Punya rumah tangga bahagia adalah dambaan setiap orang. Apalagi bagi seorang wanita. Suami dan mertua yang baik adalah anugerah yang tak ternilai harganya.
Seperti itulah harapan Kyara Nawasena. Menikah dengan lelaki yang ia cintai dan mencintainya ternyata tidak menjamin rumah tangganya berjalan mulus.
"Mas, tidakkah kau punya sedikit pun rasa iba kepadaku? Aku ini istrimu, bukan seorang babu!"
"Kalau kau sudah tak mau menuruti semua perintahku, lebih baik kau keluar dari rumah ini! Aku capek dan muak setiap pulang kerja harus mendengar ocehanmu! Kau itu adalah istri yang menyusahkan dan pembangkang!" Doni menghardik Kyara seraya melemparkan bantal ke wajah istrinya.
Kyara tersenyum getir, "Jika aku istri pembangkang, berarti kau adalah suami yang tidak bertanggung jawab!"
"Kyaraaa!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"Mas, kok malah diem? Kamu sanggup kan memberiku mahar mobil lamborghini keluaran terbaru?"
Doni terkesiap, suaranya terdengar gelagapan. "Ah ... itu, Sayang. Eum ... tentu saja aku sanggup."
"Aaa ... makasih, Sayangku." Nayla menjerit di seberang sana.
"Iya, Sayang. Sama-sama." Doni menjawab dengan suara ceria yang dibuat-buat. Hatinya mendadak gundah gulana.
"Aku mau yang warna merah ya, Mas. Terus surat-suratnya atas namaku." Suara Nayla terdengar lagi.
Doni berdeham. "Siap, Cintaku." Ia terpaksa mengatakan hal itu agar Nayla bahagia dan tak marah padanya.
"Oke, Mas. Kalau gitu aku tidur dulu ya. Sampai jumpa besok di kantor." Di akhir ucapannya, Nayla memberikan kiss bye.
Doni duduk termenung di tepi ranjang, jemarinya sibuk mengusap wajah yang terasa panas. Permintaan Nayla masih terngiang jelas di kepalanya, "Lamborghini keluaran terbaru."
Bukan sekadar mahal, tapi nyaris di luar jangkauan logikanya. Ia menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. "Ini bukan mahar ... ini ujian hidup," gumamnya lirih.
Pikirannya mulai berputar. Tabungan? Jauh dari cukup. Aset? Ia tidak punya. Yang ada hanya milik ibunya. Bahkan jika ia menjual beberapa milik ibunya, tetap saja angka itu terasa mustahil untuk dikejar dalam waktu singkat.
Doni bangkit, berjalan mondar-mandir dengan gelisah. "Kenapa Nayla harus meminta mahar semewah itu?" desisnya, setengah frustrasi.
Di satu sisi, ia ingin membuktikan bahwa dirinya mampu. Bahwa ia layak menjadi suami yang bisa memenuhi keinginan istrinya. Tapi di sisi lain, mendadak ia teringat pada permintaan Kyara dulu saat ditanya ingin mahar apa. Wanita yang baru beberapa jam ia ceraikan itu menjawab dengan suara lembut. "Terserah kamu saja. Aku tidak mau memberatkan. Apa pun akan kuterima, asal kamu mampu dan ikhlas."
Doni segera menepis ingatan itu. "Ah, kenapa aku harus mengingat-ingat si Kyara! Dia sudah bukan siapa-siapa lagi dalam hidupku. Dia sudah kuceraikan dan kubuang!"
Namun rasa membandingkan itu tetap ada. "Tenang, Don. Permintaan Nayla dan Kyara jelas berbeda. Karena mereka berdua beda level. Kyara ... dia wanita level terendah, mental babu. Sementara Nayla ... dia wanita berkelas dan berpendidikan, jadi wajar dia minta mahar yang mahal." Ia terus meyakinkan diri. Lalu Doni berhenti melangkah, menatap pantulan dirinya di cermin. "Tapi kalau aku paksakan ... apa aku akan benar-benar sanggup memenuhi keinginan Nayla? Pesta super mewah, dan mahar yang harganya miliaran rupiah?" bisiknya pelan. "Aduh, pusing." Rambutnya ia jambaki pelan.
Sunyi tiba-tiba menyelimuti, otaknya berputar mencari jalan keluar. "Baru saja aku bahagia lepas dari si Kya, eh ... sekarang udah dilanda kebingungan lagi. Gimana caranya aku bisa memenuhi mahar yang diminta Nayla? Dan apakah pernikahanku dan Nayla akan bahagia kalau diawali dengan kebingungan seperti ini?"
Namun tiba-tiba, Doni mengangkat wajahnya, seolah baru saja menemukan jawaban dari kebingungan yang sejak tadi menghantuinya. Keraguan yang sempat muncul perlahan ia tepis begitu saja. Ia menarik napas dalam, lalu mengangguk mantap pada bayangannya sendiri di cermin. "Ah, aku pasti bahagia," ucapnya dengan nada meyakinkan, meski jauh di dalam hatinya masih ada sisa kegelisahan yang belum sepenuhnya hilang. "Dan untuk membeli mahar itu ..." Satu nama langsung terlintas di benaknya, "Aku mau meminjam tabungan Mama saja, atau perhiasannya," gumamnya lega.
Bayangan tentang Lamborghini itu kembali memenuhi pikirannya. Mobil mewah, simbol status, sesuatu yang akan membuat Nayla tersenyum bangga di hari pernikahan mereka. Dan tentu saja, membuat semua orang terkesima.
Doni mulai berjalan mondar-mandir lagi, tapi kali ini dengan langkah yang lebih ringan. "Nanti bayarnya aku cicil pelan-pelan," lanjutnya, mencoba meyakinkan diri sendiri.
Namun, di balik rencana itu, terselip sebuah kenyataan yang tak bisa ia abaikan. Ia tahu betul kondisi keuangan keluarganya. Mamanya memang berkecukupan, tapi bukan berarti bisa dengan mudah mengeluarkan uang dalam jumlah fantastis hanya untuk sebuah mahar.
Doni berhenti melangkah. Alisnya sedikit berkerut. "Tapi ... apa Mama bakal setuju?" bisiknya ragu. Ia teringat bagaimana mamanya selalu berkata bahwa tabungan yang dia punya adalah untuk membangun cabang rumah makan baru.
"Mama mau buat cabang baru "Suka Rasa" supaya penghasilan kita semakin bertambah, dan ... semua orang makin tahu bahwa kita adalah orang kaya raya," begitulah kata ibunya.
Sesaat, hatinya kembali goyah. Tapi lagi-lagi, bayangan wajah Nayla yang tersenyum membuatnya menguatkan tekad. "Ini demi masa depanku, demi pernikahanku," ucapnya tegas, seolah sedang membela keputusannya sendiri. "Nayla itu wanita karier, punya penghasilan dan asetnya juga pasti banyak. Jadi, kalau aku nanti kewalahan mengganti tabungan Mama ... aku bisa meminjam dulu sama dia." Senyum tipis terbit di wajahnya.
Ia pun duduk kembali di tepi ranjang, mulai menyusun kata-kata di dalam kepala. Ia harus berbicara dengan hati-hati, mencari cara agar mamanya tidak langsung menolak. "Mama pasti ngasih pinjam. Mama kan selalu ingin melihatku bahagia, dan Nayla juga adalah menantu idaman Mama. Nggak kayak si Kya!" lanjutnya, mencoba mencari pembenaran.
Dengan keyakinan yang setengah dipaksakan, Doni akhirnya turun ke lantai satu dengan langkah tergesa, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Pikirannya masih dipenuhi rencana yang tadi ia susun, meski di dalam dada ada rasa tidak tenang yang terus mengusik. Ia berhenti di depan pintu kamar ibunya, lalu mengetuk pelan.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Hesti berdiri di sana dengan wajah sedikit heran. "Ada apa, Don?" tanyanya singkat.
Doni menelan ludah. "Ma, aku mau bicara. Penting banget."
"Masuk!" Hesti membuka pintu lebih lebar. "Buruan ngomong, Mama mau tidur."
Doni masuk dan langsung duduk di kursi dekat meja rias. Ia tampak gelisah, tangannya saling meremas. Hesti memperhatikannya dengan tatapan tajam, sudah hafal betul kalau anaknya sedang menyimpan sesuatu yang besar. "Kenapa? Jangan muter-muter. Mama capek udah pura-pura sedih dan nangis di depan para tetangga," ujar Hesti, mulai tidak sabar.
Doni menarik napas panjang. "Ma ... aku kan barusan ngasih tahu Nayla kalau aku sudah menceraikan Kyara. Nah, terus Nayla seneng banget. Dia minta agar aku segera menikahinya, tapi ..." Ia menggigit bibir, menjeda ucapan.
"Tapi apa?" Hesti mendesak cepat.
Doni menunduk sejenak, lalu berkata pelan, "Nayla pengen pernikahan yang mewah, menakjubkan dan semua harus sempurna."
Hesti mengangkat alis. "Ya sudah. Penuhi saja. Toh uang kita banyak." Ia berkata dengan jumawa.
Doni kembali menghela napas, kali ini lebih berat. "Tapi bukan cuma itu, Ma."
Hesti mengerutkan kening. "Terus apa lagi?"
Doni memejamkan mata sebentar, lalu memberanikan diri. "Dia minta mahar mobil Lamborghini keluaran terbaru."
"Apa?!" seru Hesti tiba-tiba, matanya membelalak lebar.
Doni tersentak, tapi tetap berusaha tenang. "Ma, ten-"
"Lamborghini?!" potong Hesti lagi dengan nada tinggi. "Keluaran terbaru?!" Mata wanita berambut sedikit ikal itu nyaris loncat dari tempatnya.
hehehehe tertawa jahat 🤭🤭🤭