Kisah seorang Anak yang di tinggal pergi Ayahnya untuk selama-lamanya, membuat Ia kecewa pada Ibunya, dan berubah sikap dari anak yang penurut dan perhatian jadi anak yang cuek dan melawan Ibunya bahkan tega mengusirnya di masa tua.
Akan kah sang Anak bisa kembali menjadi penyayang? dan bagaimana nasib Ibunya setelah di usir oleh putranya? lalu apa sebenarnya yang terjadi kenapa si Anak bisa berubah sikapnya? penasaran kita langsung saja ke TKP.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadataskia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semua Demi Anakku.
Sampainya ayah di rumah ia segera memarkir motor di depan rumah, dan segera melepaskan ikatan gerobak yang menyatu dengan motornya.
"Assalamualaikim."
"Waalaikumsalam eh, Ayah sudah pulang ternyata kirain siapa," kata ibu menjawab salam ayah.
"Iya, Bu baru aja nih sampe, tumben amat sepi anak-anak pada kemana?" tanya ayah tidak melihat Nadia dan Kasih.
"Oh anak-anak sedang tidur, Yah habis bantu Ibu rapiin baju tadi," jawab ibu membantu melepas ikatan.
"Oh kirain kemana," kata ayah.
Ayah dengan cepat melepas talinya karena hari sudah mulai gelap, bukan karena sudah malam tapi karena mau turun hujan.
Memang sudah tiga hari ini cuacanya sedang tidak bersahabat, kadang mendung kadang panas, walau tidak hujan besar sih, tapi hawanya jadi dingin karena mataharinya tertutup awan hitam, mungkin karena efek cuaca ini dagangan ayah jadi kurang laku.
Tapi harusnya dalam kondisi seperti ini malah ayah yang harusnya di untungkan secara jualannya ayah itu bakso ayam pasti kalo di makan dalam cuaca dingin pasti nikmat sekali.
Semua tali sudah berhasil di lepas, ayah dan ibu bergotongan membawa gerobak masuk ke dalam rumah mereka berlomba dengan hujan, yang kapan saja siap turun membasahi bumi ini.
*****
Setelah semua masuk rumah ayahpun segera mencuci kaki dan tangannya, karena habis dari luar rumah, waktu masih sore belum saatnya untuk solat magrib jadi ayah dan ibu hanya mengobrol di depan tivi sambil minum teh hangat di temani dengan biskuit roma kelapa.
"Gimana, Yah hari ini sudah habis semua khan baksonya?" tanya ibu.
"Alhamdulilah, Bu bakso habis semua, cuma tadi Ayah begitu terharu dan salut banget sama anak kecil yang ikut makan bakso gratis, Ayah," jawab ayah cerita.
"Salut gimana sih! Ibu ga ngerti maksud Ayah?" ibu binggung dan bertanya lagi.
"Iya, Bu jadi gini tadi tuh saat Ayah baru sampai tempat pangkalan di pinggir pasar ada seorang gadis kecil yang sedang nunggu, Ayah! nah begitu Ayah dateng ia langsung memanggil teman-temannya," kata ayah bercerita."Tapi saat semua temennya sudah dateng eh, gadis itu ga juga sampe Ayah pikir dia kemana eh ga taunya dia dateng sambil dorong gerobak sampah, Ibu tau ga apa isi gerobak itu?" tanya ayah berhenti sejenak.
Ibu hanya mengelengkan kepala saat ayah mengajukan pertanyaan kepadanya. Ayah berhenti sejenak untuk minum dan lanjut bercerita.
"Pas, Ayah lihat dia begitu kelelahan, Ayah menghampirinya niatnya ingin bantu tapi dia tolak, tapi pas Ayah lihat isi dalam gerobaknya, Ayah terkejut, Bu ternyata ada seorang wanita dewasa sama seorang laki-laki kecil, yang ternyata itu ibu dan adiknya, terus waktu ayah tanya apa yang terjadi dia bilang pernah kecelakaan, jadi Ayah binggung ga tahu apa yang terjadi, dianya keburu pergi." Ayah mengakhiri ceritanya.
"Oh emang ga ada, ayahnya apa? atau keluarga lainnya gitu yang bisa bantu dia?" tanya ibu penasaran.
"Ga ada kayanya, Bu! Ayah juga ga begitu tahu soalnya dia belum sempat cerita udah keburu pergi, Ayah juga ga mau terlalu banyak bertanya," jawab ayah.
Ibu hanya diem mendengar uncapan ayah, membayangan kejadiannya seperti apa, saat mereka sedang asyik berbicara kedua putrinya sudah bangun tiba-tiba keluar dari kamar dan ikut nimbrung bersama, masih setengah sadar Kasih bersandar di pangkuan ibu.
"Eh ... Ayah sudah pulang?" tanya Nadia.
"Iya, sayang! kamu kenapa bangun tidur lagi sana istirahat pasti lelah kan habis bantu Ibu?" jawab ayah balik bertanya.
Nadia tidak menjawab pertanyaan ayah ia langsung duduk di samping ayah, dan ikut menyeruput teh hangat milik ayahnya.
Ibu dan ayah yang melihat tingkah putrinya hanya tersenyum saja, sudah saatnya masuk waktu solat maghrib, ayah, ibu dan kedua putrinya bersiap untuk menjalankan solat maghrib. Mereka bergantian ambil air wudhu Nadia dan Kasih masih dalam palatihan jadi ibu memgawasinya.
Setelah mengambil air wudhu mereka kembali ke musolah kecil rumah mereka dan ayah yang menjadi imamnya sedang keluarganya menjadi makmum.
Mereka berempat solat dengan tenang, setelah selesai solat ayah memimpim dikir dan doa bersama memohon segala ampunan kepada Sang Khalik dan juga memohon agar di berikan jalan keluar untuk segala urusannya selama di dunia ini.
*****
Setelah melalukan kewajiban Ibadah lima waktu keluarga ayah kembali lagi ke ruang tivi sudah waktunya makan malam ibu menyiapkan semuanya dan membawanya ke ruang tivi, Nadia membantu ibu membawa piring dan perlalatan lainnya.
Mereka pun makan dengan lahap karena sedang hujan besar dan belum juga reda sedari tadi jadi mereka tidak nonton tivi takut ada geluduk.
Selesai makan ayah menghabiskan banyak waktu untuk bercerita dan bermain dengan putrinya di kamar, tempat yang paling hangat saat sedang turun hujan. Sedang ibu tidak kelihatan dari tadi saat habis merapikan piring kotor.
"Ayah, ibu kemana?" tanya Nadia.
"Iya, Yah kok ibu tidak ikut kita sih main di kamar kami?" tanya Kasih juga.
"Ayah juga ga tau! ibu kemana mungkin sedang istirahat di kamar, biarin aja jangan ganggu ibu barang kali, ibu sedang kecapean." Jawab ayah.
Ayah menemani kedua putrinya sampai mereka terlelap sehabis solat isya, dan saat melihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 sudah waktunya ayah juga pergi tidur. Tadi ibu juga tidak ikut solat berjamaah, karena ayah tidak mau menganggu ibu.
Ayah memeriksa pintu depan dulu, menguncinya sebelum masuk kamar, setelah memastikan semua telah terkunci, ayah masuk kamar dan kaget melihat ibu yang ternyata belum tidur.
"Eh, Ibu kirain udah tidur ga taunya belum! lagi ngapain sih, Bu?" tanya ayah.
"Iya, Ibu belum tidur ini lagi nyiapin uang buat giling besok, Ibu bongkar celengan untuk tambahan modal, Yah." Jawab ibu.
"Maafin Ayah, ya. Bu karena ga ada modal lagi jadi Ibu harus kehilangan uang tabungan, Ibu ...," kata ayah menyesal.
"Kenapa minta maaf lagi sih! kan Ibu sudah pernah bilang bukan salah Ayah! tapi emang sudah seharusnya begini, udah takdirnya." Kata ibu.
Ayah mencium kening ibu betapa bahagianya ayah saat ini bisa memiliki ibu sebagai pendampingnya, ya!! bagaimana tidak? ibu selalu bisa begitu tenang dalam menghadapi segala masalah yang sedang terjadi, ayah tidak tau walau sebenarnya ibu yang paling pusing harus membagi uang, untuk belanja, jajan, listrik, bayar sekolah, dan masih banyak lagi kebutuhan lainnya.
Tapi ibu tetep semangat untuk menjalani semuanya, mau mengeluh saja juga tidak ada artinya jadi yah harus tetap bangkit walau rapuh, harus tetap bertahan walau lelah, harus tetap berjuang demi masa depan kedua putrinya, segala cara apapun akan ibu lakukan demi bisa terus bertahan hidup.
Ya, perjuangan kedua orang tualah yang paling besar untuk masa depan anak, aku harus kuat SEMUA DEMI ANAKKU. Itu prinsip yang ibu lontarkan ketika keputusasaan dengan keadaan menghantuinya, saat ibu menguncapkan kata itu semanggatnya kembali membara.
Hari semakin larut ayah dan ibu bersiap untuk pergi tidur besok mereka harus kembali berjuang melawan kerasnya dunia, ayah harus pergi giling sedang ibu harus memutar otak mencari jalan keluar untuk masalah keuangan yang sedang di alami keluarganya.
BERSAMBUNG ...
*****
Bab ini sudah selesai kita lanjut bab berikutnya, jagan lupa like dan komennya, vote juga author nya agar semangat lagi nulisnya.
Terima kasih sudah baca.
❤Tambahkan faforit ya❤
SELAMAT ULANG TAHUN NAJUA
semoga panjang umur sehat selalu. Jadi anak berbakti. kebanggaan orang tua. Amin.
🎊🎊🎊🎁🎁🎁🎈🎈🎈🎉🎉🎉
tetep semangat selalu pokoknya ya, love you kak 😘