Vierra Quinn Maverick menjadi anak baru di SMA Lentera Cendekia.
Namun di hari pertamanya, ia kembali bertemu dengan teman SMP-nya, Ryuga Arashima Renzo. Dingin, karismatik, dan kini dikenal sebagai Leader of RAVENIX, geng motor paling disegani di Jakarta. Sosok yang dulu begitu dekat dengannya… sebelum sebuah kesalahpahaman memisahkan mereka.
Quinn memilih pergi tanpa berpamitan kepada Ryuga.
Pertemuan itu bukan sekadar reuni, melainkan benturan dua hati yang belum benar-benar selesai.
"Mulai detik ini, jauhin gue!" — Quinn.
“Jauhin lo? Coba ulang lagi kalimat itu sambil liat mata gue. Masih berani?” — Ryuga.
Di tengah konflik sekolah, rivalitas geng, dan rahasia yang terungkap perlahan, mereka dipaksa menghadapi satu pertanyaan:
Apakah cinta pertama mereka telah usai…
atau justru belum pernah benar-benar padam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Kelas 11 IPS 5 pagi itu dipenuhi cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar di sisi kiri ruangan. Papan tulis dipenuhi coretan peta dan garis lintang bujur, sementara suara guru geografi terdengar menjelaskan tentang dinamika litosfer.
Namun, di antara semua murid yang mencatat dengan serius—
Quinn justru diam.
Tatapannya kosong, menembus buku tulisnya sendiri.
Pikirannya… tidak ada di kelas itu.
Melainkan pada satu kalimat semalam—
“Ini foto kamu… sama kakak kembarmu.”
Jantungnya kembali terasa berat.
“Aku… beneran punya kembaran…?” batin Quinn masih tak percaya pada kenyataan tersebut.
Tangannya tanpa sadar berhenti menulis.
Di sampingnya, Vexa melirik.
Ia mengernyit melihat Quinn yang biasanya paling ribut justru diam seperti patung.
“Tumben kalem. Kesambet apa lo?” tanya Vexa dengan suara pelan, nyaris seperti sebuah bisikan.
Quinn tidak merespons.
Vexa ingin bertanya lagi, tapi—
“Vexa! Fokus ke depan!” seru guru geografi.
Vexa langsung duduk tegak.
“Iya, Bu…” sahut Vexa cepat.
Ia melirik Quinn lagi, kali ini dengan rasa penasaran yang lebih besar.
—
Jam istirahat.
Kantin sekolah ramai seperti biasa. Suara tawa, dentingan sendok, dan aroma makanan memenuhi udara.
Quinn dan Vexa duduk di meja sudut.
Makanan mereka belum datang.
Vexa menatap Quinn tajam.
“Sekarang bilang. Lo kenapa?”
Quinn menghela napas panjang.
Ia menatap meja.
Ragu.
Namun akhirnya—
“…semalam gue tahu sesuatu.”
Vexa langsung mendekat, kepo.
“Apa?”
Quinn menelan ludah.
“Gue… punya kakak kembar.”
Vexa membeku.
“…hah?”
Quinn tersenyum hambar.
“Katanya… dia hilang. Di terminal kereta waktu gue umur tiga tahun.”
Sunyi.
Vexa menatap Quinn lekat.
“Gila…”
Ia menggeleng.
“Lo nggak pernah tahu sama sekali?”
Quinn menggeleng pelan.
“Nggak…”
Matanya sedikit berkaca-kaca.
“Gue bahkan nggak tahu dia masih hidup atau…”
Ia tidak melanjutkan.
Vexa langsung meraih tangan Quinn.
“Eh… jangan mikir yang aneh-aneh dulu.” tegur Vexa dengan suara lembut, yang sangat jarang terjadi.
Quinn terdiam.
Hatinya campur aduk.
Tak lama kemudian, pesanan mereka pun datang.
Namun sebelum mereka sempat makan—
Vexa tiba-tiba menyikut Quinn keras.
“Cowok lo tuh!”
Quinn menoleh.
Dan seketika—
wajah Quinn yang semula muram berubah cerah saat melihat Ryuga memasuki kantin bersama Zayden, Keano, dan Elric.
Langkah mereka santai.
Namun aura mereka… seolah otomatis menarik seluruh perhatian.
Seisi kantin langsung heboh.
Bisik-bisik mulai bermunculan dari segala arah.
“EH EH EH! ITU… ITU RYUGA MASUK!” seru siswi berambut pendek.
Siswi berkacamata langsung nengok cepat sampai hampir keseleo.
“ANJIR, IYA! Astaga… hari ini gue belum siap mental!”
“Cepet cek lip tint gue! Pudar nggak?!” seru siswi bermata sipit sambil benerin rambutnya secepat kilat.
“Lo kira dia bakal ngeliat lo?” cibir siswi berkacamata.
Siswi bermata sipit pun cemberut.
“Ya siapa tau dia lagi khilaf!”
Di meja lain—
“Gila… sumpah ya, kenapa sih cowok bisa setampan itu?” tanya siswi dengan bandana pink di rambutnya.
“Ryuga mah udah beda level. Itu bukan manusia, itu ujian hidup.” jawab temannya sambil terus memperhatikan keempat pemuda tampan itu.
“Itu Elric juga cakep banget, GILA!” seru siswi yang menggunakan bandana pink.
Temannya pun melirik.
“Wakilnya Ravenix emang cakep. Nggak kalah sama ketuanya. Katanya sih… kalau Ryuga api, Elric itu es.”
“Waduh… kayaknya gue rela kena hipotermia.” ucap siswi yang memakai bandana pink dengan mata berbinar menatap Ryuga.
Sementara itu—
Beberapa siswa cowok juga ikut komentar.
“Buset… satu geng masuk semua. Mau demo apa gimana tuh?”
“Demo hati cewek-cewek.”
“Gue jadi merasa gagal jadi laki-laki.”
Temannya menepuk bahunya.
“Tenang. Kita bukan gagal. Kita cuma… beda genre.”
Di sudut lain—
Seorang siswi yang rambutnya dikuncir kuda berbisik panik.
“Eh itu Keano! Lucu banget sih dia!”
“Iya, yang ketawa mulu itu kan? Kayak badut tapi ganteng.” sahut temannya.
“Gue mau ketawa bareng dia seumur hidup.” ucap siswi yang rambutnya dikuncir kuda.
Siswi berambut keriting tiba-tiba nyeletuk.
“Zayden juga keren banget,… tipe-tipe bad boy santai gitu.”
Temannya mengangguk setuju.
“Iya… yang kayak ‘gue nggak peduli tapi lo kepikiran gue terus’.”
“Duh… aku rela jadi pikiran dia.” ucap siswi berambut keriting.
Sementara itu—
Beberapa siswi mulai heboh sendiri.
“Woy… siapa yang berani nyamperin duluan?”
“Lo aja!”
“Gue masih pengen hidup!”
Dan di tengah semua itu—
bisik-bisik paling heboh muncul saat melihat Ryuga.
“Dia makin ganteng ya…”
“Bukan makin ganteng. Kita aja yang makin sadar.”
“Gue curiga dia bukan manusia. Itu terlalu sempurna.”
Namun di antara semua keramaian itu—
hanya satu orang yang benar-benar diperhatikan Ryuga.
Quinn.
Dan saat mata mereka bertemu—
seolah semua suara di kantin menghilang.
Menyisakan satu hal—
debar yang sama.
Dan perasaan yang tak bisa lagi disembunyikan.
Quinn tanpa sadar tersenyum.
“Aku ke sana dulu—” pamit Quinn pada Vexa.
Namun langkahnya terhenti karena Naomi sudah lebih dulu mendekati Ryuga.
“Ryuga… duduk bareng kita, yuk? Meja kita kosong.” ucap Naomi lembut dan manis.
Vanya dan Sherly tersenyum di belakangnya.
Ryuga bahkan tidak melihat mereka.
“Nggak.” tolaknya.
Naomi tetap tersenyum.
“Sekali-kali aja—”
“Lo budek?” tanya Ryuga dingin, tanpa emosi.
Naomi tersenyum kaku, namun ia masih bertahan.
Melihat itu—
Quinn langsung berjalan cepat.
Emosinya naik.
“Permisi ya.”
Ia berdiri di samping Ryuga.
Dan dalam satu gerakan—
Ryuga langsung menarik pinggangnya, mendekapnya posesif.
“Kamu dari mana?”
Quinn menatap Naomi sinis.
“Dari meja yang nggak maksa orang buat duduk bareng.”
Keano langsung menahan tawa.
Zayden menyeringai.
Naomi terdiam.
Quinn tersenyum tipis.
“Kalau dia udah bilang nggak, ya nggak. Susah ya ngerti bahasa manusia?”
Vanya langsung kesal.
“Lo—”
Ryuga menatapnya tajam, hingga Vanya langsung kincep.
“Pergi.”
Satu kata.
Namun cukup untuk membuat suasana membeku.
Naomi menahan napas.
Hatinya panas.
Namun akhirnya, ia berbalik pergi bersama Vanya dan Sherly.
“Aku galak ya?” tanyanya pelan ke Ryuga.
Ryuga menatapnya.
“Aku suka.”
Quinn tersenyum malu-malu.
"Apaan sih!" Quinn memukul lengan Ryuga salah tingkah.
Akhirnya mereka duduk satu meja.
Vexa langsung menggeser tubuhnya mendekati Elric.
“El… mau minum apa?”
Elric melirik sekilas.
“Air putih.”
“Simple banget hidup lo.” cibir Vexa.
Elric diam.
Namun sudut bibirnya sedikit naik.
...----------------...
Jam pulang sekolah, parkiran dipenuhi kendaraan. Suara mesin motor, klakson, dan obrolan siswa bercampur jadi satu.
Ryuga berdiri di samping motor sport hitamnya.
Quinn di dekatnya.
Teman-teman mereka berkumpul.
“Ciee… pulang bareng terus.” goda Keano menaik-turunkan alisnya.
“Lengket banget.” timpal Zayden menyeringai tipis.
Quinn mendengus.
“Iri bilang, Bos.”
Ryuga membuka helm, memakaikannya ke kepala Quinn.
Tangannya lembut, tapi tegas.
Ryuga menaiki motornya, lalu memakai helm full facenya.
Pemuda tampan itu mengulurkan tangannya untuk membantu Quinn menaiki motornya
“Pegangan.” ucap Ryuga saat Quin sudah duduk dengan nyaman.
Quinn tersenyum manis.
“Iya, Sayang.” katanya sambil melingkarkan tangannya ke perut Ryuga, hingga pemuda itu tersenyum tipis sambil mengusap lembut punggung tangan Quinn.
Ryuga menyalakan mesin motornya, lalu melaju pergi meninggalkan banyak tatapan iri.
Di sisi lain, Vexa berdiri di dekat Elric yang bersiap pergi dengan motor sport merahnya.
“El... gue nebeng dong.” mohon Vexa sambil menatap Elric dengan puppy ice terbaiknya, padahal ia membawa mobil.
Ah... Perkara mobil gampang. Yang penting pendekatan nomor satu. Pikirnya.
Elric meliriknya sekilas.
“Nggak.”
Cepat. Tegas.
Vexa pun cemberut.
“Peliiit.”
Tiba-tiba, Dion—ketua kelas 11 IPS 5 datang menghampiri Vexa.
“Xa, nanti malam datang ke Cafe Ceria ya. Kita kerjain tugas kelompok di sana. Tempatnya nyaman.”
Vexa langsung mengangguk santai.
“Oh iya! Siap, Pak Ketua.”
Dion tertawa.
“Jangan telat.”
“Iya, iya.” sahut Vexa tersenyum ramah.
Interaksi itu… membuat Elric diam.
Tatapannya berubah.
Ada sesuatu yang tidak ia suka.
“…siapa dia.” batin Elric penasaran.
Vexa kembali menoleh ke Elric.
“El, jadi gue boleh nebeng nggak?”
Elric menyalakan motornya.
“Naik.”
Vexa langsung berbinar.
“NAH, GITU DONG!”
Ia langsung naik.
Dan seperti biasa—
memeluk Elric.
Elric menegang.
Namun kali ini…
ia tidak menolak.
Meski hatinya—
entah kenapa terasa tidak nyaman…
mengingat tawa Vexa barusan—
bersama orang lain.
...----------------...
Kantor Armand berada di lantai atas sebuah gedung tinggi di pusat kota. Ruangan itu luas, didominasi warna gelap yang elegan—meja kerja kayu besar, rak buku penuh dokumen, dan jendela kaca lebar yang memperlihatkan panorama kota yang sibuk di bawah sana.
Namun, di balik kemewahan itu—
ada keheningan yang berat.
Armand duduk di kursinya, menatap berkas-berkas di meja… tanpa benar-benar membacanya.
Pikirannya melayang pada masa lalu.
Pada satu kejadian yang selama ini ia kubur dalam-dalam.
Terminal… keramaian… tangisan… dan kehilangan.
Tangannya mengepal pelan.
“…maafkan Papa…” bisiknya dalam hati.
Tok, tok, tok...
Terdengar suara pintu diketuk.
Armand segera kembali ke kenyataan.
“Masuk.”
Pintu perlahan terbuka.
Imran, asisten pribadinya, masuk dengan membawa sebuah map cokelat di tangannya. Wajahnya terlihat serius, seolah membawa sesuatu yang penting.
“Maaf mengganggu, Pak.”
Armand menatapnya.
“Ada apa?”
Imran melangkah mendekat, lalu meletakkan map itu di atas meja.
“Saya sudah menelusuri data anak-anak di beberapa panti asuhan… sesuai instruksi Bapak.”
Jantung Armand berdetak lebih cepat.
Tangannya yang semula tenang… perlahan menegang.
“…lanjutkan.”
Imran membuka map tersebut, memperlihatkan beberapa lembar dokumen.
“Saya menemukan satu data yang… cukup mencurigakan.”
Armand menatapnya tajam.
“Seorang anak bernama Kael. Terdaftar di Panti Asuhan Cahaya Harapan.”
Nama itu entah kenapa membuat dada Armand bergetar.
Imran melanjutkan.
“Usianya… sama dengan Nona Quinn.”
Sunyi.
Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit.
Armand tidak langsung menjawab.
Matanya terpaku pada dokumen itu.
Tangannya perlahan meraih kertas tersebut.
Nama: Kael.
Usia: 17 tahun.
Ditemukan: sekitar area terminal kereta.
Deg.
Jantung Armand seperti berhenti sesaat.
“…terminal…” lirihnya.
Ingatan itu kembali menghantamnya.
Suara kebisingan kereta.
Tangan mungil yang terlepas.
Dan kekacauan yang tak pernah bisa ia perbaiki.
Tangannya bergetar.
“Jangan bilang…” batinnya gelisah.
Ia menutup matanya sejenak.
Menarik napas dalam.
Namun ketika membukanya kembali—
tatapannya berubah.
Ada harapan.
Yang selama ini hampir padam.
Armand menatap Imran serius.
“Imran…”
Suaranya rendah.
Berat.
Imran langsung berdiri tegap.
“Iya, Pak.”
“Atur jadwal.” titah Armand.
Imran mengernyit.
“Saya ingin bertemu langsung dengan pengurus panti itu.” lanjut Armand.
Nada suaranya tegas.
Tidak memberi ruang untuk penolakan.
Imran mengangguk patuh.
“Baik, Pak. Secepatnya saya atur.”
Namun sebelum ia berbalik—
Armand kembali berbicara.
“Dan Imran…”
Imran menoleh.
Armand menatap dokumen itu lagi.
Matanya sedikit melembut.
Namun juga penuh beban.
“Pastikan… semua data anak itu lengkap.”
Imran memahami.
Ia mengangguk pelan.
“Saya mengerti, Pak.”
Ia pun keluar dari ruangan tersebut.
Kini Armand kembali sendiri.
Ia menatap kertas itu lama.
Jarinya menyentuh nama itu perlahan.
“Kael…”
Armand tersenyum tipis.
Namun senyum itu rapuh.
“…apa kamu…”
Suaranya yang pelan terhenti.
Matanya sedikit berkaca.
“…anak Papa?”
Hening.
Tak ada jawaban.
Hanya detak waktu.
Dan harapan—
yang akhirnya kembali hidup…
setelah bertahun-tahun ia kubur dalam rasa bersalah.
...****************...
sikap ryuga ini boleh dingin, tapi haruslah menghormati orngtua jugaa karna dia hidup maih dengan uang orngtuanya😌
hmmm 🤔