Seorang wanita yang bernama Karamel, di detik-detik kematiannya, sebelum menutup mata, dia melihat sosok pria berlari menuju ke arahnya dan langsung memeluknya dari api yang berkobar.
Pria itu adalah mantan suaminya yang dia ceraikan, pria yang sudah dia sakiti. Tapi pria itu masih datang untuk menolongnya, tapi sayang sekali, Karamel sudah tidak bisa bertahan, nafasnya sudah sudah berat dan matanya sudah mulai tertutup.
Tapi, ada suatu hal yang terjadi dan sulit dimengerti. Karamel kembali hidup di masa lalu, di mana dia masih menjadi seorang Istri.
Dengan kesempatan kedua yang dia dapatkan, tentu Karamel tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
Mampukah Karamel membalas semua luka yang dia dapat kan di kehidupan pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Proses Perceraian
Beberapa hari berlalu, di hari Minggu. Sisil benar-benar datang untuk belajar memasak. Dan Kara juga mengajarinya dengan serius.
Karena sudah ada dasar, Sisil belajar dengan cepat, dia bahkan sudah berhasil dalam beberapa kali percobaan saja.
"Aduhh,, ternyata belajar masak capek juga yaa!" Sahut Sisil setelah menata semua makanannya di atas meja.
"Ya begitulah. Tapi seru kan?" tanya Kara
"Seruh sih. Tapi ngomong-ngomong siapa yang mau makan semuanya? Belum lagi banyak yang gagal!" ucap Sisil dengan nada disayangkan.
Kara meminta Sisil untuk tidak perlu khawatir, karena dia sudah mendatangkan bala bantuan.
Dan benar saja, setelah beberapa menit Tama masuk ke dapur bersama dengan Bintang, sedangkan Dion tidak bisa ikut gabung. Karena ada banyak pasien di Rumah Sakit, belum lagi dia sudah ambil cuti beberapa hari yang lalu untuk mengurus perceraian nya.
Istri Dion tidak bisa berkutik saat Dion memperlihatkan banyak bukti. Bukan cuman bukti yang dia perlihatkan, tapi beserta dengan para saksinya, terutama satpam komplek yang sering melihat Mita dijemput oleh pria lain.
"Wiiihh tidak sia-sia aku ninggalin bengkel yang lagi rame.!" seru Bintang dengan bersemangat melihat banyak makanan di atas meja.
Saat dia sedang sibuk membantu karyawan dibengkelnya, dia mendapat telpon dari Tama. Yang memintanya untuk datang makan siang di rumahnya, karena Kara lagi masak banyak.
"Ya makanlah..!" Pinta Kara.
Sisil merasa tidak enak jika tidak menjelaskannya terlebih dahulu. "Bii, ini aku yang masak loh. Tapi kamu tenang saja, ini bisa dimakan kok, cuman ada yang sedikit asin saja, dan kurang bumbu!"
"Sik kamu.. Kamu benar-benar belajar masak?" tanya Bintang dengan terkejut. Dia mengira kehadiran Sisil sama seperti dirinya, diundang untuk makan bersama.
"Ya. Kenapa kok kaget gitu?"
"Ehh tidak apa-apa. Kirain waktu itu kamu cuman bercanda!" Balas Bintang.
"Makanannya enak kok, tadi sudah aku tambah beberapa bumbu yang kurang, dan sedikit air yang ke asinan!" Sela Kara yang sedang mengambil nasi di piring Tama.
"Kalau begitu tunggu apalagi? Ayo kita makan!" Bintang juga mengambil makanannya sendiri.
Akhirnya mereka makan bersama, Kara tidak melupakan Dion. Dia sudah menyisihkan di rantang dan memesan kurir makanan.
***
Setelah makan siang bersama, mereka berempat mengobrol di ruang tengah. Mereka juga mendapat pesan dari Dion, jika dirinya baru saja makan siang.
"Kasihan juga si brow ku yang satu ini! Ucap Bintang sambil melihat video Dion yang sedang makan.
"Ya. Bagaimana dengan proses perceraiannya?" tanya Sisil.
Kara yang juga tidak tahu apa-apa langsung menoleh ke Tama untuk meminta jawaban. Dia sangat setuju jika Dion bercerai dengan Mita.
Tapi jika dipikir-pikir, apa bedanya dia dengan Mita di masa lalu. Mungkin bedanya, Kara tidak berhasil bersama dengan pria lain, tapi malah hartanya yang dikeruk habis.
"Surat panggilannya sudah keluar, mungkin Minggu depan sidang pertama. Dion hanya mengutus pengacaranya!" jelas Tama.
"Syukurlah, akhirnya Dion berpisah juga dengan si cewek kampret itu.!" dari awal, Bintang tidak pernah menyukai Mita.
Dia menghormatinya hanya karena menghargai Dion saja. Bintang tidak pernah setuju dengan pernikahan mereka yang sangat mendadak.
Seandainya dia tidak meminta Dion menggantikannya ke acara kampus di sebuah hotel, mungkin kejadian itu tidak pernah terjadi.
Entah siapa orang jahat itu yang sudah mencampurkan obat ke minuman Dion, sehingga keesokan paginya, dia terbangun di salah satu kamar, dan melihat Mita yang sedang meringkuk sambil menangis.
Dan saat diinterogasi, ternyata Mita juga mengalami hal yang sama. Dan keduanya tidak sengaja bertemu di koridor dengan kondisi yang sudah seperti cacing kepanasan.
"Bagaimana dengan harta gono-gini?" tanya Kara.
"Karena sudah dikhianati, Dion tidak ingin dibagi dua! Dan untuk anaknya, mungkin akan diberikan setelah berumur 17 tahun!" Tama kembali menjelaskan.
Yang lainnya mengangguk paham, mereka tidak bisa berkata apa-apa. Mereka hanya bisa berharap dan berdoa agar semuanya dilancarkan.
...----------------...
"Apa? Kenapa kamu baru memberitahuku sekarang?" Suaranya meninggi terdengar sangat marah.
Mita menatap pria depannya dengan tatapan terkejut. Selama ini dia tidak pernah melihatnya semarah ini, "Kamu membentakku?"
Pria itu adalah Bastian, dialah orang yang menjadi selingkuhan Mita selama ini, entah sejak kapan mereka bersama, bisa jadi keduanya sudah saling kenal sebelum Mita dan Dion menikah.
"Haaah, maaf! Aku ada banyak masalah. Aku tidak bisa mengontrol emosiku!" balasnya dengan memijat keningnya.
Wajah Mita mengerut, dia juga banyak masalah tapi tidak seemosional itu. "Aku sudah menghubungimu tapi nomormu tidak aktif!"
"Aku juga sudah ke rumahmu, ke restoran, bahkan aku sudah ke rumah sakit menemui Sepupu itu. Tapi tidak ada yang tahu ke mana kamu Pergi!" jelas Mita.
Bastian menghela nafas panjang, dia sibuk mencari cara bagaimana caranya dia bisa bertemu dengan Bos besar dari kelompok orang yang sudah membantunya selama ini
"Maaf!. Aku sedang sibuk. Jadi bagaimana? Kenapa bisa dia sampai tahu?" tanya Bastian dengan wajah lesu.
"Aku juga tidak tahu. Tapi dia sudah memegang banyak bukti dan saksi. Aku tidak bisa mengelak dan membantah. Kami sudah menerima panggilan persidangan Minggu depan!" jelas Mita dengan sedih. Entah kenapa, di dalam lubuk hatinya, dia merasa sakit saat Dion benar-benar menggugatnya.
Melihat Mita memasang raut wajah sedih membuat emosi Bastian yang tadinya surut kembali meningkat.
"Kenapa? Kau tidak rela berpisah dengannya?" tanya Bastian dengan tajam.
"Tidak, tidak. Aku sedih karena kita cuman dapat hartanya sedikit saja!" Balas Mita dengan membual.
Bastian terdiam, niat awal mereka untuk mengambil alih semua harta Dion, tapi keburu ketahuan.
"Bagaimana dengan anak kalian?"
"Dion ingin mengambil hak asuhnya. Setelah Mikaila besar, baru dia memilih untuk ikut siapa, begitu pun dengan harta warisannya." jelas Mita.
"Bagus! Setelah dewasa, kamu bisa mengajaknya untuk tinggal bersamamu!" pinta Bastian.
Mita hanya mengangguk paham, dia sebenarnya tidak rela berpisah dengan Mikaila, dia sudah hamil dan melahirkan anak kecil itu, tentu ada perasaan sedih jika harus berpisah dengannya.
Mita juga memberitahu Bastian, jika Arka mencarinya. Saat dia datang ke rumah sakit, Mita sangat terkejut melihat kondisi Arka yang seperti orang tidak waras, kaki dan tangannya sampai diikat.
"Ini semua salahnya, tidak becus dalam bekerja. Sok-sokan sok jual mahal dengan Kara, jika dia sudah menerimanya sejak lama, mungkin sebagian hartanya sudah atas namanya." Sahut Bastian dengan jengkel.
"Jadi dia harus tinggal di mana? Kamu masih mau mengurusnya?" tanya Mita.
Bastian terdiam, dia juga belum memikirkan hal ini. Tidak mungkin Arka tinggal di mess Restoran dengan kondisi seperti itu.
"Ck, menyusahkan saja! Siapa juga yang mau mengurusnya!"
.
.
.
selamat idul Fitri thor, maafkan kami yang selalu minta crazy up yaa 😄