Sihirnya tajam, hampir terlalu sempurna untuk usianya. Mantra yang lain pelajari selama bertahun-tahun, ia pahami hanya dalam hitungan detik. Namun, setiap kilau kekuatan yang ia tunjukkan justru menjadi bayangan yang menjauhkannya dari yang lain.
Mereka menyebutnya dingin.
Mereka menyebutnya sombong.
Padahal, yang tak pernah mereka lihat adalah badai sunyi yang ia peluk sendirian.
Evelyn tidak pernah memilih untuk menjadi berbeda. Tapi sihir di dalam dirinya… terasa seperti sesuatu yang hidup—berdenyut, berbisik, seolah menyimpan rahasia yang bahkan ia sendiri takut untuk sentuh.
Dan di balik tatapan tenangnya, tersembunyi pertanyaan yang terus mengendap:
Apakah ia mengendalikan sihir itu… atau justru sedang perlahan dikuasai olehnya?
- Believe in magic -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Jiwa yang Tidak Pernah Pergi
Malam telah jatuh dengan tenang, menyelimuti rumah besar itu dalam keheningan yang panjang. Lampu kamar redup, hanya menyisakan cahaya lembut yang menerangi sudut ruangan. Laura Roberts berjalan mondar-mandir tanpa arah yang jelas, langkahnya pelan namun gelisah.
Pikirannya tidak bisa diam.
Pertemuan dengan orang tuanya siang tadi masih terngiang. Tatapan hangat Nyonya Elsa, suara tegas Wilson, dan perasaan asing yang muncul setiap kali mereka memanggilnya “Laura”… semuanya membuat dadanya terasa penuh.
Ia berhenti di depan meja.
Tangannya perlahan menyentuh sebuah buku tua yang ia sembunyikan di dalam laci. Sampulnya gelap, sedikit usang, namun masih utuh.
Buku itu… satu-satunya benda yang ia bawa dari dunia sebelumnya.
Laura menelan ludah, lalu membukanya perlahan.
Halaman demi halaman berisi tulisan yang hanya ia pahami. Huruf-huruf yang tidak akan dimengerti manusia biasa.
Ia duduk di kursi, matanya fokus membaca.
Dan di salah satu halaman… ia berhenti.
Tangannya sedikit gemetar.
Tulisan itu seolah memanggilnya.
Tentang reinkarnasi.
Tentang penyihir yang memilih untuk lahir kembali sebagai manusia.
Laura membaca dengan perlahan, setiap kata terasa berat namun jelas.
“Seorang penyihir yang bereinkarnasi tidak akan sepenuhnya menghilang. Ia akan lahir kembali dalam tubuh manusia, namun kehidupannya tetap miliknya. Jiwa lamanya akan menyatu, mengendalikan, dan menjalani kehidupan itu tanpa disadari oleh wadah barunya.”
Laura menahan napas.
Matanya membesar.
“Tidak disadari…” gumamnya pelan.
Ia membaca lagi, lebih cepat kali ini, seolah takut kehilangan makna dari setiap kata.
“Wujud manusia hanyalah bentuk baru. Namun kehidupan yang dijalani tetap milik penyihir tersebut. Segala keputusan, perasaan, dan langkah yang diambil adalah miliknya, meski ia tidak sepenuhnya sadar bahwa ia adalah jiwa yang sama.”
Laura menutup mulutnya dengan tangan.
Dadanya berdebar semakin cepat.
“Jadi… selama ini…”
Ia terdiam.
Pikirannya berputar.
Semua yang ia alami sejak terbangun di rumah sakit—semua kebingungan, semua rasa asing, semua perasaan yang tidak ia mengerti…
Bukan karena ia benar-benar orang lain.
Tapi karena ia belum menyadari bahwa…
Ia tetap dirinya.
“Ini… hidupku?” bisiknya pelan.
Ia menatap tangannya sendiri.
Tangan manusia.
Tubuh manusia.
Nama manusia.
Tapi jiwa…
Masih dirinya.
Laura berdiri perlahan, langkahnya mundur beberapa langkah dari meja. Pikirannya kacau.
Jika semua ini benar…
Maka kehidupan Laura Roberts… bukan milik orang lain.
Itu miliknya.
Ia hanya… tidak sadar.
Ia mengingat kembali setiap momen.
Cara ia merasa aneh di mall.
Cara ia bingung saat makan.
Cara ia tidak mengenali orang tuanya.
Semua itu bukan karena ia bukan Laura…
Tapi karena jiwanya belum sepenuhnya menyatu dengan kehidupan barunya.
Ia menggenggam kepalanya.
“Tidak… ini terlalu rumit…”
Namun semakin ia menyangkal, semakin jelas semuanya terasa.
Perasaan-perasaan yang muncul sejak ia menjadi manusia—rasa hangat saat dipeluk, rasa aneh saat disuapi, kegelisahan saat bertemu orang tua—semuanya terasa nyata.
Dan itu bukan milik orang lain.
Itu miliknya.
Ia hanya… belum terbiasa.
Laura kembali duduk perlahan.
Tangannya kembali membuka halaman itu, membaca lebih dalam.
“Penyihir yang bereinkarnasi akan perlahan menyatu dengan kehidupan manusianya. Namun jika kesadaran tidak seimbang, maka ia akan merasa terpecah—antara siapa dirinya dulu, dan siapa dirinya sekarang.”
Laura terdiam lama.
Terpecah.
Itu kata yang tepat.
Ia merasa seperti dua orang dalam satu tubuh.
Satu bagian ingin memahami dunia manusia.
Satu bagian lagi masih terikat pada dunia sihir.
Dan keduanya… belum benar-benar menyatu.
Ia menutup buku itu perlahan.
Kamar kembali sunyi.
Hanya suara napasnya yang terdengar.
“Jadi… aku tidak mengambil kehidupan orang lain…” gumamnya pelan.
“Itu memang hidupku…”
Ia menatap ke arah cermin.
Pantulan dirinya terlihat jelas—wajah Laura, mata yang dalam, ekspresi yang perlahan berubah.
Untuk pertama kalinya… ia tidak melihat orang asing di sana.
Ia melihat dirinya.
Versi baru.
Versi manusia.
Namun tetap dirinya.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Bukan karena sedih.
Tapi karena akhirnya… ia mengerti.
Ia tidak perlu menjadi orang lain.
Ia tidak perlu takut salah.
Karena semua ini…
Memang jalannya.
Namun di balik pemahaman itu, ada satu hal yang masih mengganjal.
Jika ini benar hidupnya…
Maka semua yang terjadi sebelum ia sadar…
Juga bagian dari hidupnya.
Termasuk… kecelakaan itu.
Laura mengerutkan dahi.
Ada sesuatu yang terasa tidak lengkap.
Seperti potongan puzzle yang hilang.
Ia menyentuh kepalanya pelan.
“Kenapa aku tidak ingat…”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Ia tahu jawabannya belum datang.
Tapi satu hal pasti—
Ia bukan lagi Evelyn yang terpisah dari dunia ini.
Dan ia juga bukan Laura yang kosong tanpa arah.
Ia adalah keduanya.
Satu jiwa.
Satu kehidupan.
Yang perlahan… mulai terbangun dari tidur panjangnya.