Takdir membawa ku dalam keadaan ini, setelah suami ku mas Arend meninggal dunia, aku menikah lagi dengan adik kembar mas Arend, yaitu Arick.
✍🏻 revisi typo dan pemberian judul bab 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Lila menangis dalam diam, dengan pikiran yang kacau ia kembali memasuki taksinya tadi.
"Jalan Pak," ucap Lila dengan suara serak. Menahan tangis agar tidak membuncah ke udara.
Tangan Lila terus terkepal sedangkan matanya menatap jalanan kota. Ingatannya kembali pada beberapa waktu lalu saat semuanya terasa indah.
Mas Arend.
Bagi Lila Arend adalah penyelamat hidupnya, dulu Lila bukanlah siapa-siapa. Hanya gadis kampung tamatan SMA. Namun berkat kebaikan Arend, ia diberi kesempatan untuk menunjukkan diri, menunjukkan kemampuannya dalam dunia kerja.
Hingga kini ia punya nama, disegani orang kampung dan selalu di puji-puji, 'Lila sudah sukses'.
Lila sadar, bukan hanya dia seorang yang mendapat bantuan Arend. Pemuda-pemuda lainnya pun mendapatkan perlakuan yang sama.
Tapi Lila bisa apa? Jika cinta tak bisa memilih dan berlabuh kemanapun yang ia mau. Begitulah cinta Lila pada Arend.
Kebersamaan yang mereka lalui tanpa sadar memupuk rasa Lila, mulai dari mengagumi, kemudian mencintai dan terakhir ingin memiliki. Tidak peduli meskipun Arend sudah memiliki istri dan bahkan sebentar lagi akan memiliki seorang anak.
Namun sekeras apapun Lila berusaha untuk mendekati Arend, semakin menjauh pula Arend dari jangkaunnya. Arend hanya terus mengingat Jihan Jihan Jihan dan Jihan.
Aku membencimu Jihan.
Semuanya memanglah hanya kebohongan, semua memanglah hanya rekayasa. Saat mengetahui Arend meninggal, hati Lila sangat sakit. Begitu sakit mengetahui cintanya telah tiada, sedangkan rasa ini ingin sekali tersalurkan.
Terlebih ketika sang ayah dan ibu menjelaskan, jika yang berkunjung tadi bukanlah Arend melainkan Arick, suami Jihan yang baru.
"Aa!" Lila berteriak, mengacak rambutnya frustasi. Ketika taksi itu berhenti, ia langsung membayarnya dan bergegas masuk ke dalam rumah
Arend ataupun Arick itu sama saja, lalu kenapa selalu Jihan yang mendapatkannya?
Hari sudah semakin larut, malam datang dan Lila mulai dihantui kesepian. Ia berbaring diatas ranjangnya dengan pikiran kosong.
"Besok aku akan menemui mas, aku akan memaksamu untuk segera menikahiku, jika tidak aku akan memberi tahu Jihan tentang foto ini," gumam Lila pelan, dilihatnya selembar foto yang sudah berhasil ia cetak, hanya tersisa 1 foto inilah yang bisa ia gunakan untuk mendapatkan Arick.
Lila kemudian memeluk foto itu erat, sebagai pengantar agar malam ini ia bisa tertidur nyenyak dan bermimpi indah.
...****************...
POV JIHAN
Ternyata malam ini mas Arick benar-benar lembur, hingga jam 9 malam mas Arick belum juga pulang.
Aku sangat rindu, meski mas Arick berulang kali mengirimi aku pesan tetap saja tidak bisa mengikis rasa rinduku ini.
Sambil menunggu mas Arick, aku memutuskan untuk membaca buku tentang nabi-nabi, agar aku kembali mengingat kisah mereka dan kelak akan ceritakan pada Zayn.
Tok tok tok
Baru sebentar aku membaca buku ini, pintu kamarku diketuk, oleh siapa lagi kalau bukan mbak Puji.
Aku bangkit dari dudukku dan mulai membuka pintu.
"Ada apa Mbak?" tanyaku pada mbak Puji yang sudah terlihat sangat mengantuk.
"Mbak Ji, saya ngantuk sekali, tadi saja saya ketiduran saat nonton TV. Saya tidur dulu ya Mbak, Mbak tidak apa-apa kan menunggu mas Arick sendirian?" tanyanya dan aku tersenyum. Tadi mbak Puji memang habis menyetrika, wajar saja jika beliau kelelahan.
"Iya Mbak, saya akan tunggu mas Arick. Mbak Puji tidur saja dulu."
Ku lihat kini mbak Puji yang tersenyum.
"Terima kasih Mbak." Jawabnya dan aku mengangguk.
Selepas kepergian mbak Puji aku kembali duduk di kursi menyusui, memperhatikan Zayn sejenak dan kembali membaca buku.
...****************...
POV ARICK
Berulang kali aku menguap dan mengusap wajahku kasar. Saat ini aku sedang menyetir mobil berniat untuk pulang. Sehabis dari kantor, aku memutuskam untuk menemui papa Mardi. Meminta beliau untuk menjemput pak Hamid besok pagi dan langsung ke kantor polisi. Melihat secara langsung rekam medis Lila.
Ku lirik jam di pergelangan tanganku, jam 10 malam.
Lagi-lagi aku menguap.
Ya Allah, aku benar-benar lelah.
Tak berselang lama, aku sampai dirumah. Aku menekan bell rumah, Jihan melarangku untuk membawa kunci rumah sendiri. Dia bilang, dia akan selalu menungguku.
Ceklek!
Pintu terbuka dan aku langsung disambut oleh senyum dan juga pelukan hangatnya. Aku membalas pelukan Jihan itu, aku juga menciumi pucuk kepalanya. Aku sangat rindu.
Cukup lama kami berpelukan, rasanya tidak pernah puas. Berkat pelukan Jihan ini, rasa lelahku yang sedari tadi bergelayut di pundak, kini entah hilang kemana.
"Hehe, malah disini terus, ayo Mas masuk," ajak Jihan, melihat senyumnya itu akupun ikut tersenyum juga.
Benar-benar senyum yang menenangkan.
Kami kemudian masuk dengan Jihan memeluk lenganku erat.
Sampai di dalam kamar, Jihan langsung membimbingku untuk mandi menggunakan air hangat. Ketika aku selesai mandi, Jihan sudah menyiapkan teh hangat untuk ku, juga sepotong roti diatas piring.
"Aku tadi sudah makan malam sayang," ucapku pelan sambil menarik tangannya untuk duduk dipangkuanku.
Jihan menggantungkan satu tangannya dileherku, kemudian tangan yang lainnya mengelus kepala ku dengan sayang.
Tatapan kami terkunci, penuh damba.
Lambat laun Jihan mendekat, ku dengar suaranya lirih mengucapkan sesuatu.
"Aku merindukanmu Mas."
Nafasnya hangat menyapu wajahku.
"Aku lebih merindukanmu Ji."
Aku mengecup bibirnya pelan, kemudian menyesapnya secara bergantian atas dan bawah dengan tempo yang pas.
Jihan merubah posisi duduknya hingga kedua kakinya melingkar diseluruh tubuhku. Aku menarik dan memeluk pinggangnya erat.
Tidak peduli meski waktu sudah menunjukkan tengah malam, kami saling merindu dan mendamba satu sama lain. Di atas sofa kamar ini kami menyatu.
Jihah terjatuh diatas pelukanku ketika kami baru saja mendapatkan pelepasan pertama.
"Aku mencintaimu Mas," ucap Jihan tepat ditelingaku.
"Aku lebih mencintaimu Ji," jawabku jujur. Aku sangat mencintai Jihan.
...****************...
POV AUTHOR
Pagi ini Mardi menjemput kedatangan Hamid di bandara. Tanpa mengulur-ngulur waktu, kedua pria paruh baya itu langsung bergegas ke kantor polisi.
Semakin cepat mengetahui kebenarannya maka semakin bagus untuk semua orang, itulah yang ada dipikiran keduanya.
Jam 10 pagi Mardi dan Hamid sudah melihat rekam medis Lila.
Lila hanya mengalami pergeseran tulang pada kakinya dan beberapa lebam akibat benturan, namun ia tidak pernah mengalami pelecehan seperti yang selalu Lila eluh-eluhkan. Lila tidak disentuh oleh siapapun.
"Alhamdulilah," lirih Hamid. Sejak awal ia memang sudah yakin jika anaknya hanya berbohong, hingga kini anaknya masih suci dan orang yang sangat ia hormati, Arend tidak pernah mengecewakannya.
"Alhamdulilah," syukur Mardi, ia tahu anaknya Arend tidak mungkin melakukan hal bejat itu dan menghianati sang istri Jihan.
"Maafkan Lila Pak," Hamid memohon maaf kepada Mardi, wajahnya tertunduk menahan malu. Selama ini Arend sudah sangat banyak membantu keluarganya dan kini malah Lila memfitnahnya dengan begitu tega.
Mardi menepuk pundak Hamid pelan.
"Maafkan Arend juga Pak, mungkin selama ini tanpa sadar ia sudah memancing hasrat Lila, hingga Lila berbuat nekad seperti ini." Mardi telah ihklas menerima semuanya, mengetahui jika Arend tidak pernah menyentuh Lila membuat hatinya lega, bebannya sudah hilang dan dia tidak ingin memperpanjang masalah. Selama ini pun Hamid sangat baik, ia tidak mau karena kesalahan Lila ia menjadi musuh dengan Hamid.
"Terima kasih Pak, anda benar-benar bermurah hati dengan keluarga kami." Hamid tak mampu lagi menahan air matanya, benar-benar semakin merasa bersalah ketika mengetahui kemurahan hati Mardi.
"Sudah Pak, jangan merasa bersalah lagi. Sebaiknya sekarang kita temui Arick dan menjelaskan semuanya. Kita juga harus menemui Lila dan menghentikan ini semua. Saya tidak ingin menantu saya Jihan sampai mengetahui masalah ini Pak."
Hamid mengangguk, dengan buru-buru ia menghapus air matanya sendiri.
Jam 12 siang, Mardi dan Hamid mendatangi kantor Arick. Mardi menjelaskan semua yang ia tahu di kantor polisi tadi.
Alhamdulilah, terima kasih ya Allah. Syukur Arick ketika telah selesai mendengarkan semua cerita.
Tanpa mereka semua sadari, jika sedari tadi Lila mendengar semua pembicaraan di dalam ruangan itu. Lila mengepalkan tangannya kuat, hingga kuku-kukunya memutih.
Niat hati ingin meminta agar Arick menikahinya namun malah ia melihat sang ayah yang membantu Arick untuk membongkar semua kebohongannya.
Lila tidak terima, dengan api amarah yang sudah menyala-nyala ia meninggalkan kantor Arick.
"Jas! sini cepet!" Selena setengah berteriak, ia bahkan menarik Jasmin untuk segera ke lobby hotel.
"Itu Lila kan? mau apa dia kesini? terus kenapa dia seperti marah seperti itu?" Tanya Selena bertubi.
Jasmin langsung terdiam dan berpikir keras, entah kenapa kakinya bergerak mengikuti langkah Lila yang sedikit berlari.
"Jas mau kemana?" Tanya Selena, ia pun mengikuti langkah Jasmin yang mulai meninggalkan hotel.
"Kita ikuti bedebah itu, entah kenapa perasaanku tidak enak." Akhirnya Jasmin buka suara, ia meminta Selena untuk memperhatikan kepergian Lila dan ia sendiri berlari menuju basement hotel, mengambil mobilnya dan memacu dengan cepat.
Jangan sampai Lila hilang.
Untunglah, nasib baik masih berpihak pada kedua gadis ini. Kini mereka kembali mengikuti kemana Lila akan pergi.
"Coba telepon Arick, tanyakan apa ia bertemu dengan Lila?"
Selena menurut, ucapan Jasmin sudah seperti komando untuknya.
"Aku tidak bertemu dengan Lila," jawab Arick, Selena dan Jasmin langsung saling pandang.
Mereka terus bertukar cerita dan menghubungkan antara yang satu dengan yang lainnya.
"Rick, ku rasa Lila ingin menemui Jihan, arah mobilnya menuju rumah mu," ucap Jasmin dengan takut-takut.
"Tidak Jas! jangan sampai itu terjadi. Aku mohon hentikan dia, aku akan menyusulmu."
Panggilan itu terputus, meninggalkan kecemasan untuk semua orang. Jasmin semakin cepat memacu mobilnya, mencari celah agar bisa menghentikan Lila.
☘
☘
☘
Senin waktunya Vote, ayo Vote Jasmin 💪💪 like dan komennya jangan lupa, wkwkwk 😅