NovelToon NovelToon
Buku Harian Keyla

Buku Harian Keyla

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi Wanita
Popularitas:822
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Dua Tahun Kemudian

"Dua tahun berlalu, ku buka kembali buku harian ini. Ratusan hari kuisi dengan mencoba melupakanmu, tapi kau seperti bayangan yang menolak sirna. Mereka bilang waktu adalah penyembuh luka yang paling ampuh. Namun bagiku, waktu hanyalah seorang penipu ulung; ia mengeringkan darah di permukaan, namun membiarkan lukanya tetap menganga di kedalaman." (Buku Harian Keyla, Halaman 140)

Angin sore yang membawa aroma kopi dan petrikor menyapu pelataran kantin Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Daun-daun ketapang yang menguning berguguran, jatuh di atas meja kayu tempatku duduk. Aku menyesap latte hangatku perlahan, membiarkan pandanganku mengedar ke sekeliling kampus yang selalu sibuk ini.

Dua tahun telah berlalu sejak malam kelulusan itu.

Duniaku telah berubah drastis. Seragam putih abu-abu telah berganti dengan pakaian kasual dan kemeja rapi. Lorong-lorong SMA yang sempit telah digantikan oleh gedung-gedung rektorat yang menjulang tinggi dan taman-taman kampus yang luas. Aku, Lidya, Bella, dan Siska berhasil masuk ke universitas negeri favorit yang sama di Jakarta.

Aku membalik halaman novel klasik berbahasa Inggris di depanku. Menjadi mahasiswi jurusan Sastra Inggris telah banyak mengubah cara pandangku. Aku tidak lagi meledak-ledak. Tangisku tak lagi mudah tumpah hanya karena sebuah sentakan. Masa remaja yang penuh dengan kepolosan dan kenaifan telah tertinggal di laci meja kelas XII-IPA 1. Aku belajar menyembunyikan emosiku di balik raut wajah yang tenang dan senyum yang terukur.

"Pusing banget gue sama dosen yang satu ini! Masa tugas paper dua puluh halaman disuruh kumpul besok pagi? Dikira mahasiswa nggak butuh tidur apa?!"

Gerutuan Bella memecah ketenanganku. Gadis yang kini memotong rambutnya menjadi model bob pendek itu menjatuhkan tumpukan buku tebal ke atas meja, lalu menghempaskan tubuhnya di kursi sebelahku dengan wajah ditekuk.

Lidya, yang mengambil jurusan Hubungan Internasional, menyusul di belakangnya dengan santai. Penampilan Lidya semakin edgy dengan kemeja oversized dan celana cargo.

"Makanya, Bel, ngerjain tugas tuh dicicil dari minggu lalu. Jangan sibuk update story nongkrong di Senopati mulu," sindir Lidya sambil menyedot es kopinya. Lidya melirikku. "Lo tumben anteng banget, Key? Tugas analisis sastra lo udah kelar?"

Aku tersenyum tipis, menutup novelku. "Udah, Lid. Semalam aku kebut sampai jam dua pagi. Makanya sekarang bisa santai baca novel."

Tak lama berselang, Siska bergabung dengan kami. Aura Siska semakin tak tersentuh sejak ia menjadi mahasiswi Fakultas Hukum. Ia mengenakan blazer berwarna navy yang pas di tubuh, memancarkan wibawa seorang calon pengacara yang ambisius. Kacamata tebalnya telah diganti dengan kontak lensa, membuatnya terlihat semakin tajam dan mengintimidasi.

"Maaf telat, tadi ada rapat himpunan mahasiswa sebentar," ucap Siska anggun, meletakkan tas jinjing mahalnya di atas meja. Matanya langsung memindai penampilanku. "Key, kamu kok pakai kardigan rajut lagi sih? Kan aku udah bilang, sesekali pakai dress yang agak formal. Indra kan anak Manajemen Bisnis yang pergaulannya luas, kamu sebagai pacarnya harus bisa keep up sama circle-nya dia."

Aku hanya tersenyum tipis menanggapi teguran halus Siska. Dulu, aku akan langsung merasa minder dan buru-buru menuruti perkataannya. Namun dua tahun telah mendewasakanku. Aku tahu persis kapan Siska sedang peduli, dan kapan ia sedang berusaha mengontrol hidupku agar sesuai dengan standarnya.

"Indra suka kok aku pakai baju yang nyaman, Sis. Dia nggak pernah nuntut aku harus tampil heboh," jawabku dengan nada datar namun sangat tenang, tanpa berniat memancing perdebatan.

Siska sedikit menaikkan alisnya, mungkin tak menyangka bahwa Keyla yang penurut kini bisa memberikan batasan yang tegas. Namun, sebagai manipulator ulung, Siska langsung tersenyum manis. "Iya sih, Indra kan emang bucin parah sama kamu. Mau kamu pakai karung goni juga pasti dibilang cantik."

"Panjang umur," celetuk Bella sambil menunjuk ke arah jalan setapak menuju kantin.

Sesosok laki-laki jangkung dengan kemeja polo berwarna gelap dan celana chinos berjalan menghampiri meja kami. Indra. Laki-laki itu terlihat semakin gagah dan dewasa. Ketampanannya kini memiliki aura maskulin yang matang. Di tangannya, ia membawa sebuah kantong kertas berisi camilan manis.

Begitu sampai di meja, Indra langsung meletakkan kantong itu di depanku. Ia berdiri di belakang kursiku, menunduk, dan mengecup puncak kepalaku dengan sangat natural.

"Hai, pacar," sapa Indra dengan suara baritonnya yang hangat. "Udah lama nunggunya?"

Aku mendongak, memberinya senyum yang tulus. Dua tahun berjalan di sisi Indra telah memberiku sebuah zona nyaman yang luar biasa. Ia menepati janjinya. Ia meratukanku. Ia tidak pernah sekali pun meninggikan suaranya, ia selalu ada saat aku membutuhkannya, dan ia menyembuhkan luka-luka luarku dengan kasih sayang yang tak terbatas.

"Nggak kok, baru setengah jam. Ini apa, Ndra?" tanyaku menunjuk kantong kertas itu.

"Tadi lewat toko kue langganan kamu, jadi aku beliin macaron rasa strawberry. Buat naikin mood habis ngerjain tugas," jawab Indra, lalu menarik kursi dan duduk di sebelahku.

"Duh, yang single cuma bisa gigit jari ngelihat kemanisan kalian," goda Bella dramatis. Lidya hanya memutar bola matanya sambil tertawa pelan.

Kami menghabiskan sore itu dengan mengobrol ringan. Indra menceritakan tentang proyek kepanitiaan universitas yang sedang sibuk ia urus. Sebagai salah satu petinggi BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) tingkat universitas, Indra sering terlibat dalam acara-acara berskala besar.

"Bulan depan universitas kita bakal ngadain acara 'Desa Binaan' tahunan. Proyeknya gabungan antar fakultas," jelas Indra sambil menyuapkan sepotong kentang goreng ke mulutnya. "Fakultas Ekonomi yang ngurusin dana dan pemberdayaan UMKM desa, Sastra sama Fisip bagian pendidikan, Hukum bagian penyuluhan..."

Indra menjeda kalimatnya sejenak, mengambil minum. "Dan penanggung jawab utama untuk infrastrukturnya dari Fakultas Teknik. Tahun ini BEM Teknik Sipil yang megang kendali buat bangun jembatan gantung sama perbaikan balai desa."

Deg.

Satu kata itu. Dua kata yang membentuk frasa itu.

Teknik Sipil.

Jantungku yang berdetak teratur seketika melompat satu ketukan. Gelas latte di tanganku bergetar sangat halus. Aku buru-buru meletakkannya kembali ke atas meja sebelum ada yang menyadari.

Dua tahun. Tujuh ratus tiga puluh hari aku mengubur nama itu. Aku tak pernah menyebutkannya. Aku menghindar jika teman-temanku tak sengaja membahasnya. Namun anehnya, hanya dengan mendengar nama fakultas itu disebut, sel-sel di tubuhku bereaksi dengan cara yang paling brutal. Kenangan tentang wajah pucatnya, seragam lusuhnya, dan sedetik tatapan terakhirnya di koridor sekolah itu langsung meledak menghancurkan benteng pertahananku.

Rendi ada di fakultas itu. Di universitas ini.

Kami berkuliah di universitas negeri yang sama, namun kampus ini begitu masif dan luas—terdiri dari puluhan gedung dan belasan ribu mahasiswa. Fakultas Sastra dan Fakultas Teknik berada di ujung yang berseberangan, terpisah oleh danau kampus dan hutan kota. Selama dua tahun ini, meski berada di bawah naungan rektorat yang sama, kami belum pernah berpapasan sekalipun. Jarak fisik di antara kami mungkin hanya beberapa kilometer, namun rasanya seperti kami berada di dua benua yang berbeda.

"Teknik Sipil?" Lidya tiba-tiba menyeletuk, tanpa sadar mengorek luka lama. "Eh, si Rendi kan masuk Teknik Sipil sini juga ya? Jangan-jangan dia ikut panitia juga tuh."

Suasana meja mendadak kaku. Bella langsung menendang kaki Lidya di bawah meja. Siska melirikku dengan tajam, sementara Indra... raut wajahnya yang ceria sedikit menegang. Nama itu masih menjadi nama terlarang di antara kami berdua.

Aku menelan ludah yang terasa seperti menelan kerikil tajam. Aku memaksakan sebuah senyum tenang, menatap Lidya seolah tak ada yang salah.

"Mungkin aja," sahutku senatural mungkin, menjaga suaraku agar tidak bergetar. "Anak Teknik kan emang selalu diterjunkan kalau urusan proyek desa."

Indra menoleh ke arahku, mencari-cari celah keretakan di mataku. Aku balas menatapnya dan memberikan usapan lembut di punggung tangannya yang bertumpu di atas meja, sebuah gestur untuk menenangkannya. Indra membalas genggamanku dan tersenyum lega. Ia mengira aku benar-benar telah kebal.

Ia tidak tahu, bahwa di balik senyum tenangku ini, ada sebuah gempa bumi yang sedang meruntuhkan jiwaku.

"Aku telah bermetamorfosis menjadi Keyla yang baru. Keyla yang rasional, Keyla yang tenang, dan Keyla yang mencintai pangerannya. Namun semua kedewasaan ini hanyalah sebuah topeng porselen yang retak seketika hanya dengan mendengar tempatmu bernaung." (Buku Harian Keyla, Halaman 142)

"Udahlah, ngapain bahas orang yang nggak penting," potong Siska cepat, memecah keheningan yang canggung. "Yang penting, proyek ini bakal jadi portofolio bagus buat kita. Indra, kamu sebagai panitia inti harus mastiin koordinasi sama anak Teknik berjalan lancar. Anak-anak Teknik kan biasanya kaku dan susah diatur."

"Iya, Sis. Minggu depan ada rapat akbar gabungan seluruh perwakilan fakultas di gedung serbaguna," jawab Indra kembali santai. Ia menatapku penuh harap. "Kamu ikut ya, Key? Sebagai perwakilan BEM Sastra? Aku pengen kita bisa kerja bareng di proyek ini."

Aku menatap Indra. Logika berteriak menyuruhku mundur. Jika aku ikut rapat akbar gabungan itu, probabilitas untuk bertemu dengannya akan meningkat tajam. Jika ia benar-benar tergabung dalam kepanitiaan itu, aku akan melihatnya lagi. Aku akan berhadapan dengan hantu dari masa laluku.

Namun, bukankah aku sudah berdamai? Bukankah aku sudah bahagia dengan Indra? Bersembunyi dan menghindar hanya akan membuktikan bahwa perasaanku padanya belum mati. Kedewasaan menuntutku untuk menghadapi ketakutanku sendiri.

Aku menarik napas panjang, menyingkirkan bayangan mata elang yang kelam itu dari benakku.

"Iya, Ndra," jawabku mantap, diiringi senyuman yang menyembunyikan ribuan ketakutan. "Aku ikut."

Di sore yang mulai meremang itu, angin kembali berembus menggugurkan daun ketapang. Dan jauh di lubuk hatiku, aku tahu bahwa dua tahun pelarian ini akan segera menemui akhirnya. Takdir yang pernah memisahkan kami dengan brutal di koridor sekolah, sepertinya sedang merangkai sebuah benang kusut untuk menarik kami kembali ke dalam satu ruangan yang sama.

1
Yuni Uni
bagus banget ceritanya kak ,,,,,,kayak zaman sma zamanku dulu
semangat ya kak
partini
benar an ini dah berakhir Thor
so happy next cerita mereka dah dewasa
partini
ko waktu buat indra ,buat kamu sendiri dong tata hatimu dulu kubur semua kenangan itu dalam" berjalan kedapan dengan nanggung urusan asmara nanti menyusul lah,, siapapun orangnya pasti terbaik buat kamu kalau jodoh sama Indra bagus sama Rendy nanti jug bagus,,cintai dirimu sendiri dulu
partini
sekarang kamu bisa bilang Kya gitu NDRA mencintai orng yg hatinya udah mati kusus untuk dia itu melelahkan sekali loh,,pikir dulu lah sebelum bertindak
partini: hati Kay udah ga bisa ke lain hati udah mentok ke satu orang jadi yg lain lewat
total 2 replies
partini
tapi kalau di pikir" Kayla sangat menggangu sih Thor
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik
partini
mereka bertemu lagi setelah beberapa tahun Thor ,i hope mereka bertemu udah pada kerja Rendi jug udah sukses biar saling bersaing ga Jomblang kaya sekarang
Pengamat Senja: iya kasian banget Keyla /Frown/
total 3 replies
partini
biarkan Rendi sendiri aja lah ,jangan di ganggu dulu mungkin lebih baik kamu pergi jauh dari pada Rendi makin stres
partini
orang sederhana yg apa ini mananya susah di Jabar kan si Rendi ini orangnya ,belagu iya, egois iya ,sok kuat iya padahall butuh seseorang untuk berbagi kesedihan
Nacill Chan
semangatt kakkk 😉
partini
kadang menurut kita baik belum tentu itu baik untuk mereka
partini
lanjut
Pengamat Senja: jangan lupa follow ya kak 🙏
total 1 replies
Pengamat Senja
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!