Hanya sepenggal kisah tentang Andra dan Rhania, tidak ada yang spesial. Kisah sederhana dari pria humoris dan wanitanya.
Tidak disarankan untuk dibaca, risiko kalau sakit mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendekati Sepasang (Randy Gasopan:")
Niat hati hanya bertemu Andra, Rhania justru mendapat sambutan hangat dari Rena dan juga Wijaya. Meski beberapa kali Rhania meminta maaf lantaran merasa tak pantas berada di satu meja bersama keluarga terhormat itu akhirnya ia mengalah.
Rena bak seorang ibu untuk Rhania malam itu, tak beda jauh dari perlakuannya pada Jelita. Andra yang duduk di depannya hanya menarik sudut bibir, entah mengapa seakan malam itu adalah sebuah kebahagiaan berharga untuknya.
"Papa lihat, keduanya bahkan mirip jika Mama perhatikan." Rena berucap senang menatap Rhania dan Jelita secara bergantian, mungkin karena ia tak memiliki anak perempuan hingga ia begitu menyukai Rhania meski baru pertama kali bersua.
"Mama ada-ada saja," sahut Wijaya seadanya, senyum hangat itu begitu menenangkan. Meski sekilas Rhania dapat merasakan jika Wijaya menerima kehadirannya.
Raka yang menyadari Andra fokus memperhatikan kekasihnya hanya tersenyum geli, bahkan makanan di piringnya belum juga berkurang. Benar-benar tengah mabuk cinta, pikir Raka.
"Ehem, Ma, kayaknya Andra cuti makan nasi malam ini," ejek Raka tanpa menatap Andra. Hal itu sontak membuat mereka yang berada di sekelilingnya serentak mengalihkan perhatian pada Andra.
"Sialan," umpat Andra menggaruk kepalanya yang tak gatal, sungguh ia merasa malu, belum lagi Rhania kini menatapnya tak kalah heran.
"Hahaha, Andra-andra. Sebegitunya sampai makan malam pun kau abaikan."
Gurauan Wijaya membuat Andra semakin malu, jelas saja Raka yang menjadi biangnya. Jika saja tidak berada dalam pengawasan Wijaya tentu Andra akan berbuat seenaknya pada pria bermata tajam itu.
"Ah Papa ada-ada saja, aku tidak nafsu makan, Pa." Andra berkilah, tak ingin malu 100 persen pada wanita cantik di depannya.
"Alasan aja lo, Ndra, sejak kapan juga lo makan mikirin nafsu," ujar Raka seenak jidat yang membuatnya mendapat cubitan kecil dari Jelita.
"Hays, sakit, Sayang." Raka tak memikili sedikitpun malu untuk mengumbar kemesraan di depan orangtua-Nya. Bahkan, bersikap manja atas ulah Jelita padanya seakan menjadi hal biasa.
Wijaya hanya menggeleng menatap tingkah putra bungsunya, melihat kedunya begitu harmonis ia menyadari jika Andra juga seharusnya telah merasakan hal itu. Dan niatnya sudah bulat, malam ini Wijaya ingin menyampaikan niat baiknya pada Rhania sebelum bertemu orangtua-Nya.
Meski ia pernah mengatakan bahwa untuk Andra ia tak ingin ikut andil mengenai pasangan layaknya Raka, hanya saja mendengar cerita Raka tentang lemahnya Andra di mata Mahran membuat ia geram.
Seorang putra keluarga Wijaya tak seharusnya bertingkah demikian, seluruh orang tahu bagaimana pengaruhnya. Apa yang ia kehendaki akan terjadi kala Wijaya turun tangan, begitupun dengan Rhania.
Ia tahu betul betapa Andra merindukan pujaannya sejak 4 tahun lalu, meski Wijaya mengetahui hal itu dari mulut lemes Raka tetap saja menjadi pikirannya.
"Ehem!" Wijaya berdehem kala suasana kembali normal, keempat orang itu fokus dengan makan malam yang hampir usai.
Seketika mereka menatap ke arahnya, tak terkecuali Rhania. Dalam hal ini tentu saja ia yang merasa gugup tiba-tiba. Ada perasaan tak biasa yang membuat Rhania harus menyiapkan mental.
Mengingat bagaimana perlakuan Evelyn kepadanya, ia takut Wijaya juga demikian. Di awal pertemuan Evelyn begitu ramah, hingga pasca pertemuan keluarga, sikapnya berubah dan mempermasalahkan status sosial Rhania.
"Papa mau bilang apa?" tanya Rena menatap heran Wijaya yang menahan diri untuk bicara sejak 5 menit lalu.
"Sebelum kamu pulang, temui saya di ruang kerja." Wijaya menatap Rhania begitu tajam, berwibawa dan cukup membuat Rhania panas dingin.
"I-iya, Pak." Rhania menjawab sedemikian rupa mengingat status Wijaya yang jauh lebih tinggi darinya.
"Kenapa harus di ruang kerja sih, Pa?" tanya Andra tak terima, ketakutan Rhania mengalir juga dalam diri Andra. Seakan keduanya benar-benar menyatu dalam rasa, bahkan kekhawatiran Rhania pun dapat Andra ketahui.
"Apa Papa memintamu untuk bicara?" Wijaya akan selalu bersikap tegas meski berada di dalam rumah, hal itu jelas membuat Andra ciut.
"Maaf, Pa." Hanya itu yang mampu Andra ucapkan, menatap khawatir wajah pucat Rhania. Tatapan matanya jelas meberikan pernyataan bahwa semua akan baik-baik saja, dan tidak ada yang perlu di khawatirkan.
_*******_
Wijaya bukan pria yang suka menunda pekerjaan, Rhania yang tak mampu menolak terpaksa ikut langkah Wijaya ke ruang kerja. Andra yang menatapnya hanya mengulas senyum hangat, di antara mereka belum terikat sebuah hubungan yang jelas, hanya saja hati mereka yang bertaut.
BRUKK
"Kak Nia mo di apain ama Papa?" tanya Randy sekenanya pada Jelita yang kini duduk di sampingnya.
"Gak tau gue, ntar aja elu tanya sama dia." Jelita pun tak mengerti mengapa mertuanya sampai meminta Rhania untuk masuk ke ruangannya. Jelas saja itu hal yang penting, pikirnya.
"Mama!! Lagi." Gian, bocah lucu yang kini menghampirinya. Sungguh Jelita terkejut kala Gian menyerahkan gelas susu yang kini tandas.
"Kok cepet banget," ujar Jelita curiga, tak biasanya Gian menghabiskan susu secepat itu. Menyadari Gian yang menatap Randy, ia pun paham dengan apa yang terjadi.
"Ke-kenapa elu, Kak?" tanya Randy tanpa dosa tentu saja.
"Elu jagain anak gue kenapa begini bentukkannya, Randy." Jelas saja Jelita kesal, pasalnya susu yang seharusnya untuk Gian ia minum juga untuk dirinya.
"Ya elah kak pelit amat, anak elu tu gue kurang suka minumnya, mending gue aja." Randy menjawab asal, sama seperti jawaban hari-hari sebelumnya.
"Ck, ngeles aja elu. Gimana coba mau jadi Papa, masa iya elu rebutan susu." Jelita menggeleng lantaran tingkah konyol Randy yang masih saja sama.
"Halah santuy, gue ma anak gue gak bakal rebutin susu begituan." Randy menjawab asal seraya kembali menatap layar ponselnya.
"Lah terus?" tanya Jelita mengernyit heran.
"Rebutan sumbernya lah, gitu aja pakek mikir."
"Gasopan elu!!" sentak Jelita setengah berbisik.
Ucapan Randy sontak membuat Raka yang duduk tak jauh dari mereka jadi salah tingkah. Bukan hanya Raka, bahkan Andra pun sama. Beruntung Rena tak ikut bergabung bersama mereka, jika saja itu terjadi tentulah Jelita akan memerah.
PLAKK
"Adooh!! Apa-apaan sih, Bang. Gilaaa sakit punggung gue."
Andra tak mampu menahan telapak tangannya yang sejak tadi gatal lantaran ocehan ngelantur Andra. Benar-benar memalukan, pikirnya.
"Nyamuk, Ran, nyamuk!! Sensi amat jadi cowok." Andra berkilah, tentu saja ia hanya tak ingin Randy membalas lebih kuat.
Perdebatan kecil antara dia dan Randy sejenak dapat mengalihkan ketakutan yang menyeruak dalam hatinya. Entah apa yang Rhania hadapi di dalam sana, namun Andra harap takkan ada kesakitan yang Rhania dapatkan dari Papanya.
"Ck, kenapa begitu lama?" tanya Andra spontan kala terdengar derab langkah yang menghampiri mereka. Entah mengapa Andra selalu berpikir negatif prihal apapun yang terjadi pada Rhania.
Tbc
Singkat tapi jelas
Akhirnya abang giant bakal punya spp ni
berenang ke tepian,,,
remuk badan dahulu
baru bisa jadian..../Joyful/