Aska seorang CEO tampan, dan juga cerdas. Sifatnya yang dingin dan juga datar membuat dia susah di dekati, apalagi sama yang namanya wanita.
Aska juga tidak pernah tersenyum, kecuali sama keluarga dan sahabat terdekatnya.
Akankah ada yang wanita yang bisa mendekati dan membuat dia tersenyum?
Yuk langsung kepo in.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon feby_mb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 35
Pertemuan itu berakhir dengan kerjasama kedua perusahaan itu. Setelah urusannya selesai Aska dan Rendy pamit undur diri. Karena kerjaan mereka masih menunggu di kantor.
" Ren, sepertinya gue pernah bertemu sama tuan Niko sebelumnya" kata Aska pada Rendy.
" Dimana?" tanya Rendy.
" Gue lupa dimana"
" Belum tua aja ingatan lo udah payah"
" Udah berani sekarang ya, mau gaji lo gue potong"
" Ck.. selalu mengancamnya begitu"
" Karena hanya ancaman itu yang ampuh untuk Lo" kata Aska.
Tanpa terasa mereka berdua sampai di parkiran. Aska dan Rendy masuk kedalam mobil. Rendy melajukan mobilnya menuju perusahaan.
" Lo udah hubungi manager marketing itu?" tanya Rendy di sela-sela mengemudi.
" Untuk apa?, lagipula gue nggak punya nomornya"
" Kalau masalah nomor tenang, biar gue yang cariin. Tugas lo hanya pepet tu cewek"
" Gue takut di tolak bro"
Tawa Rendy pun pecah mendengar ucapan sahabatnya itu. Seorang CEO tampan nan rupawan ternyata takut di tolak.
" Lo berani ngeledek gue?!"
" Bukan gitu bro, tapi gue merasa lucu aja"
" Lucu?"
" Iya lucu"
" Lo kira gue badut"
" Sekarang lo dengerin pakar cinta ngomong, ya"
" Ck..ngaku pakar cinta, tapi kok jomlo"
" Eh, gue itu jomlo happy"
" Happy darimana, setiap hari galau mikirin nikah terus?"
" Menikah itu memang harus dipikirkan dari sekarang, gimana sih lo"
Mobil yang dikendarai Rendy sampai di depan perusahaan. Security membukakan pintu mobil untuk bosnya itu. Aska dan Rendy keluar dari mobil.
Rendy melemparkan kunci mobil kepada security itu. Dengan sigap security itu menangkap kunci mobil yang di lemparkan Rendy tadi.
" Tolong parkirkan ya Pak" pinta Rendy.
" Siap Tuan"
Kedua cowok tampan itu masuk kedalam kantor. Sampai di lobi, banyak karyawan yang berlalu lalang. Karena jam istirahat sudah hampir habis.
Seperti biasa di depan pintu lift para karyawan sedang antre masuk kedalam ruang persegi itu. Itu sudah menjadi pemandangan yang biasa bagi Aska.
Dari banyaknya karyawan di sana, mata Aska tertuju pada satu yang berdiri dibarisan belakang. Wanita yang selama ini mengganggu pikirannya.
" Fir, sepertinya CEO melihat kearah lo deh" bisik Willa.
" Ngaco kamu"
" Beneran, coba lo liat "
Fira melihat kearah seberang, tepatnya ke arah lift khusus CEO.
Deg.
Mata Fira dan sang CEO pun bertemu. Debaran aneh pun merasuki relung hati kedua insan itu. Entah dapat dorongan darimana, Aska melangkahkan kakinya menghampiri Fira.
Semua karyawan wanita langsung memperhatikan penampilan mereka. Karena melihat sang CEO sedang berjalan kearah mereka. Namun harapan itu sirna seketika, karena sang CEO tidak memandang kearah mereka.
" Siang" sapa Aska tepat di hadapan Fira.
" Si-siang" balas Fira.
Para karyawan yang ada di sana kaget, karena saking kagetnya, sampe-sampe mulut mereka terbuka mendengar CEO tampan nan dingin itu menyapa manager marketing itu.
Willa hanya tersenyum melihat tingkah kedua insan yang sedang jatuh cinta itu. Tapi sayangnya mereka sama-sama tidak menyadari akan hal itu.
Ting.
Bunyi pintu lift terbuka menyadarkan kedua insan itu. Aska kaget karena tiba-tiba dia sudah berada di depan wanita cantik yang selama ini mengganggu pikirannya.
Sejak kapan gue ada disini?, bukankah tadi gue ada di seberang sana bareng Rendy. Gumam Aska dalam hati.
Fira bergidik ngeri melihat tatapan para karyawan kepadanya. Sepertinya mereka akan menguliti tubuh Fira saat ini juga. Ingin rasanya dia membenamkan wajahnya ke dasar bumi.
Ya Allah selamat kan lah hamba mu dari amukan massa.
" Sampai kapan kalian mau berdiri di sini?. Apa kalian tidak mau bekerja lagi di perusahaan ini?" tanya Aska.
" Mau Pak"
Para karyawan itu segera masuk kedalam lift. Begitu juga dengan Fira. Namun belum sempat Fira masuk kedalam lift, Aska lebih dulu menahan Fira.
" Apa yang bapak lakukan?"
Aska tidak menjawab pertanyaan Fira, dia malah menarik tangan Fira menjauh dari lift. Rendy tersenyum melihat sahabatnya sudah mulai mengambil langkah.
Willa juga tersenyum melihat sahabatnya yang di tarik oleh big bos nya. Jiwa kepo Willa langsung meronta-ronta. Dia mengikuti sahabatnya itu. Tapi langkah Willa langsung terhenti karena dihadang sama tubuh kekar Rendy.
" Mau kemana?" tanya Rendy.
" A-anu itu Pak"
" Anu opo?"
" Toilet" jawab Willa.
" Bohong!, bilang aja kalau kamu mau nguping"
" Kagak, bapak suudzon banget sama saya"
" Karena saya mencium aroma kebohongan dari tubuh kamu"
Willa refleks mencium aroma tubuhnya. " Tubuh gue wangi gini kok, mana ada bau kebohongan"
Rendy tersenyum melihat tingkah Willa yang sedang mencium aroma tubuhnya. Dia tak menyangka Willa akan sepolos itu.
" Aroma tubuh saya wangi kok Pak" kata Willa dengan polosnya.
" Yang bilang tubuh kamu bau siapa?" tanya Rendy.
" Bapak barusan yang bilang"
" Coba ingat-ingat lagi saya bilang apa?" tanya Rendy.
Willa pun mencoba mengingat ucapan Rendy tadi. Dia pun tersadar karena dia telah di kerjai sama asisten CEO itu.
" Ck...bapak mengerjai saya?"
" Tidak, tapi saya suka tingkah kamu yang mengendus-endus tadi, sangat lucu"
" Emang saya guguk" kata Willa sambil mengerucutkan bibirnya.
" Bibirnya jangan digituin, ntar saya cium"
Refleks Fira menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Kemudian dia berlari masuk kedalam lift. Saat tubuh Willa sudah menghilang di dalam lift, tawa Rendy pun pecah.
" Lucu sekali dia"
Aska dan Fira sekarang sedang berada di taman perusahaan. Fira menatap tangannya yang masih dipegang Aska.
" Sampai kapan bapak mau pegang tangan saya?"
" Ah, maaf" ucap Aska sambil melepaskan tangannya dari tangan Fira.
" Kenapa bapak bawa saya ke taman?"
" Saya sudah bilang, kalau cuma ada kita berdua jangan panggil saya bapak"
" Baik adek" kata Fira.
" Ck..saya bukan adek kamu"
" Tapi bagi saya bapak seperti adik saya"
" Apa saya tidak cocok sebagai lelaki kamu?" tanya Aska sambil mendekatkan wajahnya pada Fira.
Susah payah Fira menelan ludahnya, karena melihat wajah tampan Aska dari jarak dekat. Jantungnya berdegup kencang.
Ya Allah, kenapa jantung hamba seperti berdisko. Batin Fira.
Aska juga merasakan hal yang sama dengan Fira. Dia tidak bisa mengontrol detak jantungnya yang berdegup dengan kencang.
Apa dia mendengar detak jantung gue yang seperti genderang mau perang.
Aska memandang wajah Fira yang putih seperti susu itu. Wajah Fira begitu mulus, bahkan jerawat pun tidak terlihat ada di wajah cantik itu.
" Cantik" Satu kata itu mampu lolos dengan sempurna dari mulut Aska.
Blush.
Wajah Fira seketika merasa panas, rona merah terlihat kontras di kulit putihnya itu. Ya ucapan Aska tadi bisa dia dengar dengan jelas.
Dia nggak salah ngomong kan tadi?, tapi gue mendengar dengan jelas kalau dia bilang gue cantik. Aaaa, mimpi apa gue semalam sampe-sampe dapat kata mutiara dari kanebo kering.
" Bagaimana nona, apa saya tidak pantas menjadi lelaki anda?" tanya Aska lagi.
" Ti-tidak" jawab Fira gugup.
Aska tersenyum melihat ekspresi Fira yang gugup. " Mulut nona berbicara tidak, tapi mata nona tidak bisa berbohong"
Emang dimata gue ada tulisan bohongnya.
" Baiklah, mulai sekarang saya akan mempantaskan diri saya untuk bisa menjadi lelaki anda" kata Aska sambil berlalu pergi meninggalkan Fira.
Fira masih diam mematung, dia belum bisa mencerna omongan Aska tadi. Tanpa dia tau Aska sudah tidak ada lagi di sampingnya.
To be continue..
Happy Reading 😚😚