NovelToon NovelToon
Lamaran Ketujuh

Lamaran Ketujuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Hanum, seorang wanita cantik dan berbakat, telah menolak enam lamaran dari pria-pria yang ingin menikahinya. Semua orang berpikir bahwa Hanum terlalu selektif, namun sebenarnya dia hanya sedang menunggu satu orang, yaitu Reza.

Reza merupakan cinta pertama Hanum, namun ternyata Reza memiliki rahasia yang tidak diketahui oleh Hanum. Reza lebih mencintai Nadia, adik kandung Hanum yang penampilannya lebih seksi.

Setelah Hanum menyadari bahwa Reza tidak serius padanya, Hanum berusaha tegar dan menerima kenyataan. Saat itu juga, Abi tiba-tiba datang ke rumah membawa lamaran ke tujuh, setelah lamarannya ditolak tanpa alasan yang jelas oleh keluarga Nesa, kekasihnya sendiri.

Karena terikat sebuah janji, Hanum menerima lamaran itu. Akankah Hanum dan Abi akan menemukan kebahagiaan setelah hidup bersama, atau keduanya masih akan terikat dengan cinta lamanya?

Temukan jawabannya dalam Lamaran Ketujuh! 🤗🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman

  Adzan subuh yang terdengar merdu, membuat Hanum terbangun dari tidurnya. Matanya terbuka pelan, masih setengah lelah, namun ia tersadar bahwa hari itu merupakan hari pertama di rumah Abi. Sebagai seorang istri, Hanum merasa bukan hanya mengurus diri sendiri, tapi juga harus mengurus suaminya.

  "Bi, Abi..." Bisik Hanum di telinga Abi.

 "Hmm..." Jawab Abi sambil merubah posisi tidurnya.

  "Sudah subuh, Bi!" kata Hanum sambil mengoyang-goyangkan tubuh Abi.

  "Lima menit lagi, ibu...." katanya.

  "Ini Hanum, bukan ibu." Ucapnya dengan lembut.

  Abi membuka mata, lalu menguceknya. "Eh, iya. Aku pikir masih ibu yang bangunin aku." Kata Abi yang membuat Hanum menahan tawa.

  "Ah, dasar kamu, Bi. Aku yang mandi dulu lah." Kata Hanum sambil bergegas ke kamar mandi.

  Beberapa saat telah berlalu, kini mereka siap melaksanakan shalat subuh berjamaah untuk pertama kalinya. Hanum merasa sedikit gugup, karena belum terbiasa. Setelah salam mereka saling menatap, keduanya tersenyum masih sedikit canggung.

  Lalu terdengar suara ibu mengaduk-aduk masakan di dapur, membuat Hanum merasa harus membantunya. "Aku mau ke dapur dulu, ya?" pamit Hanum.

  "Iya." Jawab Abi sambil terus menatap penuh syukur pada sang istri, meski belum sepenuhnya melupakan masa lalu.

   "Tatapannya biasa aja, Bi." Kata Hanum sambil membuka mukenanya, setelah beberapa saat Abi tidak berkedip saat menatapnya, "kamu natap aku, jangan-jangan hati mu teringat Nesa?" sambungnya lagi yang membuat Abi jadi beristigfar.

  "Astagfirullah, kok Hanum bisa tahu?" Bisiknya dalam hati.

  "Tuh kan, jadi diam?" kata Hanum, "jadi tebakan aku benar?"

  "Jangan gitu, Num. Kamu itu istri aku, rizki aku, yang harus aku jaga." Kata Abi untuk meyakinkan.

  "Benar, ya?"

  "Iya, aku sudah berjanji bukan hanya di depan banyak orang, tapi berjanji pada diri aku sendiri, di hadapan Allah SWT. Kamu masih belum percaya?"

  "Iya, kalau itu aku percaya. Tapi kamu pasti masih belum bisa lupa kan, sama Nesa?" Ucap Hanum, yang tiba-tiba teringat Abi membawa Nesa ke rumah sakit tanpa meminta ijin dirinya, bahkan Abi masih memakai pakaian pengantin. Hanum mulai merasa tidak rela jika suaminya masih memikirkan orang lain, terlebih dia adalah masa lalunya.

  "Ya Allah, Num."

  "Aku mau ke dapur, awas lho, kalau masih mikirin dia lagi!" ancam Hanum sambil tersenyum.

  "Iya, iya." Jawab Abi.

  "Awas lho!" kata Hanum lagi sebelum ia benar-benar keluar dari kamar.

   Sama seperti di rumah sendiri, saat pagi ibunya sibuk memasak di dapur untuk suami dan anak-anaknya, begitu pun dengan ibu mertuanya yang sibuk memasak di pagi hari.

  "Aku bantuin ya, bu?" kata Hanum.

  Bu Elis tersenyum, "iya, bantu ibu goreng ayamnya, ya?"

  Hanum mengangguk, meski sebenarnya dia tidak pernah belajar memasak sebelumnya. Namun ia menganggap memasak adalah hal yang mudah, dan semua wanita pasti dapat melakukannya.

  Dengan santainya dia menyalakan kompor, meletakan pengorengan, dan minyak. Lalu memasukan ayamnya ke pengorengan sebelum minyaknya panas.

  "Num, kan minyaknya belum panas, kenapa ayamnya sudah kamu masukan?" kata bu Elis merasa sedikit aneh. "Apa ibumu juga gitu kalau masak?"

  Hanum tersenyum tipis, "salah ya, ibu?"

  "Iya, nanti hasil gorengannya jadi kurang bagus, nggak renyah, soalnya menyerap banyak minyak." Kata bu Elis memberi tahu.

  "Maaf, ibu... Sebenarnya aku belum pernah memasak." Kata Hanum.

  "Anak jaman sekarang memang beda," tanggapan bu Elis sambil geleng-geleng kepala. "Ya sudah, nggak apa-apa, mulai sekarang belajar sama ibu."

  "Iya, ibu."

  Bu Elis memperkenalkan berbagai macam bumbu dan juga sayuran yang ada di rumah, dengan penuh kesabaran.

  "Kalau sampai sekarang kamu belum pernah masak, sehari-harinya di rumah kamu ngapain, Num?" tanya bu Elis.

  "Baca buku teori musik, bu. Sama buat rencana pelajaran di kelasku," jawab Hanum.

  "Kalau ibu, nggak ngerti soal itu. Soalnya dulu sama neneknya Abi, ibu cuma diajari cara memasak, mengurus rumah, supaya kalau sudah menikah bisa melakukan semuanya."

  Hening....

   Hanum jadi merasa menyesal tidak belajar soal memasak sebelumnya. Ibunya pun tidak pernah menyuruhnya untuk memasak. Soal masak-memasak bu Risa selalu melakukannya sendiri, tanpa melibatkan anak-anaknya.

  "Maaf, Num. Ibu terlalu pedes ya, ngomongnya?" ucap bu Elis setelah menyadari Hanum jadi terdiam karena ucapanya.

  Hanum mengelengkan kepalanya cepat, "nggak ibu, ibu benar. Tapi ibu mau ya...ajari aku masak?"

  "Iya, kita belajar setiap pagi, ya?" Kata bu Elis sambil memegang pundak Hanum.

  "Siap, ibu." Kata Hanum, lalu mereka tertawa.

  Sebisa mungkin, bu Elis akan sabar membimbing Hanum. Begitu pun dengan Hanum, ia akan belajar apapun yang berhubungan dengan pekerjaan rumah, atas bantuan dari ibu mertuanya.

  "Ibu sama Abi, kalau makan jarang bareng, Num. Jadi, mulai sekarang kalau Abi mau makan, kamu yang temani. Nggak usah pikirin ibu, kalau lapar ibu akan makan sendiri, nggak usah disuruh." Kata bu Elis memberi tahu.

  "Iya, bu." Jawab Hanum, patuh.

    * *

    Siang itu, Nadia menemui Reza. Memberi sedikit ancaman pada Reza, agar Reza mau menuruti permintaanya.

  Reza duduk melamun sambil mengaduk-aduk minumannya. Dia merasa semakin menyesal, "kenapa aku nggak nikah sama Hanum aja? yang sudah jelas-jelas nggak mungkin banyak nuntut." Gumamnya pelan.

   Nadia datang, meletakan tasnya di meja, tepat di depan Reza. Direbutnya minuman Reza, lalu langsung menengak habis tak tersisa. "Dari kemarin kamu nggak asyik banget sih, mas?" ucapnya, sambil meletakan gelasnya kembali.

  Reza menatap lesu ke arah Nadia, "aku lagi nggak mood."

 "Ya udah, aku juga nggak mau basa basi!" Kata Nadia.

  "Ya udah, cepet ngomong!" ketus Reza.

  "Kok kamu gitu?"

  "Ya habisnya kamu nyolot!"

  Keduanya terkekeh oleh pendapat masing-masing, lalu diam sejenak untuk mengurangi suasana tegang diantara mereka.

  "Cepat katakan!" perintah Reza yang masih kesal.

  "Kamu jadi nikahi aku, nggak? Kalau masih mau bertele-tele, kita putus aja!" ancam Nadia yang tidak dihiraukan oleh Reza.

  "Ck!" Reza berdecak kesal yang membuat Nadia semakin memuncak emosinya.

  "Jawab!" seru Nadia sambil mengebrak meja.

  "Terserah kamulah!" Kata Reza sambil berdiri, lalu pergi meninggalkan Nadia.

  "Mas!" teriaknya. "Ya udah, mulai sekarang kita putus! Aku mau nikah sama pria yang jauh lebih segalanya dari kamu!"

  Teriakan Nadia sama sekali tidak mempengaruhi, Reza tetap berjalan cepat tanpa menoleh. Nadia semakin kesal padanya.

  "Jangan nyesel kamu ya, mas! Aku bakal buktiin sama kamu, aku bakal jadi nyonya besar di keluarga pak Karto!"

  Nadia terus berteriak, tak peduli pada orang-orang di sekitar yang melihatnya.

  "Ih, nggak waras!" ucap salah seorang yang berada di sana.

"Iya, stres kali dia, ditinggal cowoknya." Saut yang lain.

Nadia menghunus tatapan tajam ke arah mereka, "kalian yang nggak waras, dan juga stres!" Katanya, lalu pergi dari sana.

...****************...

1
Abad
lanjut sama jangan kelamaan upnya
Emily
wah gak tau gimana tabiat si rendra
Emily
meski sulit tapi harus di paksa biar biasa
Diana Dwiari
ayo sikat ulet keket itu dg cara elegan......
Fatra Ay-yusuf
menarik
Restu Langit 2: Terimakasih 🤗
total 1 replies
Abad
Yang ini mana kelanjutannya Thor?
Restu Langit 2: ditunggu ya...
total 1 replies
Diana Dwiari
wah.....hati2 kamu Nadia....malah jadi tawanan rendra
Diana Dwiari
salahmu sendiri nesa,meski dijodohkan ,tp setidaknya kan selesaikan dulu dg masalalu
Abad
Ceraikan saja Davin, biar Nesa makin terpuruk setelah ditingal nikah Abi 🤣
Abad
Reza pasti ambil kesempatan tuh
Restu Langit 2: he he 🤭
total 1 replies
Rian Moontero
lanjuutt👍😍
Restu Langit 2: Makasih penyemangatnya 🤗
total 1 replies
Abad
wah wah masalah pasti sama keluarga pak karto
Restu Langit 2: sepertinya begitu 🤭
total 1 replies
Abad
Semangat!
Restu Langit 2: Terimakasih Apresiasinya 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!