Luna Xaviera, gadis berusia 18 tahun terpaksa harus menikah dengan seorang pria yang tak lain adalah gurunya sendiri Devan Alexander.
Pernikahan yang tanpa di dasari rasa cinta di antara keduanya akankah berakhir dengan bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
Luna ke dapur dan memasak mi instan, karena hanya itu yang tersedia di sana. Devan lupa membeli stok bahan makanan. Sedangkan pembantu mereka hanya datang saat pagi hingga sore hari saja.
''Apa kamu begitu kelaparan hingga tidak bisa menahannya sampai besok?'' tanya Devan mengusap sudut bibir Luna yamg belepotan.
Luna berdecak kesal. Dia kelaparan juga karena ulahnya, yang meminta jatah tanpa melihat situasi dan kondisi. Bahkan mereka melakukannya tidak hanya satu ronde, berkali-kali. Tenaga Devan seakan tidak ada habisnya saat berada di atas Luna tadi. Semakin gadis itu menjerit, maka semakin liar pergerakannya.
''Kenapa melamun, habiskan makanan mu. Setelah itu kamu harus tidur.''
Luna mendengus, pria yang berada di hadapannya kembali memasang wajah datar dan juga dingin. Cepat berubah seperti bunglon. Menyebalkan!
Devan fokus dengan ponselnya dan terlihat senyum-senyum sendiri seperti orang yang tidak waras.
''Apa yang dia tertawa kan?! Dasar aneh!'' gumam nya kesal lalu bangkit dari duduknya.
''Mau kemana?''
''Tidur!'' celetuk Luna ketus.
Devan menggeleng pelan, memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dan mengejar Luna. Tanpa persetujuannya, membopong Luna lalu membawanya masuk ke dalam kamar.
''Aku bisa jalan sendiri, Kak! Lanjutkan saja bermain ponselnya.''
Devan menaikkan satu alisnya.
''Apa? Kenapa menatapku seperti itu?''
Luna memalingkan wajahnya. Mana mungkin Devan mau jujur dengan siapa ia berkirim pesan dan tersenyum beberapa menit lalu.
''Maafkan aku, lain kali aku tidak akan mengacuhkan mu.'' suara dengan nada lembut keluar dari bibir pria itu. Luna tak bergeming. Hanya hati nya menghangat mendengar ucapan suaminya.
Devan membaringkan perlahan Luna ke atas ranjang, ia juga ikut merebahkan dirinya di samping Luna. Namun sebelum itu, Devan memberikan sebuah kecupan di bibir wanitanya.
Cup!
Yang di cium terlihat biasa-biasa saja, tidak kaget dengan perlakuan Devan yang terkadang hangat dan terkadang dingin. Hanya daja jantung nya kali ini berdetak tidak karuan.
''Tidurlah, aku sudah mengantuk,'' ujarnya mati-matian menahan sang adik yang kembali mengeras di bawah sana.
''Kak, besok kan hari libur. Apa boleh aku pergi ke rumah orangtuaku?''
Devan menatap wajah Luna, tumben sekali ia ingin pergi ke rumah orangtuanya. Apa Lucas mengatakan sesuatu pada wanitanya?
''Kenapa tiba-tiba ingin ke sana, hum?'' tanya Devan sembari mengecup punggung Luna. Membuat gadis itu merinding dan geli bersamaan.
''Lucas bilang...'' Luna tidak melanjutkan saat melihat Devan yang kini sudah berada di atas tubuhnya.
''Kakak mau apa?''
''Ada apa dengan lebah sialan itu!''
''Lebah sialan?'' gumam Luna mengernyit bingung. Kakak tirinya yang tampan disamakan dengan lebah?
Oh ayolah jangan bilang kalau Devan cemburu. Tentu saja jawabannya iya! Luna menganggap Lucas saudara, tapi tidak dengan pria itu. Apalagi setelah dengan terang-terangan dirinya datang ke kantor dan meminta Devan melepaskan sang istri.
Benar-benar pria gila!
''Sayang, katakan jangan mengalihkan pembicaraan. Aku nggak suka!" Entah sejak kapan Devan sudah berada di ceruk leher Luna. Menjilat sensual dan memberikan beberapa tanda kepemilikan di sana.
''Eugh...kak Lucas bilang kalau ayah ingin bertemu denganku...'' ucapnya dengan menahan desahaan.
Devan meyeringai. ''Tentu saja boleh kamu boleh pergi, sayang. Kenapa bertanya."
''Kakak nggak marah?''
''Enggak, tapi kamu harus bantu aku buat si Joni tidur.''
''Joni?'' tanya Luna lalu melihat ke mana arah bola mata Devan tertuju. 'Mampus! Kenapa bangunnya cepet banget sih! Dasar burung baperan!' gerutunya dalam hati.
"Sayang, ayo cepat. Si Joni sudah nggak saba," Devan menggigit bibir bawanya seraya mendongak ke atas memejamkan mata menatap langit-langit.
Apalagi saat ini Luna terus bergerak dan tanpa sengaja menggesekkan pahanya menyentuh sang adik.
"Sekarang, Kak?"
"Iya sayang, kita lanjut lagi."
Tak menunggu lama, Luna membalik tubuh suaminya dan mulai memanjakan si Joni yang sejak tadi bergerak ke sana kemari. 'Ck! Untung cinta!' umpat nya dalam hati tapi kemudian memukul bibirnya karena bicara yang tidak-tidak.
...----------------...
To be continued...
ckk.. sok sokan nggak peduli aslinya cemburu