NovelToon NovelToon
Dicampakan Suami Gila Harta, Diratukan Oleh Mafia Jahat

Dicampakan Suami Gila Harta, Diratukan Oleh Mafia Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: de banyantree

Ternyata di belahan dunia ini masih tersisa seorang pria berhati malaikat. Meski semua orang tak mempercayai itu. Sebab yang mencintaiku itu adalah seorang mafia jahat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu tak diundang

Tawa renyah Laila masih terdengar di sepanjang koridor lantai dua saat ia mempercepat langkahnya. Napasnya sedikit memburu, bukan karena lelah, tapi karena sensasi permainan kejar-kejaran yang sudah lama tidak ia rasakan. Di belakangnya, suara langkah kaki Zayn yang berat dan mantap terdengar kian mendekat.

​"Kamu tidak bisa lari ke mana-mana, Laila!" seru Zayn dengan nada rendah yang menggoda.

​Laila segera memutar knop pintu kamar utama dan menyelinap masuk. Namun, sebelum ia sempat mengunci pintu, sebuah tangan kekar menahannya. Zayn mendorong pintu itu perlahan, lalu menutupnya dengan bunyi klik yang halus namun tegas. Suasana seketika berubah. Deru napas mereka memenuhi keheningan kamar yang luas dan wangi aromaterapi itu.

​Tanpa membuang waktu, Zayn melangkah lebar dan menangkap pinggang Laila. Ia memeluk istrinya dari belakang, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Laila yang harum.

​"Tertangkap," bisik Zayn serak.

​Ia membalikkan tubuh Laila agar menghadapnya. Tatapan mata Zayn kini meredup, penuh dengan binar keinginan yang tak lagi disembunyikan. Tangannya terangkat, mengelus pipi Laila yang masih merona merah akibat berlarian tadi. Perlahan, Zayn menunduk, mendaratkan kecupan lembut di dahi Laila, lalu turun ke hidung, dan akhirnya berlabuh di bibir istrinya.

​Ciuman itu awalnya lembut, seolah sedang menghargai setiap detik keberadaan Laila di sana. Namun, saat Laila mulai membalas, Zayn kehilangan kendali. Lumatan-lumatan hangat mulai tercipta, menuntut lebih banyak ruang dan rasa. Zayn menarik tubuh Laila lebih rapat, seolah ingin menyatukan dua raga itu tanpa celah.

​Namun, di saat Zayn sedang berada di puncak rasa takjubnya, Laila tiba-tiba mendorong bahu Zayn pelan. Ia melepaskan tautan bibir mereka dengan gerakan yang cukup mengejutkan.

​Zayn mengernyitkan dahi, matanya yang sayu karena gairah mencoba fokus kembali. "Kamu kenapa, Sayang? Ada yang salah?" tanyanya dengan suara yang masih agak berat.

​Laila tidak menjawab. Ia hanya menutup mulutnya dengan telapak tangan, matanya membulat, lalu dengan gerakan kilat ia berlari menuju kamar mandi.

​BRAK!

​Pintu kamar mandi tertutup rapat. Zayn mematung di pinggir tempat tidur. "Laila? Kamu mual? Sayang, kamu sakit?" teriaknya cemas. Ia mengetuk pintu berkali-kali, namun hanya terdengar suara gemericik air dari dalam.

​Zayn mondar-mandir di depan pintu kamar mandi dengan gelisah. Pikirannya melayang ke mana-mana. Apakah Laila salah makan rendang tadi? Atau dia kelelahan? Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Hingga hampir dua puluh menit, Laila tak kunjung keluar.

​"Laila, kalau kamu tidak menjawab, aku dobrak pintunya!" ancam Zayn yang sudah mulai panik.

​Tepat saat itu, kunci pintu terbuka. Laila melangkah keluar dengan wajah yang sedikit pucat namun ada binar jenaka di matanya. Zayn segera menyergapnya, memegang kedua bahunya. "Kenapa? Kamu muntah? Kita ke dokter sekarang ya?"

​Laila menggeleng pelan. Ia tidak bicara, melainkan berjalan menuju meja riasnya. Zayn mengikuti di belakangnya dengan raut wajah bingung sekaligus khawatir. Dari laci paling bawah, Laila mengambil sebuah bungkusan plastik kecil berisi sesuatu yang sangat akrab di mata kaum wanita.

​Zayn memperhatikan benda itu. Alisnya bertaut. "Itu apa? Obat?"

​Laila membalikkan badan, menunjukkan sebungkus pembalut kepada Zayn dengan senyum penuh kemenangan. "Maaf ya, Tuan Posesif. Sepertinya 'cicilan' sepuluh anak yang kamu bilang tadi harus tertunda. Tamu bulananku baru saja datang berkunjung."

​Wajah Zayn yang tadinya penuh kekhawatiran dan gairah, seketika berubah menjadi gurat kecewa yang sangat berat. Bahunya merosot. Ia menatap bungkusan di tangan Laila seolah itu adalah musuh bebuyutannya.

​"Sekarang? Benar-benar sekarang?" tanya Zayn dengan nada tidak percaya.

​Laila tertawa kecil melihat ekspresi suaminya yang terlihat seperti anak kecil yang baru saja kehilangan es krimnya. "Iya, Sayang. Tadi di taman aku sudah merasa ada yang aneh, dan benar saja saat di kamar mandi tadi si 'tamu' sudah sampai."

​Laila mencubit gemas hidung Zayn, lalu kembali melangkah masuk ke kamar mandi untuk menyelesaikan urusannya. Sebelum menutup pintu, ia sempat melirik Zayn yang masih berdiri mematung di tengah kamar dengan wajah memelas.

​"Jangan pasang wajah begitu, Zayn Malik. Ingat kata Papa tadi, aku butuh istirahat agar tidak kurang vitamin," goda Laila sebelum benar-benar menutup pintu.

​Zayn menghela napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur yang empuk. Ia menatap langit-langit kamar dengan pasrah. "Rencana di Swiss sepertinya harus benar-benar maksimal kalau begini ceritanya," gumamnya pada diri sendiri.

​Tak lama kemudian, Laila keluar dengan pakaian yang lebih santai. Ia melihat Zayn yang masih cemberut sambil memainkan ponselnya. Laila mendekat, lalu duduk di pinggir tempat tidur sambil mengelus rambut suaminya.

​"Jangan marah dong. Kan aku tidak bisa mengatur jadwalnya," ucap Laila lembut.

​Zayn menarik tangan Laila dan mencium telapak tangannya. "Aku tidak marah, Sayang. Hanya... sedikit kecewa karena momentumnya pas sekali. Tapi tidak apa-apa, yang penting kamu tidak sakit. Tadi aku benar-benar takut kamu mual karena keracunan makanan."

​"Terima kasih sudah khawatir," jawab Laila tulus. "Oh iya, soal besok lusa. Kamu benar-benar akan ke kantor cuma dua jam?"

​Zayn mengubah posisinya menjadi duduk bersandar di headboard tempat tidur, menarik Laila ke dalam pelukannya—kali ini pelukan yang murni untuk kenyamanan. "Harus. Papa kalau sudah minta tolong begitu, artinya memang ada masalah yang agak pelik. Tapi aku janji, hanya dua jam. Setelah itu, kita fokus belanja kebutuhan musim dingin."

​"Mommy tadi bilang ingin membelikanku mantel bulu. Aku merasa itu terlalu berlebihan, Zayn," curhat Laila.

​"Biarkan saja. Bagi Mommy, mendandani menantunya itu hobi baru. Selama ini dia tidak punya anak perempuan, jadi kamu adalah boneka hidupnya sekarang," Zayn terkekeh. "Lagipula, di Swiss nanti suhu bisa di bawah nol derajat. Kamu akan butuh semua pakaian hangat itu."

​Laila menyandarkan kepalanya di bahu Zayn. "Aku masih merasa seperti bermimpi. Beberapa bulan lalu hidupku begitu berantakan, dan sekarang... aku punya kamu, punya orang tua yang sangat menyayangiku. Kadang aku takut kalau besok bangun, semuanya hilang."

​Zayn mempererat pelukannya, mencium pelipis Laila dengan penuh perasaan. "Ini bukan mimpi, Laila. Ini adalah balasan atas semua kesabaranmu selama ini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun atau apa pun merusak kebahagiaan ini. Kamu aman bersamaku."

​"Zayn?"

​"Ya, Sayang?"

​"Kalau nanti kita punya anak... kamu ingin laki-laki atau perempuan?" tanya Laila pelan.

​Zayn terdiam sejenak, membayangkan seorang anak kecil dengan mata seperti Laila berlarian di rumah ini. "Apa saja, asalkan dia sehat. Tapi kalau boleh jujur, aku ingin anak perempuan yang mirip sekali denganmu. Supaya kalau kamu sedang marah padaku, aku punya 'cadangan' wajah cantikmu untuk dilihat."

​Laila mencubit perut Zayn pelan. "Gombal! Kamu pasti akan jadi ayah yang sangat protektif, kan?"

​"Tentu saja! Siapa pun laki-laki yang berani mendekati putriku nanti, dia harus melewati tes fisik dan mental dariku dulu," jawab Zayn dengan nada sombong yang dibuat-buat.

​Laila tertawa lepas. Bayangan masa depan itu terasa begitu nyata dan indah. Di dalam kamar yang hangat itu, di tengah canda tawa dan rencana masa depan, mereka berdua tahu bahwa perjalanan mereka baru saja dimulai. Meskipun malam ini "rencana" Zayn gagal total karena faktor alam, namun keintiman yang mereka rasakan jauh lebih dalam dari sekadar kontak fisik.

​"Sudah, sekarang kita tidur saja," ajak Laila sambil menarik selimut. "Besok pagi kita harus bangun awal untuk menemani Mommy sarapan."

​Zayn mengangguk, ia mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur yang temaram. Ia memeluk istrinya dari samping, memberikan kenyamanan yang dibutuhkan Laila saat hari pertama menstruasinya.

​"Selamat tidur, Tuan Posesif," bisik Laila.

​"Selamat tidur, Nyonya Malik yang nakal," balas Zayn sambil memejamkan mata dengan senyum kecil yang masih tersisa di bibirnya.

🥰🥰🥰🥰

Halo semuanya.

Katanya Zayn Malik, dia akan lebih kecewa saat ini jika pembaca setianya belum meninggalkan jejak like dan komentar di sini.

Jadi, pembaca yang terkasih jangan kecewakan Zayn Malik ya😇😇😇

1
merry
bagi lh satu tas mu lai🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭kn bnykk tuu
de banyantree: boleh kk🤭🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!