SEASON 6!
*Diwajibkan melihat seluruh deskrip, sebelum baca, ehe ^^
SINOPSIS:
Dennis dan teman-temannya pergi mengunjungi kampung halaman Mizuki sekaligus ingin berlibur di sana. Tak jauh dari rumah Mizuki, mereka menemukan rumah kecil di dalam hutan yang sudah tidak ditempati dan terdapat banyak bunga Lycoris Radiata, atau yang sering disebut oleh orang Jepang sebagai bunga Higanbana.
Bunga itu terlihat indah. Tapi yang membuat heran adalah kenapa bunga itu bisa mekar sebelum waktunya?
Tak hanya itu, salah satu dari mereka tiba-tiba jatuh sakit dan mulai saat itu, kematian aneh yang diakibatkan oleh bunga tersebut kembali bermunculan dan meneror satu desa. Bunga tersebut memang memiliki makna kematian, tapi tidak sebenarnya bisa menyebabkan kematian ketika menyentuhnya. Sebenarnya apa yang terjadi pada bunga tersebut?
=============================
GENRE LENGKAP: Horor, misteri, supranatural, teen, romance, gore, action
COVER: ORIGINAL BUATAN AUTHOR!
JADWAL UPDATE: SETIAP HARI!! (Kalau up-nya bolong", positif thinking aja authornya sibuk ya :v)
[ PERINGATAN! Novel ini mengandung unsur kekerasan, pertumpahan darah, pembunuhan yang berlebih (gore). Yang tidak nyaman dengan hal itu, disarankan untuk membaca novel lain. ]
IG: @pipit_otosaka8
Terima kasih telah mampir ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pipit Otosaka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34– Gejala Higanbana
Hdeh ... tsukareta. Untung last season. Pengen buru" pen–
dah lah lanjut aja
*
*
*
Saat Dennis dan yang lainnya kembali membawa Natsuki yang terluka, Mizuki keluar dari kamar. Yang ia cari adalah Akihiro karena wanita itu sangat mengkhawatirkannya. Tapi ternyata Akihiro tidak pulang dan pencarian tadi, mereka hanya menemukan Natsuki saja.
Setelah mendengar cerita Natsuki tentang keadaan Akihiro, Mizuki langsung bersedih. Tentu ia tidak percaya kalau Akihiro telah mati oleh makhluk itu. Dia yakin kalau suaminya masih bertahan hidup di luar sana. Makanya untuk besok, Mizuki ingin ikut pergi bersama semuanya untuk mencari Akihiro di hutan.
Rei mengangguk. Jadi untuk besok pagi, mereka semua akan membantu Mizuki mencari Akihiro yang hilang. Termasuk orang tuanya Mizuki juga yang akan meminta bantuan penduduk sekitar agar lebih cepat.
Namun hal itu malah membuat Natsuki cemas karena ia tidak ingin tubuh Akihiro yang sudah ia bunuh itu ditemukan. Bisa-bisa kejahatannya akan terbongkar dan Mizuki akan benci padanya dan ia gagal mendapatkan hatinya.
"Bagaimana pun caranya, mereka tidak boleh menemukan anak itu!"
"Oniichan. Ayo aku akan mengobatimu."
Natsuki tersentak. Ia sudah melihat wajah Mizuki dekat dengannya. Rasanya ingin sekali mengecup bibir Mizuki dengan sadar. Karena biasanya, sebelum Mizuki nikah, Natsuki suka diam-diam mencium pipi Mizuki. Tapi ia tetap harus mendapat rasa sakitnya karena kadang dalam tidur, Mizuki suka mengigau gak jelas. Tersentuh dikit saja, tangannya langsung melayang untuk memukul orang di dekatnya.
"Setidaknya, setelah aku resmi dengan Mizuki, aku bisa bebas menciumnya tanpa kena pukulan lagi, kan?" batin Natsuki. Tanpa sadar ia menyentuh pipinya yang dulu sering kena pukul Mizuki. Lalu tak lama, tangannya yang masih menyentuh pipinya itu disentuh oleh tangan Mizuki.
"Oniichan merasa sakit kah di bagian sini?" tanya Mizuki dengan lirih. Lalu ia membawa Natsuki ke kamarnya untuk ia obati. Dengan senang hati, Natsuki akan ikut dengan Mizuki. Sisah yang lainnya sedang berkumpul di ruang tamu.
Setelah duduk pun, Dennis masih merasa cemas dengan Akihiro. Rasanya ingin sekali kembali ke hutan untuk mencari temannya. "Ya Tuhan, semoga dia baik-baik saja."
"Apa kalian merasa ada yang janggal?" tanya Yuni tiba-tiba. Mungkin sekarang lah waktunya untuk ia mulai banyak bicara setelah lama mengamati orang-orang yang mencurigakan.
"Apanya?" Cahya heran.
"Hmm ... aku tidak percaya dengan cerita Natsuki." Rei bersandar di sofa, lalu melipat tangannya ke depan dan mengangguk-angguk kecil sambil memejamkan mata.
"Eh? Kenapa, kak Rei?" tanya Dennis. Tapi sebelum Rei menjawab, tiba-tiba Yuka datang untuk mengajak Dennis belajar bersama dengannya lagi. Karena menurut anak itu, Dennis orang yang menyenangkan untuknya.
Dennis pun menurut. Tapi ia ingin belajarnya di ruang tamu saja agar dirinya bisa mendengarkan perbincangan teman-temannya. Kalau begitu, Yuka akan ke kamar untuk mengambil buku-bukunya.
"Apa kau tidak mencurigai sesuatu?" tanya Rei balik. Mereka yang masih belum paham pun hanya menggeleng. Rei menghela napas lalu melanjutkan. "Saat sore hari, aku tanya orang tuanya Mizuki. Mereka melihat Akihiro terakhir kali di toko. Saat itu Akihiro sedang mencari Natsuki dan ibunya pun memberitahu kalau Natsuki suka berada di hutan itu.
"Saat kita menemukan Natsuki di hutan, dia cerita kalau ada makhluk berbahaya yang menyerang dirinya dan Akihiro yang sebelumnya juga ada di dekatnya. Sepertinya ceritanya itu hanyalah karangan untuk menutupi sesuatu.
"Lagipula ... luka di wajahnya itu adalah lebam karena bekas pukulan dan bukan serangan hewan buas. Bagaimana menurut kalian?"
"Emm ..." Dennis mulai memainkan ujung rambutnya karena ia sedang berpikir. "Natsuki berbohong soal cerita itu. Lalu luka lebam di wajahnya itu bukan dari binatang buas. Itu artinya ... Natsuki habis berkelahi dengan seseorang?"
"Jadi dia saat di hutan itu habis berkelahi dengan Dian, dong?" Cahya menjawab. Tapi ia juga masih ragu.
"Tapi ... di mana Dian sekarang setelah berkelahi dengan Natsuki?" tanya Rashino.
"Dia dibunuh." Jawaban Yuni langsung membuat semuanya terbelalak kaget. Tapi semuanya langsung menutup mulut agar tidak berisik. Mereka tidak ingin Natsuki mendengarnya, apalagi dengan Mizuki.
"Bagaimana kau tau kalau Dian dibunuh?" tanya Rashino dengan nada pelan.
"Aku hanya menduganya."
"Yaaaahh ..." Semuanya mengeluh. Mereka padahal sudah menanggapinya dengan serius. Tapi dalam hati, Rei setuju dengan Yuni karena dugaannya juga sama. Tapi Rei masih belum menemukan bukti kalau Natsuki benar-benar bersalah dan dengan cara apa dia membunuh Akihiro juga masih belum diketahui.
Lagipula dugaannya masih belum kuat dan ia juga masih harus memilih dua kebenaran yang terjadi. Antara hilangnya Akihiro itu benar karena diserang youkai, atau dibunuh Natsuki, Rei masih belum menyimpulkannya. Mungkin besok saatnya ekspedisi, ia bisa mencari kebenaran yang ada.
"Tapi tetap berhati-hati dengan Natsuki." Yuni kembali memperingati. Ia tahu kalau di rumah itu sudah ada satu manusia yang berbahaya walau terlihat sangat ramah. "Sama Xio juga. Anak itu sepertinya punya kemampuan lain yang diluar akal manusia."
"Eh, kau juga mencurigai Xio?" tanya Dennis. "Dia kan cuma anak polos yang ceria."
"Luarnya begitu, tapi dalamnya beda." Yuni menjawab. Lalu sedikit mendekat ke Rei dan yang lainnya juga ikutan. Karena ia ingin membisikkan sesuatu. "Natsuki dan Xio terlihat sangat dekat. Aku pernah melihatnya. Jadi aku takut kalau mereka berdua bekerja sama untuk merencanakan sesuatu."
"Tapi ... saat sore hari itu, Dian mencari Natsuki karena dia mau ngapain, sih?" tanya Cahya. "Apa dia disuruh menemui Natsuki dengan tujuan ingin membunuh Dian di tempat yang sepi?"
"Tidak. Bukan begitu." Yuni menyangkalnya sambil menggeleng pelan. Ia ternyata mengetahui sesuatu sebelum Akihiro pergi keluar rumah dan tidak pulang lagi. "Ada orang yang berusaha ingin memecah belah hubungan Dian dengan Mizuki. Dan orang itu adalah Natsuki juga."
"Natsuki lagi? Ba–bagaimana kau bisa tahu?" tanya Cahya tak percaya.
"Karena aku tak sengaja lewat di depan kamar mereka saat kedua pasangan itu sedang bertengkar. Mizuki menuduh Akihiro pergi dari rumah karena ia ingin berduaan dengan wanita lain dan Mizuki mendapatkan bukti perselingkuhan Dian dari Natsuki. Lalu saat Dian keluar dari kamar, aku buru-buru pergi menjauh dari depan pintu dan melihat wajah Kesal Akihiro. Ia berdiri di depan pintu sebelum akhirnya berjalan cepat keluar rumah."
"Jadi Dian pergi mencari Natsuki pasti karena ingin menanyakan tentang kebenaran foto-foto tersebut." Cahya mengangguk paham, lalu melanjutkan. "Pantas saja Mizuki terlihat sangat sedih setelah mendengar Dian menghilang. Mereka belum berbaikan, kah?"
"Entahlah kalau soal itu."
"Hmm ..." Semuanya jadi bingung. Belum ada bukti apa-apa kalau ingin menuduh Natsuki telah membunuh Akihiro. Ditambah dengan sosok Xio yang masih misterius. Belum lagi Rei juga masih penasaran dengan bunga yang menyebabkan kematian jika disentuh. Lalu adalagi soal makhluk aneh yang suka mencuri ternak warga di malam hari.
"UWAAAA!!"
Mereka semua terkejut setelah mendengar suara teriakan seseorang dari dalam kamar tak jauh dari sana. Apalagi Dennis yang langsung bergegas begitu mendengar suara anaknya yang berteriak tersebut.
Saat mereka semua menghampiri kamar itu dan membuka pintunya. Dennis dan Rei langsung masuk dan menghentikan pergerakan Zainal yang sedang mencekik Brian di sana. "Mati! Mati! Mati! Jangan muncul lagi di hadapanku!!"
PLAK!!
Setelah berusaha menarik tubuh Zainal, Rei pun menamparnya dengan keras untuk menyadarkannya. Lalu seketika Zainal pun melepaskan Brian dan langsung menyentuh pipinya yang memerah. "Sa–sakit."
Begitu lehernya dilepaskan, Brian langsung terbatuk-batuk karena telat sedikit saja, nyawanya akan melayang dan Zainal benar-benar telah membunuh Brian dengan tangannya.
Dennis melihat keadaan Brian sudah mulai membaik. Lalu ia menatap serius pada Zainal dan bertanya, "Apa yang kau lakukan pada Brian?"
"Ma–maaf. Aku tadi ... melihat laba-laba raksasa yang muncul dan menyerangku." Zainal ingin menjelaskan tentang apa yang ia lihat. Ia sebelumnya melihat Brian yang ada di dekatnya itu berubah menjadi laba-laba yang ia takutkan. Makanya ia tak sengaja melakukan hal itu pada Brian karena ketakutannya.
Namun setelah melihat wajah Brian lagi, ia kembali terkejut karena melihat sosok laba-laba lainnya yang muncul di belakang Brian dan Dennis. Refleks karena ketakutan, ia pun menyenggol tubuh Rei lalu berlari keluar kamar dan menghampiri dapur.
Dennis dan yang lainnya pun mengejar Zainal pergi. Termasuk dengan Natsuki dan Mizuki yang baru keluar dari kamar. Mereka mendengar keributan di dapur dan melihat Zainal telah memegang sebuah pisau. Posisinya terlihat seperti mengancam teman-temannya.
"Pe–pergi kalian! Jangan dekati aku! Pergi!!" Zainal benar-benar telah hilang kendali karena ketakutannya. Di matanya, teman-temannya itu adalah laba-laba raksasa yang selalu menghantuinya.
Lalu tak lama, ia merasa lapar dan laba-laba itu pun berubah menjadi santapan enak untuk perutnya. Ia berhenti berteriak, lalu tersenyum keji. Semuanya masih tidak bisa mendekati Zainal karena pisau yang dipegangnya. Tapi Zainal lah yang akan mendekati mereka sekarang.
Ia berniat akan menyerang Dennis yang berada di depannya dengan pisau. Tapi Rei sempat menghentikan serangannya dengan menahan tangannya yang memegang pisau tersebut, lalu dengan tangan yang satunya, ia memukul perut Zain untuk melumpuhkannya.
Namun ternyata tidak berkesan apapun. Tangannya yang memegang pisau itu berusaha untuk melepaskan diri, tapi Rei masih tetap menahannya. Lalu tiba-tiba sebuah tentakel seperti akar kayu pun muncul dari punggung tangan Zainal dan merebut pisau itu, lalu menusuk tangan Rei agar tangan Zainal bisa terlepaskan.
Tentu saja karena sakit, Rei melepaskan tangan Zainal, tapi ia berhasil merebut pisaunya itu. Zainal tidak selesai dengan Rei sekarang. Ia melompat ke arah Rei saat lelaki itu sedang lengah, lalu menendang kepala Rei sampai ia terpental dan menabrak meja makan.
Melihat kekuatan Zainal yang mendadak menjadi ganas dan ia tidak dapat mengendalikan diri, Natsuki langsung memperingati semuanya untuk berhati-hati karena Zainal telah terkena racun dari bunga Higanbana dan saat itu bunga tersebut telah mengendalikan tubuhnya.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Dennis cepat karena ia merasa panik dan berusaha untuk melindungi Brian dan Cahya di belakangnya.
"Karena ... aku pernah melihat kejadian ini di suatu tempat. Emosi yang meningkat dan rasa ingin membunuh adalah ... salah satu gejala yang disebabkan oleh bunga tersebut!"
*
*
*
To be continued–
di tunggu novel selanjutnya nya kak pipit, tetap semangat 💪💪💪
Kak Dennis kau ialah pelawan yang sebenarnya. kau bisa menyimpan rasa sakit di relung hatimu, kau kuat untuk menerima takdir. kau ialah pahlawan sebenarnya 😭😭😭😭
Hiks... hiks... hiks... 😭😭😭😭
biasa akhir cerita menyenangkan, kali ini berbeda 😭😭😭