NovelToon NovelToon
Gara-gara Cinta Yang Mendua

Gara-gara Cinta Yang Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.

Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.

Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.

Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5

Hari itu menjadi awal dari semuanya. Berkas-berkas mulai disiapkan. Nama-nama pengacara mulai muncul. Percakapan tidak lagi tentang rumah tangga, tapi tentang pembagian, hak, dan kepemilikan. Semuanya berubah menjadi dingin. Transaksional. Tanpa cinta.

Aji tidak tinggal diam. Ia mulai menyerang.

“Hak asuh anak akan jatuh ke aku.”

“Harta semua atas nama aku.”

“Kamu nggak akan dapat apa-apa.”

Setiap kata dilontarkan dengan pasti. Dengan keyakinan. Seolah ia sedang mengingatkan Sekar tentang posisinya. Tentang siapa yang berkuasa. Namun yang ia hadapi sekarang bukan lagi Sekar yang dulu.

Sekar hanya diam. Menatapnya tanpa emosi. Tanpa takut. Tanpa gentar.

“Ambil semuanya.” Suara itu pelan. Tapi tegas.

Aji mengernyit. “ Apa?”

“Ambil harta, rumah… semua yang kamu mau.” Sekar melangkah mendekat, menatap lurus ke matanya. Tidak ada lagi kelembutan di sana. Tidak ada lagi sisa cinta. “Tapi satu hal…” Ia berhenti. Memberi jeda. “Aku tidak akan tinggal.” Dan kalimat itu menjadi garis akhir.

Sejak saat itu, tidak ada lagi yang bisa diperbaiki. Tidak ada lagi jalan untuk kembali. Yang tersisa hanya proses panjang menuju perpisahan. Menuju ruang sidang. Menuju hari di mana semuanya akan diputuskan. Dan hari itu akhirnya datang.

Sekar duduk di kursi ruang sidang, dengan tangan yang saling menggenggam di pangkuannya. Dingin ruangan itu terasa sampai ke tulang, atau mungkin itu hanya perasaannya saja. Ia menatap lurus ke depan. Tidak ke Aji. Tidak ke siapa pun. Karena ia tahu begitu palu itu diketuk, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

***

Ruang sidang itu terasa terlalu terang. Lampu-lampu putih menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya dingin yang membuat segalanya tampak kaku dan tak bernyawa. Sekar duduk di kursinya, punggung tegak, tangan saling menggenggam di pangkuan. Jari-jarinya dingin, tapi ia tidak tahu apakah itu karena ruangan atau karena dirinya sendiri.

Di seberangnya, Aji tampak berbeda. Lebih rapi. Lebih siap. Seolah ia datang bukan untuk kehilangan sesuatu, tapi untuk memastikan ia mendapatkan semuanya.

“Sidang perkara perceraian antara saudara Aji Pratama dan saudari Sekar dinyatakan dibuka.”

Suara hakim memecah keheningan. Formal. Datar. Tanpa emosi. Sekar menarik napas pelan. Ini dia. Proses berjalan seperti biasanya. Pengacara berbicara. Bukti disampaikan. Argumen dilontarkan. Semua terdengar seperti rangkaian kata-kata yang disusun rapi tapi kehilangan makna.

Sampai akhirnya Aji berdiri. “Izin, Yang Mulia.”

Hakim mengangguk. “Silakan.”

Aji berdiri tegak. Tatapannya lurus, suaranya tenang, tapi setiap kata yang keluar terasa seperti pisau yang disiapkan dengan sengaja. “Saya ingin menyampaikan bahwa selama pernikahan kami, pihak istri… tidak menjalankan perannya dengan baik.”

Sekar tidak bergerak. Namun jari-jarinya sedikit mengencang.

“Kurang melayani sebagai istri,” lanjut Aji. “Lebih mementingkan pekerjaan dibanding keluarga.”

Ruangan menjadi lebih sunyi. Hakim menatap Aji. “Saudara punya bukti atau saksi yang mendukung pernyataan ini?”

Aji tersenyum tipis. “Ada, Yang Mulia. Tapi bahkan tanpa itu pun… kondisi rumah tangga kami sudah cukup menunjukkan.” Ia berhenti sejenak. Lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dalam. “Selain itu, saya juga meragukan kesetiaan pihak istri.”

Sekar mengangkat wajahnya perlahan. Untuk pertama kalinya… menatap Aji.

“Jelaskan maksud saudara,” kata hakim.

Aji tidak langsung menjawab. Seolah menikmati momen itu. Seolah menunggu semua perhatian benar-benar tertuju padanya. “Pihak istri memiliki kedekatan yang tidak wajar dengan rekan kerjanya, Rendi.”

Nama itu jatuh di ruangan seperti benda berat. Menggema. Menusuk.

“Itu tidak benar.” Akhirnya Sekar bicara.

Suaranya tidak keras. Tapi cukup jelas.

Hakim menoleh. “Saudari Sekar, nanti akan diberi kesempatan untuk menyampaikan pembelaan. Silakan tenang.”

Sekar kembali diam. Namun kali ini napasnya sedikit berubah.

Aji melanjutkan, seolah tidak terganggu. “Saya menemukan komunikasi yang intens, pertemuan di luar jam kerja… yang menurut saya tidak pantas untuk seorang istri.”

“Itu urusan pekerjaan.” Sekar kembali memotong. Lebih tegas.

Aji tersenyum. Sinis. “Kalau memang hanya pekerjaan, kenapa harus disembunyikan?”

Sekar menatapnya. Lama. Dalam. “Yang menyembunyikan itu kamu, Ji.”

Ruangan mendadak terasa lebih berat. Hakim mengetuk palu kecil. “Harap menjaga ketertiban. Saudari Sekar akan diberi kesempatan bicara.”

Sekar menarik napas. Dalam. Untuk pertama kalinya sejak sidang dimulai, ia berdiri. “Saya tidak pernah berselingkuh.” Suaranya tenang. Tapi ada sesuatu di dalamnya. Sesuatu yang… akhirnya hidup. “Saya bekerja karena keadaan menuntut saya untuk membantu. Semua yang saya lakukan… untuk keluarga.” Ia menatap hakim. Lalu perlahan ke arah Aji. “Dan saya tidak pernah menyembunyikan apa pun.”

Hening.

Hakim mengangguk pelan. “Baik. Pernyataan dicatat.”

Namun Aji belum selesai. “Saya juga ingin menambahkan, Yang Mulia… bahwa kondisi mental pihak istri saat ini tidak stabil.”

Sekar membeku.

Hakim mengernyit. “Maksud saudara?”

“Sejak beberapa waktu terakhir, dia tidak menunjukkan emosi yang wajar. Tidak berinteraksi dengan baik, bahkan terhadap anak kami.” Aji melirik Sekar sekilas. Lalu kembali menatap hakim. “Saya khawatir, jika hak asuh jatuh kepada dia… anak kami tidak akan mendapatkan lingkungan yang sehat.”

Kalimat itu lebih kejam dari yang sebelumnya. Sekar tidak langsung bereaksi. Namun di dalam dirinya sesuatu retak.

Hakim mencatat. Lalu menatap Sekar. “Apakah ada tanggapan?”

Sekar diam. Beberapa detik. Yang terasa sangat lama. Ia ingin membela diri. Ingin menjelaskan. Ingin berteriak bahwa semua itu tidak benar. Tapi yang keluar justru satu kalimat pelan. “Saya… hanya lelah.” Dan untuk pertama kalinya, suara itu terdengar rapuh.

Hakim menghela napas pelan. Sidang dilanjutkan. Argumen demi argumen disampaikan. Namun bagi Sekar, semuanya mulai terdengar jauh. Seperti suara yang teredam air. Yang ia tangkap hanya potongan-potongan tidak layak, kondisi psikologis, hak asuh.

Palu itu sudah diketuk. Namun bagi Sekar, suara itu masih menggema di kepalanya. Berulang. Tanpa henti. Hak asuh anak jatuh kepada pihak ayah. Kalimat itu tidak hanya terdengar. Ia menetap. Mengendap. Menghancurkan.

Sekar masih duduk di kursinya ketika orang-orang mulai berdiri. Suara kursi bergeser, langkah kaki yang tergesa, percakapan pelan di sudut-sudut ruangan, semuanya terasa seperti latar belakang yang kabur. Seolah dunia bergerak tanpa dirinya.

"Sekar," Lita, sahabat sekaligus psikolog yang menangani Sekar langsung memeluknya yang masih duduk di kursi sidang, sementara satu-persatu pengunjung telah pergi.

Sekar mematung. Sekar teramat lelah. Ia menyesal sebab tak bisa mengungkap perselingkuhan Aji dan Mila sebab bukti yang tidak dimilikinya. Ia juga marah dituduh berselingkuh dengan Rendi padahal Aji tahu betapa setianya ia pada pernikahan yang mereka bangun.

"Ini nggak adil." Sekar bicara dengan tatapan kosong.

Lita terus memeluknya, menguatkan sahabatnya ini. Ia tahu betul bagaimana perjuangan Sekar selama ini dan seberapa terlukanya dia. Tapi pengkhianatan dan fitnah yang keji lah yang diberikan Aku pada Sekar.

"Kamu harus percaya, orang-orang zalim akan menemukan balasan!" Lita mengutuk Aji.

1
Uthie
Duhhhhh...susah banget sihhh buat mereka bersatu nya 😭😭😭
Uthie
masih konflik soal Anak 😌
Uthie
Duhhhhh... konflik nya masih aja terus di urusan "Sea" melulu dehhhh.....
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤

Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦‍♀️🤣
Uthie
si Sekar emang nyeyel sihhh di kasih Tauin sama ibunya berulang kali selalu gak ada mau dengar nya 😤😡😡😡
Uthie
Sekar terlalu lembek.. gak bisa tegas 😤😡
Uthie
mantan kurang ajar itu 😡
Uthie
Ahhhhh.... Sekar-Sekar... kalau mahhhh kau akan masuk dalam lubang kehidupan di keluarga Toxic itu lagiii 😤😡
Uthie
Yaaa... Damar malah menjauh ☹️
Uthie
Yeayyyy

.Damar 🤩🤗
Uthie
Cieee😁
Uthie
cinta yg sejati kadang hadir bukan dr cover yg terlihat bagus di awal 👍😁
Uthie
semoga jodoh 👍😁🤗
Uthie
Bagusssss 👍👍👍👍
Uthie
Bagussss Sekar 👍😡
THAILAND GAERI
maaf Thor...aq nyesel baca novel,,Sekar bodoh ga ketulungan,,ga ada greget nya sedikit pun terlalu monoton..maaf ,,tp ini ide othor sendiri..selamat menulis novelnya
THAILAND GAERI
ni Sekar JD org kok goblok banget ya...lawan kek maki kek,,mana ada org diinjak diam aja..
Uthie
semoga si Aji nyesel dibuat nyesel melepas istri sebaik Sekar👍😡
Uthie
Langsung sukkkaa cerita genre Pengkhianatan yg selalu menarik disimak 👍👍👍👍👍👍👍
Uthie
kasian nya 😢
Uthie
dasar laki-laki yg bisa nya cuma mencari kebenaran untuk dirinya aja 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!