NovelToon NovelToon
The Happy A Villain

The Happy A Villain

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / TimeTravel / Chicklit / Tamat
Popularitas:349.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sisi Miring Petagon

Halo semuanya...
Ini karya novel pertamaku.

Isekai biasanya tertabrak mobil atau truk sedangkan aku cuma ketiduran. Aku Lisa Aspasa harus mengalami isekai. Aku terbangun dalam sebuah novel dimana tubuh inilah tokoh villiannya. Seorang villian dipastikan akan berakhir kematian. Kematian yang mengerikan bagi siapapun yang melihatnya.
Akankah aku bisa menghindari takdir kematian?
Akankah aku mendapatkan kebahagiaan?

Pada pertengahan perjalan jiwa pemilik asli tubuh ini datang.. apa yang ia inginkan? akankah dia mau membantuku atau sebaliknya?

Berlahan tapi pasti sesuatu yang tidak terungkap dalam novel mulai muncul kepermukaan...
Apakah itu?
Penasaran... langsung baca saja

27 Oktober 2020

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Miring Petagon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

WARNING TYPO BERTEBARAN

***

Melisa pov

Aku menatap Olivia dengan tajam tidak peduli sekelingnya.Sorot mataku yang tajam mampu mencabik-cabik siapapun. Mulutku yang diam mulai terbuka membuat suasana semakin menengangkan. Olivia berekting gemetar ketakutan bagaikan tikus bertemu kucing.

“ Apa kau tidak memiliki mata?” tanyaku dingin.

“ Ma...maaf Melisa.. aku tidak sengaja” kata Olivia sedih. Aku menatap mata Olivia yang menunjukkan tidak adanya penyesalan.

“ Lima” kataku singkat. Olivia binggung dengan perkataanku.

“ Sudah lima kali kamu meminta maaf sampai rasa maaf yang kau ucapkan tidak bermakna lagi” kataku dingin

Aku berjalan meninggalkan Olivia. Sekilas aku melihat kemarahan yang dipendam oleh Olivia.

“ Kalau tidak dari hati tidak perlu dikatakan” bisikku ditelinga Olivia.

Aku berjalan meninggalkan Olivia yang diam mematung. Aku masuk kedalam kelas yang sudah rame. Aku melihat mereka sedang melakukan pencarian partisipan untuk pekan Olaraga yang diadakan senin depan.

“ Gadis beruang tumben terlambat?” tanya Alex.

“ Macet” kataku singkat. Aku segera meletakkan tasku dan duduk disamping Rini.

“ Memang ada apa?” tanya Rini penasaran.

“ Ada kecelakaan” kataku menjawab seadaannya.

“ Anak zaman sekarang sukanya ngebut makanya sering terjadi kecelakaan” kata Rio sok bijak.

“ Padahal dia sendiri yang sering bawa motor ngebut” sindir Alex kepada Rio.

“ Kau benar banget Lex.. Rio kalau sudah naik motor kayak dikejar setan” kata Rini.

“ Dia tidak dikejar setan tapi dikejar hutang” kataku lantang. Perkataanku  membuat seisi kelas ketawa kecuali Rio yang kesal.

“ Kamu benar Melisa.. Rio punya hutang padaku jumlahnya 50 ribu belum dilunasi katanya besok sampai sekarang belum dilunasin” kata kepala botak.

“ Lunasin gih.. kalau gak dilunasin didunia nanti diakhirat ngelunasinya pakai pahalamu..” kata Rini mengolok-golok Rio.

“ Terus pahalannya habis..” kataku

“ Masuk neraka” kata kami bertiga bersamaan.

“ Aku akan lunasi hutangku.. ayok sini aku bayar hutangku mana orang-orang yang katanya meminjamiku” kata Rio menantang.

“ 50 ribu” kata kepala botak.

“ 10 ribu utang warteg” kata cupu.

“ 15 ribu utang kemarin” kata salah satu cowok.

“ 100 ribu dihitung biaya makan kantin, warnet, main game, warteg, terakhir uang makan bu Ijah tadi pagi” kata Alex santai menghitung hutang Rio.

Rio membuka dompetnya untuk membayar semua hutangnya. Satu persatu uang melayang ketangan orang lain. Wajah sombong Rio berubah menjadi wajah kesedihan.

“ Lunas semuakan” kata Rio lantang

“ 5 juta” kata Elgartara.

Perkataan Elgartara membuat kami semua menolehnya. Aku melirik Rio berwajah pucat. Rio melihat dompetnya kosong tak berpenghuni.

“ Hutang apa sebanyak itu?” tanyaku penasaran.

“ Hutang keseluruhan mulai dari SMP” kata Elgartara santai.

Rio berjalan mendekati Elgartara dengan senyuman merayu. Rio berekpresi sedih yang jatuhnya jijik.

“ Elgartara... kitakan sahabatan sudah lama.. masalah hutang nanti kubayar... tapi jangan sekarang” kata Rio merayu Elgartara.

Kami sekelas menertawakan tingkah Rio yang seperti tikus ketemu singa. Aku melihat Elgartara menghelan nafas kemudian mengangguk.

Wajah Rio seketika berbunga-bunga. Rio segera merangkul Elgartara dengan ramah.

“ Kau memang sahabat terbaikku” kata Rio bahagia.

“ Sahabat untuk dipelorotin” kata Rini lantang membuat kami semua ketawa. Seketika wajah Rio yang semula berbunga berubah menjadi kesal.

“ Kenapa kalian senang banget menghancurkan kebahagiaanku” kata Rio kesal.

“ Karena kalau dibiarkan sifat sombongmu meningkat” kataku

“ Itu sangat menganggu” kata Alex menimpali.

“ Wahhh... kalian” kata Rio tidak percaya. Rio menatap Elgartara dengan tatapan memelas.

“ Elgartara memang kamu teman satu-satunya yang peduli padaku” kata Rio mendramatisasi keadaannya.

“ Aku melakukannya karena hutangmu belum lunas” kata Elgartara santai.

Rio menatap Elgartara tidak percaya dengan mulut mengangga. Matanya membesar sambil mengelengkan kepala. Rio bergerak seolah-olah tersakiti.

“ Aku pikir hanya Melisa yang jahat padaku nyatanya kalian semua” kata Rio mendrama. Rio berekpresi menangis tampa air mata. tangannya mengepal untuk menyumpal mulutnya.

“ Rio dan Melisa jadi tim penata panggung pentas seni.. oke semua setuju..” kata ketua kelas dengan lantang.

“ SETUJU” Kata satu kelas kompak.

“ TIDAKKKKKKKKKKK” teriak Rio kencang.

Rio menghampiri ketua kelas dengan tingkah mengelikan. Kami menikmati tingkah laku Rio yang seperti komendian.

“ Kenapa ketua satukan aku sama Melisa” kata Rio protes.

“ Aku tidak bisa menjadi tim penata pentas seni karena harus sibuk OSIS dan berlatih untuk lomba tenis lapangan” kata Rio beralasan. Aku melihat ketua kelas tampak berpikir.

“ Biar aku yang mengantikan Rio dalam bermain tenis lapangan” kataku mengajukan diri.

“ Melisa” panggil Rio lirih.

Aku tersenyum tipis membalas panggilan Rio. Aku tahu Rio anak yang ceria namun dia memilki tanggungjawab yang besar. Selain Rio dijadikan sebagai sekertaris yang mengurusi semua berkas-berkas OSIS. Rio harus mengurusi klub Olahraga sekolah.

“ Aku memang tidak pernah ikut perlombaan tenis lapangan sehingga aku mengajukkan diri untuk mengantikan Rio karena aku ingin mencoba bertanding” kataku memohon.

“ Kita beri saja Melisa kesempatan untuk bertanding dalam perlombaan ini” kata Rio.

“ Aku yakin Mel akan berusaha keras” kata Rini memberikan dukungan.

“ Aku setuju” kata Elgartara dan Alex bersamaan. Mereka menoleh untuk saling menatap tajam.

“ Sudah diputuskan bahwa Melisa yang menjadi perwakilan tenis lapangan kelas kita sedangkan yang lain tetap” kata ketua tegas.

“ Kau pasti bisa sayangku...” kata Rini memelukku.

“ Tentu saja cintaku” kataku.

“ Lihatlah kalian berdua mengelikan” kata Rio.

“ Rio... Melisa dan Rini sudah menjadi sahabat wajar mereka melakukan itu” kata Alex membelaku.

“ Benar kami bersahabat sejak zigot” kata Rini.

“ Ah.. sudahlah apa yang kukatakan salah dimata kalian” kata Rio ngambek.

“ Ngambek” kata Rini mengejek.

“ Cowok ngambekan” kata Elgartara mengejek.

“ Elgartara jangan ikut-ikutan... pacaran saja sama buku” kata Rio kesal.

Elgartara dengan santai memukul Rio dengan buku yang berada ditanggannya. Rio menjerit kesakitan sambil memengang kepala. Elgartara menatap Rio tajam membuat Rio diam.

“ Rasakan” kataku

“ Rasain” kata Rini

“ Kasihan” kata Alex

“ Diam kalian bertiga!” bentak Rio kesal. Kami bertiga bukannya takut malah ketawa melihat aksi Rio.

“ Pfff... galak amat” kataku menahan tawa.

“ Lagi PMS” kata Rini mengejek Rio.

“ Masak cowok PMS” timpal Alex.

“Spesies langka” kataku

“ Hampir punah.. harus dilestarikan” kata Rini

“ Memang aku hewan!” bentak Rio kesal

“ Sejenis” kata kami bertiga kemudian tertawa.

‘senang banget bisa ngerjaili temen sendiri’ pikirku. Guru masuk kekelas untuk mengambil berkas data partisipan. Ketua kelas mengurus administrasi lomba bersama sekertaris dan wakil ketua.

Jam istirahat berbunyi aku dan Rini memutuskan untuk pergi ke rooftop. Kami masuk kedalam kedalam Refdrop yang sepi. Angin segar menerpa wajah kami. Aku menikmati udara dan ketenagan.

Kami berdua mengamati kegiatan anak-anak yang berada dibawah. seseorang muncul ikut bergabung dengan kami.

Cika menyerahkan jus strawberry kepadaku dan minuman kaleng kepada Rini. Mata kami bertiga tertuju kearah seseorang siswi yang tadi hampir menyiramku. Dia sibuk bersama seorang guru yang merasa dirinya cantik.

“ Dia berwajah dua..” kata Rini menilai.

“ Makanya aku membencinya” kata Cika santai.

“ Aku mengingginkan bu Tia” kataku

“ untuk apa?” tanya Cika

“ Bukankah bu Tia sangat memganggu dan dia orang yang membuatmu diskors” kata Cika tidak terima.

“ Bu Tia hanya pion bagi Olivia aku ingin mendapatkan pionnya. Aku ingin membuat Olivia tidak memiliki tameng satupun bahkan satu pion yang berada disisinya” kataku santai.

“ Melisa sangat mengerikan” kata Cika mengidik ngeri.

“Menghancurkan secara berlahan tanpa musuh sadari dengan mengambil orang-orang yang berada disampingnya itu sangat mengerikan” kata Rini bergidik ngeri.

“ Jadi.. siapa yang ingin menunjukan kemampuan” kataku menatap mereka berdua.

“ Aku” kata Cika semangat.

“ Biar kubantu sedikit” kata Rini menawarkan bantuan.

“ Tidak perlu.. aku sudah menyiapkannya.. kalian berdua tonton pulang sekolah” kata Cika tersenyum cerah. Cika segera pergi dari rooftop dengan semangat.

Kami berdua menonton kepergian Cika. Kemudian aku menoleh kearah Olivia dan bu Tia.

“ Kira-kira rencana Olivia seperti apa?” tanya Rini penasaran.

“ Mari kita tunggu” kataku.

Waktu terus maju dengan jarum jam berputar. Sekarang menunjukan jam pulang sekolah. Aku mengemasi barang-barangku kedalam tas. Aku keluar kelas berjalan ketempat pertunjukan permainan Cika.

“ Melisa” pangil Elgartara membuatku menoleh.

“ Tunggu aku sekitar 20 menit saja” kata Elgartara. Aku ingin mengucapkan sepatah kata namun berhenti saat Elgartara mengeluarkan ekpresi memohon.

“ Kumohon” kata Elgartara meminta dengan ekspresi imut. Aku mengangguk yang dibalas senyuman cerah dari

Elgartara.

“ Aku tunggu dikantin” kataku sambil meninggalkan Elgartara.

Aku melirik Elgartara berlari kearah ruang OSIS. Aku menebak pasti ada rapat. Aku menghelan nafas ‘mengapa dia susah-susah menemuiku untuk pulang bersamaku padahal dia sibuk’ pikirku. Aku mengelengkan kepalaku merasa tidak habis pikir dengan Elgartara.

Aku melihat dari kejauhan Rini sudah duduk manis dengan pesanannya dan pesananku. Aku berjalan mendekati Rini mataku tidak sengaja menangkap sosok Olivia sedang bersama Alex sedang makan bersama.

Aku duduk didepan Rini dengan tangan meletakkan makanan didepanku. Aku senang melihat makanan yang biasa kumakan ada didepanku.

“ Cepat sekali rapatnya?” tanyaku membuka obrolan.

“ Rapat bubar aku langsung berlari kemari” kata Rini santai.

“ Sejak kapan mereka disana?” bertanyaku.

“ Sebelum aku kemari mereka sudah berada disana” kata Rini menginggat.

Aku menatap Alex yang berada disebelah sana. Aku memejamkan mata meminta Melisa untuk menjelaskan arti tatapan Alex pada Olivia

“ Alex sedang bergulat pada perasaannya.. disisi lain Alex masih ada rasa pada Olivia sedangkan disisi lainnya Alex ingin move on dari Olivia” kata Melisa

Aku merasa kasihan pada Alex setelah mendengar penjelasan Melisa. Aku membuka mata berlahan melihat tangan Rini mengeluarkan ponselnya. Rini mendekatkan dirinya disampingku. Rini meletakkan ponsel didepan kami.

“ Penyamaran” kataku lirih.

“ Ayo kita hitung mundur” kata Rini lirih.

“ 5 4 3 2 1” kata kami bersamaan.

BRAKKKK suara pintu terbuka dengan langkah kaki berat. Wajah bu Tia semerah tomat dengan mata semerah darah. Api amarah telah membakar hati dan pikirannya.

Bu Tia menghampiri Olivia dengan marah. PLAKKK suara tamparan keras mengenai pipi Olivia. Aku melihat kejadian didepanku hanya bisa menutup mulut dengan mata membelalak.

‘Cika pintar juga membuat awal pertunjukan’ pikirku.

“ Apa yang ibu lakukan?” tanya Alex tidak percaya dengan tindakan bu Tia. Bu Tia tidak menangapi pertanyaan Alex.

“ Aku sudah memungutmu untuk sekolah disini namun apa balasanmu padaku beraninya kamu mengaku kepada kepala sekolah bahwa kamu yang mengerjakan perangkat pembelajaranku” kata bu Tia marah.

“ Saya keceplosan bu” kata Olivia lirih.

Tangan bu Tia segera menjambak Olivia. Alex membantu Olivia untuk melepaskan jembakan dari bu Tia.

“ Bu Tia cukup” kata Alex kesal.

“ Saya sudah melakukan apa yang kamu inginkan bahkan aku sudah menskors Melisa yang jelas-jelas tidak mencontek” kata bu Tia mengaku.

Semua anak termasuk Alex kecuali aku, dan Rini terkejut. Aku mengeluarkan ekspresi datar saat semua orang menatapku.

“ Sa.. saya hanya melakukan perintah ibu” kata Olivia sambil menangis.

“ Apa katamu!” bentak bu Tia. Bu Tia menambah kekuatan dari jambakannya membuat Olivia semakin kesakitan. Alex segera melepaskan tangan bu Tia dengan kekuatannya. Hasilnya Olivia terlepas sedangkan bu Tia kesakitan.

Olivia mengeluarkan air matanya dengan deras. Olivia bersembunyi dibalik badan Alex. Olivia berekspresi rapuh, lemah dan tak berdaya untuk mengundang simpati orang.

“ Bu Tia memerintah saya untuk membuat Melisa dibenci ayahnya maka saya... saya melakukannya... saya takut bu Tia akan menyakiti nenek dan mengelurkanku... hiks... hiks... hiks” kata Olivia parau.

“ Aku masih ingin bersekolah disini” kata Olivia lirih disela-sela tangisannya. Perkataan Olivia masih bisa didengar Alex. Tangan Alex berlahan mengenggam erat menyalurkan emosi tertahan.

“ Apa yang kamu katakan!” bentak bu Tia marah. Bu Tia semakin marah dengan keadaan yang sekarang berbalik menyerangnya.

‘Olivia pandai memutar balikan fakta’ pikirku.

“ Semua orang tahu kalau bu Tia menyukai ayah Melisa tapi menghancurkan masa depan murid anda sendiri itu perbuatan yang tidak pantas untuk seorang guru” kata Alex dingin.

Semua orang tercengang termasuk bu Tia. Alex terlihat seperti serigala kutub yang dingin dan menangkutkan. Bu Tia terdiam dengan air mata mulai menetes keluar. Alex melangkah mendekati bu Tia dengan pelan. Berlahan Bu Tia mundur kebelakang.

“ Bagaimana orang seperti anda bisa menjadi guru” kata Alex mengejek. Bu Tia diam membisu tidak tahu harus berkata apa.

“ Ahh... Aku ingat bu Tia bisa menjadi guru disini berkat paman anda yang dekat dengan kepala sekolah sehingga guru tidak berkompeten seperti anda bisa sekolah disini” kata Alex mengejek bu Tia.

Bu Tia membuka mulutnya kemudian menutupnya kembali. Mulut bu Tia seperti ikan diair. Aku diam mengamati dan menikmati pertunjukan berlangsung.

“ Diam kamu Alex!” bentak bu Tia.

“ Kenapa? Anda takut kebenaran terungkap?” tanya Alex memprovokasi.

Bu Tia sudah terpojok dengan semua serangan Alex. Bu Tia memandang Olivia dengan tatapan benci. Jari bu Tia mengacung kepada Olivia.

“ Dasar gadis iblis” kata bu Tia menghina Olivia. Bu Tia meninggalkan Olivia dengan perasaan campur aduk antara marah, benci, kesal, kecewa, dan sedih.

Olivia menangis dengan keras. Alex yang melihatnya segera menenangkan Oliva. Olivia mengusap air matanya kemudian berjalan kearahku. Olivia menampilkan wajah menyedihkan yang membuatku muak.

“ Melisa.. aku minta maaf” kata Olivia parau.

Aku diam memandang Olivia dengan datar. Aku binggung harus memaafkan atau tidak. Olivia membuatku berada pada simalakama. Aku memaafkan namun hatiku tidak sedangnya bila tidak orang-orang yang kukumpulkan untuk berada dipihakku akan berbalik menyerangku.

Aku mengertakkan gigiku untuk menaham amarah. Sorot kemenangan terpancar dikedua matanya.

“ Aku tidak menyangka dibalik sifat polos dan sikap baikmu terdapat hati yang busuk” kata Elgartara berdiri didepanku menatap Olivia datar.

“ Elgar..” pangil Olivia lirih dengan wajah terkejut.

“ Aku percaya padamu dibandingkan Melisa namun apa yang kudapat” kata Elgartara tidak percaya.

“ Sebuah kebohongan” kata Elgartara dingin.

Kata Elgartara meninggalkan Olivia dengan mengandenga tanganku. Aku pasrah digandeng Elgartara.

Olivia berlari kedepan Elgartara dengan wajah berlinang.

“ Elgar... dengarkan aku... ini salah paham” kata Olivia memohon.

“ Salah paham? Kamu sudah mengakui bahwa kamu bisa melakukan tindakan keji hanya untuk kepentinganmu” kata Elgartara.

“ Aku diancam bu Tia.. aku takut kalau bu Tia melukai nenek atau mengeluarkan aku dari sini.. aku tidak ingin hal itu terjadi.. kumohon Elgar mengertilah” kata Olivia mencari alasan.

“ Prfff... aku tidak menyengka bisa dipermainkan sejauh ini..” kata Elgartara tak percaya.

“ Memangnya bantuanku tidak cukup hingga kamu merasa takut pada bu Tia” kata Elgartara.

Olivia membukam mulutnya seribu bahasa. Sekarang Olivia terjebak pada jebakan yang ia buat. Elgartara yang bersedia membantu Olivia sudah lepas dari gengamannya.

“ Elgar...” pangil Olivia lirih.

“ Olivia Triandara mulai sekarang kau bukan temanku dan jangan mengangguku atau memanggilku Elgar tapi panggil aku dengan nama Elgartara Pramudja” kata Elgartara dingin.

Elgartara mengambil ponsel kemudian memblokir nomer Olivia didepan mata Olivia. Olivia membelalak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Aku diam menyaksikan kehancuran Olivia secara berlahan-lahan.

Elgartara membawaku keluar dari gedung sekolah. Kami berboncengan dengan sepeda. Aku melirik kebelakang melihat Olivia berekspresi patah hati yang mendalam.

***

1
Ni Ketut Patmiari
Luar biasa
Hikam Sairi
mampir
Sulati Cus
bagus walaupun ada typo tp ak suka, sukses buat othor
Inonk_ordinary
wooooowww syukaaaaaa
Arshyla_17
Seru bgt deh... Semoga Slalu semangt ya author😊
est
suka
est
😭 aku sedih thor melisa ma cogan yg baik aja jgn ma di gara2 apa kek
Silvya Devy
Karyamu luarbiasa Thor. 😘😘😘😘
Fikayra
Sumpah ceritanya suka bikin nyesek tp aku suka banget alurnya. . aku bacanya smpe maraton 2hr dari awal sampe selesai sumpah banjir air mata, melisa bener2 wanita tangguh bahkan dy bisa jungkir balikin kehidupan elgartara dari yg gk paham akan kisah hidup melisa smpe sebuah kebenaran membuat penyesalan dihidup elgartara. .perjuangan elgartara dan melisa bener2 nguras emosi dan banjir air mata. .👍🏻👍🏻👍🏻
Hasan
maaf thor bukannya sewaktu sebelum menempati tubuh melisa tuh jiwa lisa lg mengambil s2 ya jd kok setelah menempati tubuh melisa yg seharusnya msh sekolah pinternya jd berkurang jauh ya? 🤔🤔
Ida Blado
org sakit hati yg stres itulah reyhan,,,kasihan kmu
Ida Blado
q pikir bkl bisa nampar reyhan dgn fakta,,,, ternyata mlh nangis bombay,,cemen
Ida Blado
lalu apa gunanya vidio yg tersebar itu kalau gk bisa jdi bujti,,, di sini keprofesionalnya si penulis di pertanyakan
Ida Blado
sukurin loe El,,, bahagia gue loe sakit hati 😂
Ida Blado
di sini mulai aneh,bagaimana bisa org udah mati masih menempati tubuhnya.melisa oke krn dia transmigrasi,,, lah melisa yg asli kn udah mati,kok masih nempatin tubuhnya,,,konyol
Ida Blado
cerita ini sebenernya bagus andai alurnya ttp stabil,,,,namun di part2 berikutnya sgt di sayangkan,dimana melisa yg di fitnah dn gk bisa m^nunjukan bukti alias banyak drama.terlebih jdi buronan dn perusahaan bpk'a bermasalah,,, nah di situpah alurnya amburadul jauh dri ekspektasi.
Eka Maulidia
p
Sri Rahayu
seruuu.....
Yaya Cici
seneng nya
Siti Nurain
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!