Perjuangan seorang anak yang lahir dari sebuah kesalahan, Prayoga berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan ibunya, Rania yang berjuang seorang diri untuk membuat putranya di akui oleh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T Moel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngidam Aneh
Seharian ini Ryan dan Lidya di buat sibuk oleh Leon. Beberapa kali Leon meminta jenis makanan yang sangat sulit di dapat, tai setelah dapat makanannya justru Ryan dan Lidya yang harus menghabiskan nya. Jika tidak di habiskan Leon selalu mengancam akan memotong gaji sebanyak 50 persen. Tapi jika makanan nya bisa habis, mereka berdua akan mendapatkan bonus besar.
Lidya yang tidak tahu penyebab Leon seperti itu tempat sangat bingung, sedangkan Ryan mengetahui apa penyebab hal tersebut tanpa berniat untuk memberi tahu kan pada Lidya.
Seperti saat ini, Leon ngidam buah kecapi yang sudah jarang sekali tumbuh tidak seperti rambutan yang banyak tumbuh.
"Maaf tuan, jangankan pohonnya, buahnya saja saya tidak tahu yang seperti apa. " Ryan merasa sangat frustasi dengan permintaan bos nya.
"Saya tidak mau tahu, sebelum jam pulang kerja, buah itu harus sudah ada di meja saya, tapi jika belum ada maka kamu harus lembur malam ini dan juga potong gaji. "
"Iya tuan, saya akan usahakan secepatnya, saya permisi dulu. "
"Si bos ngidam nya ekstrem, ancaman nya juga lebih ekstrem. kemana aku harus mencari buah kecapi.?"
Ryan hanya bisa meratapi nasibnya menghadapi bos lagi ngidam akut. Dengan langkah gontai, Ryan melangkah ke arah lift menuju lantai bawah. Dalam pikiran nya berkecamuk dengan tugas dari bos dengan taruhan gajinya serta lembut sampai pagi.
Sampai di lift, Ryan melihat seorang OB yang seperti nya baru saja selesai membersihkan area lantai atas. Terlihat dari keringat nya yang masih bercucuran. OB tersebut tampak tersenyum serta mengangguk hormat pada Ryan sebagai orang nomer dua di perusahaan tempat ya bekerja.
"Maaf tuan saya lancang bertanya pada tuan."
"Hmmmmm.... " hanya di jawaban singkat.
"Kalau boleh tahu ada masalah apa, seperti nya tuan mendapatkan tugas berat dari tuan Leon. " Dengan menunduk OB itu berbicara.
"Apa urusan kamu dengan pekerjaan yang ku lakukan, urus saja urusan mu sendiri dan selesai kan tugas mu dengan baik jangan sampai atasan kamu marah dengan kinerja kamu. " Ryan menjawab dengan datar.
"Tidak apa apa tuan, hanya saja hati kecil saya berkata kalau saya bisa membantu pekerjaan anda hari ini, itu saja tuan. " masih dengan menunduk OB itu berkata.
"Ini orang banyak bicara, tapi bisa juga mungkin dia bisa membantu mencarikan buah kecapi. "
"Iya saya memang sedang bingung mencari buah kecapi, kamu tahu sendiri kan buah itu sudah sangat langka, saya mencari di setiap toko buah yang mewah sampai di pinggir jalan tidak ada yang menjualnya. Saya sampai prustasi. " Ryan akhirnya mengalah untuk mengatakan nya.
"Oh buah kecapi, memang sih buah kecapi sudah jarang yang punya pohonnya tidak seperti buah rambutan yang masih banyak di tanam orang. "
"Iya memang, apa kamu tahu di mana saya bisa mendapatkan buah kecapi itu? "
"Saya tahu di mana pohon kecapi Itu berada, nanti saya antar tuan, tapi saya harus menyelesaikan pekerjaan saya dulu, karena jika belum selesai pasti Bu Ratna akan marah marah. "
Dengan wajah berbinar Ryan berkata "Kamu tahu di mana pohon buah kecapi itu? "
"Tahu tuan, kebetulan di belakang rumah saya ada kebun yang di tanami beberapa pohon buah dan di antara ada satu pohon buah kecapi, dan kebetulan saat ini sedang berbuah lebat. "
"Bagaikan mendapat bonus besar, wajah Rua yang dari tadi di tekuk, tiba tiba wajahnya menjadi ceria.
" Baiklah, sekarang juga kamu antar saya ke tempat yang kamu maksudkan. "
"Tapi tuan... "
"Tapi apa..?
" Bagaimana dengan pekerjaan saya, karena saya tidak mau meninggi pekerjaan saya sebelum semuanya selesai. "
"Masih berapa lantai yang harus kamu selesai kan? "
"Tinggal dua lantai lagi tuan. "
"Terlalu lama, biar saya yang bicara dengan bu Ratna bagian kebersihan kalau kamu dapat tugas dai saya, biar tugas kamu orang lain yang mengerjakannya. "
"Tapi tuan..... "
"Tidak ada tapi tapian ayo ikut dengan saya ke bagian kebersihan. "
Keluar dari lift Ryan menarik paksa Guntur OB tersebut. Ada beberapa karyawan yang melihat kejadian tersebut, ada yang berasumsi kalau Guntur sedang di hukum karena melanggar aturan. Sampai di depan ruangan bagian kebersihan, Ryan mengetuk pintu ruangan, setelah ada kata "Masuk" Ryan masuk ke dalam ruangan bu Ratna masih memegang tangan Guntur, sehingga membuat bu Ratna terkejut dengan situasi itu.
"Guntur apa yang sudah kamu lakukan sehingga tuan Ryan marah sama kamu, apa pekerjaan kamu tidak bagus? "
" Tidak bu, saya saya hanya.... "
"Bicara yang benar jangan membuat malu bgian kebersihan dengan membuat malu semuanya. "
Di luar terdengar kasak kusuk beberapa teman OB yang lainnya.
"Maaf tuan, jika OB saya membuat kesalahan." Bu Ratna menunduk.
"Tidak bu, Guntur sama sekali tidak membuat kesalahan, malah Guntur yang menolong saya. "
"Maksudnya tuan? "
"Saya di tugaskan oleh bos untuk mencari sesuatu yang di perlukan bos dan kebetulan Guntur tahu di mana tempat nya, jadi saya ijin pada ibu Ratna untuk meminjam Guntur sebentar, dan mungkin tugas Guntur bisa di gantikan sementara oleh orang lain. "
"Oh begitu, baiklah silakan tuan, Guntur bisa anda bawa, nanti biar salah seorang temannya yang akan menggantikan tugasnya sementara. "
"Baiklah terima kasih bu Ratna. "
Ryan dan Guntur keluar dari ruangan bu Ratna yang segera memerintahkan salah seorang anak buahnya untuk menggantikan Guntur.
Selang beberapa saat kemudian, Ryan dan Guntur sudah di dalam mobil. Membelah jalanan ibukota yang sudah mulai padat merayap.
"Dari sini kemana? "
"Lurus saja tuan, di pertigaan belok kiri, kemudian lurus lagi. "
Ryan mengikuti arahan Guntur, tidak lama kemudian mereka sudah sampai di depan rumah Guntur, rumah sederhana dengan halaman luas di tumbuhi berbagai macam bunga warna warni dan ada juga beebrapa pohon buah mangga dan nangka yang membuat rumah tersebut sangat sejuk.
Dari dalam rumah keluarga seorang anak kecil berumur sekitar lima tahunan. Seperti menyelidiki siapa yang ada di dalam mobil mewah tersebut, karena sangat jarang orang datang dengan mobil mewah. Beberapa saat kemudian Guntur keluar dari dalam mobil, seketika itu anak kecil itu berlari menghampiri Guntur.
"Ayah.... "
Guntur berlari menghampiri anaknya yang juga berlari sambil tersenyum, semua itu tidak luput dari pandangan Ryan yang juga ikut tersenyum melihat keakraban Guntur dan anaknya.
"Ayah itu siapa? " tanya Tio anak Guntur.
"Itu bos ayah di kantor, sekarang Tio salim dulu ya. "
Tio mengangguk kemudian mencium punggung tangan Ryan dengan takjim membuat Ryan jadi terharu, Ryan salut dengan cara didik Guntur yang walaupun seorang OB tapi bisa mendidik anaknya dengan baik.
"Bunda mana? "
"Lagi di dapur. "
"Tuan mari masuk dulu, ngaso sebentar nanti saya petikan buah kecapi nya. "
"Terima kasih. "
Ryan masuk ke dalam rumah, terliur sangat bersih walaupun dengan perabotan yang sederhana namun terlihat apik. Tidak lama kemudian istri Guntur datang menghampiri sambil membawa dua gelas kopi yang masih mengepul dan juga camilannya.
"Oh ya tuan, kenalkan istri saya Ratih. "
Ratih tersenyum seraya mengatupkan kedua tangan nya di dada, Ryan pun melakukan hal serupa.
'Silakan di minum tuan, maaf hanya da kopi saja. "
"Tidak apa apa ini juga sudah lebih dri cukup."
"Silakan tuan di cicipi kopi dan camilannya. "
Ryan mengangguk seraya menyeruput kopi hitam yang masih panas. Guntur dan Ryan berbincang sebentar , kemudian mereka berjalan ke kebun belakang untuk mengambil buah kecapi. Guntur mengambil buah kecapi sangat banyak sekali hampir satu kresek penuh.
Ryan sangat berterima kasih pada Guntur karena berkat pertolongannya, Ryan tidak usah lembut dan gajinya aman. Setelah selesai mengambil buah kecapi, Ryan pamit pulang. Guntur yang tadinya akan kembali ke kantor dicegah oleh Ryan, biar urusan dengan bu Ratna menjadi urusannya.
"Guntur sekali lagi saya ucapkan terima kasih, dan ini ada sebagai pengganti buah kecapi. " Ryan menyerahkan sejumlah uang pada Guntur namun di tolak.
"Tidak usah pak, melihat bapak senang karena sudah mendapatkan buah kecapi membuat saya puas pak. "
"Baiklah kalau begitu sampai jumpa besok di kantor. "
'"Baik pak, kapan kapan mainlah kesini kita panen rambutan kalau pas nanti berbuah. "
"Iya Guntur nanti saya agendakan. "
Setelah Ryan pamit pada Guntur dan juga keluarganya, Ryan pamit untuk membiayai ke kantornya menyerahkan pesanan pak Bos yang sedang ngidam.
Setengah jam kemudian, Ryan sampai di kantor, tidak membuang waktu, Ryan segera masuk ke ruangan Leon yang sedang menunggu nya.
Sebelum masuk, Ryan mengetuk pintu terlebih ruangannya kemudian masuk ke dalam ruangannya. Tampak Leon sedang bersandar di kursi kebebasan nya dengan wajah pucat dan tubuhnya yang tegak tampak lunglai karena baru saja muntah.
"Tuan anda muntah lagi? " Ryan tampak khawatir.
"Iya semenjak kamu pergi, mual dan muntah tidak berhenti. Dan makanan yang sudah masuk ke dalam perut pun akhirnya keluar lagi, tapi aku menikmati semua ini agar ibu dri anakku tidak mengalami hal ini. "
Ryan hanya diam saja tidak menanggapi Leon, karena takut salah bicara dan sudah pasti akan menyusahkan dirinya sendiri.
"Bagaimana dapat pesanan yang aku minta.?"
"Dapat tuan, banyak sekali. "
"Wah mana mana, rasanya sudah sangat tidak sabar untuk mencicipi rasa buah kecapi."
"Memangnya tuan belum pernah makan buah kecapi? "
"Belum... " Jawabnya santai
"Lalu tahu dari mana buah kecapi..?
" Entah dari mana aku tahu, namun yang pasti seperti ada bisikan kecil di telingaku untuk makan buah kecapi. Dan anehnya bisikan itu seperti ada dua anak kecil laki dan perempuan, apakah mereka calon anakku, mungkin saja mereka kembar." Leon dengan wajah berseri seri.
"Apa tuan yakin kalau yang membisikkan itu adalah bayi bayi tuan yang saat ini sedang di kandung oleh nona Rania? " Ryan seperti tidak percaya dengan hal yang di bicarakan oleh tuannya.
'Kamu boleh percaya boleh tidak tapi aku yang mengalami nya langsung, dan seperti yang kamu lihat, anakku tidak ingin ibunya mengalami ngidam, mual dan muntah, sehingga membiarkan ayahnya yang harus menanggung semua nya ini."
"Tapi aku ikhlas menjalani semua ini asalkan Rania tidak mengalami hal yang saat ini aku rasakan. "
Leon menerawang jauh entah ke mana, yang pasti saat ini hatinya di penuhi rasa rindu kepada calon bayinya.
"Oh ya Ryan bagaimana aku memakan buah kecapi ini, karena kulitnya lumayan cukup keras. "
Ryan yang kebingungan membuka buah kecapi tersebut langsung saja melihat info dari mbah google.
Leon benar benar melahap hampir setengah nya buah kecapi tersebut. Setelah makan buah kecapi yang sangat di idamkannya, Leon merasa badannya lebih segar dan lebih bersemangat mengerjakan semua berkas yang tadi siang sempat tertunda akibat rasa mual dan muntah yang tidak dapat ditahan nya.
Tidak terasa hari sudah gelap, Leon sudah bersiap siap untuk pulang, Leon membereskan semua berkas yang sudah fi periksa nya serta di tanda tangan. Ryan masuk ke dalam ruangan Leon untuk memastikan agar semua berkas sudah selesai di periksa.
"Maaf tuan, apakah semua berkas sudah selesai di periksa? "
"Semua berkas sudah selesai aku cek, kafi kamu bisa pulang sekarang. Oh ya, ini masih ada sisa buah kecapi nya kamu bawa pulang atau bagikan saja ke karyawan yang masih ada di kantor. "
"Baik tuan, buah kecapi nya saya bawa untuk saya bagikan ke karyawan lain yang belum pulang. "
"Kita pulang sekarang. " Ajak Leon
Saat akan bersiap untuk pulang, tiba tiba saja pintu ruangan Leon di buka dari luar, ternyata yang datang Stela tunangannya Leon.
"Tidak bisa kah kamu mengetuk pintu sebelum masuk ruangan ku, bagaimana pun juga ini adalah kantor harus ada attitudenya. "
"Leon sayang, aku ini tunangan kamu, masa sih masuk ruangan saja banyak sekali peraturan nya. "
"Justru kamu itu tunanganku harus nya memberikan contoh yang baik untuk karyawan yang lain, kamu itu orang yang berpendidikan namun minim atitude. "
"Sudah lah Leon hanya masalah hal itu kamu marah marah sama aku. " Stela memasang wajah sedih.
Leon tidak ingin Stela menangis karena sudah pasti akan berujung drama, dan Leon sudah tahu tujuan Stela datang ke kantornya, apalagi kalau bukan urusan uang.
"Ada apa kamu kemari? "
"Sayang, kamu kan tahu biasanya kalau aku datang ke kantor untuk apa, jadi kamu tidak usah banyak tanya. "
"Kamu menjadi kan ku hanya sebagai mesin ATM, hanya uang saja dalam otak mu. " Leon sangat gemas dan marah.
"Ya wajarlah karena kamu tunangan aku, sebagai dah sewajarnya kamu memberikan sejumlah uang padaku. "
Leon hanya bisa mendesah, sudah tidak bisa berbuat apa apa lagi, pertunangan nya dengan Stela karena urusan bisnis antara kedua orang tuanya, Leon tidak pernah mencintai Stela, karena hanya untuk berbakti pada orang tuanya Leon harus menerima perjodohan yang sudah di atur oleh papah dan mamahnya.
"Sudahlah Leon, apa susahnya tinggal transfer saja kok ribet banget. "
"Stela aku tidak akan mengeluarkan uang lagi untuk kamu, baru tiga hari yang lalu kamu minta uang dan sekarang kamu minta lagi. Pemborosan sekali kamu. "
"Leon tidak usah banyak ceramah, aku hanya minta uang saja sama kamu titik. "