Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Lilin Mulai Redup
Kebahagiaan yang baru saja membumbung tinggi di atas atap Pesantren Al-Fatih seolah mendadak diuji oleh hukum alam yang tak terbantahkan. Hanya berselang beberapa hari setelah kabar kehamilan Lea membawa tawa dan tangis haru di ruang makan, awan kelabu kembali datang menggelayuti rumah utama.
Manusia boleh berencana dan merajut bahagia, namun takdir tetap memegang kendali atas garis akhir setiap hamba.
Pagi itu, lantunan ayat suci Al-Qur'an dari ruang tengah tidak terdengar. Najwa, yang biasanya selalu setia duduk di kursi rodanya sembari menyimak setoran hafalan para santriwati senior atau sekadar menemani Arkan belajar, hari ini tidak mampu beranjak dari tempat tidur. Tubuhnya yang kian kurus nampak tenggelam di balik selimut tebal berwarna putih bersih.
*Cklek.*
Lea melangkah masuk dengan sangat perlahan sembari membawa nampan berisi semangkuk bubur ayam hangat dan segelas air putih. Usia kandungannya yang masih sangat muda baru memasuki minggu-minggu awal membuat Lea sendiri sebenarnya masih sering didera rasa mual. Namun, melihat kondisi kakaknya yang mendadak drop sejak semalam, Lea membuang jauh-jauh rasa tidak nyaman di tubuhnya sendiri.
"Kak Najwa..." bisik Lea lembut. Ia meletakkan nampan di atas nakas, lalu duduk di tepi ranjang.
Najwa membuka matanya dengan sangat lambat. Kelopak matanya nampak begitu berat, dan binar yang biasanya menenangkan itu kini nampak redup, digantikan oleh selaput putih yang sayu. Bibirnya yang kering mencoba mengukir sebuah senyuman, namun yang keluar hanyalah helaan napas yang pendek dan putus-putus.
"Eh... Lea," suara Najwa terdengar sangat parau, nyaris seperti bisikan angin. "Maaf ya... Kakak malah merepotkanmu. Padahal kamu sendiri sedang hamil muda, harusnya Kakak yang merawatmu."
Air mata Lea mendadak menggenang di pelupuk matanya. Ia benci melihat kakaknya sekurus dan selemah ini. Ia meraih tangan Najwa yang terasa teramat dingin, lalu menggenggamnya erat, mencoba menyalurkan kehangatan tubuhnya.
"Kakak ngomong apa sih? Nggak ada yang direpotin sama sekali. Sekarang Kakak makan ya? Sedikit aja, yang penting ada makanan yang masuk supaya bisa minum obat," bujuk Lea dengan nada suara yang bergetar menahan buncahan kesedihan.
Najwa hanya mengangguk pasrah. Dengan telaten dan penuh kesabaran, Lea menyuapi kakaknya sesendok demi sesendok. Namun, baru suapan ketiga masuk ke dalam mulutnya, Najwa mendadak terbatuk keras. Tubuhnya menegang, dan sejurus kemudian, ia memuntahkan kembali bubur yang baru ditelannya, bercampur dengan cairan bening dan bercak darah pekat.
"Kak Najwa!" jerit Lea panik. Ia segera mengambil tisu dan waslap untuk membersihkan bibir kakaknya.
Mendengar jeritan Lea, Gus Malik yang kebetulan baru saja menyelesaikan rapat darurat bersama para pengurus yayasan di ruang kerja sebelah langsung berlari kencang membelah lorong rumah. Pintu kamar dibuka dengan kasar, menampilkan sosok Malik dengan wajah yang dipenuhi kepanikan yang luar biasa.
"Ada apa, Kalea?!" tanya Malik dengan napas yang memburu.
"Gus... Kak Najwa muntah darah lagi! Badannya dingin banget!" tangis Lea pecah. Ia mundur selangkah, memberikan ruang bagi Malik untuk mendekati istri pertamanya.
Malik langsung duduk di tempat yang tadi ditempati Lea. Ia merengkuh tubuh rapuh Najwa ke dalam pelukannya. Tangan Malik bergerak cepat memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Najwa, dan jantungnya serasa berhenti berdetak saat merasakan denyutan itu berpacu sangat lemah dan tidak beraturan.
"Najwa... Humaira... dengar suara Mas?" bisik Malik, suaranya yang biasa tegap kini bergetar hebat. Ada ketakutan mendalam yang selama bertahun-tahun ini ia sembunyikan rapat-rapat di dalam dadanya, dan kini ketakutan itu nyata berada di depan matanya.
Najwa tidak menjawab. Kesadarannya mulai timbul tenggelam. Kepalanya bersandar lemas di dada bidang Malik, tempat yang selalu menjadi labuhan ternyamannya selama mengarungi bahtera rumah tangga.
Ibu mertua yang baru saja kembali dari pasar bersama Mbak pengasuh langsung histeris melihat kondisi menantu kesayangannya. "Astagfirullah! Malik... bawa Najwa ke rumah sakit sekarang, Nak! Cepat!"
Tanpa membuang waktu lagi, Malik langsung menggendong tubuh ringan Najwa ke dalam dekapannya. "Kalea, ambil tas berisi dokumen medis Najwa di dalam laci! Ibu, tolong jaga Arkan di rumah, jangan sampai dia melihat ibunya seperti ini!" perintah Malik dengan tegas di tengah situasi kritis.
Lampu merah di atas pintu ruang Intensive Care Unit (ICU) sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Timur menyala dengan cerah, menandakan ada sebuah perjuangan hidup dan mati yang sedang berlangsung di dalam sana.
Gus Malik duduk di kursi tunggu lorong rumah sakit dengan kepala tertunduk dalam. Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya, sementara bibirnya tidak pernah berhenti bergerak, melafalkan doa-doa keselamatan, ayat-ayat kesembuhan, dan kepasrahan mutlak kepada Sang Pencipta. Baju koko putih yang ia kenakan sejak pagi kini tampak kusut, dengan beberapa noda darah kering milik Najwa di bagian lengannya.
Di sampingnya, Lea duduk sambil memeluk tas dokumen medis. Air matanya sudah mengering, berganti dengan rasa cemas yang teramat sangat yang menghimpit dadanya. Sesekali, ia melirik ke arah suaminya. Melihat Malik yang begitu hancur dan rapuh, hati Lea ikut tersayat. Ia tahu betapa besarnya cinta Malik untuk Najwa, dan melihat pria perkasa itu kini tak berdaya di depan pintu ICU membuat Lea menyadari betapa besarnya badai yang sedang mereka hadapi.
Lea mengulurkan tangan kanannya, menyentuh lembut bahu Malik. "Gus... minum dulu ya? Dari pagi lo belum makan atau minum apa-apa. Pikirin kesehatan lo juga, Gus."
Malik menurunkan tangannya dari wajah, menatap Lea dengan mata yang nampak merah dan lelah. Ia melihat ketulusan dan kekhawatiran yang sama besar di mata istri keduanya itu. Malik menghela napas panjang, lalu menggenggam tangan Lea yang berada di bahunya.
"Terima kasih, Kalea. Tapi saya tidak bisa menelan apa pun saat ini. Pikiran saya sepenuhnya ada di dalam sana," ucap Malik dengan suara yang teramat serak.
"Gue tahu, Gus. Tapi ada anak kita di dalam sini yang juga butuh lo kuat," Lea menuntun tangan Malik untuk menyentuh perutnya yang masih rata. "Kalau lo tumbang, siapa yang bakal jagain gue, anak kita, dan Kak Najwa?"
Sentuhan hangat dari perut Lea seolah memberikan sedikit suntikan kekuatan bagi Malik. Ia mengangguk pelan, lalu mengecup punggung tangan Lea. "Kamu benar. Maafkan saya."
Setelah tiga jam yang terasa bagai keabadian, pintu ICU akhirnya terbuka. Seorang dokter spesialis onkologi yang selama ini menangani Najwa melangkah keluar dengan raut wajah yang nampak berat. Malik dan Lea langsung bangkit berdiri menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Malik cepat.
Dokter tersebut menghela napas pendek, lalu menepuk bahu Malik dengan pelan. "Gus Malik... saya harus menyampaikan hal ini dengan jujur. Sel-sel kanker di tubuh Ibu Najwa sudah mengalami metastasis luas, menyebar hingga ke organ dalam lainnya, termasuk paru-paru dan hati. Kondisi gagal organ akut yang terjadi semalam adalah akibat dari fase akhir penyakitnya."
Kata 'fase akhir' menghantam dada Malik seperti godam yang sangat besar. Tubuhnya sempat goyah, namun Lea dengan cepat menahan lengan suaminya dari belakang.
"Lalu... apa yang bisa kita lakukan, Dok? Berapa pun biayanya, lakukan yang terbaik!" ucap Malik dengan nada yang mulai putus asa.
"Saat ini, tindakan medis yang kami lakukan hanya bersifat paliatif, Gus. Artinya, kami hanya bisa memberikan obat-obatan untuk meredakan rasa sakitnya, bukan untuk menyembuhkan. Secara medis... umur Ibu Najwa mungkin tidak akan lama lagi. Kita hanya bisa bersiap untuk kemungkinan terburuk dan memberikan kenyamanan maksimal di sisa waktunya."
Dunia seolah runtuh seketika bagi Malik. Pria yang biasanya tegap berdiri di depan ribuan santri itu kini nampak begitu rapuh. Ia melangkah mundur, menyandarkan punggungnya di dinding lorong rumah sakit yang dingin dengan pandangan mata yang kosong.
Lea yang mendengar vonis tersebut langsung membekap mulutnya sendiri, air matanya kembali tumpah. Misi suci Najwa untuk menyatukan dirinya dan Malik kini telah berhasil dengan adanya janin di rahimnya, namun di saat yang sama, lilin kehidupan sang bidadari pesantren kini sudah berada di ambang batas jilatan angin malam, siap padam kapan saja. Di bawah dinginnya atap rumah sakit, babak baru dari ujian keikhlasan dan keteguhan cinta mereka kini benar-benar telah dimulai.