NovelToon NovelToon
Satu Menit Sebelum Mahkota

Satu Menit Sebelum Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Istana/Kuno / Cinta Terlarang
Popularitas:977
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.

Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.

Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Lantai kayu di bengkel bawah tanah Silas tidak pernah benar-benar diam. Setiap kali ada kereta kuda yang melintas di jalanan Distrik Merah di atas sana, debu-debu halus akan berjatuhan dari sela-sela langit-langit, mendarat di bahu Arlo seperti salju kotor yang enggan mencair. Arlo menggeser posisi berdirinya, mencoba mengabaikan rasa nyeri yang berdenyut di pinggangnya. Pahat di tangannya terasa semakin berat, namun ia tidak berhenti. Ia tahu, di balik dinding-dinding kayu jati yang disusun Silas, dunia sedang sibuk mencarinya. Helena mungkin sedang membanting gelas anggurnya karena buruannya menghilang, dan ayahnya mungkin sedang menghitung kerugian yang harus dibayar demi sebuah ego kerajaan.

Arlo memfokuskan matanya pada sambungan kayu yang baru saja ia buat. Penampilannya benar-benar berubah. Rambut pirangnya yang dulu menjadi simbol kemuliaan Valerius kini terkubur di bawah pewarna cokelat gelap yang kusam. Kulit wajahnya yang bersih kini sengaja ia kotori dengan noda tinta arang yang sulit hilang. Ia mengenakan apron kulit yang bau amisnya menusuk hidung, menyamarkan aroma cendana yang dulu selalu melekat pada tubuhnya. Saat ini, ia hanyalah "si nomor 84" yang pindah ke bengkel Silas karena Galangan D sedang ditutup.

"Kau terlalu banyak berpikir lagi, Arlo. Kau akan merusak sudut kayu itu kalau tidak fokus," suara Kalea terdengar pelan namun tajam dari arah sudut ruangan.

Arlo tersentak, hampir saja pahatnya meleset dan melukai jarinya sendiri. Ia menoleh dan melihat Kalea sedang duduk di atas peti kayu, sedang mengasah sebilah pisau kecil. Gadis itu juga tidak luput dari penyamaran. Kalea mengenakan pakaian laki-laki yang kedodoran, rambutnya disembunyikan di bawah topi kain yang kusam. Noda hitam buatan menghiasi pipinya, membuatnya tampak seperti remaja laki-laki yang bekerja di pelabuhan.

"Aku hanya memikirkan sepuluh koin emas itu, Kalea," Arlo menyeka keringat di dahinya, meninggalkan noda hitam baru di sana. "Emas itu bisa membuat orang yang paling jujur sekalipun berlutut. Bagaimana kalau salah satu pekerja di galangan mengingat wajahku?"

Kalea meletakkan pisaunya, lalu berjalan mendekati Arlo. Langkah kakinya kini lebih berat, meniru gaya berjalan para kuli di Distrik Merah. Ia berdiri tepat di depan Arlo, matanya yang cokelat menatap tajam ke dalam mata biru Arlo yang kini tampak lebih gelap karena pencahayaan yang minim. "Master Bram bukan orang bodoh. Dia menutup galangannya bukan cuma buat melindungimu, tapi buat melindungi dirinya sendiri. Kalau kau tertangkap, dia juga akan kena masalah. Jadi, berhenti memikirkan kemungkinan itu."

Kalea meraih tangan Arlo, meraba kapalan yang mulai mengeras di telapak tangan pria itu. "Tanganmu sudah bicara lebih banyak daripada wajahmu, Arlo. Pengawal Helena mencari pangeran dengan tangan yang halus. Mereka tidak akan pernah mencari pria yang tangannya kasar seperti batu kali."

Tiba-tiba, suara ketukan palang pintu di lantai atas terdengar. Tiga ketukan pendek, disusul satu ketukan panjang. Kode dari Silas.

Arlo dan Kalea secara refleks membeku. Mereka segera menyembunyikan peralatan mereka yang lebih halus dan mengambil balok kayu kasar sebagai tameng. Silas menuruni tangga kayu dengan terburu-buru, napasnya terdengar berat. Pria tua bermata satu itu menatap Arlo sejenak, memastikan penyamaran Arlo masih utuh.

"Ada tamu di atas," bisik Silas, suaranya seperti gesekan amplas kasar. "Bukan pengawal, tapi seseorang dari serikat tukang kayu. Dia mencari tenaga tambahan untuk memperbaiki kapal perang di dermaga utama malam ini. Arlo, kau harus ikut."

"Ikut ke dermaga utama?" Kalea memprotes, suaranya meninggi. "Itu tempat yang paling berbahaya sekarang! Pengawal Vandellia ada di setiap sudut dermaga!"

"Justru itu tempat yang paling aman kalau kau ingin bersembunyi di bawah hidung mereka," Silas memotong dengan tegas. "Mereka mencari buronan yang bersembunyi di lubang tikus. Mereka tidak akan mencari buronan yang sedang berkeringat di bawah lambung kapal perang mereka sendiri. Arlo harus keluar dan terlihat bekerja, atau orang-orang akan mulai bertanya kenapa ada orang baru yang terus mengurung diri di bengkelku."

Arlo menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya. Ia menatap Kalea yang wajahnya dipenuhi kekhawatiran. "Silas benar, Kalea. Aku tidak bisa terus-menerus menjadi hantu di bawah tanah ini. Kalau aku ingin mereka berhenti mencurigai Distrik Merah, aku harus menunjukkan wajahku sebagai buruh biasa."

Kalea menggigit bibir bawahnya, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. "Baiklah. Tapi aku ikut. Aku bisa menjadi pembantu angkut barang."

"Tidak," Silas menggeleng. "Kau tetap di sini, jaga ayahmu. Satu orang asing yang terlihat bekerja itu wajar. Dua orang asing yang datang bersamaan ke dermaga utama itu mengundang pertanyaan. Arlo akan ikut dengan timku."

Proses persiapan dilakukan dengan sangat cepat. Silas memberikan Arlo sebuah topi pelaut yang sudah berbau keringat lama dan sebuah tas kain yang berisi peralatan kasar. Arlo keluar dari bengkel bawah tanah, menaiki tangga menuju lantai atas. Saat pintu hijau kusam itu terbuka, udara dingin Solandis langsung menampar wajahnya. Arlo menyipitkan mata, mencoba membiasakan diri dengan cahaya fajar yang masih remang namun terasa menyilaukan bagi matanya yang sudah terbiasa dengan kegelapan.

Di luar, Distrik Merah sudah mulai sibuk. Suara derap langkah kaki ribuan kuli panggul terdengar seperti guntur yang jauh. Arlo berjalan di belakang Silas, menundukkan kepalanya, mencoba meniru gaya berjalan orang-orang di sekitarnya yang tampak lelah dan tidak peduli pada dunia. Ia melewati beberapa gang yang lebarnya bahkan tidak sampai sejangkauan tangan, tempat di mana bau masakan murah dan jemuran basah menyatu menjadi aroma kemiskinan yang jujur.

Sesampainya di dermaga utama, pemandangan itu membuat jantung Arlo seolah berhenti berdetak. Di sana, di tengah-tengah kapal dagang lainnya, kapal perang Vandellia yang megah sedang bersandar. Bendera ungu dengan lambang bunga lili berkibar sombong tertiup angin laut. Puluhan pengawal berbaju zirah lengkap berdiri tegak di sepanjang jembatan dermaga, mata mereka menyapu setiap orang yang lewat dengan tatapan predator.

"Tetap tenang," bisik Silas di depan Arlo. "Fokus pada kotak peralatanmu. Jangan menatap mata mereka."

Arlo mengangguk kecil. Ia merapatkan topinya, membiarkan debu pelabuhan menempel di pakaiannya. Mereka bergabung dengan sekelompok pekerja lain yang sudah berkumpul di bawah lambung kapal perang itu. Tugas mereka adalah mengganti papan-papan kayu yang mulai melapuk di bagian bawah, dekat dengan garis air. Ini adalah pekerjaan yang sangat kotor dan melelahkan.

Arlo mulai bekerja. Ia berdiri di atas perancah kayu yang bergoyang setiap kali ombak menghantam. Ia memegang kapak kecil, mulai memotong bagian kayu yang busuk. Air laut sesekali menciprat ke wajahnya, terasa asin dan dingin. Ia bisa mendengar suara para pengawal Vandellia yang sedang tertawa di atas geladak, membicarakan tentang taruhan mereka mengenai berapa lama lagi sang pangeran pelarian akan bertahan di luar sana.

"Katanya dia lari demi seorang pelacur tukang cat," tawa salah satu pengawal terdengar nyaring. "Pangeran kita yang mulia ternyata punya selera sampah."

Arlo merasakan kemarahan yang mendidih di ulu hatinya. Tangannya mencengkeram gagang kapak lebih kuat. Ia ingin sekali melompat ke atas geladak dan membungkam mulut pengawal itu, namun ia segera teringat wajah Kalea. Ia tidak sedang bertarung untuk harga dirinya sebagai pangeran lagi. Ia sedang bertarung untuk masa depan mereka sebagai manusia bebas. Arlo menarik napas dalam, meredam emosinya, dan kembali menghantamkan kapaknya ke kayu busuk itu.

Tak! Tak! Tak!

Suara kapaknya menyatu dengan kebisingan dermaga. Berjam-jam ia bekerja di bawah terik matahari yang mulai naik. Kulitnya terasa terbakar, dan otot bahunya seolah-olah akan meledak karena kelelahan. Namun, penyamarannya bekerja dengan sempurna. Para pengawal yang sesekali lewat di bawah perancah hanya melihat seorang buruh kasar yang kotor dan bau, bukan seorang pangeran yang sedang mereka cari.

Tiba-tiba, seorang perwira tinggi Vandellia dengan jubah ungu yang lebih panjang melangkah turun dari kapal. Di tangannya, ia memegang selembar perkamen besar. Itu adalah poster buronan. Arlo bisa melihat sketsa wajahnya di sana—wajahnya yang dulu, dengan rambut pirang rapi dan tatapan yang angkuh.

Perwira itu berhenti tepat di depan Silas. "Hei, Tua Bangka! Kau mandor di sini?"

Silas membungkuk sedikit, aktingnya sebagai pria tua yang ketakutan sangat meyakinkan. "Ya, Tuan. Saya Silas, tukang kayu dari Distrik Merah. Ada yang bisa saya bantu?"

"Apa kau melihat pria ini?" Perwira itu menunjukkan poster itu tepat di depan wajah Silas. "Kami punya informasi dia mungkin masih bersembunyi di sekitar pelabuhan. Kalau kau menemukannya, sepuluh koin emas akan jadi milikmu. Tapi kalau kau menyembunyikannya... lehermu akan jadi gantinya."

Silas menatap poster itu dengan wajah bingung yang dibuat-buat. "Wajah tampan seperti ini, Tuan? Mana mungkin pria seperti ini mau tinggal di tempat bau amis seperti dermaga kami? Orang-orang saya hanya tahu cara memegang gergaji, bukan cara merawat rambut pirang seperti itu."

Beberapa pekerja lain tertawa kecil mendengar jawaban Silas. Perwira itu mendengus sinis, melipat kembali posternya dengan kasar. Matanya menyapu barisan pekerja, termasuk Arlo yang sedang pura-pura sibuk mengamplas kayu di atas perancah. Tatapan perwira itu sempat berhenti sejenak pada Arlo, memperhatikan postur tubuhnya yang lebih tegap dibandingkan buruh lainnya.

Jantung Arlo berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Ia tidak bergerak. Ia terus menggosok kayu itu dengan ritme yang stabil, meski telapak tangannya terasa sangat panas karena gesekan amplas.

"Pekerja yang itu," tunjuk si perwira ke arah Arlo. "Siapa dia? Dia tidak terlihat seperti orang lokal."

Silas tetap tenang. "Oh, itu asisten saya, Tuan. Dia bisu sejak lahir, kepalanya agak sedikit kurang waras akibat jatuh dari kapal nelayan waktu kecil. Dia kuat, tapi tidak bisa bicara. Namanya hanya 'Si Bisu'."

Perwira itu melangkah mendekati perancah Arlo. Ia menggunakan gagang pedangnya untuk mengangkat dagu Arlo, memaksa Arlo untuk menoleh. Arlo membiarkan mulutnya sedikit terbuka, tatapannya dibuat kosong dan hampa, persis seperti orang yang kehilangan kesadaran. Ia membiarkan air liur dan debu menempel di sudut bibirnya.

Si perwira menatap mata biru Arlo. Biru yang sama dengan yang ada di poster. Namun, karena wajah Arlo yang penuh noda hitam, rambut cokelat pendek yang berantakan, dan ekspresi "bodoh" yang ia tunjukkan, si perwira hanya meludah ke tanah dengan jijik.

"Matanya bagus, tapi sayangnya dia idiot," gumam perwira itu. "Teruskan pekerjaanmu, Tua Bangka. Pastikan kapal ini siap berlayar lusa pagi, atau aku akan membakar bengkelmu."

Setelah perwira itu pergi, Arlo baru berani mengembuskan napas panjang. Ia merasakan seluruh tubuhnya lemas, hampir saja ia jatuh dari perancah jika tidak segera berpegangan pada tiang penyangga. Silas menatapnya dengan pandangan yang memberi isyarat agar Arlo tetap pada perannya sampai mereka kembali ke bengkel.

Sore harinya, saat pekerjaan selesai, Silas membawa Arlo pulang melalui jalur yang lebih memutar lagi. Begitu mereka masuk ke dalam bengkel dan mengunci pintu hijau itu, Arlo langsung terduduk di lantai, menjatuhkan tas peralatannya dengan bunyi dentang yang keras.

Kalea berlari menuruni tangga, langsung memeluk Arlo dengan erat. "Aku melihat perwira itu kembali ke dermaga! Aku pikir sesuatu terjadi padamu!"

Arlo membalas pelukan Kalea, menenggelamkan wajahnya di bahu gadis itu. "Aku baik-baik saja, Kalea. Silas benar... penyamaran ini adalah perlindungan terbaikku sekarang. Mereka melihatku, tapi mereka tidak melihat Arlo Valerius. Mereka hanya melihat sampah pelabuhan."

Pak Elara yang sedang duduk di kursi roda tersenyum tipis. "Selamat, Nak. Kau baru saja membunuh pangeran di dalam dirimu hari ini. Sekarang, kau benar-benar bebas untuk menjadi siapa pun."

Malam itu, di bawah tanah yang sunyi, Arlo tidak lagi merasa seperti buronan yang ketakutan. Ia merasa seperti seorang prajurit yang sedang menyamar di jantung musuh. Ia mengambil sepotong kayu cedar kecil, lalu ia mulai memahat sesuatu yang baru. Bukan lagi lambang naga atau singa laut.

Ia memahat sebuah kunci kecil. Sebuah simbol bahwa ia memegang kendali atas kebebasannya sendiri sekarang.

"Besok kita harus mulai merencanakan langkah selanjutnya," ucap Arlo sambil menatap Kalea yang sedang menyiapkan sup hangat. "Kita tidak bisa selamanya di Distrik Merah. Helena akan segera tahu kalau pencarian di dermaga tidak membuahkan hasil, dan dia akan mulai mencari lebih dalam."

"Kita akan pergi ke Solandis Dalam," sahut Silas sambil membersihkan pipanya. "Ada komunitas pemahat bawah tanah di sana. Mereka tidak peduli siapa kau, selama kau bisa membuat karya yang indah. Di sana, identitasmu akan terkubur selamanya di balik seni."

Arlo menatap telapak tangannya yang kini dipenuhi noda permanen. Ia merasa bangga. Noda-noda ini bukan lagi kotoran; ini adalah zirah barunya. Ia menoleh ke arah Kalea, menarik tangan gadis itu dan mencium telapak tangannya yang kasar.

"Kita akan baik-baik saja, Kalea," bisik Arlo. "Retakan itu sudah menjadi pintu, dan kita sudah melaluinya."

Di luar sana, pengawal Vandellia masih berkeliling dengan poster di tangan, mencari bayangan seorang pangeran yang sudah tidak ada lagi. Sementara di bawah tanah Distrik Merah, seorang pemahat baru sedang lahir, siap untuk mengubah sejarah bukan dengan mahkota, melainkan dengan pahat dan kejujuran yang tak tergoyahkan.

Arlo Valerius telah mengubur identitasnya, namun ia baru saja menemukan jiwanya yang sebenarnya. Dan bagi dia, itu adalah kemenangan yang jauh lebih agung daripada mahkota mana pun di benua ini.

Mau lanjut ke bab selanjutnya, non?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!