"Jika besok pria tua itu datang lagi untuk menagih jawabanmu, katakan padanya kau lebih memilih membusuk di sel ini," suaranya rendah, nyaris seperti desisan yang berbahaya.
Aku tersentak, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa? Kau... kau menyuruhku tetap di penjara ini?"
"Ya," sahutnya pendek. "Aku tidak ingin menikah. Terlebih lagi, aku tidak ingin menikah denganmu. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi jika melangkah masuk ke mansion utama sebagai istri seorang Grisham. Di sana, kau tidak akan hanya melihat darah, tapi kau akan mandi di dalamnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
***
"Darrel..." bisikku lirih, suaraku nyaris hilang dibawa angin. "Setelah semua kebenaran pahit ini... apakah kau mencintaiku? Ataukah aku hanya bagian dari tanggung jawabmu untuk menebus kesalahan masa lalu?"
Darrel tidak langsung menjawab. Ia mengalihkan pandangannya ke arah nisan Dante yang tampak angkuh di kejauhan. Keheningan yang tercipta di antara kami terasa lebih menyakitkan daripada bentakan Erlan semalam.
"Cepat atau lambat, aku akan memimpin klan ini, Lily," ucapnya dengan nada datar yang sulit ditebak. Ia berdiri, lalu mengulurkan tangan padaku untuk membantuku bangkit. "Dunia ini tidak mengenal kata 'cinta' seperti yang kau bayangkan di buku-buku novelmu. Di sini, yang ada hanyalah kesetiaan, kepemilikan, dan perlindungan."
Ia menatapku tajam, seolah sedang menguliti jiwaku. "Sekarang aku bertanya padamu. Apakah kau siap? Apakah kau mau menjadi istri seorang pemimpin mafia? Hidup di dunia yang penuh dengan amis darah dan pengkhianatan ini?"
Aku terdiam. Dadaku terasa sesak. "Jujur saja... aku tidak mau, Darrel. Aku ingin hidup seperti dulu. Bangun pagi, mencium aroma kelopak mawar di toko bunga, melanjutkan studiku, dan mengajar anak-anak seperti keinginan Ayah. Aku hanya ingin menjadi Liana yang sederhana."
Aku menunduk, menatap jemariku yang kini dilingkari cincin mahal yang terasa seperti borgol emas. "Tapi aku tahu, aku tidak punya pilihan. Aku sudah menjadi istrimu. Aku sudah masuk terlalu dalam ke dunia Grisham."
Darrel melangkah mendekat, menyelipkan helaian rambut ke belakang telingaku. "Pilihan itu sudah hilang sejak kau menandatangani kontrak itu, Lily. Mau atau tidak, kau harus menjalaninya. Jika kau lemah, mereka akan memakanmu hidup-hidup."
"Tapi Livingston itu..." aku menggeleng kuat, mencoba menepis kenyataan yang ia sodorkan. "Aku masih tidak paham. Aku tidak yakin kalau aku keturunan Livingston. Ayahku... Jhonatan... dia pria yang lembut. Dia tidak mungkin seorang pengkhianat. Bagaimana jika Erlan salah? Bagaimana jika ini semua hanya jebakan untuk menghancurkan hidupku?"
Darrel menyunggingkan senyum tipis yang terasa pahit. "Erlan tidak pernah salah soal musuhnya. Dia menyimpan dendam bertahun-tahun hanya untuk menemukanmu. Tapi dengarkan aku, Liana atau Lily, siapa pun namamu di masa lalu..."
Ia mencengkeram bahuku, memaksaku menatapnya tepat di mata.
"Di dunia ini, identitasmu ditentukan oleh siapa yang berdiri di sampingmu. Dan sekarang, kau berdiri di sampingku. Jangan pernah mempertanyakan siapa orang tuamu lagi di depan Erlan."
Aku mengangguk pelan, meski hatiku masih memberontak. Aku sadar, mulai detik ini, hidupku bukan lagi milikku sendiri. Aku adalah bidak dalam permainan catur berdarah ini, dan satu-satunya perlindunganku adalah pria yang mungkin mencintaiku, atau mungkin hanya sekadar terobsesi untuk memilikiku sebagai tebusan atas kematian kakaknya.
"Ayo pulang," ajak Darrel sambil menarik tanganku menuju mobil.
*
Mobil melaju membelah jalanan kota yang mulai padat. Pikiranku masih tertinggal di nisan Dante, namun hatiku meronta ingin menemui satu-satunya keluarga yang tersisa.
"Darrel, bawa aku ke rumah sakit. Sekarang," pintaku dengan nada memohon yang amat sangat.
Darrel tidak menjawab, namun rahangnya mengeras. "Tidak. Kondisi sedang tidak aman, Lily. Winston bisa ada di mana saja."
"Kumohon! Hanya sebentar. Aku sangat merindukan Nenek. Aku tidak tenang setelah semua rahasia ini terungkap!" Aku mencengkeram lengannya, menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Darrel mengembuskan napas kasar, lalu membanting kemudi dengan tajam menuju jalur rumah sakit. "Hanya lima belas menit. Leo, perketat pengamanan di lobi dan lantai tiga!" perintahnya melalui interkom.
Begitu sampai, aku tidak menunggu Darrel selesai bicara dengan Leo. Aku berlari menyusuri koridor rumah sakit yang beraroma obat-obatan tajam. Saat aku membuka pintu kamar rawat Nenek Zela, jantungku seakan berhenti.
Nenek tampak jauh lebih kurus dari terakhir kali aku menjenguknya. Wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal-sengal dibantu selang oksigen.
"Nenek..." bisikku sambil menggenggam tangannya yang keriput dan dingin. "Apa yang terjadi? Terakhir aku ke sini, Nenek baik-baik saja. Kenapa sekarang jadi begini?"
Nenek membuka matanya perlahan, tersenyum lemah yang terlihat sangat menyakitkan. "Tidak apa-apa, sayang... Nenek hanya sedikit lelah."
Aku menggeleng kuat. "Nek, aku tahu semuanya. Darrel membawaku ke makam Dante. Dia bilang aku seorang Livingston. Dia bilang Kak Evelyn yang membunuh Dante. Tolong jujur padaku, Nek... siapa aku sebenarnya?"
Nenek Zela tersentak, matanya yang sayu mendadak membelalak ketakutan. "Nenek sudah tua... Nenek tidak tahu apa itu Livingston..."
"Jangan bohong lagi, Nek! Aku menjadi bidak catur di keluarga Grisham karena kesalahan Kak Evelyn! Aku menanggung dosa yang tidak kupahami!" isakku pecah. "Aku tahu Kak Evelyn masih hidup, kan? Darrel bilang dia yang menembak Dante!"
Nenek terdiam cukup lama, air mata mulai mengalir di sudut matanya yang keriput. Ia menarik napas berat, suaranya terdengar seperti bisikan maut.
"Evelyn... dia memang masih hidup, Emily."
Aku terpaku. Emily. Nama itu terdengar asing namun menggetarkan jiwaku.
"Namamu Emily Livingston," lanjut Nenek dengan suara bergetar. "Dulu... keluarga Livingston dan Grisham adalah sahabat dekat. Mitra yang tak terpisahkan. Dan Evelyn... dia tidak bersalah dalam kejadian berdarah itu. Dia tidak membunuh Dante karena kemauannya sendiri. Ada pengkhianatan yang lebih besar di balik itu semua..."
"Apa maksudnya, Nek? Siapa yang menjebak Kak Evelyn?"
Nenek tidak sempat menjawab. Kondisinya mendadak menurun drastis. Mesin monitor jantung di samping tempat tidur mulai berbunyi nyaring dan tidak teratur. Nenek mencengkeram tanganku dengan sisa tenaganya.
"Emily... dengarkan Nenek. Turuti Darrel. Dia pria yang baik... dia satu-satunya yang bisa melindungimu dari Erlan dan Winston. Percayalah padanya..."
"Nenek! Nenek bertahanlah!" teriakku panik.
Tepat saat itu, pintu terbuka kasar. Darrel masuk dengan wajah tegang. Melihat kondisi Nenek yang memburuk dan aku yang histeris, ia segera menekan tombol darurat di atas ranjang.
"Dokter! Cepat ke sini!" teriak Darrel.
Ia menarikku menjauh dari ranjang, memelukku kuat-kuat saat tim medis merangsek masuk ke dalam ruangan. Aku menangis di dada bidangnya, merasa duniaku hancur berkeping-keping. Rahasia itu baru saja terbuka sedikit, namun sudah cukup untuk membuat napasku sesak.
Aku bukan Liana. Aku Emily Livingston. Dan di tengah badai pengkhianatan ini, Nenek memintaku mempercayai pria yang keluarganya sangat membenci garis keturunanku.
***
Bersambung...
...****************...
dukung author dengan memberikan like, coment, gift dan juga vote ..🙏🥰
makin seruuu nih😄😄😄
lanjut Thor 🔥🔥🔥
makin seruu dan bikin penasaran🥰
double up dong biar makin puas 😂
apakah Lily juga anak dari klan mafia juga? jadi penasaran 🤨🤨🤨
Lily ikuti kata Darren, cukup kamu tersiksa 30 hari + 9 bulan. setelahnya kamu bisa bebas ( mungkin 🤔)
seru banget ceritanya