𝐇𝐞❜𝐬 𝐜𝐫𝐮𝐞𝐥 𝐚𝐧𝐝 𝐇𝐞❜𝐬 𝐜𝐫𝐚𝐳𝐲.
𝐁𝐮𝐭 ... 𝐒𝐡𝐞 𝐥𝐨𝐯𝐞𝐬 𝐡𝐢𝐦.
Bagaimana perasaanmu ketika dipaksa menjadi istri dari pria yang tidak dikenal?
Diperlakukan kejam, diklaim sebagai miliknya, dan dihina dengan kalimat-kalimat sarkas.
Elva mengalami semua hal itu setelah menikah dengan CEO sosiopat bernama Zeyan Kai.
Awalnya Elva berpikir akan segera bebas dari belenggu pria itu jika ia memberitahukan hal yang sebenarnya---kalau dia bukan lah perempuan yang seharusnya menikah dengan Zeyan.
Akan tetapi semua ucapannya selalu dianggap omong kosong belaka di mata pria tersebut. Elva menerima kenyataan jika identitasnya dianggap sebagai orang lain oleh Zeyan. Tapi kenyataannya ... pria itu sudah mengetahuinya segalanya tentangnya.
Zeyan berbohong dengan alasan kalau pria itu menyukai Elva setelah beberapa bulan tinggal bersama.
Di satu sisi Elva merasa kecewa dan marah, namun di sisi lain dia juga merasakan perasaan tabu padanya. Terlebih lagi masalah selalu berdatangan dan menentang mereka untuk hidup bersama.
Kesalahpahaman, ego, dan latar belakang menjadi tembok pemisah di antara mereka berdua.
(JUDUL AWAL ISTRI TAWANAN)
Genre : Romance, Young adult, Action.
copyright©2020
By : Kadewa Gregoria Hanum/Gege Hanum
Ig @i_kadewa
#KARYA HANYA ADA DI NOVELTOON/MANGATOON!!
#TIDAK MENOLERANSI SEGALA BENTUK PLAGIARISME
#JADWAL UP SESUAI MOOD PENULIS!!
[ KALO MAU CEPET UPDATE, VOTE+HADIAH DAN KOMEN BANYAK-BANYAK 🐣🐥 ]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gege Hanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MWS : PART XXXIV
Hai!! Maafin aku yang updatenya selalu lama. Aku mau masih tahu kalo novel Istri Tawanan diganti menjadi Married with sosiopath.
Kenapa? Soalnya aku mau menghindari opini tentang ceritaku yang seperti bau-bau ala sinetron. Dipersingkat aja ya, intinya aku mau merubah suasana menulisku. Kenapa harus ganti judul, kak?Ya itu demi menyamankan aku untuk menulis. Kalian gasuka gapapa. Semoga kalian betah ya sampai ending💙
...❤️SO, ENJOY MY STORY❤️...
...•|🦋|•...
“Kemasi barang-barangmu. Ayah akan mengirimmu ke luar kota malam ini,” titah Noren kepada anak lelaki berusia lima tahun yang berada di gendongan istrinya.
“Apa maksudmu?”
Hiromi menurunkan Zeyan darinya lalu mengikuti langkah sang suami. “Sayang, kau bercanda 'kan? Kenapa kau tiba-tiba berbicara seperti itu?” tanya wanita itu heran.
Zeyan yang baru saja akan terlelap di gendongan ibunya mengusap-usap matanya. Kedua tangannya terulur meminta digendong kembali saat tahu ayahnya baru saja pulang.
“Ayah gendong!” seru bocah itu.
Noren yang melihat itu terdiam sebentar. Namun tak lama kemudian ia menepis tangan putranya dan kembali memasukkan baju-baju Zeyan ke dalam koper. “Kau harus pergi dari sini Zeyan, jangan bermain-main bersama ayah,” ujar pria tersebut.
“Apa yang kau lakukan?” Hiromi mengeluarkan kembali baju-baju anaknya dari koper. Wanita cantik bermata sipit itu menatap suaminya bingung. “Sebenarnya apa yang mau kau lakukan? Kenapa kau tiba-tiba menyuruh anak kita pergi? Dia kan masih kecil.”
Bocah berusia lima tahun itu menatap kedua orang tuanya bergantian. Mendengar bahwa Noren hendak menyuruhnya pergi, dengan cepat Zeyan turun dari kasur lalu memeluk kaki ibunya erat.
“Ibu, Zeyan mau dibawa ke mana?” tanya bocah laki-laki itu.
“Ayo Zeyan, Ayah akan membawamu pergi ke luar kota,” Noren menarik tangan putranya yang melekat di kaki Hiromi erat.
Karena Zeyan tak mau melepaskan kaki sang ibu, Noren pun berjongkok dan memegang kedua bahu anak tunggalnya. “Kau tidak perlu takut. Di sana akan ada beberapa pelayan dari rumah kita yang menjagamu. Kelak saat kau dewasa nanti, Ayah akan menjemputmu kembali.”
Zeyan menggeleng-gelengkan kepalanya. Pegangan tangannya di kaki Hiromi semakin kuat. Kepalanya mendongak dan menatap wajah ibunya dengan mata berkaca-kaca.
“Bu, aku tidak mau pelgi meninggalkan kalian,” pinta bocah itu.
“Tenang Sayang, ibu tidak akan membiarkanmu pergi,” Hiromi ikut berjongkok di depan Zeyan.
“Kau! Ada apa denganmu sebenarnya?” Wanita itu kembali mengalihkan pandangannya.
Noren mengembuskan napasnya. Matanya menatap kedua orang yang paling penting baginya dengan tatapan yang sulit dimengerti. Akan tetapi mengingat kejadian beberapa saat lalu membuatnya mengepalkan tangan. Noren tidak punya pilihan lain. Dia benar-benar harus membawa Zeyan jauh dari mereka.
“Maaf Hiromi, dia harus pergi jauh dari kita,” pungkasnya.
“Tapi apa alasannya? Kenapa kau mendadak berkata seperti itu?”
“Aku akan menjelaskan padamu nanti. Sekarang yang terpenting Zeyan harus pergi dari sini!”
Hiromi menahan tangan Noren yang akan membawa Zeyan. Dengan tegas wanita itu menggelengkan kepalanya pertanda tak setuju. “Tidak, Zeyan tidak akan pergi kemana-mana! Aku tidak akan setuju dengan omonganmu!”
“Hiromi mengertilah, aku harus melakukan semua ini.”
“Iya tapi apa alasannya? Kenapa kau sangat bersikukuh begitu?”
Noren berdecak, dia mengusap wajahnya kasar kemudian duduk di tepi ranjang. Iris hitamnya melihat bocah laki-laki yang menatap mereka dengan polos. Zeyan hanya diam memperhatikan mereka sambil mengigit jari telunjuknya. Dia terlalu muda dan tidak mengerti apa-apa. Noren memijat kepalanya sebentar yang terasa pening. Setelah itu, pria tersebut menangkup kedua pipi putranya yang sempat menangis.
“Zeyan, kau tunggu dulu di luar oke? Ayah ada sesuatu yang mau dibicarakan dengan Ibumu.”
Tak banyak bicara, Zeyan langsung mengangguk patuh tanpa bertanya. Bocah itu ke luar dari kamar orang tuanya lalu menutup pintu. Tangannya dengan erat memegang boneka kura-kura pemberian sang ayah saat ulang tahunnya bulan lalu. Matanya melirik sekilas jam yang terpasang di dinding. Sudah jam sepuluh malam. Sebenarnya dia bukan anak kecil yang suka begadang. Hanya saja, demi menunggu Noren pulang bekerja, Zeyan pergi ke kamar orang tuanya dan meminta Hiromi untuk menyanyikannya sebuah lagu sambil menunggu sang ayah pulang.
Zeyan masih setia menunggu di depan pintu kamar seraya menggerak-gerakkan bonekanya ke kanan dan ke kiri. Malam ini Zeyan mau tidur bersama kedua orang tuanya seperti hari-hari yang lalu. Sudah lama semenjak ulang tahunnya, Noren sering sibuk hingga tidak bisa menemaninya tidur bersama Hiromi.
Beberapa menit berlalu, akhirnya pintu terbuka. Zeyan dengan senyum sumringah ke arah Hiromi mengulurkan kedua tangan hendak meminta gendongan.
“Ibu, Zeyan mau—”
“Zeyan,” Panggil Hiromi lembut. Wanita itu berjongkok sambil mengusap-usap pipinya yang gembul. “Anak ibu penurut, bukan?”
Zeyan memiringkan kepalanya mendengar ucapan ibunya yang tiba-tiba seperti itu. “Iya, Zeyan anak penulut.”
“Zeyan anak ibu, Zeyan mau kan menuruti ucapanku?”
Zeyan mengangguk lagi.
“Kalau begitu, Ibu minta Zeyan ikuti perintah Ayah ya? Nanti setelah waktunya tepat,Ibu akan menyusul Zeyan ke tempat yang di suruh Ayah.”
Spontan Zeyan langsung menggeleng keras. Dia dengan cepat memeluk leher Hiromi dan berkata, “Ibu kenapa mau aku pelgi? Zeyan kan tidak penah nakal. Kenapa Ibu setuju dengan Ayah untuk membuat ku pelgi?”
Hiromi diam seribu bahasa. Wanita itu tersenyum paksa lalu mengusap air mata yang membasahi pipi putranya.
“Bukannya Zeyan penurut? Kalau Zeyan pergi ke tempat yang di suruh ayah, Zeyan akan jadi anak yang mandiri. Zeyan mau kan jadi anak yang mandiri?”
Lagi-lagi Zeyan menggelengkan kepalanya.
“Tidak, Zeyan tidak mau jadi anak mandili. Zeyan mau bersama Ayah dan Ibu selama-lamanya,” Bocah itu mulai menangis.
Hiromi tidak tega. Wanita berusia dua puluh tahunan itu segera menggendong putranya dan mengecupi keningnya berkali-kali.
“Ibu tidak akan pernah meninggalkanmu Zeyan, selamanya.” ucap Hiromi lembut. Tangan Zeyan ia dekatkan ke arah dadanya lalu ke dada bocah itu sendiri, “Tapi ibu akan ada di sini. Di hatimu dan untuk selama-lamanya.”
Zeyan tetap tak mau. Melihat hal itu, Noren berjalan lalu tanpa ba-bi-bu lagi, pria tersebut menggendong Zeyan paksa sambil membawa koper yang sudah ia bereskan tadi.
Zeyan memukul-mukul punggung ayahnya. Bocah itu meronta untuk dilepaskan. Zeyan tidak mau pergi ke manapun. Dia adalah putra tunggal dari keluarga Kai. Lalu kenapa dia harus pergi? Bukan kah ini rumahnya?
“Ayah lepas Ayah!! Hiks, Ibu tolong …” Zeyan mengulurkan sebelah tangannya kepada Hiromi.
Namun Hiromi tetap diam sambil menahan tangisannya di tempat. Zeyan kembali meronta sambil mencoba menggigit leher Noren. Pria itu sempat meringis, tetapi dia bisa menahannya sampai di halaman depan rumah.
“Zhang, kau cepat bawa Zeyan pergi dari sini!” perintah Noren kepada pelayan laki-laki berkacamata itu.
“Baik, Tuan.” sahutnya.
Noren memasukkan Zeyan ke dalam mobil. Kemudian menaruh barang-barang keperluan Zeyan di bagasi. Pria itu terdiam melihat putranya yang menangis sambil mengetuk-ngetuk jendela mobil berkali-kali. Dan sedetik kemudian dia membuang muka ke samping.
Tidak, aku tidak boleh lemah hati.
“Zhang, kau jaga dia baik-baik. Jangan biarkan dia keluar dari rumahnya sebelum aku menyuruhmu,” ujar Noren kepada bawahannya tersebut.
Setelah Zhang mengangguki ucapan atasannya, pelayan lelaki itu langsung menancap gas dan membawa putra semata wayang keluarga Kai pergi. Zeyan yang dibawa paksa seperti itu terus menjerit dan menggedor-gedor jendela sampai kediaman Kai benar-benar hilang dari pandangannya.
...••🦋••...
“Berapa nilai ulanganmu?” tanya seorang bocah laki-laki berbadan gempal kepada temannya.
“Seperti biasa. Aku selalu mendapat nilai B terus dan tidak pernah naik,” sahut anak yang ditanyai dengan wajah yang cemberut.
“Aku tebak, pasti yang dapat nilai terbaik di kelasmu Zeyan lagi 'kan?”
Anak laki-laki yang mendapat nilai B itu langsung membalas dengan nada sinis, “Huh! Memangnya kenapa jika dia mendapat nilai bagus? Orang tuanya tidak pernah datang ke sekolah tiap tahun untuk mengambil raport atau pun menjemputnya ke sekolah. Jelas sekali dia anak yang ditelantarkan oleh orang tuanya.”
“Haha, kau benar! Dia selalu menjadi murid unggulan setiap tahunnya di sekolah kita. Karena itu guru-guru sering membicarakan kelebihannya. Aku benar-benar kesal.”
Yang dibicarakan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Zeyan berada tak jauh dari tempat dua bocah yang sedang membicarakannya. Usianya sudah menginjak dua belas tahun. Dan saat ini anak lelaki berwajah tampan itu akan melakukan wisuda kelulusan sekolah dasar.
Selama ini Zeyan tidak memiliki teman ataupun berniat mempunyainya. Setelah kedua orang tuanya menyuruhnya pergi, Zeyan menjadi anak yang lebih pendiam dan tidak suka bersosial dan didoktrin memiliki gangguan mental yang serius. Namun hal itu tidak membuat nilai akademik-nya terganggu. Jadi jelas ada beberapa orang yang tidak suka akan prestasinya. Karena Zeyan adalah orang yang tidak suka berbaur dengan siapapun.
“Hei lihat! Itu bocah songong yang kita bicarakan,” seru bocah gempal itu kepada temannya. “Hei Zeyan! Berani-beraninya kau memelototi kami seperti itu? Kau pikir pantas bersikap begitu pada kami, huh?”
“Sudahlah, untuk apa mengurusi sampah sepertinya? Lebih baik kita cepat mencari orang tua kita untuk melakukan foto wisuda,” ujar temannya.
Si gempal tersenyum mengejek, “Betul! Bocah seperti itu tidak perlu kita urus. Jangan mengotori tangan kita untuk seorang bocah yang dibuang orang tua kandungnya. Lihatlah betapa menyedihkannya dia. Dia pasti sedih karena kedua orang tuanya tidak datang untuk melakukan foto wisuda. Siapa suruh jadi anak buangan!”
Rahang Zeyan mengeras. Dia menggenggam raport-nya kuat sehingga buku-buku kukunya memutih. Kemudian dengan langkah lebar, Zeyan membalikkan tubuh bocah gendut tersebut, menonjok pipinya sampai si korban tersungkur dan meringis kesakitan di tanah.
“Si*lan! Apa yang kau lakukan pada teman ku?!” teriak teman si gendut.
Si gendut melotot ketika beberapa giginya copot. Karena syok, bocah gendut itu pingsan di tempat. Temannya langsung berteriak histeris memanggil kedua orang tua temannya. Tak lama orang tuanya datang. Mereka terkejut melihat putranya sudah terkapar tak sadarkan diri.
“Bibi, tadi Zeyan memukul Rio sampai gigi-giginya copot,” adu anak itu menunjuk ke arah Zeyan berdiri.
Orang tua si gendut langsung menoleh ke arah Zeyan. Zeyan yang tidak merasa menyesal tertegun ketika pipinya tiba-tiba ditampar begitu keras. Bocah itu terdiam sambil memegangi pipinya yang terasa sakit.
“Bocah ber*ngsek! Beraninya kau memukul anakku!!” teriak ibu dari bocah yang Zeyan pukul. Suaminya di samping ikut melotot ke arah Zeyan walaupun tidak berniat untuk melakukan kekerasan seperti yang istrinya lakukan tadi.
“Kemari kau! Akan ku buat kau merasakan semua gigimu copot seperti anakku!!” teriak wanita itu hendak mendorong tubuh Zeyan.
Zeyan terjatuh memegangi kepalanya yang terbentur pohon. Dia melihat keadaan sekitar dengan sudut ekor matanya.
Kenapa tidak ada yang mau membantunya?
Kenapa semua orang yang melihatnya seperti ini tidak peduli sama sekali?
Jelas-jelas kedua bocah itu yang memulainya. Zeyan juga tidak akan melayangkan bogeman jika bukan dipancing seperti itu.
Bocah lelaki itu menutup kepalanya saat ibu dari anak gendut tersebut menghujaminya dengan beberapa pukulan dan tendangan. Zeyan belum cukup kuat untuk melawan tenaga dari orang dewasa. Dia hanya bisa melindungi diri sendiri dan berharap agar seseorang datang untuk menolongnya tepat waktu.
...••🦋••...
Zeyan membuka matanya dengan napas tersengal-sengal. Dia mengusap wajahnya yang penuh dengan keringat.
Ternyata mimpi itu lagi.
Sejak kapan terakhir kali ia memimpikan salah satu kejadian yang membuatnya trauma dan menjadi sosiopat. Sama seperti dulu, Zeyan selalu merasa gelisah dengan mimpi itu. Karena kejadian tersebut lah yang ke depannya membawa Zeyan ke dalam pengalaman-pengalaman buruk dan kejadian-kejadian paling tidak pernah dia inginkan.
“Ber*ngsek!” teriak Zeyan memukul kaca di depannya hingga retak. Air matanya mendadak turun dan mulai membasahi pipinya.
Apakah dia akan ditinggalkan seperti dulu? Dan harus menelan kenyataan untuk selalu hidup sendirian? Zeyan hanya mau hidup bersama dengan orang yang berarti di hatinya. Dia tidak akan sanggup untuk ditinggalkan kedua kali, dan terus menyendiri selama-lamanya. Sudah cukup orang tuanya pernah meninggalkan dia, dan membuat luka-luka yang sukar untuk disembuhkan. Karena sekali Zeyan sakit hati, dia tidak mudah untuk melupakan.
Lelaki itu melihat sekilas berbagai macam benda di atas nakas, lalu dengan cepat ia menjatuhkan semua benda-benda itu ke lantai.
Jam 12 malam tepat. Zeyan benar-benar tidak bisa tidur dengan baik setelah pembicaraan terakhirnya dengan Elva. Pikirannya semrawut dan tidak keruan. Sekalinya tertidur, Zeyan malah memimpikan kejadian itu. Susah payah dia ingin melupakannya, namun bayang-bayang akan kehidupan masa kecilnya yang kurang baik selalu menghantuinya di saat waktu yang tidak tepat.
“Kenapa? Apa aku akan di buang dan ditinggalkan lagi seperti dulu?” tanya Zeyan menatap pantulan wajahnya di cermin. Senyum tipis tercetak di bibir merah muda alaminya. Zeyan yang sekarang sama seperti wujud dari efek penyakit yang dideritanya saat kambuh.
Lelaki itu tertawa terbahak-bahak mendengar suaranya. Tanpa diduga, ia membuka laci meja yang berisi anak-anak senjata pelampiasannya. Dia menyeringai mengamati bentuk pisau yang sangat mempesona di matanya. Dan detik berikutnya, lelaki itu melayangkan pisaunya ke arah cermin.
Zeyan berteriak keras sambil meninju cermin yang sudah bercampur dengan bercak darah di tangannya. Lelaki itu terus mengumpat sambil menangis melihat pantulan wajahnya yang sangat begitu menyedihkan di matanya.
“You're f*cking bast*rd! Bast*rd! Bast*rd! And stupid people!” maki Zeyan kepada dirinya sendiri.
Tak selang berapa lama, pintu kamarnya terbuka. Fabian langsung menghampiri Zeyan yang terduduk di lantai sambil menyayat tangannya tipis-tipis. Langsung saja Fabian melempar benda tajam itu dan menampar pipi Zeyan tidak terlalu kuat.
“Bodoh! Apa yang kau lakukan sampai melukai dirimu sendiri?” Fabian berteriak di depan wajah teman kampusnya itu.
Suara bising dari kamar Zeyan membuatnya kembali terjaga. Fabian buru-buru menuju kamar temannya itu setelah mendengar teriakannya.
“Kenapa kau berbuat bodoh seperti ini? Apa kau begitu frustasi? Kau begitu gila karena satu orang perempuan menolakmu? Apa kau sudah tidak sayang dengan nyawamu sendiri?” omel lelaki bermarga Marley itu marah.
Zeyan tidak bersuara. Dia hanya diam memperhatikan tangannya yang bercucuran darah.
Demi apapun Fabian baru pertama kali melihat Zeyan sekacau ini. Zeyan terlihat seperti orang yang mengidap penyakit psikis yang harus segera diobati secepatnya. Dan ini benar-benar membuatnya takut sekaligus sedih dalam bersamaan.
“Aku adalah orang yang gagal dalam hidup,” ucap Zeyan tertawa miris.
“Tidak, siapa bilang seperti itu? Kau adalah orang yang paling luar biasa yang pernah kutemui,” sahut Fabian frontal. “Jadi tolong jangan melakukan hal gila seperti ini lagi Zeyan. Kau membuatku sangat khawatir!” Fabian memeluk kepala Zeyan guna memenangkan emosi temannya.
“Hanya karena satu orang perempuan, kau tidak boleh menyakiti dirimu sendiri. Ada banyak perempuan lain di luar sana yang lebih baik. Dan demi Tuhan! Baru kali ini aku benar-benar mengkhawatirkanmu sialan!!” Fabian mengambil napas dalam-dalam. Menyalurkan kehangatan dari pelukannya untuk sosok lelaki yang tengah putus asa.
Ya Tuhan, pemandangan tadi itu benar-benar menyeramkan. Zeyan itu kenapa mendadak jadi seorang monster? Kamar tidurnya serta sekeliling ruangannya berantakan dan dipenuhi banyak bercak darah. Jika Fabian telat sedikit saja ke sini, apa yang akan terjadi dengan si pria dominan tersebut? Fabian tidak pernah setakut dan sekhawatir ini dalam hidupnya.
T*lol! You make me feel so worried! umpat Fabian dalam hati.
“Kenapa kau harus jadi gila seperti ini karena seorang perempuan? Biarkan saja jika Elva tidak menyukaimu. Sudah kubilang dari awal, kalau dia milikmu, dia pasti akan kembali. Kenapa kau mesti jadi seperti ini?” Fabian ikut sedih. Apalagi melihat tatapan Zeyan yang kosong seperti orang yang kehilangan akal.
Sebenarnya apa yang selama ini Zeyan alami? Kenapa Zeyan sangat takut ditinggalkan oleh orang yang dekat dengan hatinya?
“Minggir!” Zeyan berucap dingin.
Kakinya melangkah gontai menuruni anak tangga. Fabian yang di belakang mengikuti untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Malam ini, lelaki bermarga Marley itu menyaksikan betapa putus asa-nya Zeyan ditolak oleh gadis yang tampilannya biasa-biasa saja. Menurutnya.
“Tuan,” panggil seorang pelayan wanita menghadap Fabian.
“Ada apa?”
“Aku lihat di luar mobil yang masuk ke sini,” beri tahu pelayan tersebut.
Zeyan berhenti dan menoleh ke belakang menatap pelayan itu. “Siapa?”
“Zeyan sudah, biar aku yang mengurus tamu itu. Kau istirahat lah. Jangan memikirkan hal-hal yang membuatmu semakin terpuruk,” usul Fabian.
Tidak menghiraukan, Zeyan menatap kembali pelayan itu. “Apa mobilnya berwarna hitam?” Pelayan itu mengangguk.
Mungkin Fabian lupa jika rumah Zeyan tidak bisa sembarang dimasuki. Jika bukan Noren yang bisa menghilangkan inframerah di setiap sudut rumahnya, siapa lagi memang? Noren dan Zeyan merupakan satu koin dengan dua sisi. Apapun yang Zeyan ciptakan selalu bisa ditebak dan diselesaikan oleh ayahnya itu. Benar-benar menyebalkan!
“Pas sekali,” Zeyan memejamkan matanya sebentar. Bibir tipisnya kembali menyunggingkan senyuman yang mengerikan. Dan entah kapan sebuah pistol jenis q2f sudah berada di tangan lelaki tersebut.
Sadar akan gelagat Zeyan yang masih belum waras, Fabian membuntutinya dari belakang. Kedua orang lelaki bertubuh jangkung tiba-tiba masuk. Fabian menyipitkan matanya karena tidak mengenali dua orang itu dari kejauhan.
Namun detik kemudian Fabian berteriak keras. Zeyan benar-benar melayangkan tembakan berkali-kali lipat hingga jendela-jendela samping dekat pintu bolong-bolong seketika. Lelaki itu sengaja memberikan sambutan kepada ayahnya dengan cara paling istimewa. Zeyan tersenyum tipis melihat raut wajah Noren yang membeku.
“Welcome to the hell my lovely father,” ucap Zeyan menodongkan arah pistolnya ke depan lalu …
Dorr!!
...TBC...
(A/n) Aku ini orangnya suka kekerasan. Jadi mungkin ada sedikit adegan gore/sadis. Tapi karena NT ini gak boleh mendeskripsikan kekerasan yang lebih jelas/membuat pembaca berpikir ke mana-mana atau bahkan sampai ingin mencobanya. So, aku akan merombak alur action and gore yang eksplisit.
Contact me : IG @i_kadewa
semoga makin seru dan tx ad pelakor..!! yaa aku berharap alur di novel ini sedikit berbeda dr novel lainnya..!!🙏
senangnya liat anak muda yg berprestasi...
kutunggu up nya thor....