Bertemu dengannya Membuatku Terpesona Tapi... Aku sadar bahwa dia adalah Ustadz. Apa Bisa perempuan biasa sepertiku bisa mendampingi seorang yang sangat alim?.
"Boleh kan Alif memanggil Kak Cia Sebutan Bunda?" tanya anak kecil polos itu kepadaku..
Hah, mimpi apa aku semalam, ayahnya itu Ustadz Cia, sadar sadar.
"No Alif, No aku bukan bunda mu" jawab ku seadanya.
" Makanya Alif ingin Kak Cia Jadi Bunda Alif" Jawab anak kecil ini tetap kekeh dengan permintaan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Salmah Inara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunga mawar
Azzam pergi membeli Bunga Yang dekat Dengan Rumah sakit. Sesudah membeli Bunga Mawar 1 buket, Azzam kembali ke ruang Alif, meminta maaf pada Alif karna sikap nya tadi.
Azzam masuk ke ruangan Alif uang sudah di temani Ibunya. Azzam melihat Alif terlelap, Azzam pun mendekati sang umi.
"umi, apa Alif sudah makan?" tanya Azzam sambil menaruh bunga di samping Alif.
umi menghela nafas beratnya.
"kamu gimana sih zam, anak kamu nangis kamu malah keluar gak ngurusin anak kamu yang nyebutin nama kamu, apalagi anak kamu sedang sakit Azzam, seharusnya kamu manjain Alif bukanya kaya gitu" ucap umi Rana menhan emosinya. Azzam diam mendengarkan perkataan umi nya.
"maafin Azzam umi, Azzam salah meskipun Alif keras kepala seharusnya aku memahaminya" ucap Azzam menatap uminya.
umi Rana diam tak menjawab. rasanya kesal dengan kelakuan anak nya yang ingin mengurus anaknya sendiri tapi terkadang tidak bisa mengontrol emosinya.
"ab-i-.." Ucap suara serak khas anak kecil, mengucapkan dengan terbata bata, suaranya yang pelan hampir tidak terdengar.
"Alif, kamu sudah bangun nak" Ucap Azzam terkejut begitu juga dengan umi Rana.
Alif tersenyum tipis.
"mi-num" ucap Alif suaranya masih terbata-bata. Azzam segera mengambil minuman dan memberikan nya pada Alif. setelah minum Azzam menaruh gelas kembali.
"Maafin Alif Abi yang masih rewel dan Abi" ucap Alif setelah minum. Azzam menggelengkan kepalanya.
"Alif denger kok yang Abi omongin sama umi" ucap Alif menunduk sedih.
"makanya Alif ingin Kak Cia jadi Bunda Nya Alif" ucap Alif kembali. Azzam dan umi Rana terkejut dengan apa yang Alif katakan.
"kalau Abi gak mau yasudah Alif gak papa kok bi" ucap Alif yang sekarang sudah menangis.
Azam menghapus air mata Alif.
"Denger Alif, Abi sedang berusaha Membuat Kak Cia mu menjadi Bunda nya Alif. tapi sebelum itu ada beberapa hal yang harus Abi lakukan " ucap azaam dengan serius.
mata Alif berbinar senang.
"Beneran Abi?! Kak Cia akan jadi bunda Nya Alif?" tanya Alif dengan harapan menggebu-gebu. Azzam mengangguk.
"peluk Alif Abi" pinta alif, da. Azzam menurutinya.
"Alif seneng banget bi" ucap Alif tersenyum manis. azaam mengelus punggung anak nya.
Alif melirik yang di samping brankas. Terlihat Bunga Yang indah nan cantik.
"itu buat siapa bi?" Tanya Alif melihat bunga itu . Azzam melepaskan pelukannya dan tersenyum.
"buat Calon Bunda Nya Alif" ucap Azzam tersenyum
"iihh Abi...."
"hahahaha"
umi Rana tersenyum melihat pemandangan di depan nya setelah itu umi Rana keluar tak ingin mengganggu obrolan ayah dan anak.
Pekerjaan di kantor Yang Menumpuk membuatku kewalahan, Namun Untungnya Ada dua sekretaris yang bisa membantuku.
"Qiqi!" Ucapku setengah berteriak. tak berapa lama Qiqi datang memasuki ruangan ku. Yang sekarang penampilan nya berubah, yang dulunya pakaian kantor sangat minim sekarang tidak.
"Iyah Nona Cia Elicia. Apa ada yang bisa Saya bantu" ucap Qiqi menunduk yang terburu buru masuk ke ruangan. jika tidak, bosnya akan mengamuk.
"Tolong Panggilkan Stevan Kemari." ucap ku pada Qiqi. Qiqi mengangguk dan keluar ruangan.
tak berapa lama Stevan datang.
Stevan Kusuma.
Sekretaris ke dua setelah Qiqi. Berumur 27 tahun yang sangat tampan dan pandai. tak heran bisa masuk menjadi sekretaris.
usia Stevan yang dewasa sesuai dengan Kriteriaku.
Sebelumnya tang menyeleksi Stevan Itu Qiqi. Qiqi memberikan pekerjaan membuat Stevan juga sibuk. karna itu juga sesuai perintahku. Hingga Ini Baru saja melihat stevan secara langsung.
"Permisi Nona Apa yang bisa saya bantu" ucap Stevan dengan sopan.
"Iyah, kamu kerjakan Dokumen ini, saya akan ke patry sebentar karna tadi saya bum istrihat" ucapku beranjak dari kursi kebesaraanku.
"Kau kerjakan Di sini saja, di sofa" ucapku. membuat Stevan Bingung.
"kau Jalankan perintahku saja!" ucapku menahan emosi.
"Baik Nona" jawab Stevan mengambil dokumen itu lalu duduk si sofa.
keluar dari ruangan CEO Membuat bertemu beberapa karyawan yang selalu tersenyum jika berpapasan denganku. aku tersenyum balik hingga karyawan senang.
Akhirnya masuk juga ke patry. membuat kan Kopi Luwak White Kopi dan beberapa cemilan Yang ada di dapur.
Perempuan separuh baya mendekatiku.
"Nona seharusnya Nona tidak usah membuat kopi, biar saya saja" ucap paruh baya itu dengan sopan. aku tersenyum.
"Nggapapa kok Bu, saya sedang ingin buat sendiri" ucapku tersenyum.
Wanita itu tersenyum senang. tidak menyangka bosnya yang terlihat Cuek dan galak ternyata Ramah pada orang tua. apalagi OB.
"biar saya saja yang bawakan Nona, Saya tak enak" ucap wanita paruh baya itu.
aku pasrah yasudahlah lalu aku kembali ke ruangan.
Hingga aku duduk lagi di kursi kebesaran ku sambil menikmati kopi yang sudah di bawakan OB tadi. Menoleh yang di sofa, Stevan terlihat serius dalam mengerjakan nya. kami kembali lagi fokus dengan pekerjaan.
Waktu kantor yang menunjukan sudah sore, waktunya para karyawan untuk pulang. aku pulang dengan membawakan mobilku sendiri.
sebelum kembali pulang aku berniat untuk menjenguk Arka kembali. Sebelum Ke rumah sakit kubelikan dahulu buah-buahan segar.
Sekarang kondisi arka sudah membaik, Arka Sudah sadar hingga aku berbincang dengan nya sangat lama. Lalu aku pamit pada Arka. Aku tak berniat untuk menemui Alif, rasanya sangat malas melihat mas Azzam. sampai di parkiran Mobil seseorang menghentikan aku yang sedang membuka pintu mobil.
" Dek Cia" ucapnya terburu buru hingga ada di hadapanku. Mas Azzam.
"kenapa? ada apa lagi?" ucapku berkata dengan. Mas azzam tersenyum.
tangan yang menyembunyikan sesuatu dari belakang sekarang memberikan sesuatu padaku.
" Bunga Ini Untukmu" ucap mas Azzam memberikan sebuket bunga padaku.
"tolong terimalah... Ini adalah awal untuk ku agar bisa mendapat hatimu secara perlahan " ucap mas Azzam mengucapkan nya dengan tulus.
aku yang melihat ketulusan mas Azzam menerima sebuket bunga itu.
"kenapa harus mawar?" tanyaku sambil melihat bunga itu. aku mengambil salah satu bunga mawar itu.
"Awww..." Ringisku kesakitan. mas Azzam langsung mengambil tangan kanan ku yang sakit dan meniup nya.
"Kau seperti Bunga Mawar." ucap mas Azzam sambil meniupkan tanganku. Aku mengernyitkan dahiku Bingung.
Azzam tersenyum tipis lalu mendongak ke atas. dimana aku juga manatap wajah mas azzam. tatapan kami bertemu.
"Yang sulit di dapati tapi beruntung di miliki" Sambung mas Azzam yang masih menatapku lekat-lekat. degub jantungku begitu kencang.
"Maksudnya?" Aku mencoba bertanya kenali maksud dari arti itu. entah kenapa aku begitu bodoh hingga mengatakan maksudnya. Mas Azzam terkekeh geli.
nama nya siapa sih ,ku penasaran akhirnya 🤭