Info novel ada di ig syifa_sifana
Kelanjutan dari novel Terpaksa Menikahi Mantan
Niat kembali ke tanah air untuk melanjutkan kuliah, namun malah menguakkan sebuah rahasia besar.
Pertemuan yang tak disengaja membuat mereka saling memusuhi karena sebuah kejadian yang memalukan. Bersumpah tak ingin mengenal malah terjerat sebuah ikatan.
Inilah lika liku sepasang kekasih yang mejilat air ludahnya sendiri.
Bila cinta sudah berbicara, seberapa hebat dan sombongnya kamu maka akan tunduk pada orang yang kamu cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Sifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengutarakan isi hati
Semakin hari kondisi Raka semakin membaik. Setiap hari didampingi oleh Melisa menjadi obat penawaran paling ampuh di dunia. Benar kata orang, kunci sehat itu terletak pada kebahagian. Kini Raka sudah diizinkan untuk pulang. Semua orang berkumpul untuk menjemputnya pulang. Jika dilihat saat ini Raka terus tersenyum karena melihat anak dan istrinya tak beranjak dari sisinya walau hanya sesaat.
Meskipun semua orang terlihat bahagia dan menikmati kebersamaan mereka tapi tidak dengan Marisa dan Velly. Perasaan mereka masih sangat was-was. Mereke mengkhawatirkan posisi mereka dalam kehidupan Raka selanjutnya. Tidak dipungkiri selama Melisa tidak ada di sisi saja, Raka bisa frustasi dan selalu mengingat namanya, apalagi kalau ada di sisi, Raka pasti sudah terus nempel pada Melisa tanpa beranjak sedikitpun.
Talita ingin menebus semua kesalahannya dengan mengundang Melisa dan anak-anaknya kembali ke rumah. Sebuah harapan masih terukir dalam dirinya, ia ingin melihat hari-hari Raka terus bisa tersenyum dengan orang-orang yang dicintainya.
“Kalian tidur di sini ya!” pinta Talita penuh harap.
Semua orang terpelonjak kaget mendengar sebuah permintaan yang belum pernah terdengar sebelumnya.
“Ti ....”
“Iya, Oma,” jawab Mera spontan memotong pembicaraan Melisa. Ia sudah tau Melisa akan menolaknya, tapi ia tidak akan membiarkan kesempatan ini terbuang sia-sia.
“Iihh … Mama kenapa Oma harus membiarkan mereka tinggal di sini? Bikin kesal aja,” decak Velly sebal.
“Hustt ... tenangkan dirimu! Jangan biarkan Oma malah semakin kesal sama kamu!” ujar Marisa memperingatinya.
“Tapi aku kesal, Mama.” Marisa mempelototinya dengan sedikit gelengan kepala. Velly hanya bisa diam dan menikmati pemandangan yang merusak ke dua matanya.
“Sebaiknya Melisa antar Raka ke kamar,” ucap Gunawan. Saling menatap dengan penuh keraguan, akhirnya Melisa memberanikan dirinya untuk menyetujui permintaan Gunawan.
“Dimana kamarmu?” tanya Melisa terlihat seperti tamu di sana.
“Aku masih tinggal di kamar kita yang dulu,” jawab Raka mendongak, menatap wajah Melisa.
Deg ...
Kedua mata Melisa membulat sempurna seiring dengan detak jantungnya. Antara senang dan bingung melebur jadi satu hingga soratan matanya terus menatap ke dua mata Raka dengan penuh keragu-raguan.
“Ayo!” ucap Raka memegang tangan Melisa. Melisa sontak kaget dan mendorong kursi rodanya.
Setiap langkah kaki diiringi dengan rasa galau hingga ia terhenti saat berada di depan kamar pengantinnya. Ribuan kenangan berhamburan di dalam kepala, mengukir sebuah cinta yang belum tertuntaskan selama puluhan tahun lamanya.
“Kenapa Hummy berhenti?” tanyanya dengan suara lembut saat melihat Melisa sudah mematung.
Lamunannya membuyar, Melisa meraih gagang pintu dan perlahan membukanya.
Krek ...
Matanya kembali membelalak saat melihat sebuah kamar yang masih tertata rapi seperti 20 tahun silam tanpa ada perubah sedikitpun. Perlahan Melisa berjalan memasuki kamar itu dan menatap foto pernikahannya yang tergantung di dinding. Air mata seketika keluar dari sela bulu matanya.
“Ada apa?” tanya Raka mendorong kursi rodanya sendiri menghampiri Melisa.
Melisa menghapus air matanya, lalu menatap Raka dengan sedikit senyuman di bibirnya. “Gak ada.”
“Aku sengaja tidak mengubah tatanan kamar ini, karena aku tau suatu saat nanti Hummy pasti akan kembali lagi ke sini,” jawabnya dengan penuh percaya diri.
Melisa sekuat tenaga menahan haru dan bersikap dingin. “Ayo, sini aku bantu!” ucapnya hendak memegang lengan Raka.
Raka meraih tangan Melisa dan meletakkannya di dada. “Kenapa sikapmu selalu berubah-ubah terhadap aku? Salahkah jika aku mengharap istriku bisa kembali berada di sisiku?”
Melisa berusaha stabil dan tidak larut dalam perasaannya. “Kamu harus istirahat,” ucap Melisa melepas tangannya.
“Bolehkah aku tidur ditemani olehmu?” Kalimat syahdu terdengar di telinga menggetarkan hati Melisa membuat pipinya seketika memerah layaknya seperti anak gadis yang sedang jatuh cinta.
Tak ingin menolak, sebuah anggukan menjadi bukti persetujuannya. Dengan semangat Raka bangun dan pindah ke kasurnya.
“Hummy tidak ikut tidur di sampingku juga?” tanya Raka saat melihat Melisa masih duduk di tepi ranjang.
Melisa mendengus kasar, lalu berbaring di samping Raka sesuai dengan permintaan.
“Aku berharap kita bisa terus seperti ini,” ujar Raka menatap wajah Melisa dari jarak yang sangat dekat.
“Bolehkah aku bertanya sesuatu sama kamu?” sorot matanya terlihat serius.
“Tentu. Tanyakan apapun itu, aku pasti akan menjawabnya dengan jujur,” jawab Raka semangat.
“Jika seandainya suatu hari nanti kita gak seperti ini lagi, apa yang kamu−“ Raka langsung menuntup mulut Melisa dengan jari telunjukkannya.
“Jangan katakan itu. Aku mencintaimu dan aku tidak siap jika Hummy harus kembali meninggalkanku untuk kedua kalinya,” ujar Raka seraya memeluk Melisa dengan erat.
Ingin rasanya Melisa terus menangis, tapi rasanya tidak mungkin memperlihatkan sisi rapuhnya pada Raka.
“Jika demi kebahagianku, apa kamu gak mau melepaskanku?” Pertanyaan yang seharusnya tidak terlontarkan dari mulut Melisa, kini harus ikut terucap juga.
“Salahkah jika aku egois untuk terus berada di sisimu?”
“Kamu sudah memiliki dua istri dan aku tidak bisa hidup dengan dimadu. Kamu harus melepaskanku,” ucap Melisa berusaha tegas.
“Lebih baik aku melepaskan Marisa daripada aku harus melepaskanmu lagi,” jawab Raka terdengar egois.
“Kamu sudah menjalankan rumah tangga dengan dia selama 20 tahun dan itu tidak sebanding dengan kisah cinta kita yang terjalin hanya beberapa tahun saja,” timpa Melisa terus mengorek isi hati Raka.
“Aku mencintaimu. Hanya kamu saja. Jika saja aku bisa menahan diriku saat itu, aku pasti tidak akan pernah menyentuh dia walaupun hanya seujung kuku,” sahut Raka dengan cepat.
“Kamu pintar bersilat lidah. Kamu telah banyak menyakiti hatiku. Kamu selalu mempermainkan perasaanku. Dulu Bella, sekarang Marisa, ke depan siapa lagi?” tanyanya menahan pilu.
“Aku tau aku salah. Aku tidak tegas menjadi seorang lelaki. Tapi aku berjanji aku tidak akan mengulangi hal yang sama lagi,” jawabnya dengan sungguh-sungguh.
“Dulu kamu juga berjanji saat kamu menikahiku. Tapi nyatanya kamu melanggar janjimu sendiri. Kamu menyakiti aku untuk kedua kalinya, dan ... pernahkah aku ada dalam hatimu?”
“Aku salah. Terlalu banyak luka yang aku torehkan dalam hatimu. Tapi untuk kali ini aku mohon, katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa percaya sama aku ... Harukah aku membawamu pergi dari sini dan kita memulai kehidupan yang baru dengan anak-anak kita?”
Melisa seketika mematung. Mengoreksi kembali ucapannya yang sudah sangat egois terdengar. “Aku tidak bisa melakukan itu. Bagaimanapun Marisa masih sangat mencintaimu dan Velly membutuhkan keluarga yang lengkap,” ujar Melisa hendak bangun.
Raka menahannya, membuat Melisa kembali berbaring. “Kenapa kamu selalu memikirkan perasaan orang lain? Kenapa kamu tidak pernah memikirkan perasaanku? Kamu tidak pernah tau bagaimana aku melewati hari aku selama 20 tahun tanpa kamu di sisiku,” uajrnya penuh kepiluan.
Melisa kembali terdiam. “Kamu selalu mempertanyakan perasaan kamu. Tapi apakah kamu pernah bertanya bagaimana aku melewati hari-hariku sebagai orangtua tunggal? Kamu selalu egois. Aku benci sama kamu,” ucap Melisa meluapkan emosinya dengan deraian air mata.
Raka tertegun dan memeluk tubuhnya. “Maafkan aku. Aku terlalu egois.”
Itu bersaudara.
panggilan itu, aku tidak bisa melupakannya sampai sekarang.
jika aku merindukannya aku sangat berdosa, tp apa yg harus aku lakukan? maafkan aku tuhan, i really miss him:')