Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerakan Rendra
Tiga minggu telah berlalu sejak Kay berhasil melewati masa-masa tergelap skripsinya. Studio Bima semakin berkembang, orderan datang dari berbagai kota, dan timnya kini beranggotakan tujuh orang. Semua tampak berjalan baik—sampai kabar buruk itu datang.
Bima sedang duduk di mejanya, merevisi desain website klien baru ketika Andri masuk dengan wajah panik.
"Mas Bima, ada masalah."
Bima mengangkat kepala. "Apa?"
"Tiga klien potensial yang kemarin deal, tiba-tiba membatalkan order. Mereka bilang dengar isu bahwa studio kita pakai jasa ilegal. Karyawan nggak punya kontrak resmi, sistem pembayaran nggak jelas."
Bima mengerutkan kening. "Apa? Itu fitnah. Semua karyawan kita punya kontrak resmi, semua pembayaran jelas."
"Saya tahu, Mas. Tapi isu ini cepat menyebar. Saya dengar dari klien lain, ada yang sengaja nyebarin."
Bima meletakkan pensilnya. Matanya menyipit. "Siapa?"
Andri ragu. "Saya nggak yakin, Mas. Tapi kabarnya... dari orang dalam kampus. Mantan ketua BEM UGM."
Darah Bima mendidih. Rendra. Lagi-lagi Rendra.
---
Siang harinya, Kay datang ke studio dengan wajah merah menahan amarah. Ia baru saja mendapat telepon dari Mika yang memberitahu isu miring tentang studio Bima.
"Bim, gue dengar kabar!" Kay langsung menghampiri Bima yang sedang duduk di depan komputer. "Rendra? Itu Rendra kan?!"
Bima mengangkat kepala. Kay hari ini mengenakan kemeja putih dan celana jeans, rambutnya diikat ekor kuda, wajahnya tanpa riasan tapi terlihat siap tempur. Matanya menyala-nyala.
"Kay, tenang—"
"TENANG? Bim, dia ngerusak reputasi lo! Dia nyebarin fitnah! Lo mau gue diem aja?!"
Bima berdiri, meraih kedua tangan Kay. "Kay, denger. Marah nggak akan nyelesain masalah."
"TAPI—"
"Kay." Suara Bima tegas tapi lembut. "Gue juga marah. Tapi gue nggak mau bertindak gegabah. Kalo kita lawan Rendra dengan emosi, dia menang."
Kay menggigit bibir bawahnya. "Terus gimana?"
"Kita kumpulkan bukti. Lawan dengan data, bukan amarah."
Kay menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri. "Gue benci lihat lo disakiti kayak gini, Bim. Udah dulu dia suruh orang keroyok lo, sekarang fitnah lagi. Kapan berhentinya?"
Bima mengusap pipi Kay lembut. "Ini gerakan terakhirnya. Gue yakin. Dan kali ini, dia nggak akan lolos."
---
Sore harinya, mereka berkumpul di studio. Laras dan Tasya datang setelah mendengar kabar dari Kay. Mika menyusul kemudian.
"Jadi gimana?" tanya Laras. Dia mengenakan kaos polos dan cardigan, wajahnya serius.
Bima membuka laptopnya. "Gue butuh informasi. Siapa yang pertama dengar isu ini? Dari mana asalnya?"
Tasya mengangkat tangan. "Gue dengar dari teman di fakultas. Katanya ada senior yang bilang studio Bima bermasalah. Tapi seniornya nggak sebut nama."
"Itu Rendra," tegas Kay. "Gue yakin."
"Kita harus punya bukti," kata Bima. "Bukan cuma yakin."
Laras yang sejak tadi diam, tiba-tiba bicara. "Gue punya kenalan di BEM. Mereka biasanya punya akses informasi soal kegiatan senior-senior. Mungkin bisa bantu."
"Lo yakin?" tanya Kay.
Laras mengangguk. "Gue coba."
Malam harinya, Laras mengirim pesan ke grup:
Laras: Dapat info. Rendra memang aktif nyebarin isu lewat grup alumni BEM. Ada beberapa orang yang membantu menyebarluaskan. Tapi gue masih butuh bukti tertulis atau rekaman.
Tasya: Gue bisa bantu. Banyak temen gue yang kenal Rendra. Mungkin mereka punya rekaman atau screenshot.
Kay: Gue urus bagian hukum. Papa punya pengacara langganan. Kalo perlu, kita bawa ke ranah hukum.
Bima membaca pesan-pesan itu dengan dada hangat. Ia tidak sendiri. Ia punya mereka.
Bima: Makasih semuanya. Tapi jangan ambil risiko. Kalo udah ada bukti, kita serahin ke pihak kampus dulu.
---
Dua hari kemudian, Tasya berhasil mendapat screenshot percakapan Rendra dengan salah satu senior di grup WhatsApp. Percakapan itu berisi instruksi Rendra untuk menyebarkan isu tentang studio Bima, lengkap dengan narasi palsu yang harus disebarkan.
"Ini dia," kata Tasya sambil menunjukkan layar ponselnya. Mereka berkumpul lagi di studio. "Gue dapet dari temen yang masih punya akses grup itu. Dia kasihan lihat Bima difitnah."
Bima membaca percakapan itu. Matanya dingin. "Ini cukup."
Kay melihat screenshot itu, amarahnya meluap. "Dasar bajingan! Dia tulis di sini 'kantor ilegal', 'tenaga kerja eksploitasi', 'berbasis pinjaman online'—SEMUA FITNAH!"
"Kay, tenang," kata Mika.
"GUE NGGAK BISA TENANG, MIK! Dia udah nyakitin Bima fisik, sekarang mental! Kapan puasnya?!"
Bima meraih tangan Kay. "Kay. Lihat gue."
Kay menoleh, matanya berkaca-kaca.
"Ini cukup. Kita punya bukti. Sekarang kita serahin ke pihak kampus. Rendra akan diadili sesuai aturan."
"Lo yakin?"
Bima mengangguk. "Gue yakin. Tapi gue butuh lo tenang. Lo panik, gue juga ikut panik."
Kay menghela napas, berusaha mengendalikan emosi. "Maaf, Bim. Gue cuma..."
"Gue tahu."
---
Keesokan harinya, Bima, Kay, dan Laras datang ke kampus Sanata Dharma menemui Dr. Hartono. Dosen yang juga paman Tasya itu menerima mereka di ruang kerjanya yang rapi dengan tumpukan buku dan jurnal.
Dr. Hartono membaca screenshot percakapan itu dengan saksama. Wajahnya yang biasanya ramah berubah serius.
"Ini fitnah berat," katanya. "Bisa merusak reputasi studio yang sudah dibangun dengan susah payah."
"Apakah cukup untuk lapor ke pihak kampus, Pak?" tanya Bima.
Dr. Hartono mengangguk. "Cukup. Tapi ini tidak hanya cukup dilaporkan ke kampus. Ini juga masalah pencemaran nama baik. Kamu punya hak untuk membawanya ke ranah hukum."
Bima berpikir sejenak. "Saya pikir cukup kampus dulu, Pak. Saya tidak ingin memperpanjang masalah."
Dr. Hartono tersenyum. "Kamu bijak, Bima. Tidak banyak anak muda yang berpikir sejernih kamu."
Kay yang duduk di samping Bima, menggenggam tangannya erat. "Saya akan dampingi Bima, Pak."
"Bagus. Saya akan urus dengan pihak akademik. Rendra akan dipanggil, dimintai keterangan. Dengan bukti ini, sanksi akan berat."
---
Dua hari kemudian, Rendra dipanggil oleh pihak akademik UGM. Kay dan Bima diminta hadir sebagai saksi. Di ruang pertemuan fakultas, mereka duduk berhadapan dengan Rendra yang tampak tegang.
Rendra hari ini mengenakan kemeja rapi, rambut disisir, tapi matanya gelisah. Di hadapannya, dosen pembimbing akademik dan ketua program studi duduk dengan ekspresi serius.
"Rendra Pratama," kata Ketua Prodi, "kami punya bukti bahwa Anda menyebarkan informasi palsu tentang usaha milik Bima Wijaya. Ini melanggar kode etik mahasiswa dan bisa dikenakan sanksi berat."
Rendra berusaha tenang. "Saya hanya menyampaikan informasi yang saya dengar, Pak."
"Informasi yang Anda dengar dari mana?" tanya dosen pembimbing.
Rendra terdiam.
Ketua Prodi membuka screenshot percakapan. "Ini percakapan Anda dengan senior. Anda secara jelas menginstruksikan penyebaran isu negatif. Ini bukan informasi yang Anda dengar, ini Anda yang membuat."
Wajah Rendra pucat. Ia menoleh ke arah Kay dan Bima, matanya menyiratkan kebencian, tapi juga ketakutan.
"Rendra," suara Ketua Prodi tegas, "kami beri dua pilihan. Pertama, Anda mengakui kesalahan, meminta maaf secara tertulis dan lisan, menerima sanksi akademik. Kedua, kami lanjutkan ke ranah hukum. Pilih."
Rendra mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia tahu posisinya kalah.
"Saya... minta maaf," katanya pelan.
"Siapa yang Anda minta maaf?" tanya dosen pembimbing.
Rendra menoleh ke Bima. Matanya masih menyimpan amarah, tapi ia tidak punya pilihan. "Maaf, Bima. Saya salah."
Bima menatapnya dingin. "Maaf diterima."
Kay ingin berkata banyak, tapi Bima menggenggam tangannya erat, memberi isyarat untuk diam.
Ketua Prodi mengangguk. "Baik. Sanksi untuk Anda: dicabut dari jabatan ketua BEM, skorsing dua semester, dan wajib membuat pernyataan maaf yang dipublikasikan di media kampus. Jika ada pelanggaran lagi, Anda akan dikeluarkan."
Rendra menunduk. Untuk pertama kalinya, ia terlihat kecil.
---
Di luar ruangan, Kay menarik napas panjang. "Gue lega banget."
Bima tersenyum tipis. "Iya. Akhirnya selesai."
"Lo ikhlas? Cuma segitu hukumannya?"
"Kay, dia udah hancur reputasinya. Dikeluarkan dari BEM, diskors dua semester. Itu berat buat orang kayak Rendra. Harga dirinya lebih sakit dari hukumannya."
Kay menghela napas. "Lo baik banget, Bim."
Bima menggeleng. "Gue bukan baik. Gue cuma nggak mau buang energi buat benci."
Kay memeluk Bima erat di depan gedung fakultas. "Gue bangga sama lo, Bim. Bangga banget."
---
Minggu berikutnya, studio Bima kembali normal. Klien-klien yang membatalkan order datang kembali setelah tahu isu itu fitnah. Bahkan beberapa dari mereka minta maaf karena terpengaruh isu.
Rendra membuat pernyataan maaf di media kampus. Kabar tentang fitnahnya menyebar luas. Popularitasnya yang dulu ia banggakan, kini hancur dalam semalam.
Suatu sore, Kay dan Bima duduk di studio, menikmati kopi buatan sendiri. Di dinding, lukisan digital Kay masih terpajang, mengingatkan mereka pada perjalanan yang sudah dilalui.
"Bim, lo tahu gak? Dari semua yang udah terjadi, gue paling bersyukur satu hal."
"Apa?"
"Lo nggak berubah. Dari awal kita kenal, lo tetep Bima yang dulu. Cuek, pendiem, tapi punya prinsip. Rendra udah coba segala cara buat hancurin lo, tapi lo tetep berdiri."
Bima tersenyum. "Gue berubah, Kay. Dulu gue lari dari masalah. Sekarang gue hadapin."
"Karena?"
"Karena lo. Lo yang ngajarin gue untuk berani."
Kay tersenyum bahagia. "Dasar cuek."
Mereka tertawa bersama. Di luar, matahari mulai tenggelam, menciptakan langit jingga yang indah.
"Bim, besok kita jalan-jalan yuk."
Bima menggeleng. "Buat apa jalan-jalan? Di sini juga enak."
Kay mencubit pipi Bima. "Cuek amat sih! Pacaran harus jalan-jalan dong."
Bima tertawa. "Oke, oke. Terserah lo."
"Ke pantai? Ke gunung? Ke mall?"
"Ke mana aja, yang penting sama lo."
Kay memeluk Bima erat. "Gue sayang lo, Bima Wijaya."
"Gue juga sayang lo, Kayana Ardhanareswari."
Di studio kecil di Demak itu, di tengah tumpukan komputer dan sketsa, dua insan yang sempat terpisah kini bersatu lebih kuat. Badai sudah berlalu. Dan mereka tahu, apa pun yang akan datang, mereka siap menghadapinya bersama.