NovelToon NovelToon
Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.

Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.

Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.

Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.

Tapi mereka lupa satu hal.

Dia bukan korban.

Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.

Termasuk dirinya.

Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.

Kakaknya menginginkan kematiannya.

Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.

Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.

Dunia mengira Sabrina akan tunduk.

Mereka salah.

Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...

dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.

Membunuh… atau kehilangan anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Membangun Pertahanan

Laptop di ruang kerja menyala dalam mode incognito. Jari Sabrina menari di atas keyboard.

Ujung jarinya sedingin balok es. Nyeri sayatan operasi di perut bawahnya merambat naik, memaksa otot rahimnya berkontraksi kasar. Cairan nifas kembali merembes membasahi bantalan medis di balik korset ketatnya. Bau karat darah segar menguar di udara, menantang aroma antiseptik ruangan.

Layar memancarkan pendar hijau. Ia menembus firewall rekening rahasia peninggalan Maureen di Bank of Geneva. Deretan angka delapan digit muncul. Dana darah masa lalunya masih utuh. Ia menyambungkan perangkat lunak pengubah suara, lalu menekan tombol panggilan terenkripsi.

"Jalur aman," suara mekanis terdengar dari speaker laptop.

"Buka pesanan baru," perintah Sabrina. Suaranya serak, tenggorokannya terbakar asam lambung.

"Identitas klien tidak terdaftar."

"Kode otorisasi. Gagak Hitam Terbang Malam."

Jeda dua detik. Suara ketikan keyboard terdengar dari seberang sambungan.

"Diterima. Apa pesanan Anda?"

"Glock sembilan belas generasi lima. Dua magasin tambahan. Peluru hollow point kaliber sembilan milimeter. Peredam suara titanium. Dan dua bilah pisau tempur karbon berlapis teflon."

"Lokasi pengiriman?"

"Mansion Halim. Gerbang logistik timur."

"Batal. Area itu zona merah. Tim keamanan Halim Group dipimpin oleh Vincent Santoso sekarang. Dia memindai setiap paket menggunakan pemindai sinar X militer."

"Aku tahu fakta itu." Sabrina menekan perutnya yang berdenyut panas. "Bungkus semuanya ke dalam plastik vakum berlapis timbal. Masukkan ke dalam ruang pendingin kotak pengiriman daging sapi impor tipe A."

"Biayanya tiga kali lipat untuk risiko penyelundupan ini."

"Aku mentransfernya sekarang. Waktu pengiriman maksimal dua belas jam dari detik ini. Lewat dari itu, transaksinya batal."

"Uang diterima. Paket akan bergerak saat matahari terbit."

Sabrina memutus panggilan.

Ia menutup laptop. Napasnya terengah pendek. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia berjalan pelan menyeret kaki kirinya yang kebas menuju keranjang bayi di sudut ruangan.

Sebastian tidur miring. Mulut mungilnya terbuka sedikit. Hawa hangat dari napas bayi itu menyentuh punggung tangan Sabrina. Ia menunduk, mencium pucuk kepala putranya. Detak jantung di dada bayi itu berirama konstan. Ini adalah satu hal yang waras di dunia gilanya. Vincent ada di luar pintu. Ordo Sutra mengincar nyawanya. Adrian hanya menjadikan mereka aset pameran. Ia harus melindungi bayinya sendiri. Perlindungan Adrian berlubang besar.

Pagi harinya. Sabrina duduk di ruang makan pribadi. Ia menekan tombol interkom di atas meja.

"Bi Marni, ke ruanganku sekarang."

Kepala pelayan wanita paruh baya itu masuk dengan kepala menunduk.

"Iya, Nyonya Sabrina?"

"Akan ada mobil boks pendingin dari penyuplai daging masuk lewat gerbang timur siang ini." Sabrina menatap lurus mata pelayan itu. "Mereka membawa pesanan khusus untuk diet pemulihan rahim pasca operasiku."

"Baik, Nyonya. Saya akan meminta tim keamanan depan memindai kotak itu seperti prosedur biasa."

"Tidak."

Bi Marni mengangkat wajahnya kaget. "Maaf, Nyonya?"

"Kau tuli, Bi Marni?" Nada suara Sabrina mendatar mematikan. "Aku bilang tidak ada pemindaian. Kau ambil sendiri kotak pendingin itu dari tangan kurir. Bawa langsung ke pintu kamarku."

"Tapi Nyonya, Tuan Vincent sudah memberi instruksi mutlak tadi pagi. Ancaman sedang tinggi. Semua barang dari luar wajib dibongkar dan melewati mesin sinar X di pos jaga utama."

Sabrina berdiri. Nyeri di panggulnya ia paksa diam. Ia berjalan memotong jarak, berdiri tepat di depan Bi Marni. Hawa membunuh menguar pekat menekan suplai oksigen pelayan itu.

"Siapa yang membayar gajimu di rumah ini, Bi Marni?"

"Keluarga Halim, Nyonya."

"Dan siapa yang memegang kendali finansial lima persen saham induk keluarga Halim kemarin sore?"

Bi Marni menelan ludah. Keringat membasahi dahi keriput pelayan tua itu. "Anda, Nyonya."

"Ingatanmu masih berfungsi." Sabrina menyentuh bahu pelayan itu. Cengkeramannya menguat. "Vincent hanya anjing penjaga yang digaji rumah ini. Aku adalah nyonya rumahnya. Jika kau membiarkan anjing itu mengendus makananku, aku akan memastikan kau dipecat tanpa pesangon sore ini juga. Paham?"

"Tapi Tuan Vincent berhak membongkar paksa semua paket, Nyonya. Saya takut melawan beliau."

"Suruh dia menemuiku langsung jika dia berani membongkar paket diet pemulihanku," desis Sabrina tajam. "Atau kau ingin aku memanggil Tuan Adrian sekarang dan mengatakan kau lebih patuh pada satpam baru daripada kepadaku?"

"Tidak, Nyonya! Ampun! Jangan laporkan saya ke Tuan Adrian."

"Pastikan kotak itu sampai di depan pintuku utuh tanpa cacat segel."

"Saya jamin, Nyonya. Saya yang akan mengambilnya langsung dari tangan kurir."

"Jangan membuat kesalahan."

Bi Marni mundur teratur, lalu berlari kecil keluar ruangan.

Sabrina duduk kembali di kursi beludrunya. Otot kakinya gemetar menahan lelah. Ia melihat jam dinding kuningan raksasa di ruang tengah. Hitungan mundur eksekusi dimulai.

Tepat pukul dua siang, pintu kamarnya diketuk tiga kali berturut, turut.

"Nyonya, ini pesanan Anda." Suara Bi Marni terdengar bergetar panik dari luar.

Sabrina membuka pintu. Sebuah kotak pendingin styrofoam berukuran besar tergeletak di atas lantai marmer. Bi Marni menunduk takut, napasnya ngos-ngosan usai membawa beban berat itu melewati lorong sayap timur. Pelayan tua itu buru-buru pergi tanpa berani menatap mata sang nyonya.

Sabrina menarik kotak berat itu ke dalam kamar. Gesekan styrofoam dengan marmer terdengar nyaring. Ia mengunci pintu rapat, rapat lapis tiga. Tangannya menarik pisau lipat mikro dari balik daster sutranya, lalu menyayat lakban cokelat tebal yang menyegel penutup kotak.

Bau daging sapi mentah dan es batu langsung menyerang indera penciumannya. Perutnya bergejolak menahan mual. Ia menyingkirkan tumpukan potongan daging berdarah itu ke atas lantai secara asal.

Di bagian paling dasar kotak, terbungkus aman di dalam kantong plastik vakum kedap udara bermaterial timbal pekat, terletak barang pesanannya.

Ia menarik bungkusan itu keluar, merasakan bobot logam yang sangat familiar di tangannya. Denyut nadinya perlahan menjadi tenang.

1
Lini Krisnawati
saya suka cerita nya bagus
Titi Liana
menarik
Rina Yulianti
tegang banget
Fatacea
keren ih si ibu, lanjutttt Bu.... ❤️❤️❤️❤️❤️❤️
gina altira
Balaskan dendam Sabrina, ayo Mauren bikin gila tuh Kania.
gina altira
Sabar Sabrina,, mundur dulu bikin taktik biar Adrian yg besar kepala itu lengah.
gina altira
dua predator beradu
gina altira
Adrian kejam banget,,
gina altira
brutal
Fatacea
Lanjut
gina altira
ngilu,, udah lahiran tuh tenaga pasti habis. ini malah harus berjuang menyelamatkan nyawa
gina altira
hadeuh jd inget waktu lahiran 🤭
Fatimah n Najwan
keren lanjutin yuk bisa yuk
Fatimah n Najwan
nah iya gitu, pinter ni bocil
Fatimah n Najwan
dih bocil diem Bae ngapa. kaga ngerti pisanlagi tegang ini🤣
Fatimah n Najwan
makin ngilu, mana sambil makan w bacanya 👍👍👍👍
CACASTAR
hadir, Thor
UaOneS
brojol juga 👍👍👍👍👍😍
UaOneS
👍👍👍👍👍
Fatimah n Najwan
naluri nya muncul💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!