Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Malam telah larut, namun cahaya di dalam penthouse pribadi Devan Dirgantara masih berpijar keemasan. Ruangan itu luas, dengan dinding kaca setinggi langit-langit yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu Jakarta yang tak pernah tidur. Di tengah ruangan, di atas meja kaca besar, berserakan tumpukan dokumen Mahendra Group—surat-surat yang penuh dengan muslihat dan jebakan hukum yang baru saja dibawa oleh Tuan Mahendra siang tadi.
Adelard menyesap teh kamomilnya perlahan, namun matanya tetap tajam menatap satu paragraf di halaman kedua puluh draf perjanjian itu. "Dia benar-benar tidak punya rasa malu, Devan. Lihat klausul 14B ini. Jika aku menandatanganinya, dalam waktu tiga puluh hari, kepemilikan mutlak atas kode sumber *A-Shield* akan berpindah ke Mahendra Group tanpa aku memiliki hak veto sedikit pun."
Devan, yang duduk di sampingnya dengan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya terbuka, tertawa rendah—sebuah tawa yang terdengar sangat berbahaya. Ia mengambil dokumen itu dan melemparnya kembali ke meja seolah-olah itu adalah sampah yang bau.
"Ini bukan kontrak bisnis, Adel. Ini adalah skema perampokan yang dibungkus dengan bahasa hukum yang cantik," ujar Devan. Ia menoleh pada Adel, mengamati wajah gadis itu yang tampak lelah namun tetap memancarkan kecerdasan yang luar biasa. "Ayahmu menangis di depanmu tadi siang, bukan? Aktingnya pasti sangat dramatis sampai-sampai ia mengira kau akan luluh."
Adel tersenyum getir, jarinya mengusap pinggiran cangkir tehnya yang hangat. "Dia berlutut, Devan. Dia memanggilku 'putri kesayangan' dengan suara yang bergetar. Aku hampir saja ingin tertawa tepat di depan wajahnya jika aku tidak teringat betapa perihnya rasa lapar di panti asuhan dulu karena keputusannya."
Devan meraih tangan Adel, menggenggam jemarinya yang lentik dengan lembut. "Lalu, apa rencanamu? Kau akan menolaknya mentah-mentah?"
"Tadinya begitu. Aku ingin melihat wajahnya hancur saat aku membuang dokumen ini ke tempat sampah di depannya," jawab Adel. "Tapi itu terlalu sederhana. Dia akan mencari cara lain yang lebih licik untuk mencuri teknologiku."
Devan menyeringai, sebuah kilatan cerdik muncul di matanya yang tajam. "Jangan ditolak, Adel. Justru sebaliknya... Terima tawaran itu."
Adel mengernyitkan dahi, menatap Devan dengan bingung. "Terima? Kau ingin aku memberikan seluruh jerih payahku pada mereka?"
"Tentu saja tidak secara cuma-cuma," Devan bangkit dari sofa dan berjalan menuju meja kerjanya yang elegan, mengambil sebuah map kulit berwarna biru gelap. "Pernah mendengar strategi Kuda Troya? Kita akan membiarkan mereka merasa telah memenangkan 'hadiah' besar berupa *A-Shield*. Mereka akan menarik 'kuda' itu masuk ke dalam benteng Mahendra Group dengan sukacita, tanpa menyadari bahwa di dalamnya terdapat pasukan yang akan menghancurkan mereka dari dalam."
Devan menyerahkan map itu pada Adel. "Ini adalah tim hukum terbaik Dirgantara Group. Aku sudah menginstruksikan mereka untuk membedah draf ayahmu. Kita akan melakukan *Counter-Trap*."
Adel membuka map itu. Di dalamnya terdapat daftar nama pengacara papan atas yang biasanya hanya menangani kasus akuisisi antarnegara. "Apa yang akan kita lakukan?"
"Kita akan menambahkan beberapa 'klausul bayangan'," Devan menjelaskan sambil berdiri di belakang Adel, menunjuk beberapa poin di dokumen. "Ayahmu ingin menggabungkan perusahaan? Baiklah. Tapi kita akan memasukkan syarat bahwa penyatuan ini bersifat *Irreversible Reverse Merger*. Artinya, saat *A-Shield* masuk, ia tidak menjadi anak perusahaan, melainkan entitas yang 'memakan' Mahendra Group dari dalam."
Devan melanjutkan dengan nada yang lebih serius. "Kita akan memasukkan klausul bahwa jika dalam waktu 48 jam setelah penandatanganan di pesta nanti, Tuan Mahendra tidak bisa membuktikan solvabilitas perusahaannya—yang kita tahu dia tidak bisa karena dia sedang bangkrut—maka seluruh hak suara direksi secara otomatis berpindah ke tangan pemilik *A-Shield*. Yaitu kau."
Adel menatap Devan dengan kekaguman yang tak bisa disembunyikan. "Jadi, dia pikir dia sedang mendapatkan penyelamat, padahal dia sebenarnya sedang menyerahkan seluruh kunci rumahnya kepadaku?"
"Tepat sekali," Devan mengusap bahu Adel lembut. "Dia ingin menjebakmu dengan status 'Pewaris Utama' yang palsu? Kita akan membuat status itu menjadi nyata secara hukum yang mengikat dan tidak bisa diganggu gugat. Saat dia sadar, semuanya sudah terlambat. Mahendra Group akan menjadi milikmu secara total."
Adel berdiri, merasa energinya kembali pulih. "Ini benar-benar gila, Devan. Tapi aku menyukainya."
Adel melangkah menuju jendela besar untuk menenangkan pikirannya yang berputar cepat. Namun, saat ia melewati tumpukan dokumen yang licin di atas lantai marmer yang mengkilap, kakinya tiba-tiba kehilangan keseimbangan.
"Ah!" Adel terpekik saat tubuhnya limbung ke belakang.
Dengan refleks yang sangat cepat, Devan melompat maju. Tangannya yang kuat melingkar di pinggang Adel tepat sebelum gadis itu menyentuh lantai. Kekuatan tarikan Devan membuat tubuh mereka bertabrakan dengan keras. Dada Adel menempel pada dada bidang Devan, dan napas mereka seketika menderu di udara yang sunyi.
Hening sejenak.
Jarak di antara mereka kini menghilang. Devan menatap mata Adel dengan intensitas yang begitu dalam, seolah-olah ia sedang menatap seluruh dunianya. Adel bisa merasakan detak jantung Devan yang berpacu kencang, sama liarnya dengan detak jantungnya sendiri. Tangan Devan yang berada di pinggang Adel terasa begitu hangat, sementara tangan lainnya menahan tengkuk Adel dengan sangat protektif.
"Kau selalu saja begini, Adel," bisik Devan, suaranya kini terdengar serak dan penuh kerinduan yang tertahan selama tiga tahun. "Selalu berusaha lari sendirian sampai akhirnya terpeleset."
Adel menelan ludah, suaranya hampir hilang. "Aku... aku tidak lari."
"Kau lari dariku selama seribu hari lebih, Adelard Mahendra," Devan semakin mendekatkan wajahnya. Hidung mereka bersentuhan, mengirimkan sengatan listrik yang membuat Adel meremang. "Kau tahu betapa tersiksanya aku hanya bisa menatapmu dari jauh?"
Adel menatap bibir Devan yang hanya berjarak beberapa milimeter dari miliknya. Segala tembok pertahanan, segala ego, dan segala logika bisnis yang ia bangun selama tiga tahun ini runtuh seketika di pelukan pria ini.
"Maafkan aku, Devan..." bisik Adel lembut.
"Jangan minta maaf," sahut Devan rendah. "Bayar saja rindu ini."
Tanpa menunggu jawaban lagi, Devan memiringkan kepalanya dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam dan penuh tuntutan. Ciuman itu bukan hanya sekadar ungkapan cinta, melainkan sebuah ledakan dari segala rasa sakit, kerinduan, dan kesetiaan yang terpendam selama bertahun-tahun.
Adel membalas ciuman itu dengan sama intensnya, jemarinya merayap ke rambut Devan, menarik pria itu semakin dekat. Di tengah ruangan yang dikelilingi oleh rencana-rencana balas dendam yang dingin, hanya ada kehangatan yang murni di antara mereka berdua. Devan mengangkat tubuh Adel sedikit, mendudukkannya di tepi meja kaca yang besar, mengabaikan dokumen-dokumen Mahendra Group yang terserak berantakan.
Ciuman itu berlangsung lama, seolah mereka berdua ingin mengganti setiap detik yang hilang selama tiga tahun perpisahan. Saat akhirnya mereka melepaskan tautan bibir mereka, keduanya terengah-engah dengan wajah yang memerah.
Devan menempelkan keningnya pada kening Adel, matanya terpejam. "Mulai malam ini, kau tidak akan pernah berjalan sendirian lagi. Mahendra Group, Clarissa, atau siapa pun yang berani menyentuhmu... mereka harus melewatiku dulu."
Adel tersenyum, sebuah senyuman yang sangat tulus dan penuh kemenangan. Ia mengusap pipi Devan dengan lembut. "Terima kasih, Devan. Sekarang aku mengerti kenapa kau bersikeras menyuruhku menerima tawaran itu."
"Kenapa?" tanya Devan sambil mengecup ujung hidung Adel.
"Karena aku butuh Mahendra Group sebagai hadiah pernikahan yang layak untuk bersanding dengan Dirgantara Group," jawab Adel dengan nada menggoda.
Devan tertawa lepas, sebuah tawa yang jarang didengar oleh siapa pun kecuali Adel. Ia kembali memeluk Adel dengan erat. "Itu mahar yang sangat mahal, Ratu-ku. Tapi aku akan membantumu mengambilnya."
Malam itu, strategi 'Kuda Troya' tidak lagi hanya tentang bisnis. Itu adalah tentang perlindungan seorang pria kepada wanitanya. Mereka kembali fokus pada dokumen-dokumen itu, namun kali ini dengan tangan yang saling menggenggam di bawah meja. Tuan Mahendra dan Siska mengira mereka sedang menjebak seorang gadis kecil, tanpa tahu bahwa di balik kegelapan penthouse itu, seekor singa dan naga baru saja bersekutu untuk meruntuhkan istana kemunafikan mereka sampai ke akar-akarnya.