dada bidang pria itu.

Pria itu menindihnya, menjadikan tubuh tegapnya sendiri sebagai tameng untuk melindungi Hana dari runtuhan besi kontainer dan gelombang panas ledakan tadi.

Hana bisa mendengar detak jantung Reigan yang bergemuruh cepat tepat di balik dadanya. Napas pria itu memburu kasar di ceruk leher Hana.

"Reigan..." panggil Hana lirih. Suaranya serak.

Reigan perlahan bergerak. Dia mengangkat tubuhnya sedikit, melepaskan kungkungan eratnya meski sepasang tangan kekarnya tetap mencengkeram bahu Hana, memastikan wanita di bawahnya tidak terluka.

Wajah Reigan kotor oleh debu mesiu, dan ada darah segar yang mengalir tipis dari pelipisnya akibat serpihan besi. Namun, sorot matanya yang menyalang merah tidak menunjukkan rasa sakit. Mata itu menatap Hana dengan kilat amarah, kecurigaan, sekaligus kelegaan yang tidak bisa disembunyikan.

1
Normawati
😘
Inah Ilham
terhura....eh terharu nya aku 😭😭😭
E F
tq thor🙏😍
lanjutttt💪😄
Inah Ilham
kita yg baca berasa ikut diterperangkap dikegelapan
E F
lanjutt thor💪😍😄
Inah Ilham
sepertinya kok ada bau" gosong ya 🤣🤣🤣
Latifa Latifa
selalu suka karya othor...bahasa simple..alur jelas ..sukaa pokoknya
Inah Ilham
sabar Mas Bro
Inah Ilham
aku tau apa yang ada dikepalamu Reigan 🤣🤣🤣
Inah Ilham
mereka pikir Hana adalah mangsa padahal dialah predatornya
Inah Ilham
kaget ngga tuh si Abang Reigan
Dik Yude
karya2mu sll luar viasa thor..😍
Latifah Latifah
lanjut up thor💪💪😍
Riri
cemburu bang...😄
Idah Faridah
dtunggu thor up nya
Idah Faridah
ternyata hana bukan perempuan biasa👍
Lady Ve: Terima kasih Sudah mampir untuk baca🙏
total 1 replies
Riri
reigan ketagihan dialog sama Hana...
Riri
aura gadis desa itu...
Riri
POV Marco: dikira jaman purba
Riri
😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!