Rere benci Bian, menurut Rere Bian juga sama. Mereka sudah jadi musuh bebuyutan sejak masa SMA! Namun sepulangnya Rere dari Singpura setelah mengantar Neneknya berobat, tiba-tiba dia mendapat informasi bahwa pernikahannya dengan Bian akan berlangsung 2 minggu lagi!
Tunggu, tunggu!
Apa-apaan ini, masa nikah sama musuh sendiri sih?!
NGGAK MAUUUUU!! - Regita Pratiwi (Rere)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon icha azzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NTM : 3.5
Sudah satu jam lebih aku berada di sini. Tapi perasaan nggak nyaman itu pun tak kunjung padam. Meski di sekelilingku terdengar haha-hihi menggema meramaikan suasana, aku tetap saja nggak bisa berpaling dari suasana hatiku yang buruk karena dirinya.
Iya, siapa lagi. One and only. Hanya Fabian Samudra seorang!
"Rere!"
Suara panggilan yang menyentak cukup membuatku terkejut. Aku tersentak kala menoleh ke sumber suara. Sementara Tante Wina terlihat memasang senyum manisnya kepadaku. Yang mau tak mau tentu harus kubalas dengan senyuman yang serupa.
"Iya, Tante?" Aku tersenyum, manis. Bahkan mataku pun rasanya ikut melengkung saking manisnya senyumku ini. Aku lantas berderap menghampirinya meski tanpa dipinta. "Kenapa, Tant??" Tanyaku lagi.
Namun sesampainya aku di sebelah beliau, bukannya jawaban yang datang menyambutku melainkan sebuah tepukan tajam menghampiri lenganku. Dan, kontan saja diriku otomatis mengaduh karenanya (meski di dalam hati).
"Ish, kamu ini! Kapan dong kamu panggil Mami?! Nggak ada seminggu lagi loh kalian menikah!" Seru beliau menggebu.
Aku nyengir. Merasa serba salah di hati. Meski sebetulnya aku nggak merasa keberatan dengan hal itu--maksudku, memanggil Tante Wina sebagai Mami--tetapi bila mengingat putranya adalah Fabian Samudra, rasa-rasanya lidah ini kelu otomatis.
"Mulai hari ini dicoba ya! Anggap aja latihan dulu sebelum SAH beneran! Oke?!" Mata Tante Wina pun seketika berbinar menatapku. Hal yang membuatku nggak bisa untuk menolak pintanya.
Aku mengangguk. Pada akhirnya, aku setuju dengan bujuk rayu beliau.
"Oke.... Mami," aku tersenyum kaku. Sedangkan Tante Wina, ah bukan... maksudku, Mami. Iya, Mami tampak berseri-seri senang mendengar jawabanku.
Ketulusannya itu lantas membuat kekakuanku memudar. Ternyata ada hal yang bisa aku syukuri atas pernikahan "paksa" ini. Setidaknya, aku dianugrahi calon mertua yang amat baik seperti halnya beliau ini.
Krieeett...
Suara derit pintu terbuka itu pun langsung membuyarkan pikiranku. Begitu diriku menoleh, aku lantas mengernyit melihatnya berdiri dengan balutan jas putih gading di sana.
"Mi, kayaknya lengannya jadi tambah kebesaran ya?" Komentarnya sembari memegangi lengan jas yang sedang dipakainya dengan tatapan fokus.
Mami lantas berderap menghampirinya. Turut memegang bagian lengan itu, memastikan bahwa pernyataannya putranya itu memang benar adanya.
"Eh, iya loh??" Gumam Mami dengan dahi berkerut. Lalu, ditatapnya putra semata wayangnya itu lekat-lakat. "Kok kamu malah makin kurus sih, Bian??"
"He? Ah, yang bener Tante??! Masa iya, Fabian tambah kurus??" Itu suara Mbak Citra yang tiba-tiba ikut nimbrung entah dari mana.
Mami pun mengangguk. Mbak Citra pun ikut serta memastikan, meraba lengan jas yang sudah dianggap kebesaran.
"Wahh..." gusar Mbak Citra. Dia pun melirik Bian yang ada di hadapannya. "Hei, Yan, kamu stress yaa pernikahannya makin dekat?"
"Jangan banyak pikiran, Bian..." Ibu tiba-tiba berbicara dari arah belakang. Berderap mendekati kami, yang akhirnya membuat genap semua orang di ruangan ini berkumpul tepat di satu tempat. "Semua persiapan sudah lancar kok. Nggak perlu ada yang dipikirkan. Tugas kamu itu hanya perlu makan yang banyak juga olahraga dan istirahat aja yang cukup biar tetap fit sampai hari H nanti!"
"Ada yang ketinggalan, Bu, satu lagi!" Ujar Mbak Citra menimpali. Membuat Ibu mengernyit seketika. "Menghapal ijab qobul biar bisa diucap satu tarikan napas! Hehe..."
Bian tertawa kecil mendengarnya. Dari pandanganku, entah mengapa senyumannya kali ini terlihat tulus dari biasanya. Mungkin karena bukan aku yang bicara, entah lah. Pikiranku buruk saja kalau menyangkut soal dia.
"Pasti, Mbak, nggak perlu khawatir. Kalau soal itu... Fabian Samudra nggak akan mengecewakan kok!" Jawabnya berseloroh.
Sementara aku memalingkan muka dari mereka. Beranjak duduk di atas sofa yang sedari tadi kosong tak ditempati.
Mami lantas memberi instruksi pada pemilik butik untuk membuat pakaian sesuai pas ukuran kami sekarang. Oh, ya, sementara ukuran Bian menjadi kebesaran anehnya ukuranku malah menjadi kekecilan. Lucu bin ajaib rasanya mendapati kenyataan itu yang berbanding terbalik. Aku yang menggendut, sedangkan Bian yang malah menkurus.
Sebenarnya, dari kenyataan itu ada hal lain yang aku pikirkan. Tentang kenyataan Fabian yang berat badannya menurun... sebenarnya apa sih yang sedang dia pikirkan? Apa benar dia stress dengan pernikahan ini? Jika begitu, artinya... apa dia juga sebetulnya nggak ingin kami menikah sama halnya sepertiku??
Seketika pikiranku bercabang banyak. Aku merasa agak bersalah rasanya. Ternyata aku memang masih egois. Bahkan, aku sampai nggak punya pikiran bahwa bisa saja bukan hanya aku yang menderita di sini. Tapi juga dia.
______________________
P.S :
Tulisan "NTM : X.X" artinya SUDAH REVISI
sedangkan "BAB X.X" artinya BELUM REVISI