Dunia Aiswa runtuh saat Devan Argian, investor berkuasa yang dingin, mengklaimnya secara sepihak. Bukan sekadar lamaran, ini adalah jeratan. Demi ambisinya, Devan tak segan mengancam nyawa orang-orang tercinta Aiswa. Nasib adiknya yang bekerja sebagai operator alat berat di Kalimantan kini di ujung tanduk; satu perintah dari Devan bisa menghancurkan masa depan, bahkan nyawanya.
Terjepit antara rasa benci dan keselamatan keluarga, Aiswa terpaksa tunduk dalam "penjara emas" sang tuan muda. Namun, di balik dominasi gelap Devan, hadir Zianna, putri kecil sang investor yang sangat menyayanginya. Akankah ketulusan Zianna dan pesona posesif Devan mampu mengikis kebencian Aiswa hingga setipis tisu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Kerjasama Ayah dan Anak yang Terlalu Epic
Aiswa dan Elena melangkah masuk ke restoran itu dengan kaki yang terasa berat. Bukan karena lelah, tapi karena interior restoran ini terlalu "mahal" bagi paru-paru mereka yang terbiasa menghirup aroma gorengan pinggir jalan.
Begitu pelayan datang membawakan daftar menu, mata keduanya hampir saja melompat dari tempatnya.
"Ai... ini harga satu porsi nasi gorengnya bisa buat kita makan mie ayam bakso plus kerupuk selama sebulan penuh," bisik Elena dengan nada getir.
"Kantong gue menangis, Ai. Dia menjerit ingin pulang."
Aiswa hanya bisa mengangguk pasrah. Sementara itu, Devan dan Zianna memesan dengan santai, seolah-olah harga yang tertera di sana hanyalah nomor urut, bukan nominal rupiah.
Devan melirik dua gadis di hadapannya yang tampak seperti sedang membaca kitab suci dengan penuh ketegangan.
"Pesan saja apa yang kalian mau. Jangan pikirkan harganya. Saya ajak kalian ke sini karena saya mampu," ucap Devan datar.
Terdengar sopan, tapi bagi telinga Aiswa, itu adalah sebuah keangkuhan yang sangat nyata.
Akhirnya, dengan prinsip "pilih yang paling murah tapi tetap terlihat beradab", mereka memesan menu yang paling standar.
Sepanjang makanan masuk ke kerongkongan, Aiswa merasa berdosa. Setiap kunyahan rasanya seperti menelan lembaran uang.
Untuk memecah kecanggungan, Aiswa mencoba bertanya pada Zianna.
"Oh ya, Zianna... kamu ke sini bareng Papa saja? Mama kamu nggak ikut, Sayang?"
"Mama aku sudah meninggal, Tante Guru," jawab Zianna tanpa beban, sambil asyik memotong daging di piringnya.
Deg.
Elena dan Aiswa serentak menghentikan kunyahan mereka. Suasana meja makan mendadak hening seketika. Aiswa melirik Devan, pria itu tetap tenang, wajahnya sedingin es di kutub utara, sulit sekali ditebak apa yang ada di pikirannya.
"Maaf, Sayang... Tante nggak bermaksud..." ucap Aiswa dengan rasa bersalah yang teramat sangat.
"Nggak apa-apa, Tante Guru. Kata Papa, Mama sudah bahagia di surga. Jadi aku sama Papa juga harus bahagia," ucap Zianna ceria.
Aiswa dan Elena, yang jiwanya memang penuh kasih sayang seorang guru, merasa terenyuh. Bagaimana bisa anak sekecil ini memiliki hati seluas itu?
"Tapi tenang! Zianna sudah buat pengumuman di sekolah pakai spanduk besar banget buat yang mau daftar jadi Mama baru Zianna. Tante Guru mau daftar nggak?"
Uhuk!
Aiswa tersedak hebat. Devan secara spontan menyodorkan segelas air putih padanya.
"Terima kasih..." gumam Aiswa canggung setelah meminum air itu. Ia menatap Elena, dan Elena membalas dengan tatapan, 'Nih bocah ternyata tidak sepolos yang kita kira, Ai.'
"Jangan dimasukkan ke hati. Zianna hanya anak kecil, dia mengucapkan apa yang dia rasakan," ucap Devan membela putrinya meski ekspresinya tetap kaku.
"Aku bukan anak kecil lagi, Papa! Aku sudah dewasa!" protes Zianna sambil merengut.
"Dewasa? Memang umur kamu berapa, Sayang?" tanya Elena mencoba mencairkan suasana.
"Empat tahun, Tante!" jawab Zianna sambil mengangkat empat jari mungilnya dengan bangga.
Elena tertawa canggung. Kamu empat tahun sudah merasa dewasa, lah aku yang dua puluh empat tahun ini apa? Tua bangka yang belum mapan? batin Elena mencelos.
Di tengah sesi makan, Aiswa sempat menangkap kilatan mata Devan yang menatap Zianna, lalu memberikan kode rahasia dengan lirikan mata. Seolah mendapat sinyal, Zianna langsung melancarkan serangan berikutnya.
"Tante Guru senang nggak makan bareng Zianna?" tanya Zianna manja.
"Senang dong! Iya kan, Elena?" Aiswa buru-buru menyeret Elena agar tidak sendirian menghadapi tatapan intens Devan yang seolah ingin menelannya hidup-hidup.
"Iya, seru banget!" sahut Elena cepat.
"Kalau Zianna sering ajak ketemu buat main, boleh?" Zianna memasang wajah memohon yang sangat menggemaskan.
Mana mungkin Aiswa yang seorang guru TK tega menolak? Aiswa pun mengangguk.
"Kalau gitu, Zianna harus punya nomor Tante Guru supaya bisa kabar-kabaran, ya kan, Pa?"
Elena memicingkan mata. Strategi yang jenius, batinnya.
"Boleh, Sayang," jawab Aiswa polos sambil membuka ponselnya dan menunjukkan nomor WhatsApp miliknya.
"Pa! Handphone Papa mana? Simpan nomor Tante Guru sekarang. Zianna kan nggak punya handphone, Zianna kan masih kecil!"
Uhuk! Kali ini giliran Elena yang hampir tersedak. Aiswa segera memberikan minum padanya. Tadi katanya sudah dewasa, kali ini berubah masih kecil.
Elena menatap Zianna dengan takjub, lalu diam-diam mengangkat jempol kecil ke arah bocah itu.
Kecil-kecil cerdik! Ini mah modusnya Zianna buat dapet nomor Aiswa buat bapaknya! Elena tahu benar, sejak tadi tatapan Devan tidak lepas dari Aiswa.
Meski si Tuan Muda itu diam seribu bahasa, Elena yakin seratus persen, Devan Argian sudah masuk ke dalam zona terpesona pada sahabatnya.