NovelToon NovelToon
Luka Rembulan

Luka Rembulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Keluarga / Kutukan
Popularitas:448
Nilai: 5
Nama Author: Yikkii

Chandra Baswara lahir pada malam yang indah di bawah cahaya rembulan, tetapi kebahagiaan itu retak sejak awal ketika ayahnya menolak dirinya hanya karena tanda lahir besar di wajahnya. Sejak kecil Chandra tumbuh dengan kasih sayang ibunya, namun dunia di sekitarnya tidak selalu sebaik itu. Tatapan aneh, bisikan, dan ejekan membuatnya terbiasa menyendiri dan perlahan menutup hatinya dari orang lain. Baginya, hidup sendiri terasa lebih aman daripada harus kembali merasakan penolakan. Namun semuanya mulai berubah ketika seseorang hadir tanpa memandang kekurangannya, sementara sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan keluarganya perlahan terungkap. Di tengah luka, penerimaan, dan pencarian jati diri, Chandra harus belajar memahami bahwa manusia tidak selalu sekejam yang ia bayangkan, dan bahwa nilai dirinya jauh lebih besar daripada apa yang terlihat di wajahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB XXIV—TERSENYUM

Gemericik air yang dituangkan ke dalam gelas kaca terdengar begitu nyaring di telinga Chandra, seolah-olah suara itu adalah satu-satunya hal yang nyata di dapur yang mendadak terasa sempit itu. Tangannya yang biasanya stabil saat memegang bolpoin atau membolak-balik halaman buku, kini tampak sedikit gemetar. Ia terpaku pada permukaan air yang beriak kecil, namun pikirannya tertinggal di ruang tamu, pada potongan kalimat ibunya yang baru saja menyelinap masuk melalui celah yang tak tertutup rapat.

“Iya, itu berarti dik Lera suka padanya, kan?”

Pertanyaan itu bukan hanya untuk Alera, melainkan terasa seperti vonis dokter yang dijatuhkan pada jantung Chandra sendiri. Suka? Sepotong kata sederhana yang selama tujuh belas tahun ini ia anggap seolah sebagai barang mewah yang mustahil ia miliki. Baginya, rasa suka adalah hak istimewa bagi mereka yang memiliki wajah tanpa cacat, bagi mereka yang tidak perlu menunduk saat sedang berjalan, dan bagi mereka yang tidak tertolak oleh ayahnya sendiri.

Chandra menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya yang sekarang terasa sesak oleh kecemasan. Ia memejamkan mata sejenak. Di balik kegelapan kelopaknya, bayangan wajah Alera muncul. Tatapan matanya yang teduh, keberaniannya saat membela Chandra di lorong sekolah, dan cara gadis itu menyebut namanya seolah-olah "Chandra" bukanlah sebuah kata penolakan.

“Fokus, Chandra. Fokus,” bisiknya pada diri sendiri.

Ia mengatur napasnya, mencoba menormalkan detak jantung yang semakin liar. Dengan gerakan yang dipaksakan tenang, ia meletakkan gelas-gelas itu di atas nampan. Ia menata posisinya, memastikan tidak ada air yang tumpah, lalu perlahan melangkah keluar.

Setiap jengkal langkah menuju ruang tamu terasa seperti berjalan di atas titian tali yang tipis. Saat ia melewati ambang pintu, aroma teh hangat dan sisa-sisa percakapan yang menggantung di udara menyambutnya. Mandira, ibunya, menatapnya dengan binar mata yang sulit diartikan, sebuah campuran antara kasih sayang, harapan, dan sedikit godaan yang membuat telinga Chandra memanas.

“Lama sekali tuangkan airnya, Le? Sampai Ibu pikir sampean ketiduran di dapur,” goda Mandira lembut. Suaranya yang renyah memecah ketegangan yang sempat membeku di ruangan itu.

Chandra hanya terdiam, tidak mampu membalas candaan ibunya. Ia meletakkan nampan di atas meja yang dengan sangat hati-hati, seolah-olah jika ia melakukan satu kesalahan kecil saja, seluruh pertahanan dirinya akan runtuh. Ia tetap tidak berani menatap Alera. Dari sudut matanya, ia hanya bisa melihat jemari Alera yang saling bertautan erat di atas pangkuan, menunjukkan kegelisahan yang sama besarnya.

“Terima kasih, Chandra,” bisik Alera sangat lirih, hampir tenggelam oleh suara detak jam dinding.

Mandira bangkit dari duduknya dengan gerakan yang sangat alami, seolah-olah ia memang memiliki urusan mendesak. “Ibu ke belakang sebentar ya, jemuran sepertinya belum diangkat semua. Alera, tolong diminum ya tehnya!, jangan sungkan. Anggap saja rumah sendiri.”

Langkah kaki Mandira menjauh, meninggalkan keheningan yang kini terasa lebih berat. Chandra duduk di sofa yang berseberangan dengan Alera, dipisahkan oleh sebuah meja dan ribuan keraguan yang menumpuk di antara mereka.

Chandra menunduk, menatap pola serat kayu pada meja. Ia merasa harus mengatakan sesuatu, namun lidahnya terasa kaku. Keheningan ini bukan karena rasa benci, melainkan tentang sesuatu yang jauh lebih menakutkan yaitu harapan.

“Lera…,” panggil Chandra akhirnya. Suaranya sedikit parau.

Alera sedikit tersentak, lalu perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang jernih tampak sedikit berkaca-kaca, mungkin karena pengakuan jujur yang baru saja ia berikan kepada Mandira. Rona merah di pipinya masih ada, menambah kesan lembut pada wajahnya yang diterpa cahaya sore dari pantulan kaca jendela.

“Maaf kalau aku... mengganggu soremu,” ucap Alera dengan suara yang masih agak bergetar.

“Kamu tidak pernah mengganggu,” sahut Chandra cepat, bahkan lebih cepat dari yang ia rencanakan. Ia sedikit menyesali nada bicaranya yang terlalu impulsif, namun ia tidak menarik kata-katanya. “Maksudku, kau juga temanku dan adik temanku jadi kau tidak mengganggu sama sekali.”

Alera tampak sedikit lega mendengar jawaban itu. Ia menarik napas dalam, lalu merogoh tas sekolahnya. Dengan gerakan yang ragu, ia mengeluarkan sebuah benda kecil dan meletakkannya di atas meja, lalu mendorongnya perlahan ke arah Chandra.

Itu adalah sebuah gantungan kunci perak berbentuk bulan sabit yang sedang memeluk sebuah bintang kecil. Sederhana, namun terlihat berkilau di bawah temaram lampu ruang tamu.

“Aku melihatnya di toko aksesoris dekat halte kemarin,” Alera memulai, suaranya kini sedikit lebih stabil meskipun masih ada nada malu-malu. “Penjualnya bilang, bulan sabit itu lambang awal yang baru. Entah kenapa, saat melihatnya, aku mengingat namamu dan aku membelinya. Aku harap kamu menyukainya.”

Chandra terpaku. Ia menatap benda mungil itu. Selama ini, satu-satunya orang yang memberinya hadiah dengan tulus hanyalah ibunya, Baskara, ayah Surya dan mama Pertiwi. Dunia luar biasa ini memberinya tatapan jijik, ejekan, atau yang paling baik adalah rasa kasihan. Namun ini berbeda. Alera memberinya sesuatu karena ia “mengingatnya”. Karena Chandra memiliki ruang di pikiran gadis itu.

Jemari Chandra yang panjang dan kurus menyentuh permukaan gantungan kunci itu. Logamnya terasa dingin, namun sensasi yang menjalar ke jantungnya sungguh hangat. Ia merasakan sebuah benteng besar yang selama ini ia bangun di sekeliling hatinya mulai retak.

Chandra perlahan mengangkat wajahnya. Kali ini, ia tidak melakukan rutinitas biasanya. Ia tidak memiringkan wajah untuk menyembunyikan tanda lahirnya dengan rambut. Ia tidak menunduk untuk menghindari kontak mata. Ia justru menatap Alera dengan penuh, membiarkan gadis itu melihat segala ‘kekurangannya’ dalam jarak yang diatur oleh meja.

Dan kemudian, terjadilah.

Sebuah kurva terbentuk di ruang bibir Chandra. Awalnya sangat tipis, hampir tidak terlihat, namun perlahan melebar menjadi sebuah senyuman tulus. Matanya yang biasanya terlihat dingin dan waspada, kini ikut menyempit, memancarkan binar yang selama belasan tahun ini terpendam di balik rasa sakit.

Senyum itu mengubah segalanya. Tanda lahir yang gelap di pipinya seolah memudar, kalah oleh cahaya yang terpancar dari ekspresi wajahnya yang kini tampak damai. Itu adalah senyum pertama yang ia berikan kepada orang luar. Senyum yang menandakan bahwa “pintu besi” itu telah memiliki celah untuk terbuka.

Alera terdiam seribu bahasa. Ia merasa seolah waktu berhenti berjalan. Ia sering melihat orang tersenyum, namun ia tidak pernah melihat senyum yang seindah milik Chandra. Sebuah senyum yang lahir dari perjuangan melawan badai batin yang hebat.

“Terima kasih, Alera. Aku… sangat menyukainya,” ucap Chandra lirih.

Alera ikut tersenyum, kali ini tanpa rasa takut dan ia berkata “kamu seharusnya lebih sering melakukannya, Chandra.”

“Melakukan apa?”

“Tersenyum seperti ini,” jawab Alera lembut. “Dunia mungkin terlihat sedikit lebih baik jika kamu sering melakukannya.”

Chandra tertawa kecil. Sebuah suara rendah yang terdengar seperti melodi yang sudah lama terlupakan. Ia memutar-mutar gantungan kunci bulan sabit itu di tangannya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia tidak memikirkan ayahnya yang pergi. Ia tidak memikirkan semua orang yang selalu mengejeknya. Ia hanya memikirkan saat ini, gadis di hadapannya.

Di luar, matahari mulai tenggelam, menyisakan warna jingga keunguan di cakrawala. Bayang-bayang pohon di halaman rumah mulai memanjang, namun di dalam ruang tamu kecil itu, kegelapan tampaknya tidak berani untuk masuk.

Chandra menyadari bahwa luka di hatinya mungkin belum sepenuhnya sembuh, dan jalan di depannya masih akan penuh dengan cemoohan orang lain. Namun, menatap Alera yang duduk di hadapannya, ia merasa memiliki kekuatan baru. Ia tidak lagi merasa seperti bulan yang retak dan kesepian di tengah kegelapan malam.

Sore itu, Chandra Baswara belajar satu hal penting. Bahwa terkadang, cahaya paling terang tidak datang dari atas langit, melainkan dari kehadiran seseorang yang mau menerima kegelapan kita tanpa pernah meminta kita untuk berubah menjadi cahaya.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Chandra tertidur dengan sebuah senyuman yang masih membekas di sudut bibirnya, ditemani oleh gantungan kunci bulan sabit yang ia genggam erat di samping bantalnya.

1
Roar22
jarang banget sih genre kayak gini, semangat-semangat aja thor/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!