NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Status: tamat
Genre:Konflik etika / Cinta Murni / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:142.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.

Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.

Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.

Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.

Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.

Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Saat Bertahan Justru Menghancurkan

Kaisyaf membuka mata. Menatap lurus ke depan. Bukan ke Nara.

“Waktu.”

Jawaban itu membuat dada Nara menegang.

“Dan?” tanyanya, lebih rendah.

“Cukup,” jawab Kaisyaf singkat.

Nara terkekeh pelan. Hambar.

“Cukup?” ulangnya. “Cukup buat apa? Mati pelan-pelan sendirian di negara orang?”

Kaisyaf tidak menjawab.

Nara mengusap wajahnya cepat, menahan emosi yang naik.

“Kamu pikir ini rencana yang masuk akal?” lanjutnya. “Pergi, ninggalin semuanya, pura-pura kuat, lalu selesai?”

Masih tidak ada respons.

“Dulu…” suaranya berubah, lebih dalam. “Kalau bukan karena kamu, aku bahkan nggak bakal bisa lanjut kuliah.”

Jemari Kaisyaf di atas seprai sedikit menegang.

“Aku tahu rasanya di titik bawah,” lanjut Nara. “Aku tahu rasanya hampir kehilangan segalanya.”

Tatapannya mengunci.

“Dan kamu yang narik aku keluar dari situ.” Napasnya tertahan sesaat. “Sekarang kamu pikir aku bakal diam lihat kamu nyerah?”

Akhirnya Kaisyaf menoleh. Tatapannya tenang.

“Aku nggak nyerah.”

“Ini namanya nyerah.”

“Ini… aku tuntaskan.”

Nada itu pelan, tapi final.

Nara terhenti. Bukan karena setuju, tapi karena ia tahu pria di depannya serius.

Ia menggeleng pelan.

“Selalu gitu,” gumamnya. “Kalau soal orang lain, kamu bisa nekat. Bisa bertahan.”

Tatapannya menajam.

“Tapi giliran diri sendiri… kamu mundur.”

Kaisyaf kembali menatap ke depan.

“Fahri sudah mulai bisa.”

Topik itu jatuh begitu saja.❤️

Nara mengerutkan kening.

“Aku lagi ngomongin kamu—”

“Dia cepat belajar,” lanjut Kaisyaf. “Tinggal dikasih waktu sedikit lagi.”

Nara menatapnya tidak percaya.

“Serius?” suaranya naik. “Di kondisi begini kamu masih mikirin kerjaan?”

“Bukan kerjaan.”

Kaisyaf menoleh.

“Kelanjutan.”

Satu kata itu membuat Nara terdiam.

“Kalau dia sudah bisa handle semuanya…” lanjut Kaisyaf pelan, “aku bisa pergi tanpa ninggalin beban.”

Nara mengembuskan napas panjang. Senyum tipis muncul, pahit.

“Kamu ini…” kepalanya bergerak pelan. “Selalu harus jadi orang yang beresin semuanya, ya?”

Kaisyaf tidak menjawab.

“Nyebelin,” gumam Nara.

Suaranya melemah, tapi tidak kalah.

“Kalau kamu mati sebelum semuanya ‘siap’ gimana?”

Kaisyaf terdiam sebentar.

“Berarti… aku salah hitung.”

Jawabannya ringan, tapi menghantam.

Nara memalingkan wajah.

“Gila,” bisiknya.

-

Beberapa menit kemudian, Nara keluar dari ruangan. Pintu tertutup pelan di belakangnya.

Lorong itu sunyi.

Langkahnya berhenti di dekat jendela. Bahunya menyandar ke dinding.

Dari dalam, suara monitor terdengar samar. Stabil.

Ia menunduk. Tangan terangkat menutup mulut.

Pandangannya mengabur.

“Gila kamu, Kai…”

Bukan marah. Ia hanya tidak sanggup.

Kepalanya bergerak pelan.

“Aku yang cuma…” suaranya terputus, “…cuma sahabat aja bisa sehancur ini lihat kamu.”

Napasnya tersendat.

“Apalagi dia…”

Kalimat itu tidak selesai.

Mata Nara terpejam.

Sepuluh tahun. Bukan waktu yang sebentar.

Makan bersama. Tidur berdampingan. Bangun di pagi yang sama. Membangun sesuatu… sampai lahir seorang anak dari semua itu.

Ia menelan pahit.

“Bahagia.”

Sederhana, tapi berat. Tangannya mengusap wajah cepat.

“Pantes…”

Tatapannya kosong ke depan.

“Pantes kamu pilih pergi.”

Sekarang ia mengerti. Bukan karena Kaisyaf kurang mencintai mereka. Justru karena… terlalu dalam.

“Kalau dia tahu…” gumamnya, “…dia bakal tetap di sana. Senyum. Kuat.” Napasnya tertahan. “…padahal pelan-pelan hancur.”

Nara tertawa kecil. Pahit.

“Dan kamu nggak tahan lihat itu…”

Ia menggeleng lemah.

"Iya. Aku juga nggak bakal tahan.”

Nara menyandarkan kepala ke dinding. Mata terpejam.

“Nyebelin…” bisiknya. “Tapi… sekarang aku paham.”

Ia menelan ludah yang terasa membantu.

“…bukan berarti aku setuju.”

***

Halaman sekolah mulai sepi.

Beberapa anak sudah dijemput. Suara tawa perlahan hilang, digantikan langkah-langkah kecil yang pulang satu per satu.

Alvian berdiri di dekat gerbang. Tasnya tergantung di bahu. Matanya sesekali menoleh ke jalan.

Menunggu.

“Alvian.”

Ia menoleh.

Seorang pria berdiri beberapa langkah darinya. Rapi. Senyum tipis.

Reza.

Alvian tidak mendekat, hanya menatap.

“Om Reza,” ucapnya nyaris seperti gumaman.

Reza tersenyum, lalu mendekat perlahan.

“Masih ingat Om?” tanyanya ringan.

Alvian mengangguk kecil.

“Iya.”

Jawabnya singkat. Sopan. Berjarak.

Reza berjongkok, menyamakan tinggi.

“Mau ikut Om? Kita jalan sebentar. Nunggu Umi kamu.”

Alvian langsung menggeleng.

“Gak mau.”

Suaranya kecil, tapi tegas.

Reza sempat diam. Senyumnya masih ada, meski menipis.

“Kenapa?”

Alvian tidak menjawab. Tangannya menarik tali tas sedikit lebih erat.

“Umi bilang tunggu di sini.”

Sederhana. Tidak berubah.

“Tapi 'kan Om kenal Umi kamu,” lanjut Reza santai. “Nanti Om bilang kok.”

Alvian tetap di tempat.

“Gak mau.” Jawabnya tetap sama.

Senyum Reza memudar tipis. Ia merogoh saku, mengeluarkan kotak kecil.

“Ini buat kamu. Om lihat ini, langsung ingat kamu.”

Alvian melirik sekilas, lalu menggeleng.

“Gak usah.”

Reza mengernyit sedikit.

“Ini bagus, loh.”

Alvian memerhatikannya lebih lama.

“Umi bilang… gak boleh terima apa-apa dari orang.”

Kalimat itu jatuh tepat.

Reza terdiam. Lalu terkekeh pelan.

“Om ini bukan orang lain.”

Alvian tidak menjawab. Ia mundur setengah langkah. Kecil, tapi cukup jelas.

Sorot Reza berubah tipis. Dan sebelum ia sempat berkata lagi—

“Al.”

Suara itu datang dari belakang.

 

...🔸🔸🔸...

...“Tidak semua yang pergi itu meninggalkan. Ada yang menjauh… supaya yang lain tetap utuh.”...

...“Yang paling menyakitkan bukan kehilangan. Tapi saat tahu, seseorang memilih pergi… demi kamu.”...

...“Kadang yang terlihat kuat, justru sedang runtuh paling dalam, sendirian.”...

...“Cinta tidak selalu bertahan. Kadang… ia memilih mundur agar tidak menghancurkan.”...

...“Yang menjaga jarak, belum tentu berhenti mencintai.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Yunita Sophi
cerita baru kak ?
Yunita Sophi
Reza kamu lihat dgn mata kepala sendiri kan? klo Fahri memperlakukanAyza dan Albian dgn baik... tentu aja wanita akan bahagia klo di perlakukan dgn baik dan di cintai suami...
Anonim
Akhirnya tamat sudah cerita yang sangat bagus ini.
Terima kasih Author dengan cerita yang bagus, menghibur, terharu, dan bisa dipetik sebagai pembelajaran dalam kehidupan nyata. Semoga Author selalu sehat, semangat, penuh berkat dan senantiasa dalam perlindunganNya 🙏🙏
Anitha Ramto
yaaaa tidak terasa udah end lagi, padahal masih seneng dengan kisah Ayza dan Fahri..

happy ending
Dew666
💜💜💜💜
Anonim
Ternyata Reza mengikut Fahri dan keluarganya yang sedang berada di pantai. Benar-benar penguntit sejati.

Ayza ke toilet. Reza bergerak mendekati bangunan toilet.

Ayza keluar dari toilet - Reza sudah berdiri di depannya. Bikin Ayza terkejut.

Reza sudah mendengar Ayza berkata yang sebenarnya. Apa masih kurang jelas - masihkah mengharapkan sesuatu yang tak mungkin dia miliki kembali.
Hanima
😍👍🙏
Anonim
Reza sebagai pengamat sejati ketika mereka makan pagi. Dia tahu kenapa Fahri terlihat berwajah cerah.

Melihat interaksi atara Fahri dan Ayza. Mendengar Alvian memanggil Abi untuk Fahri.

Semua itu membuat dada Reza terasa semakin sesak.

Alvian mau mancing di pantai. Mereka bertiga menuju pantai.

Reza mau ngapain keluar rumah juga dengan mobilnya.

Ditanya Bundanya - jawabnya ada urusan sedikit.

Sepertinya Rahman was-was terhadap Reza. Tidak akan tinggal diam kalau Reza sampai mengusik keluarga Fahri.
Rea
iya aku bacanya jg loncat krn nangis terus
🌠Naπa Kiarra🍁: Berarti sedihnya sampai nggak kuat ya, Kak 🥹

Tapi bacanya jangan lompat-lompat, kasihan retensinya 😭 Kita sesama penulis pasti tahu rasanya lihat grafik tiba-tiba jungkir balik.

Ujung-ujungnya reward melambaikan tangan dari kejauhan: waalaikumsalam 😂

Yang tersisa cuma mata panda gara-gara sistem baca model kodok.😭
total 1 replies
ngatun Lestari
masyaalloh.... banyak liku" hidup yg jadi pelajaran
Dek Sri
terima kasih atas karyanya kak, semoga sukses selalu
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
mery harwati
Terimakasih author 🙏
Sehat selalu ya 😍
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Sugiharti Rusli
kisah yang haru biru sih, semoga kisah baru yang juga sudah dibaca juga seru yah🥰🥰
Sugiharti Rusli
bahkan pada akhirnya Fahri mengakui perasaan yang dia punya ke Ayza setelah dia sah sebagai suaminya,,,
Sugiharti Rusli
karena mau menolak seperti apapun Ayza, kalo takdirnya berjodog dengan Fahri makanya memang ada jalannya melalui Alvian yang sangat menyayanginya,,,
Sugiharti Rusli
dan Fahri juga tidak pernah melampaui batasannya, bahkan setelah Kaisyaf wafat, dan pada akhirnya takdirlah yang meruntuhkan hati Ayza,,,
Sugiharti Rusli
bahkan mungkin dulu saat akhirnya Ayza berjodoh sama mendiang Kaisyaf, dia tetap ada bersama mereka sebagai adik mereka
Sugiharti Rusli
yah memang pada akhirnya memenangkan hati Ayza bukan karena ambisi buta sih,,,
Eliermswati
trma ksh thor untuk semua cerita nya, smngt dan sukses untuk karya mu selanjutnya, 😍😍😍y q msh penasaran pengen d lnjut tentang alvian gede dan ank ayza sm fahri sih
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Asih Prawawati
Terima Kasih Thour..
Terima Kasih...akhir cerita yang indah .
aku suka .
Bukan sekedar bacaan...yg perlu di baca .
Tapi lebih dari itu ..ada pembelajaran juga .
🙏🙏🙏🙏
🌠Naπa Kiarra🍁: Sama-sama KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!