NovelToon NovelToon
Perjodohan Dengan Anak SMA

Perjodohan Dengan Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kepahiang Martin

Dia adalah Kezia Putri Ramadhan – CEO muda berusia 25 tahun yang menguasai bisnis tekstil keluarga dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan rapat bisnis, target penjualan, dan tanggung jawab berat hingga dia tak punya waktu untuk cinta. Namun, semuanya berubah ketika keluarga dihadapkan pada kehancuran keuangan yang hanya bisa dihindari dengan satu cara: menikahi putra keluarga Wijaya.

Yang tak disangka, calon suaminya adalah Rizky Wijaya – seorang anak SMA berusia 18 tahun yang baru saja lulus ujian masuk kampus, suka bermain game, ngemil keripik, dan masih sering lupa menyetrika baju!

Tanpa pilihan lain, mereka menjalani pernikahan yang tak diinginkan. Di rumah besar Kezia, tingkah lucu Rizky tak pernah berhenti: memasak yang malah membuat kompor berasap, menempelkan stiker kartun di laptop kerja istri, hingga menyuruh asisten perusahaan memanggilnya "Mas Rizky". Tapi bukan hanya kelucuannya yang menghiasi kehidupan mereka – rasa cemburu sang suami muda yang masih dibawa umur ju

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEMBALI SEPERTI DULU

Bulan demi bulan berlalu, musim berganti, tapi rasa sakit di hati Kezia tak pernah benar-benar mereda—ia hanya terkubur di bawah lapisan kebisuan yang semakin tebal. Rumah yang dulu penuh tawa Rizky kini berubah menjadi sebuah ruang hampa yang dingin, dan perlahan-lahan, Kezia pun ikut berubah menjadi seperti rumahnya sendiri: dingin, sunyi, dan tertutup rapat.

Sifat ceria dan hangat yang dulu melekat pada dirinya perlahan menghilang, digantikan oleh sikap yang kaku dan tanpa emosi. Dia kembali menjadi Kezia yang dulu—sebelum dia mengenal Rizky, sebelum kehangatan cinta suaminya melelehkan es di hatinya. Dinding pertahanan yang pernah dia runtuhkan demi Rizky dan Rania kini dibangun kembali, lebih tinggi dan lebih tebal dari sebelumnya.

Dia masih melakukan segalanya untuk Rania—memberi makan, memandikan, mengantar ke sekolah—tapi semuanya dilakukan seperti sebuah rutinitas mekanis, tanpa sentuhan kasih sayang yang dulu selalu ada. Tatapannya yang dulu penuh cinta kini sering kali kosong, menatap jauh ke suatu tempat yang tak terjangkau, seolah jiwanya tidak benar-benar ada di sana.

Suatu sore, Rania pulang dari sekolah dengan wajah ceria, memegang selembar kertas gambar di tangannya. Dia berlari menghampiri Kezia yang sedang duduk di ruang tamu, menatap layar ponsel tanpa benar-benar melihat apa pun di sana.

"Ibu! Lihat nih, Rania dapat nilai bagus menggambar! Bu guru bilang gambar Rania bagus banget!" seru Rania dengan antusias, menyodorkan kertas itu ke depan wajah Kezia. Di gambar itu, terlukis sebuah keluarga: sosok pria tinggi yang tersenyum, sosok wanita, dan seorang anak kecil, semuanya memegang tangan di bawah langit berwarna pelangi. "Ini Ayah, ini Ibu, ini Rania. Rania gambar kita semua bahagia, Bu."

Kezia menatap gambar itu sekilas, tanpa ekspresi. Tidak ada senyum, tidak ada pujian, tidak ada pelukan hangat seperti dulu. Dia hanya mengangguk pelan, lalu kembali menatap layar ponselnya.

"Bagus," ucapnya datar, suaranya dingin dan datar seperti permukaan air yang tenang namun membeku. "Simpan saja. Jangan berantakan di meja."

Senyum di wajah Rania perlahan memudar. Matanya yang berbinar mulai berkaca-kaca. Dia menurunkan tangannya perlahan, menatap ibunya dengan tatapan bingung dan terluka. "Bu... kenapa Ibu nggak senyum? Dulu kalau Rania bawa gambar, Ibu pasti peluk Rania dan bilang Rania hebat..."

Kezia menoleh, tatapannya tajam dan dingin, membuat Rania mundur selangkah ketakutan. "Ibu sibuk, Rania. Jangan banyak tanya. Pergilah ke kamar dan rapikan barang-barangmu. Jangan berisik."

Suara itu bukan suara ibunya yang dia kenal. Itu suara orang asing yang dingin dan menakutkan. Rania menahan tangisnya, mengangguk kecil, lalu berjalan pelan menuju kamarnya, sambil memeluk erat gambarnya yang kini terasa begitu berharga namun juga begitu menyakitkan.

Di ruang tamu, Kezia tetap duduk diam. Dia mendengar langkah kaki kecil Rania yang menjauh, mendengar suara pintu kamar yang tertutup pelan, dan dia tahu dia telah menyakiti hati putrinya. Tapi anehnya, dia tidak merasakan apa-apa. Atau lebih tepatnya, dia memilih untuk tidak merasakan apa-apa. Dia merasa jika dia membiarkan dirinya merasakan kelemahan, jika dia membiarkan dirinya tersentuh oleh kepolosan Rania, dinding yang dia bangun akan runtuh, dan rasa sakit yang luar biasa itu akan kembali menenggelamkannya. Jadi dia memilih untuk menjadi dingin. Dia memilih untuk menutup hatinya rapat-rapat, demi melindungi dirinya sendiri dari rasa sakit yang tak tertahankan itu.

Hari-hari berikutnya, sifat dingin Kezia semakin menjadi-jadi. Dia jarang berbicara kecuali jika perlu. Dia tidak lagi mencium kening Rania sebelum tidur atau saat bangun pagi. Jika Rania bertanya tentang Ayah, atau ingin bercerita tentang kenangan bersama Rizky, Kezia akan langsung memotongnya dengan tajam.

"Ayah sudah pergi, Rania. Jangan terus membahas orang yang sudah tidak ada. Itu tidak akan mengubah apa pun," ucapnya suatu malam saat Rania ingin bercerita tentang mimpinya bertemu Rizky.

"Tapi... Rania kangen Ayah, Bu. Rania cuma mau cerita..." isak Rania pelan.

"Kangen atau tidak, dia tidak akan kembali. Lebih baik kamu fokus belajar dan melakukan hal yang berguna daripada melamun hal yang tidak nyata," jawab Kezia dingin, lalu dia berbalik dan pergi meninggalkan Rania yang menangis sendirian di ruang tengah.

Rania semakin hari semakin pendiam. Dia yang dulu ceria dan banyak bicara, kini menjadi anak yang penakut dan pendiam. Dia takut berbicara pada ibunya, takut salah bicara, takut melihat tatapan dingin itu. Dia merasa kehilangan bukan hanya ayahnya, tapi juga ibunya. Sekarang, dia merasa sendirian di rumah yang besar itu, meskipun ada ibunya di sana.

Suatu malam, Kezia terbangun karena mendengar suara isakan tangis yang sangat pelan dari kamar Rania. Dia berjalan mendekat dan melihat Rania sedang tidur sambil memeluk kalung perak pemberian Rizky, air matanya membasahi bantal. Dalam tidurnya, Rania bergumam, "Ibu... jangan dingin dong... Ibu... Rania takut..."

Hati Kezia terasa tersentak sedikit saat mendengar itu. Sebuah rasa perih yang samar muncul di dadanya, seolah mengingatkannya pada apa yang telah dia lakukan. Dia melangkah masuk ke dalam kamar, berdiri di samping tempat tidur Rania, menatap wajah putrinya yang polos dan sedih.

Dia ingin memeluk Rania, ingin menghapus air mata itu, ingin mengatakan bahwa dia masih mencintainya, bahwa dia hanya terluka. Tapi saat tangannya terulur, dia berhenti. Bayangan Rizky, bayangan ledakan pesawat, bayangan rasa sakit kehilangan itu kembali menyerangnya dengan kuat. Rasa takut untuk merasakan sakit lagi, rasa takut untuk mencintai dan kemudian kehilangan lagi, membuatnya menarik tangannya kembali.

Dia menunduk, lalu berbalik perlahan meninggalkan kamar itu, membiarkan pintu terbuka sedikit. Dia kembali ke kamarnya sendiri, duduk di tepi tempat tidur, dan menatap kosong ke dinding.

"Maafkan Ibu, Rania..." bisiknya pelan, suaranya bergetar namun matanya kering, tanpa air mata. "Ibu... Ibu tidak sanggup lagi. Ibu tidak sanggup merasakan apa-apa lagi. Lebih baik begini... lebih baik kita sama-sama dingin, daripada harus merasakan sakit yang menyakitkan seperti ini lagi."

Dan di malam itu, Kezia semakin menjauh, semakin tenggelam dalam dinginnya kesendiriannya, meninggalkan Rania yang kecil dan rapuh berjuang sendirian dengan kesedihannya, di tengah rumah yang terasa seperti es. Kezia pikir dia sedang melindungi dirinya sendiri, tapi dia tidak sadar bahwa dia sedang perlahan-lahan kehilangan satu-satunya hal yang masih tersisa yang bisa membuatnya hidup: cinta putrinya.

1
Alissia
masak yang nyetrika kan kerjaannya cewek,Rizky apa gak ke balik🤣
M ipan: 🤭😄 seharus nya begitu
total 1 replies
M ipan
sepertinya begitulah kak😁
rinn
ganti judul aja thor
M ipan: apa tu...?
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Udah kelakuan kayak anak kecil, seperti pria gak normal.aja..
Qaisaa Nazarudin
Jangan jadi Pebinor ya,Itu cewek udah punya Suami,kamu aja yg pengecut,udah jadi isteri orang baru mau bertindak,Jangan Mentang2 Suaminya bocah kamu ambil kesempatan..
M ipan
sabar💪
Qaisaa Nazarudin
Duh jadi terharu,Nikah baru hitungan hari udah dapat hadiah aja dari.Misua,Lha apa kabar dengan ku yg udah punya buntut banyak,tapi belum pernah dapat hadiah..
Qaisaa Nazarudin
Terlalu muda apanya?? Udah 18 Tahun juga,Biasanya dinovel2 Sultan yg ku baca masih SMP aja udah diajarin bisnis, SMA udah pegang satu perusahaan,lha ini malah gak tau apa-apa..😁
Qaisaa Nazarudin
Kasian Kezia,capek2 mempersiapkan semuanya malah hancur gitu aja..
Qaisaa Nazarudin
Hadeeuuhh kenapa Perannya jadi kebalik gini.udah ratusan novel yang aku baca,aku belom pernah ketemu alur yg kayak gini,Ngakak juga kesel bacanya,gimana gitu ya,rasa nano nano gitu..😅😅😅
M ipan: 🤣🤣 cari inspirasi baru
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Yasalam..Disuruh Mandi bukannya langsung pergi...Malah nambah masalah lagi..🤦🤦🤦
Qaisaa Nazarudin
Berarti Kezia kaya dong,kalo gitu ngapain harus Nikah utk menutupi hutang perusahaan? Mending jual aja Mension ini utk menutup hutang,dan beli rumah minimalis utk sementara kan bisa..
M ipan: mungkin dia lelah🤭
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Kenapa situasi nya seakan terbalik,masak dan nyetrika kan kerjaannya cewek, kenapa malah kamu Rizky? wkwkwkwwk Rizky ini lekaki Normal kan? maksudnya gak sakit sindrom2 gitu kan?
liana: si Rizky mau jadi bapak rumah tangga kayaknya
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!