NovelToon NovelToon
The Queen With 4 Servents

The Queen With 4 Servents

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Fantasi Isekai
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35. Singgasana di atas keraguan

Gema langkah kaki rombongan Baron Krow yang menjauh perlahan-lahan lenyap, digantikan oleh keheningan yang menyesakkan di ruang isolasi bawah tanah The Velvet Manor.

Atmosfer di sana masih terasa berat, seolah-olah oksigen telah dihisap keluar oleh keberadaan Soul-Severing Mirror yang baru saja digunakan Aira. Bau belerang tipis dan aroma besi dari jarum perak yang patah di lantai masih menggantung di udara yang lembap.

Aira berdiri mematung. Telapak tangannya yang menggenggam cermin itu terasa kaku, urat-urat birunya tampak menonjol di balik kulit porselen Isabella yang pucat.

Ia bisa merasakan sisa-sisa getaran ketakutan Krow yang masih tertinggal di permukaan cermin—sebuah energi hitam yang terasa kental dan dingin.

"Nyonya..." suara Julian memecah kesunyian. Ia melangkah maju dari bayang-bayang pilar batu, wajahnya yang biasanya skeptis kini menunjukkan garis-garis kelelahan yang nyata.

Ia menjentikkan jarinya, dan seketika, ilusi Pangeran Valerius yang duduk di kursi itu meluruh seperti debu, menyingkapkan manekin kayu yang tak bernyawa.

Julian menatap Aira dengan intens. "Sihir tadi... itu bukan sekadar gertakan. Anda benar-benar menarik kegelapan dari dalam cermin itu. Bagaimana mungkin seseorang yang... yang beberapa minggu lalu bahkan tidak tahu cara memegang cangkir dengan benar, bisa melakukan manipulasi mental tingkat tinggi seperti itu?"

Aira menoleh perlahan. Matanya, yang biasanya memancarkan binar kebingungan khas Aira dari dunia modern, kini tampak dalam dan gelap—persis seperti mata Isabella sang Ratu.

Namun, ada sesuatu yang berbeda. Ada ketenangan yang tidak dimiliki Isabella asli yang temperamental.

"Kadang, Julian, cara terbaik untuk belajar berenang adalah dengan dilemparkan ke samudra yang penuh hiu," jawab Aira dengan suara yang stabil namun lembut. Ia menyodorkan cermin itu pada Julian.

"Simpan ini. Pastikan energinya tidak bocor. Aku butuh istirahat, tapi kita belum selesai."

Dante, sang Panglima yang sejak tadi berjaga di pintu, mendekat dengan langkah berat yang berwibawa. Ia berlutut di depan Aira, satu tangan mengepal di atas jantungnya.

Ini bukan sekadar formalitas pelayan kepada majikan; ini adalah pengakuan seorang prajurit kepada pemimpin yang baru saja menyelamatkan nyawa mereka semua.

"Nyonya," ucap Dante, suaranya parau. "Saya akui, selama ini saya meragukan identitas Anda. Perubahan perilaku Anda yang mendadak membuat saya bersiap untuk menghujamkan pedang ini jika Anda terbukti adalah mata-mata musuh. Tapi setelah apa yang saya lihat hari ini... keberanian Anda menghadapi Krow tanpa berkedip... saya tidak peduli lagi siapa Anda sebenarnya."

Dante mendongak, matanya bertemu dengan mata Aira. "Jika Anda adalah roh yang merasuki tubuh Nyonya kami, maka Anda adalah roh yang jauh lebih pantas mendiami takhta ini daripada Isabella yang dulu. Anda menyelamatkan Julian, Anda melindungi Pangeran, dan Anda menjaga kehormatan rumah ini. Perintahkan apa pun, dan saya akan melaksanakannya."

Aira merasa tenggorokannya tercekat. Ia merindukan dunianya yang nyaman, namun melihat Dante dan Julian—pria-pria yang awalnya ingin membunuhnya namun kini bersedia mati untuknya—membuat Aira merasa memiliki tanggung jawab baru.

Ia bukan lagi sekadar transmigran yang mencoba bertahan hidup; ia adalah pelindung bagi mereka yang terbuang.

"Berdirilah, Dante," bisik Aira sambil menyentuh bahu zirah pria itu.

Tepat saat suasana haru itu memuncak, pintu besi di ujung lorong berderit terbuka. Sosok tinggi dengan jubah yang basah oleh embun malam masuk dengan langkah waspada.

Itu adalah Kael, sang pedang andalan yang selama ini menghilang untuk menjaga perimeter terluar.

Kael menyeka noda tanah di pipinya, lalu segera berlutut dengan satu kaki di samping Dante. "Gerbang sudah terkunci, Nyonya," lapor Kael. Suaranya rendah dan tajam.

"Pasukan Baron Krow telah melewati batas hutan. Aku memastikan tidak ada satu pun dari mereka yang berani menoleh ke belakang atau meninggalkan penyusup di area gerbang. Maafkan saya karena tidak ada di samping Anda saat Baron itu mengancam di dalam sini."

Aira menatap Kael, merasa kekuatannya kini lengkap.

"Bangunlah, Kael. Kau menjaga nyawa kami dari luar, itu sudah cukup. Tanpa penjagaanmu di perbatasan, kita mungkin sudah dikepung dari dua arah."

"Zane sudah melaporkannya dari langit-langit. Seorang pengintai Shadow-Cloak dari Kekaisaran." Ucap Julian.

"Jangan dibunuh," potong Aira cepat saat melihat tangan Kael refleks menyentuh hulu pedangnya.

"Jika dia mati, Krow akan tahu kita menyembunyikan sesuatu yang besar. Kita akan memberi mata-mata itu sebuah pertunjukan. Kael, kau yang paling mengenal medan hutan itu. Pastikan pengintai itu hanya melihat apa yang aku ingin dia lihat tanpa menyadari bahwa dia sendiri sedang diawasi."

"Sesuai perintah Anda, Ratu-ku," jawab Kael pendek. Matanya berkilat tajam, menyadari bahwa Isabella yang sekarang jauh lebih berbahaya daripada sebelumnya.

Aira mulai berjalan mondar-mandir di ruangan itu, gaun merahnya menyapu lantai batu.

"Julian, gunakan sisa energimu untuk menciptakan ilusi rutin. Setiap pagi, buat siluet Pangeran Valerius yang sedang meminum teh di balkon menara barat. Buat seolah-olah dia sedang bercakap-cakap denganku. Lakukan itu selama satu minggu penuh."

"Dan Anda, Nyonya?" tanya Dante.

"Aku akan sengaja terlihat lemah. Aku akan terlihat lelah karena 'merawat' Pangeran. Biarkan mata-mata itu melihat seorang Ratu yang berdedikasi namun kelelahan. Itu akan menurunkan kewaspadaan Ibukota," jelas Aira.

Ia berhenti melangkah dan menatap mereka berdua. "Kejam, cerdas, tapi tetap menjaga martabat. Bukankah itu yang kalian inginkan dari seorang Isabella?"

Kael membungkuk dalam, kali ini dengan rasa hormat yang tulus. "Anda jauh lebih berbahaya daripada Isabella yang asli, Nyonya. Dan saya menyukainya."

Malam itu, Aira kembali ke kamarnya dengan tubuh yang remuk. Ia duduk di depan meja rias besar, menatap pantulannya di cermin biasa. Bayangan di cermin itu mulai bergerak sendiri. Sosok Isabella asli muncul, duduk di belakang Aira, menyisir rambut imajiner.

"Kau melakukan pekerjaan yang bagus, Aira," bisik Isabella. Suaranya tidak lagi penuh kebencian, melainkan ada nada kepuasan. 

"Kau membuat mereka berlutut bukan dengan cambuk, tapi dengan otakmu. Kau mulai terlihat sepertiku."

"Aku bukan kau, Isabella," jawab Aira dalam hati. "Aku melakukan ini karena aku tidak punya pilihan lain. Aku ingin mereka hidup."

"Itulah bedanya kita," Isabella tersenyum tipis, sebuah senyum yang mematikan. "Tapi ingat, dunia kultus ini tidak mengenal belas kasihan. Krow akan kembali. Dan saat dia kembali, dia tidak akan membawa jarum perak, tapi tentara. Kau harus siap menjadi monster yang sebenarnya jika ingin menyelamatkan para pelayan kesayanganmu itu."

Aira menutup matanya rapat-rapat. Di luar jendela, ia tahu mata-mata Krow sedang mengintai dari kegelapan hutan.

Namun di dalam mansion ini, ia tidak lagi sendirian. Dante berjaga di depan pintunya, Julian menyiapkan ramuan penguat untuknya, Zane mengawasi dari bayang-bayang atap, dan Kael akan menjaga perbatasan hutan.

Kesetiaan mereka adalah pedang bermata dua. Ia harus terus menjadi Ratu yang sempurna, atau ia akan kehilangan segalanya.

1
Eka Putri Handayani
pliss mudahan Aira kembali sedih bngt aku🥺
Senja_Puan
buat 1 bab aja perlu mindfull dulu kak🤣
Eka Putri Handayani
sumpah jengkel bngt aku sm Isabella ini😒thor lbh bnyk knp kah up nya nanggung amat
Eka Putri Handayani
sumpah selama baca aku kesal sendiri, tolong kembalikan Aira thor aku gak suka Isabella
Yasa: Akhirnya ada yang sama... tolong aku juga mau Aira kembaliiiiiiii
total 2 replies
Eka Putri Handayani
kenapa Isabella harus kembali sih thor coba gak usah aja ih menyebalkan
Eka Putri Handayani
aku senang Aira wanita yg kuat dan berani tp aku jg gak mau klo dia kehilangan jati dirinya, krn yg dicintai keempat pria itu ya diri Aira bkn Isabella
Eka Putri Handayani
aku takut Aira bakal keikut jahat kya Isabella smg aja Aira bisa melawan Isabella
Eka Putri Handayani
smngt ya thor wkwk senang bngt Isabella kalah telak
Eka Putri Handayani
lebih baik isabella hilang selamnya aja kesal aku, siapa srh dlu masa hidupnya menjadikan dante, julian, zane, dan keal kya kacungnya skrng cemburu kan🤣
Eka Putri Handayani
dari awal aku gak mau bnyk komen cmn nikmatin aja alurnya, cmn makin kesini makin benci sm Isabella yg asli. sumpah bias gak sih dia musnah aja biarkan Aira seutuhnya yg memiliki raganya gak usah muncul² lg enak bngt sdh Aira yg bnyk berkorban malah dia seenak jidatnya ngeklaim semua msh pnynya
safa
Good job thor. semangat
safa
Aira kuat imannya wkwk
safa
keren. semangat thor
Ganis
eh serius, isabellanya udha mati?
Ganis
hahaha akhirnya mah nyerahin diri
Ganis
wah julian kena batuunya
Ganis
sadiiiiiiis
Ganis
waah keren aira
Ganis
keren thir💪
Senja_Puan
marahin aja kak🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!