"Menikahlah denganku dan akan kupastikan semua kebutuhanmu kupenuhi tanpa terkecuali."
Sebuah tawaran yang tentu saja tidak akan bisa ditolak oleh Calista mengingat ia butuh uang untuk pengobatan Ibunya yang sudah lama menderita penyakit jantung.
Rupanya tawaran dari Dennis Satrya memiliki syarat yang cukup sulit. Yaitu, membuat Calista harus dibenci oleh keluarga Dennis.
Bagaimana kisahnya? Mari ikuti dan simak cerita mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Seminggu telah berlalu sejak perjamuan misterius bersama kolega Denis. Pagi itu, udara Jakarta terasa sedikit lebih bersahabat dengan kabut tipis yang menyelimuti stadion olahraga tempat Calista biasa menghabiskan waktu untuk joging. Bagi Calista, berlari di lintasan atletik adalah satu-satunya momen di mana ia bisa melepas sejenak beban sebagai Nyonya Satrya dan menjadi dirinya sendiri seorang wanita yang hanya ingin menghirup udara bebas tanpa pengawasan kamera CCTV atau tatapan sinis pelayan rumah.
Calista baru saja menyelesaikan putaran kelimanya. Peluh membasahi dahi, dan napasnya mulai teratur. Ia baru saja hendak menambah kecepatan untuk putaran terakhir ketika tiba-tiba, dari arah berlawanan, muncul seorang pria bertubuh besar dengan jaket hoodie gelap yang menutupi sebagian wajahnya. Pria itu tidak berlari; ia berjalan dengan langkah yang berat, kaku, dan seolah-olah seluruh dunianya hanya tertuju pada satu titik di depannya.
Calista mencoba memberi ruang dengan bergeser jauh ke sisi luar lintasan agar tidak bersenggolan. Namun, tepat saat jarak mereka hanya tinggal dua meter, pria itu justru mengubah arahnya secara mendadak dengan gerakan yang sangat agresif.
BRAK!
Tubuh besar itu menghantam bahu Calista dengan kekuatan yang sangat tidak wajar, seolah-olah ia adalah tembok beton yang sengaja dirubuhkan. Calista yang bertubuh ramping kehilangan keseimbangan seketika. Ia terpelanting ke depan, mendarat dengan keras di atas permukaan lintasan lari yang kasar dan berpasir tajam.
"Akh! Tolong..." jerit Calista tertahan, memegangi kakinya yang berdenyut hebat.
Rasa perih yang luar biasa langsung menjalar dari kedua lututnya. Ia meringis kesakitan, melihat kulit di lututnya terkelupas lebar dan mengeluarkan darah segar yang mulai merembes ke celana legging olahraganya. Alih-alih berhenti dan membantu, pria misterius itu hanya menoleh sekilas tanpa ekspresi, lalu melanjutkan langkahnya dengan tenang.
"Hei! Tuan! Anda menabrak saya!" seru Calista dengan suara bergetar menahan perih.
Pria itu sama sekali tidak menyahut. Ia terus berjalan menuju pintu keluar stadion tanpa menoleh lagi, seakan-akan ia baru saja menabrak sebuah benda mati yang tidak berharga. Keangkuhan pria itu membuat Calista tertegun sejenak di tengah rasa sakitnya. Ia mencoba melihat lebih jelas sosok itu, namun tudung jaketnya menutupi seluruh identitasnya, menyisakan kesan dingin yang mencekam.
Calista mencoba bangkit dengan sisa tenaganya, meski setiap gerakan membuat luka di lututnya berdenyut hingga ke jantung. Ia menatap punggung pria itu yang kian menjauh dan akhirnya menghilang di balik kerumunan orang. Di sekelilingnya, beberapa pelari lain tampak sibuk dengan urusan masing-masing, tidak menyadari drama kecil yang baru saja mengoyak ketenangan pagi Calista.
"Mungkin dia sedang ada masalah besar sampai tidak mendengar," gumam Calista pada dirinya sendiri, mencoba menekan rasa kesalnya. Ia tidak ingin berpikir negatif. Di pikirannya, insiden itu hanyalah sebuah kebetulan yang sial. Stadion adalah tempat umum, dan tabrakan antar pelari adalah hal yang lumrah terjadi, meski sikap pria tadi sangatlah tidak berperasaan. Ia meyakinkan dirinya bahwa dunia luar memang terkadang keras dan tidak ramah, apalagi bagi seorang wanita yang tampak rapuh seperti dirinya.
Dengan langkah terpincang-pincang dan wajah yang pucat menahan perih, Calista berjalan menuju mobil jemputannya. Pak Maman, supir pribadinya, langsung keluar dari mobil dengan wajah panik begitu melihat nyonyanya berjalan terseok-seok dengan noda merah yang mencolok di lututnya.
"Astagfirullah, Nyonya! Apa yang terjadi? Kenapa lutut Nyonya berdarah begitu?" tanya Pak Maman dengan nada sangat cemas, tangannya gemetar ingin membantu.
Calista memaksakan sebuah senyuman tipis agar supirnya tidak semakin khawatir. "Tidak apa-apa, Pak Maman. Saya tadi kurang fokus saat lari, lalu tersandung karena talinya lepas. Tolong bantu saya masuk saja, kita segera pulang."
"Tapi Nyonya, apa tidak sebaiknya kita ke klinik dulu? Lukanya kelihatannya cukup dalam, takutnya ada infeksi atau pasir yang masuk ke dalam daging," saran Pak Maman ragu-ragu, matanya terus melirik luka yang mulai mengering namun tampak mengerikan.
"Tidak usah, Pak. Di rumah ada kotak obat yang lengkap. Saya hanya ingin segera mandi dan istirahat," jawab Calista tegas. Ia menutup luka di lututnya dengan jaket parasut miliknya agar tidak mengundang perhatian lebih banyak orang di parkiran.
Sesampainya di kediaman Satrya, rumah tampak sunyi. Denis sudah lebih dulu berangkat ke kantor untuk rapat pagi. Calista berjalan perlahan melewati lobi, berusaha tetap terlihat normal meski setiap langkah terasa seperti disayat sembilu. Para pelayan yang ia lewati menunduk hormat, tidak menyadari rasa sakit yang disembunyikan sang nyonya di balik jubah ketenangannya.
Namun, di lantai atas, dari balik celah pintu kamarnya yang sedikit terbuka, Susi berdiri memperhatikan. Matanya yang tajam mengikuti setiap langkah terpincang Calista dengan kepuasan yang mendalam. Sebuah senyum kemenangan tersungging di bibir merahnya yang tajam. Susi kemudian mengeluarkan ponselnya, mengetikkan pesan singkat dengan jemari yang lentik: 'Kerja bagus. Pastikan jejakmu bersih. Sisa pembayarannya sudah kukirim.'
Susi sudah muak melihat Calista yang semakin bersinar dan memegang kendali atas keuangan rumah. Ia ingin Calista merasa tidak aman, ingin Calista merasakan sakit fisik sebagai peringatan bahwa kehadirannya di rumah ini tidak akan pernah tenang selama Susi masih ada. Baginya, tamparan tempo hari harus dibayar dengan ketakutan yang merayap. Ia ingin Calista selalu waspada, bahkan saat ia mengira dirinya sedang berada di tempat paling aman sekalipun.
Puas melihat penderitaan Calista, Susi menutup pintunya rapat-rapat. Ia kembali ke meja riasnya dengan tenang, menyesap teh melatinya seolah tidak terjadi apa-apa. Tak ada satu pun orang di rumah itu, bahkan Denis sekalipun, yang tahu bahwa kecelakaan di stadion pagi ini adalah hasil dari rencana kotor yang disusun rapi oleh Susi. Kebenciannya telah mencapai tahap di mana ia rela melakukan apa pun untuk mengikis kewarasan menantunya.
Di dalam kamarnya, Calista duduk di tepi tempat tidur, perlahan membuka jaket yang menutupi lukanya. Luka itu cukup parah; kerikil kecil stadion masih menempel di dagingnya yang terbuka merah. Dengan tangan gemetar dan napas tertahan, ia mulai menuangkan cairan pembersih ke atas kapas. Ia harus melakukan ini secepat mungkin sebelum rasa sakitnya membuat tubuhnya menyerah.
"Sshhh... perih sekali," rintihnya pelan.
Air mata Calista nyaris jatuh, namun ia menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia tidak ingin mengadu pada Denis. Baginya, ini hanyalah kecelakaan kecil, dan ia tidak ingin terlihat lemah atau merepotkan suaminya yang sedang memikul beban perusahaan yang besar. Ia juga takut jika Denis mengetahui hal ini, ia akan mengirimkan pengawal yang justru bisa membatasi ruang geraknya untuk menemui sang ibu secara bebas.
Calista tidak menyadari bahwa kebetulan yang ia yakini sebenarnya adalah awal dari serangan-serangan tersembunyi yang akan jauh lebih berbahaya. Baginya, rasa sakit di lututnya hanyalah kerikil kecil dibandingkan perjuangan yang harus ia lalui demi kesembuhan ibunya. Namun di sudut lain rumah itu, kebencian Susi baru saja mendapatkan kepuasan pertamanya. Susi sedang menunggu, mengintai dari kegelapan, merencanakan langkah berikutnya untuk memastikan Calista terjatuh lebih dalam lagi. Perang dingin ini kini telah berubah menjadi sebuah perburuan yang mematikan, di mana Calista menjadi mangsa yang sama sekali tidak menyadari keberadaan sang pemburu.
Please komen dan like❤🥰❤🥰