NovelToon NovelToon
Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Medan Pertempuran Kuno

Pasir di bawah kaki Arga terasa panas, menusuk telapak kakinya yang hanya beralaskan sandal kulit tipis. Langit merah di atasnya membentang tanpa matahari, tanpa bulan, tanpa bintang—hanya warna darah yang membeku, seolah langit itu sendiri pernah terluka dan tidak pernah sembuh. Angin kering berembus, membawa butiran pasir yang menusuk kulit dan bau besi berkarat—bau darah yang telah mengering selama ribuan tahun.

Di kejauhan, bayangan-bayangan mulai bergerak.

Awalnya hanya titik-titik gelap di cakrawala. Tapi semakin dekat, semakin jelas bentuknya. Mereka bukan manusia. Tubuh mereka terbuat dari kegelapan yang berasap, dengan mata merah menyala seperti bara. Beberapa berjalan dengan dua kaki, membawa pedang dan tombak yang juga terbuat dari kegelapan. Yang lain merangkak dengan empat kaki, berbentuk seperti serigala raksasa tanpa bulu, rahang mereka menganga memperlihatkan taring-taring asap.

Gema musuh para Penjaga.

Arga mengatur napas. Benang Emas di Dantian-nya berdenyut lebih cepat, mengalirkan energi ke seluruh tubuhnya. Liontin tiga bentuk di dadanya memanas, seolah memberinya peringatan sekaligus dukungan. Ia mencabut pisau berkarat dari pinggangnya—senjata yang sama yang telah menemaninya sejak awal. Di tempat ini, pisau itu terasa berbeda. Lebih berat. Seolah medan pertempuran kuno ini memberinya bobot yang tidak ia miliki di dunia nyata.

"Temukan gema para Penjaga," suara Larasati bergema di ingatannya. "Mereka akan membantumu."

Tapi di padang pasir luas ini, ia tidak melihat tanda-tanda sekutu. Hanya musuh. Puluhan, mungkin ratusan, bergerak mendekat dari segala arah.

Bertahan dulu. Mencari nanti.

Bayangan pertama mencapai jarak serang. Sebuah sosok humanoid dengan pedang asap mengayunkan senjatanya ke arah kepala Arga. Gerakannya cepat, tapi masih dalam batas yang bisa diikuti mata Arga.

Langkah Bayangan Bulan.

Arga bergerak ke samping, pedang asap itu meleset beberapa senti dari bahunya. Tanpa membuang waktu, ia membalas dengan Cakaran Naga Penghancur. Lima garis energi perak keemasan menyambar ke arah bayangan itu, merobek tubuh asapnya.

SRAAAT!

Bayangan itu menjerit—suara melengking yang bukan berasal dari tenggorokan makhluk hidup—lalu melebur menjadi asap hitam yang langsung tersapu angin. Tapi sebelum Arga sempat mengatur napas, dua bayangan lain sudah menggantikan posisinya. Satu menyerang dengan tombak, satu lagi dengan cakar.

Arga menghindar, bergerak di antara serangan-serangan itu seperti air yang mengalir di antara batu. Langkah Bayangan Bulan yang telah ia latih ribuan kali kini menjadi penolong utamanya. Tapi jumlah musuh terlalu banyak. Setiap satu yang ia hancurkan, dua muncul menggantikan.

Ini tidak akan berakhir.

Ia butuh strategi. Bukan hanya bertahan, tapi mencari celah. Mencari inti medan ini—apa pun bentuknya.

Saat ia menangkis serangan tombak dengan pisaunya, matanya menangkap sesuatu di kejauhan. Di atas sebuah bukit pasir, berdiri sebuah struktur. Bukan buatan alam. Terlalu simetris. Sebuah piramida kecil, mungkin setinggi tiga orang dewasa, terbuat dari batu hitam yang sama dengan menara di Pegunungan Kabut.

Intinya. Pasti di sana.

Arga mulai bergerak ke arah piramida itu. Setiap langkahnya adalah pertarungan. Bayangan-bayangan terus berdatangan, seolah tahu ke mana ia akan pergi dan berusaha menghentikannya. Cakaran Naga Penghancur ia gunakan berulang kali, merobek tubuh-tubuh asap yang menghalangi jalannya. Perisai Langit Kesepuluh ia aktifkan saat serangan terlalu banyak untuk dihindari, perisai perak keunguan itu menahan terjangan musuh selama beberapa detik berharga.

Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Napasnya memburu. Benang Emas di Dantian-nya berdenyut lebih cepat, menguras energinya. Ia tidak tahu berapa lama ia bisa bertahan.

Lalu ia melihatnya.

Sesosok bayangan, tapi berbeda dari yang lain. Tubuhnya juga terbuat dari kegelapan, tapi di dalam kegelapan itu, ada kilatan-kilatan cahaya perak. Seperti bintang-bintang kecil yang terperangkap. Ia berdiri di antara Arga dan piramida, tidak menyerang. Hanya berdiri, menatap Arga dengan mata yang bukan merah menyala, melainkan perak berkilau.

"Penjaga..." bisik bayangan itu. Suaranya bukan suara melengking seperti musuh lainnya. Suara ini... manusia. Lelah. Tapi penuh harapan.

Arga mengerti. "Kau... gema Penjaga?"

Bayangan itu mengangguk pelan. "Aku... sisa dari Wangsa Bulan Sabit. Terjebak di sini... sejak pertempuran terakhir." Ia menunjuk piramida di belakangnya. "Inti medan ini... ada di dalam. Tapi dijaga oleh... gema Pemangsa."

Gema Pemangsa. Bahkan hanya gema dari makhluk yang dikurung di Langit Kesepuluh, dan ia sudah bisa merasakan hawa dingin menjalari tulang punggungnya.

"Aku akan menghancurkannya," kata Arga.

Gema Penjaga itu menggeleng. "Sendirian... tidak bisa. Tapi bersamaku..." Ia mengulurkan tangannya yang terbuat dari kegelapan dan cahaya. "Aku akan membantumu... masuk. Tapi di dalam... kau sendiri."

Arga menatap tangan itu. Lalu ia meraihnya.

Begitu sentuhan terjadi, dunia di sekelilingnya berubah. Bayangan-bayangan musuh yang tadinya mengepungnya tiba-tiba terdorong mundur oleh gelombang energi yang memancar dari gema Penjaga. Jalan menuju piramida terbuka.

"CEPAT!" teriak gema itu, suaranya kini lebih jelas, lebih hidup. "AKU TIDAK BISA MENAHAN MEREKA LAMA!"

Arga berlari. Langkah Bayangan Bulan membawanya melesat melewati bayangan-bayangan yang mencoba menghalangi. Ia mencapai dasar piramida. Sebuah pintu batu terbuka, memperlihatkan lorong gelap di dalamnya.

Tanpa menoleh, ia masuk.

Lorong itu sempit dan gelap, hanya diterangi oleh pendaran redup dari dinding batu. Arga berjalan dengan waspada, pisaunya siap. Semakin dalam ia masuk, semakin kuat ia merasakan sesuatu. Bukan energi musuh. Tapi sesuatu yang lain. Sesuatu yang... familiar.

Liontinnya.

Di ujung lorong, sebuah ruangan kecil. Di tengahnya, sebuah altar batu. Dan di atas altar itu, sebuah liontin—bukan liontin asli, melainkan proyeksi energi, tembus pandang dan berpendar. Berbentuk bintang.

Pecahan ketiga. Atau setidaknya, representasinya.

Tapi sebelum ia bisa mendekat, sebuah suara menggelegar memenuhi ruangan.

"Siapa yang berani memasuki wilayahku?"

Dari bayangan di sudut ruangan, sesosok makhluk muncul. Lebih besar dari bayangan-bayangan di luar. Tubuhnya terbuat dari kegelapan murni, tanpa kilatan cahaya. Matanya merah darah, dan di dahinya, sebuah simbol—simbol yang tidak dikenal Arga, tapi membuat liontin di dadanya berdenyut ketakutan.

Gema Pemangsa.

Arga mengangkat pisaunya. "Aku Arga Sanjaya. Darah Wangsa Lingkaran. Dan aku datang untuk menghancurkanmu."

Makhluk itu tertawa. Suara tawa yang menggetarkan dinding batu. "Darah Penjaga? Bagus. Sudah lama aku tidak memangsa darah Penjaga."

Ia menerjang.

1
Mommy Dza
Lanjut💪
Mommy Dza
Tetap semangat Arga 💪
Mommy Dza
Cara memperkuat segel adalah
Mommy Dza
Bravo Arga 👍💪
BlueHeaven
Sekelas Penguasa Tertinggi kok sampe nggak tau sih, apalagi setetes demi setetes tiap harinya
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
Mommy Dza
Arga kembali 💪
Mommy Dza
Arga mau dimangsa 🥹 haddehh
hancurkan dia Arga
Mommy Dza
Memperbarui segel dan mengurung pemangsa 💪
Mommy Dza
Arga semakin kuat 💪
Mommy Dza
Nasib apa yg menunggunya 🥹
Mommy Dza
Lanjut thor
Mommy Dza
Wah ketemu pecahan kedua yah 💪
Mommy Dza
Siapa lagi yg muncul /Smug/
Mommy Dza
Bunuh dia Arga 💪
Mommy Dza
Deg degan aku Thor 😁
Lanjutt
Mommy Dza
Mungkin ini saatnya 💪
Mommy Dza
Semoga lekas sembuh 🤲
Mommy Dza
Maju Arga 💪
Mommy Dza
Kita baru saja mulai 💪🥹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!