Di usia kepala tiga dan tak kunjung naik pelaminan membuat Manda merasa resah. Dihantui perasaan takut justru dirinya mulai beranggapan telah terkena sebuah kutukan.
Lantas kesalahan besar apa yang telah Manda perbuat di masa lalu hingga dia punya pikiran seperti itu?
Maka ikuti saja kisahnya...
SQUEL DARI NOVEL SENANDUNG IMPIAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARyanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Lima
"Itu— yang tadi itu Akram?" ucap Marwah menatap tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Kedatangan mereka yang tak sengaja berbarengan di depan sekolah paud menjadikan Marwah tahu wujud dari sosok Akram yang setelah sekian lama tak dilihatnya.
"Hmm," Manda berguman dan mengangguk. Lalu kepalanya menoleh menatap sahabatnya yang mendapati Marwah masih menatap ke arah kepergian Akram yang sebenarnya hanya terlihat bagian belakang mobilnya saja.
"Kenapa— ganteng?" ucap Manda menanggapi sikap Marwah yang terheran-heran.
"Iya," sahut Marwah menoleh pada Manda lalu memainkan alisnya. "Pantas saja, kamu betah tinggal di rumahnya," sindir Marwah menyenggol lengan Manda.
Sikap Manda justru cuek-cuek saja dan terkesan malas untuk menanggapi, lalu beralih meraih lengan Nagita dan Risma untuk masuk ke tempat belajar yang sebentar lagi akan dimulai.
"Eh— tunggu! Buru-buru banget sih?" ujar Marwah yang mengejar Manda.
"Keburu anak-anak telat," sahut Manda yang tetap melanjutkan langkah menggandeng Nagita dan Risma sampai masuk ke dalam kelas untuk mencarikan mereka kursi duduk.
"Duduk dimana Tante?" tanya Risma yang menarik-narik tangan Manda, sebab sudah sampai di dalam kelas Manda justru menghentikan langkah.
"Tante carikan dulu tempat yang bagus. Harusnya sih depan, tapi udah penuh," gumam Manda.
"Gak usah depan juga gak apa-apa, nanti juga diatur lagi sama gurunya," celetuk Marwah yang berdiri di belakang telah menyusul mereka.
"Iya juga sih, berapa murid sih disini?" tanya Manda yang melihat kelas sudah nampak penuh dengan anak-anak seusia Nagita yang juga turut didampingi oleh ibu mereka.
"Sekitar lima belas, termasuk mereka berdua. Gak salah sih kelihatan penuh, soalnya enaknya juga ikutan sekolah," bisik Marwah di akhir kalimatnya.
"Ya juga ya," sahut Manda yang sedikit tersenyum menanggapi.
Lebih dari satu jam berlalu, kelas sudah dimulai dengan perkenalan dari anak-anak murid. Ada yang sudah bisa ditinggal oleh orangtua mereka dan ada pula yang masih harus di dampingi untuk duduk di sampingnya, seperti halnya Manda yang sedari tadi masih menunggui duduk di samping Nagita sebab anak itu belum terbiasa dengan lingkungan umum. Sementara anak dari sahabatnya justru lebih berani karena si Ibu boleh meninggalkannya dan keluar dari kelas.
"Kan sudah ada temannya, Tante tungguin Nagita di luar ya?" ucap Manda yang berjongkok mencoba membujuk Nagita, tapi anak itu menunduk dan menggeleng sebagai ungkapan kalau tak ingin ditinggal.
"Nanti Tante lihat Nagita dari kaca jendela sana. Tante awasi terus ya?" ucap Manda lagi yang menunjuk ke arah jendela kaca yang tak jauh dari tempat duduk Nagita.
Namun yang dilakukan anak itu justru mensidekapkan kedua tangannya di atas meja. Bibirnya mencebik dengan mata yang sudah nampak memerah. Wajahnya terlihat takut-takut dan dapat dipastikan sebentar lagi anak itu akan mengeluarkan tangisan, tapi setelah kepalanya ditenggelamkan pada kedua tangan yang tadi bertumpu di atas meja dan tangis pun pecah.
Astaga! Stok kesabaran Manda memang harus diperbanyak dan mukanya harus dipertebal. Anak itu kini jadi pusat perhatian dan ada guru yang turun tangan membantu Mabda untuk menenangkan Nagita, tapi ya tetap saja sulit dan yang dilakukan Manda hanya bisa memberi penjelasan bahwa anak itu belum terbiasa dan berharap agar orang-orang memaklumi.
Sampai pada jam pelajaran pertama usai, Manda disibukkan dengan menenangkan Nagita. Berada di samping anak itu juga menggendongnya. Kini pada jam istirahat badannya benar-benar merasa pegal.
"Usul siapa sih masukin Nagita kesini? Sebenarnya kalau kamu gak ajak, mungkin anakku gak perlu untuk kesini. Langsung masukin TK kalau umurnya sudah mencukupi," ujar Marwah yang sambil menyuapi makan putrinya.
"Bu Maharani. Dia bilang Nagita biar punya ketrampilan dan mudah bersosialisasi dengan lingkungan umum," jelas Manda yang memegangi kepalanya, pusing.
"Alasan yang cukup masuk akal sih, tapi sebagai pendamping kamu harus banyakin aja sabarnya. Kali aja ke depannya ada hikmah."
Manda menipiskan bibir, melirik ke arah Marwah dengan tatapan malas. Lalu berselang garapannya di arahkan pada Nagita yang memakan sandwhich kesukaannya yang tadi sebelum sampai di sekolahan sempat dibelikan oleh Akram.
"Terus gimana, apa udah ada perkembangan dengan informasi orangtua dari Nagita?" tanya Marwah berbisik begitu pelan.
Manda mengangguk. "Lalu?" tanya Marwah yang terkesan menuntut.
"Dia anak dari Alvina."
"Serius?" Marwah terkejut tak sadar intonasi suaranya meninggi. "Kok bisa ada di Akram? Terus Bapaknya?" Marwah seketika melirik ke arah Nagita.
"Aku belum tahu sepenuhnya, dan yang jelas Akram memang memiliki perasaan pada Alvina. Makanya dia mau dibuat repot mengurus Nagita."
"Seriously?" Marwah membuang napasnya semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. "Lalu statusnya, memang masih lajang kan? Dan apa alasan mau ngurus Nagita karena ingin mengejar cintanya Alvina?"
"Gak, itu gak akan pernah terjadi. Sekali pun Akram mau mengejarnya, aku akan berusaha menghalanginya!" tegas Manda.
Atas ucapan Manda, Marwah dibuat senyum-senyum. "Dasar bucin. Atau memang kamu masih nyimpen dendam sama Alvina di masa lalu? Tahu gak sih, sekali pun kamu menghalangi niat Akram kayaknya kamu bakal kesulitan. Itu buktinya," ujar Marwah mengarahkan sorot matanya pada Nagita.
"Dia udah rela urus anak orang, dan pasti ada pengharapan dong sebagai kata lain pamrih lah," sambung Marwah.
Manda menarik sudut bibirnya. Menyangkal akan hal itu. Bodoh jika Akram tetap memilih Alvina karena dalam tubuh wanita itu sudah bersemayam satu penyakit yang bahkan tak dapat disembuhkan dan terlebih penyakit itu menular sampai mendatangkan kematian. "Kalau memang alasan Akram karena pamrih, mungkin dia udah beneran buta."
"Iya buta. Cinta buta maksudnya, karena ada yang masih perawan tapi milihnya malah yang udah ada buntutnya. Itu namanya kamu IRI, Manda. Hahaha..." sahut Marwah yang malah menertawai Manda.
To Be Continue