Awalnya semua begitu indah untuknya. Memiliki keluarga yang sempurna dengan ayah dan ibu yang sangat mencintai dan menyayanginya, tapi kebahagian itu hanya sementara. Cinta pertamanya di dunia ini direnggut darinya, seketika semuanya berubah menjadi duka.
Kehidupan baru mulai dijalani saat seseorang datang dan dikehidupan ibunya. Menjadi anak tiri dari seorang pengusaha yang sukses dan hidup dengan kemewahan yang dirasakannya.
Tapi..., semua tidak seindah yang dijalaninya. Hanya ada kesedihan yang dirasakannya karena penghinaan yang didapatnya dari orang yang sangat disayanginya.
Wanita itu hanya berharap mendapatkan kebahagian, memiliki sosok pelindung yang baru untuknya. Sampai akhirnya sebuah takdir kehidupan yang tak terduga, menikah dengan seorang pria yang tak dikenalnya.
Tidak ada cinta,tidak ada kebahagian yang dirasakannya, hanya ada sebuah rahasia besar yang tersimpan di dalam pernikahan itu.
Hanya menunggu kapan Rahasian itu terbongkar dan menjadi Bom waktu di pernikahan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mutiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 Negara Tujuan
Selama didalam pesawat, Gwen hanya tertidur, sampai akhirnya Kenichi membangunkannya untuk turun dari pesawat.
"Kita sudah sampai?"tanya Gwen.
"Belum, kita hanya transit ", jawab Kenichi.
"Transit?"tanya Gwen kembali.
"Hmmm, ayok cepat turun", perintah Kenichi.
Entah kemana sebenarnya Kenichi akan membawanya, Gwen sama sekali tidak tahu. Dia masih belum sadar sepenuhnya saat keluar dari pesawat dan harus berjalan menuju konter untuk check in penerbangan berikutnya.
"Dua jam lagi kita baru berangkat", kata arga.
"Apa kamu lapar?"tanya Kenichi.
"Tidak.Aku hanya haus", jawab Gwen.
"Baiklah, aku akan membeli minuman dulu", ucap arga, dia pergi meninggalkan keduanya.
Mereka hanya berdiam diri diruang tunggu sampai penerbangan berikutnya. Gwen yang dari tadi tertidur selama di pesawat, kini kehilangan rasa kantuknya. Dia hanya melirik setiap menit jam tangannya untuk menunggu keberangkatan mereka, dua jam waktu yang cukup lama untuk menunggu dan tentu saja dia merasa sangat bosan. Apa lagi melihat Kenichi hanya berdiam diri, sibuk dengan ponsel miliknya. Mengabaikan Gwen yang seolah tak ada disampingnya saat ini.
"Ini Gwen, minumlah", ucap arga, memberikan botol minuman kepadanya.
"Terima kasih, kakak", ucap Gwen.
"Apa kamu sama sekali tidak lapar? Kakak membeli beberapa roti, apa kamu mau?"tanya arga.
"Hmmm", jawab gwen, sambil tersenyum.
"Ini makanlah", ucap arga.
"Terima kasih", jawab Gwen.
Keduanya asik mengobrol, mereka sama sekali mengabaikan Kenichi yang ada di dekat mereka. Melihat keakraban yang terjalin antara arga dan gwen menyulut api ke marahan Kenichi yang tidak menyukai hal itu.
"Mana minum ku?"tanya Kenichi kepada arga.
"Astaga!!! Aku lupa membelikan untuk mu", ucap arga.
Tatapan mata Kenichi berubah sinis melihat arga,diwajahnya tampak ekspresi kesal, saat arga mempermainkan nya seperti itu.
"Jangan menatapku seperti itu, aku hanya bercanda. Yaampun, tatapan mata mu membuat ku takut", gumam arga, dikeluarkannya sebotol minuman dari kantung plastik yang dipegangnya.
Dua jam menunggu, akhirnya mereka melanjutkan penerbangan mereka kembali. Penerbangan kali ini membutuhkan waktu yang panjang dan tentu saja terasa melelahkan meski hanya duduk diam menunggu sampai mereka tiba di negara tujuan yang ingin mereka kunjungi.
Mereka yang pergi saat matahari masih bersinar begitu terang, kini kembali disambut cahaya matahari yang bersinar saat mereka telah tiba di negara tujuan mereka.
"Apa semua koper sudah dibawa?"tanya Kenichi.
"Hmmm", jawab arga.
Diluar bandara seorang supir telah menunggu kedatangan mereka, Kenichi dan arga memasukan semua koper bawaan mereka. Sementara Gwen hanya berdiam diri memperhatikan orang - orang yang ada disekitaran bandara itu.
"Kenapa tidak masuk", sergah Kenichi.
"Masuklah Gwen, udara disini sangat dingin", ucap arga.
"Baiklah", ucap Gwen.
"Kenapa kamu harus bersikap seperti itu kepadanya, padahal aku tahu bahwa kamu sangat mengkhawatirkannya", kata arga.
"Siapa yang mengkhawatirkannya", bantah Kenichi.
"Aku akan mengartikan perkataan mu yang sebenarnya ingin kamu ucapkan kepada Gwen. Gwen, kenapa tidak masuk udara diluar sangat dingin kamu bisa sakit nanti, bukankah itu yang ada didalam pikiranmu?"tanya arga.
Kenichi hanya menatap arga tanpa mengatakan apapun.
"Ada apa? Kenapa melihatku seperti itu? Bukankah yang kukatakan itu benar?"tanya arga.
"Berhenti sok tahu!!!!"ucap Kenichi, dibantingnya pintu bagasi mobil itu dan pergi meninggalkan arga.
Suara bantingan yang dilakukan Kenichi, sontak mengagetkan Gwen yang menunggu di dalam mobil. Dia sama sekali tidak berani bertanya apapun kepada kenichi saat sudah masuk didalam mobil dan duduk di sampingnya. Arga yang masih ada diluar, hanya tertawa bahagia melihat aksi sahabatnya itu. Sikap yang diperlihatkan Kenichi membuatnya semakin yakin bahwa kenichi sebenarnya peduli dengan Gwen. Setiap kata yang keluar dari mulutnya, bertolak belakang dengan apa yang ad dihatinya.
"Apa kita sudan bisa berangkat?"tanya supir tersebut.
"Tentu, jalankan mobilnya", perintah arga yang duduk di kursi depan.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mereka tiba disebuah hotel mewah yang berada ditengah-tengah kota. Semakin mendekati hotel mewah itu, Gwen bisa melihat dengan jelas betapa indahnya tempat itu.
"Apa kita akan menginap di hotel ini?"tanya Gwen, matanya terlihat takjub melihat kemegahan dan kemewahan hotel tersebut.
Kenichi hanya diam meski dia mendengar pertanyaan Gwen kepadanya. Dia hanya fokus melihat ponselnya, terkadang ingin rasanya Gwen merampas ponsel itu dari kenichi agar dia bisa sedikit saja mempedulikannya.
"Benar Gwen, kita akan menginap disini", jawab arga dari bangku depan.
Mobil itu berhenti tepat di depan pintu loby masuk, arga dengan ditemani supir tersebut mulai menuruni koper- koper bawaan mereka. Sementara kenichi langsung membawa Gwen untuk masuk kedalam duluan.
"Reservasi atas nama Kenichi Nakagawa", katanya.
"Baik tuan, silakan ikuti petugas pelayan itu. Dia akan mengantarkan anda kekamar anda", ucap petugas wanita tersebut.
"Terima kasih", ucap kenichi.
Tanpa menunggu arga, keduanya pergi mengikuti petugas hotel yang akan mengantarkan mereka ke kamar yang telah dipesan jauh-jauh hari. Jantung Gwen kembali berdetak sangat cepat, dia merasa gugup saat mengingat mereka berdua berada dikamar hotel yang sama. Seakan semuanya begitu nyata bahwa mereka sedang berbulan madu, menghabiskan waktu bersama setelah resmi menjadi sepasang suami istri.
Sekilas Kenichi menoleh kearah Gwen, melihat sorot mata Gwen saat ini dia tahu bahwa ada sesuatu yang sedang dipikirkannya,tapi ego yang besar membuat Kenichi tidak bertanya apa yang sedang dipikirkan Gwen, meskipun dia sedikit penasaran.
"Ini kamar anda Tuan, silakan masuk", ucap petugas hotel tersebut.
"Terima kasih", kata kenichi.
"Semoga hari anda menyenangkan, saya permisi", ucap petugas hotel tersebut.
Kenichi langsung membuka pintu kamar hotel tersebut. "Masuklah", perintahnya.
"Hmmm", ucap Gwen yang melangkahkan kakinya memasuki kamar tersebut.
Setibanya didalam kamar hotel, keduanya sama-sama terdiam. Ruangan itu cukup besar, ada ruang tamu mini yang dapat digunakan Kenichi untuk menerima tamu. Kemudian matanya fokus melihat tempat tidur putih besar dengan taburan bunga-bunga mawar merah di atas tempat tidur.
"Mereka mengira kita benar- benar sedang berbulan madu", gumam gwen sambil menatap Kenichi sesaat, lalu kembali memeriksa kamar hotel itu.
"Aku keluar dulu, aku akan mengambil koper kita dari Arga", gumam Kenichi
Selepas kepergian Kenichi, dihembuskannya napasnya yang dari tadi ditahannya dihadapan Kenichi. Dia sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya terlalu lama dihadapan Kenichi karena dadanya terasa sesak. Sekeras apapun dia berusaha untuk bersikap biasa saja, justru terasa sulit untuknya harus berpura -pura menyembunyikan perasaan yang dimilikinya terhadap Kenichi.
"Ini koper kamu", ucap kenichi.
Dia sama sekali tidak menyadari kapan kenichi kembali. Tiba-tiba saja pria itu sudah berdiri dibelakangnya dengan membawa koper miliknya.
"Apa kamu merasa lelah?"tanya Kenichi.
"Sedikit", jawab Gwen.
"Istirahatlah kalau begitu, berada cukup lama di dalam pesawat pasti membuat mu juga lelah", gumamnya.
Gwen seolah kaget mendengar ucapan Kenichi, entah apa yang telah terjadi saat dia pergi keluar untuk mengambil koper mereka hingga Kenichi bisa bersikap sedikit baik kepadanya .
"Apa sesuatu tadi terjadi dengan mu?"selidik Gwen.
"Maksudnya?" Aku tidak mengerti", ucap kenichi.
"Apa saat kamu tadi keluar, ada seseorang yang tidak sengaja menabrak mu dan membuat kepala mu ke bentur?"tanya gwen.
"Tidak ada. Aku baik-baik saja saat keluar tadi", jawab kenichi, polos.
"Ahhhhh", gumam gwen.
"Ada apa?"tanya kenichi.
"Tidak. Aku hanya bingung kenapa kamu tiba-tiba saja bersikap baik", ucap Gwen.
Mata kenichi menegang. "Siapa yang bilang aku bersikap baik dengan mu. Aku hanya tidak ingin jika kamu nanti sakit disini, karena itu akan menyusahkan ku", sergahnya.
"Apa kamu marah?"tanya gwen.
"Untuk apa aku harus marah", jawab kenichi, bibirnya terkatup rapat.
"Baguslah kalau begitu", ucap Gwen.
"Dengar Gwen, jangan pernah menyalah artikan semua yang aku lakukan saat ini. Aku hanya berusaha bertanggung jawab untuk mu yang saat ini berstatus istri ku, tidak lebih dari itu",jelas kenichi.
"Aku tahu. Kamu tidak perlu mengulang-ngulangnya. Aku masih mengingat semua perkataan mu yang mengatakan hubungan pernikahan ini hanya untuk kepentingan saja tanpa di dasari cinta. Apa kamu tahu, aku adalah salah satu mahasiswa yang cukup berprestasi dan memiliki daya ingat yang kuat. Hanya cukup sekali saja kamu mengatakannya dan jangan pernah mengulangi kalimat itu lagi", jawab Gwen.
"Baguslah, itu lebih baik. Kalau begitu beristirahatlah. Aku keluar dulu", ucap kenichi.
Saat melihat kenichi keluar dan menutup kembali pintu itu, barulah dia terduduk diam dan terpaku. Kaki yang tadi dengan kuat dan kokoh menopang badannya, akhirnya menyerah dan berakhir dilantai sambil melihat kearah pintu yang dilewati kenichi. Perasaannya benar-benar terguncang, pikirannya kosong. Dia berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja dan dia dapat mengatasi semua rasa sakit yang dirasakannya, tapi kenyataannya itu tidak semudah dengan yang dipikirkannya. Pernikahan yang dijalaninya ini hanya akan menguras air matanya dan menyiksa batinnya sendiri.
Bersambung...
penasaran nih gmna ending nya,msa ya d cut aja smpe dsni???
kok gantung gini crtanya??