Rate 21+ 🔥🔥🔥
Bijaklah dalam memilih bacaan, cerita ini mengandung unsur dewasa.
Apa jadinya jika wanita yang selama ini kau cinta adalah anak dari seorang pria yang pernah menjadi dalang atas kematian kedua orang tuamu. begitulah yang terjadi pada Lionel Muller, seorang Mafia dan CEO di salah satu perusahaan terbesar di Amerika. Ia dipertemukan dengan wanita yang memiliki senyum indah serta lesung pipi di salah satu wajahnya, dia adalah Euginia Irene Gantari, putri angkat dari Tuan Mahesa Gantari.
Setelah mereka menjalin hubungan kurang lebih 5 tahun, akhirnya Lionel dan Irene memutuskan untuk menikah.
Tak disangka, di hari pernikahan mereka, Lion menemukan fakta, jika wanita yang saat ini ia nikahi adalah putri dari seorang yang pernah membantai seluruh keluarganya.
Apakah Lion akan meneruskan pernikahannya? Atau malah membalas dendam pada Irene, wanita yang selama ini ia cintai sepenuh hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putriyani Mursalim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35. DI HAJAR PREMAN
"Bagaimana, dad," tanya Sonia saat Mahesa masuk ke dalam mansion.
Mahesa mengeleng"Maaf, mom. Tidak ada satupun pengacara yang mau membantu kita," balas Mahesa.
Ia mendudukkan tubuhnya di kursi, lalu menyandarkan punggungnya ke belakang, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Seharian ini ia mendatangi semua kantor pengacara yang ada di Singapura. Namun, tak ada satupun yang mau membantunya.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang, ded. Mommy tidak mau jika harus kehilangan putri kita,"Sonia kembali menangis.
"Nanti aku akan ke kantor kementerian luar negeri, semoga bapak menteri bersedia membantu kita menyelamatkan Iren dari mansion Lion." Ucap Mahesa, ia lalu merengkuh tubuh istrinya dan membawanya ke dalam dekapannya lalu berbisik." Kau harus sabar, aku akan terus berusaha mencari cara agar putri kita kembali.
Nyonya Sonia mengangguk setelah mendengar bisikan suaminya.
***
Cinta dan ikatan Mustahil dimiliki, begitulah Rey berpikir. sejak dulu ia menyukai Iren. Namun, berkali-kali berpikir untuk mendapatkannya. Dia kembali memikirkan keberadaannya yang berstatus sebagai seorang kakak di mata Iren.
Kesibukan Nya di kantor, tidak memberikan Rey kesempatan untuk tidak memikirkan Iren. Setiap kali ia membaca laporan perusahaan, wajah iren terus muncul dalam bayangannya. Bahkan beberapa karyawan mengeluh saat keluar dari dalam ruangan Rey. Mereka mendapatkan kemarahan dari atasannya padahal laporan Yang mereka bawa Semuanya benar.
Rey meremas kepalanya, saat ia berjalan di trotoar. Sesekali terlihat ia menendang kerikil kecil yang tergeletak di atas batu paving yang menghiasi sepanjang trotoar. Ia berjalan tak tentu arah, padahal waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Lampu jalan yang berkedip kedip serta bisingnya kendaraan yang melintas dari arah yang berlawanan, tak membuatnya terganggu. Pikirannya hanya tertuju pada satu objek yaitu Iren. Saat ia sibuk dengan lamunannya terlihat seseorang berjalan dari arah berlawanan. Tepat saat ia berada di samping Rey, tangannya Seketika menarik dompet yang ada di saku celana belakang rey. Orang itu kemudian berlari cepat. Menyadari itu semua, Rey lalu berbalik dan mengejar orang itu. Tepat saat berada di lorong yang sempit, beberapa kawan dari copet itu keluar, kemudian mengepung Rey dari segala arah, menyadari Rey yang hanya sendiri sedangkan orang-orang di depannya lebih dari sepuluh, ia bergerak mundur. Namun, saat ia bergerak mundur, Rey menabrak salah satu di antara mereka. Untuk melindungi dirinya, dengan terpaksa, Rey berusaha melawan.
"Kembali dompetku," ucap Rey pada segerombolan orang di depan.
"Kau mau ini?," orang yang tadi mencopet dompet Rey memperlihatkan dompet yang ia pegang, sambil menggantungkan di Depan, Rey.
Rey ingin meraih dompetnya, namun preman itu menarik jauh tangannya." Tidak semudah itu tuan!" Ucap preman itu, semua preman itu seketika mengejek serta menertawai Rey. Hingga emosi Rey memuncak, ia lalu menghajar pria gempal yang ada di depannya secara brutal.
Melihat temannya di hajar secara brutal, mereka lalu maju dan bergantian menghajar Rey.
Tubuh Rey terhuyung ke aspal, penglihatannya memburam. Darah segar akibat pukulan mengalir keluar dari pelipisnya. Tepat saat salah satu anggota preman itu akan menghajarnya kembali, seseorang dari atap gedung meloncat turun. Ia menendang kaki preman yang akan menginjak tubuh Rey.
" Apa yang kalian lakukan! jangan jadi pengecut dengan mengeroyok orang yang sudah tidak bertenaga. kalau kalian mau, ayo satu lawan satu," ucap orang itu.
Salah satu preman itu Tertawa nyaring," apa aku tidak salah dengar? Kau akan melawan kami dengan tubuh kurusmu itu?" Preman itu Tertawa melihat tubuh kurus di depannya.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak. 😊😊😊