Olivia Nugraha, gadis 18 tahun yang baru lulus SMA, terpaksa menggantikan kakaknya, Olin, untuk menikah dengan Juna demi menjaga nama besar keluarga mereka. Ia mencoba melawan, namun Oma selalu selangkah lebih maju. Pernikahan tetap terjadi.
Sementara itu, keberadaan Olin masih menjadi tanda tanya. Benarkah ia kabur? Atau ada alasan lain di balik menghilangnya? Dan mengapa namanya kembali disebut saat ia resmi menjadi bagian dari dinasti?
Karena mungkin… Olivia tidak pernah benar-benar dipilih untuk menggantikan Olin, tapi ia dipilih karena seseorang sudah mengincarnya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Beberapa minggu berlalu. Tidak ada yang menemukan mereka. Persembunyian Leon tetap aman, seolah dunia luar tidak pernah benar-benar menjangkau tempat itu. Dinding-dinding rumah itu menyimpan terlalu banyak rahasia—dan untuk sementara, rahasia itu masih terkunci rapat.
Kondisi Olivia berangsur membaik. Sejak kejadian itu, ia hanya sempat membutuhkan dua kali infus tambahan saja. Selebihnya, tubuhnya perlahan pulih, meski pikirannya… jauh dari kata tenang.
Hari-hari berjalan aneh. Sunyi, tapi bukan damai. Olivia dan Oliana tidak lagi seperti dulu. Mereka berbagi ruang, tapi tidak benar-benar berbagi cerita.
Sekali, Oliana hanya menanyakan kabar orang tua mereka—pertanyaan singkat, tanpa emosi yang jelas.
“Papa sama Mama… gimana?”
Olivia selalu menjawab sebisanya. “Baik.”
Hanya itu. Selebihnya, hening. Padahal, Olivia sudah berusaha.
Ia mencoba menghidupkan kembali kebiasaan lama mereka—mengajak bercanda, mengungkit kenangan kecil, bahkan hal-hal sepele yang dulu selalu membuat mereka tertawa.
Namun setiap kali Olivia mencoba mendekat… Oliana justru menjauh. Awalnya halus, lalu semakin jelas. Sampai akhirnya, emosi Olivia tidak lagi bisa ditahan.
“Kenapa sih lu jadi kayak gini, Kak!?” suaranya meninggi suatu malam.
Oliana terdiam. Olivia menatapnya tajam, matanya mulai panas.
“Yang dicuci otaknya itu gue atau lu, sih?”
Kalimat itu menggantung di udara. Tajam dan menyakitkan. Namun Oliana tetap tidak menjawab.
Ia hanya menunduk, seolah memilih diam daripada memperpanjang sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Sejak saat itu… Olivia berhenti mencoba.
Tiga hari, ya hanya tiga hari mereka makan dalam diam, satu meja. Tiga orang tanpa percakapan, hanya suara sendok dan piring yang beradu pelan.
Dan itu terasa… lebih menyiksa daripada pertengkaran. Hari keempat—Olivia tidak tahan. Ia tidak datang ke ruang makan. Sebaliknya, ia melangkah ke dapur.
Aroma masakan menyambutnya, hangat dan sedikit asing. Ia berhenti di ambang pintu, memperhatikan seseorang yang berdiri di depan kompor.
Seorang pria, terlihat usianya tidak jauh dari Leon. Tinggi, santai, dan… terlalu nyaman berada di dapur itu. Olivia mengernyit.
“Lu siapa?”
Pria itu menoleh, lalu tersenyum tipis. “Wah, akhirnya muncul juga yang punya rumah kedua ini.”
Olivia mengangkat alis. “Gue nanya, lu siapa?”
“Tenang aja,” jawabnya santai sambil mengaduk masakan. “Gue bukan penculik, bukan juga musuh. Cuma… tukang masak.”
Olivia menyilangkan tangan. “Tukang masak?”
“Iya.” Ia mengangguk ringan. “Rekan kerja Leon. Spesialis dapur.”
Nada bicaranya terlalu santai dan terlalu tengil.
Olivia menyipitkan mata. “Serius?”
“Serius pakai banget.” Pria itu menoleh lagi, kali ini dengan senyum yang sedikit lebih lebar. “Atau lu lebih suka gue bilang bodyguard rasa chef?”
Olivia mendengus pelan. “Lu muter-muter.”
“Biar nggak bosen.”
Olivia hampir membalas, tapi langkah kaki dari arah belakang membuatnya menoleh. Leon. Ia berdiri di ambang pintu dapur, tatapannya langsung tertuju pada Olivia.
“Makan di ruang makan.”
Olivia menatapnya beberapa detik. “Enggak.”
Jawaban itu keluar tanpa ragu, suasana langsung berubah. Pria di depan kompor mengangkat alis, jelas menikmati situasi. Leon tidak langsung merespons. Ia melangkah mendekat, berhenti beberapa langkah dari Olivia.
“Kenapa?”
Olivia tertawa kecil, hambar. “Karena gue capek pura-pura normal.”
Leon menatapnya lebih dalam, seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak ia ucapkan. Namun Olivia sudah lebih dulu memalingkan wajah.
“Gue makan di sini aja.”
Leon tidak memaksa, ia hanya menghela napas pelan, lalu berbalik. “Gue tunggu di ruang makan.”
Itu saja, lalu dia pergi. Suasana di dapur kembali sepi… sampai pria di depan kompor itu berdehem pelan.
“Wah,” katanya santai
Olivia menoleh cepat. “Kenapa?”
Pria itu mengangkat bahu. “Nggak, cuma bilang… dramanya dapet.”
Olivia menyipitkan mata. “Maksud lu apa?”
“Gue cuma observatif,” jawabnya enteng.
Olivia menghela napas, lalu bersandar di meja dapur sambil kembali menatap pria itu dengan kegiatan memasaknya. Beberapa detik hening, lalu—
“Kasian juga sih,” lanjut pria itu tiba-tiba.
Olivia menoleh. “Apa?”
Pria itu menjawab tanpa pikir panjang, “Ya kakak lu. Oliana.”
Olivia langsung menegang. “Kenapa dia?”
Pria itu tetap fokus ke masakannya, seolah tidak sadar sedang membuka sesuatu.
“Ya gimana nggak galau… pacarnya nikah sama adik sendiri, eh sekarang malah—”
Ia berhenti, namun terlambat. Olivia membeku, menahan napas. “...malah apa?” suaranya pelan.
Pria itu perlahan menoleh dan ekspresinya berubah. “Ups.”
Olivia menatapnya tajam, jantungnya mulai berdegup tidak teratur. “Lu barusan mau bilang apa? Jangan main-main!”
Pria itu justru diam dan di situlah—sesuatu yang selama ini hanya terasa sebagai keganjilan… mulai berubah menjadi kecurigaan yang jauh lebih nyata.
Ketika pria itu membuka mulut, seolah akhirnya akan mengatakan sesuatu—namun suara lain lebih dulu memotong.
“Olivia.”
Keduanya menoleh bersamaan. Oliana berdiri di ambang pintu dapur. Wajahnya terlalu tenang, tapi matanya tajam, penuh peringatan.
“Gak usah percaya sama omongan dia,” katanya datar.
Hening. Olivia menatap kakaknya, tidak berkedip.
“Dia cuma tukang masak di sini. Dia nggak tau apa-apa.” Oliana melangkah masuk, suaranya tetap terkendali. “Apalagi tentang kita. Terutama… tentang gue.”
Kalimat terakhir itu terdengar lebih berat, seperti ada sesuatu yang sengaja ditekan.
Olivia memindahkan pandangannya ke pria di depan kompor, lalu kembali ke Oliana. Ada jeda di antara napasnya—pendek, tidak stabil.
Ia ingin percaya, tapi rasa penasaran… lebih keras dari logika.
"Masa sih?” tanya Olivia pelan, tapi tajam.
Oliana tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap balik, lama.
“Terserah lu mau percaya gue atau nggak.”
Jawaban yang terdengar benar, tapi tidak cukup, karena Olivia bisa merasakan ada sesuatu yang tidak dikatakan dan justru itu yang membuat semuanya terasa semakin mencurigakan.
Suasana menegang, pria di depan kompor berdehem kecil, seolah sadar dirinya sekarang berada di posisi yang sangat tidak menguntungkan.
“Gue sih cuma masak ya,” katanya santai, mencoba meredakan. “Kalau drama keluarga… bukan job desc gue.”
Tidak ada yang tertawa. Olivia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ia memalingkan wajah, seperti sedang menahan sesuatu di dalam dirinya.
“Udah,” kata Oliana pelan. “Makan dulu.”
Nada suaranya berubah. Lebih lembut, seperti dulu. Seperti mencoba mengembalikan sesuatu yang sudah retak.
Olivia menoleh beberapa detik, lalu ia menggeleng.
“Enggak.”
Oliana terdiam.
“Gue makan di kamar aja.”
Nada suara Olivia datar, tapi tegas. Tidak memberi ruang untuk dibantah. Lalu ia menoleh ke pria di dapur.
“Lu,” tunjuknya ringan. “Tolong anterin ke kamar gue ya.”
Jeda sebentar. “Thanks.”
Tanpa menunggu jawaban, Olivia berbalik dan melangkah keluar dari dapur. Langkahnya terdengar jelas di lorong.
Satu.
Dua.
Tiga.
Namun saat sampai di tikungan, ia melambat lalu berhenti. Diam. Ada dorongan kuat untuk tetap di sana, menguping dan menunggu.
Siapa tahu… ada sesuatu yang terucap saat ia tidak terlihat. Jantungnya berdegup lebih cepat, rasa penasarannya hampir menang, hampir.
Namun beberapa detik kemudian, Olivia memejamkan mata sejenak. Rasa lelah ternyata lebih menguasai, Ia terlalu lelah untuk terus mencurigai semuanya.
Akhirnya, ia melangkah lagi meninggalkan dapur..Meninggalkan kemungkinan jawaban yang mungkin saja… bisa mengubah segalanya.
Di dalam dapur—suasana jauh dari santai. Oliana masih berdiri di tempatnya, tatapannya kini beralih ke pria di depan kompor. Tidak ada lagi kelembutan di sana.
“Lu hampir aja, maksud lu apa sih!?” katanya pelan.
Pria itu mengangkat bahu. “Gue cuma keceplosan dikit.”
“Dikit?” ulang Oliana, dingin. “Lu tau itu bisa jadi masalah besar?”
Pria itu akhirnya berhenti mengaduk. Ia menoleh, menatap Oliana dengan ekspresi yang kini tidak lagi main-main.
“Masalahnya bukan gue,” katanya lebih rendah. “Masalahnya… lu yang belum beres sama masa lalu lu.”
Oliana terdiam, ia mengepalkan tangannya. “Jangan bawa-bawa itu.”
“Kenapa?” pria itu menyandar santai ke meja. “Takut dia tau… kalau selama ini lu—”
“Cukup.”
Hanya satu kata, tegas dan memotong. Namun di situlah, ketegangan berubah arah. Pria itu tersenyum tipis.
“Cepat atau lambat dia bakal tau, Lin.”
Nama itu disebut tanpa ragu.
“Apalagi sekarang…” lanjutnya pelan, “dia udah mulai curiga.”
Oliana terdiam, keraguan terlihat jelas di wajahnya.
“Dan kalau dia tau…” pria itu menambahkan, suaranya hampir seperti bisikan, “…bahwa lu sama Juna itu kembali komunikasi—”
Bruk. Sendok di tangan Oliana jatuh ke lantai. Suara kecil itu terdengar keras di tengah keheningan. Matanya membesar, bukan karena marah tapi karena… takut.