Arumi tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir sebagai "jaminan" utang. Dipaksa menikah dengan seorang rentenir tua yang kejam demi melunasi hutang keluarganya, Arumi nekat melakukan aksi gila .
Dalam keputusasaan di tengah taman kota matanya tertuju pada sosok pria tampan yang sedang sibuk mengipasi tusukan bakso. Tanpa pikir panjang, Arumi menarik tangan Elang, sang penjual bakso bakar, dan mengakuinya sebagai calon suami di hadapan Ayahnya
Siapa sangka, Elang yang terlihat sederhana dengan apron hitamnya itu menyanggupi tantangan Arumi. Namun, di balik aroma asap arang dan bumbu kacang, ada rahasia besar yang disimpan Elang. Apakah pernikahan Dadakan ini akan membawa kebahagian ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bercerita pada Elang
Sore itu, Arumi pulang tepat pukul empat, sesuai dengan jam kerja yang berlaku di kantornya. Langkahnya terasa lebih ringan dibandingkan hari-hari sebelumnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia bisa bekerja dengan tenang tanpa gangguan.
Hari itu terasa berbeda.
Rani dan teman-temannya tidak datang mengusiknya, tidak memberinya tugas tambahan, tidak pula mempermalukannya seperti biasanya. Tidak ada tumpukan pekerjaan yang bukan miliknya, tidak ada tekanan yang membuatnya harus pulang larut malam.
Biasanya, Arumi hampir selalu pulang lebih dari jam kerja. Bahkan tak jarang ia sampai di rumah menjelang malam, hanya karena harus menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya.
Namun hari ini, semuanya terasa lebih ringan.
“Rum, kamu mau pulang?” tanya Santi sambil menghampirinya. “Aku nebeng, ya?”
Arumi menoleh dan tersenyum kecil. Ia tahu sahabatnya itu hanya ingin pulang bersama, seperti dulu.
“Boleh,” jawab Arumi pelan. “Tapi sekarang kita beda arah, lho.”
Santi mengerutkan dahi. “Memangnya? Bukannya kita searah?”
Arumi mendekat sedikit, lalu berbisik, “Kamu lupa, ya? Aku sekarang tidak tinggal di rumah ayah lagi. Aku tinggal di kontrakan Mas Elang.”
Santi langsung menepuk dahinya. “Oh iya! Aku sampai lupa,kalau temanku ini sekarang sudah nggak jomblo lagi.”
Arumi tersenyum tipis melihat reaksi sahabatnya.
“Ya sudah, kalau begitu aku pesan ojek saja,” ujar Santi.
Arumi merasa sedikit tidak enak hati. Ia sebenarnya ingin mengantar Santi, seperti biasanya. Namun keadaan sekarang berbeda. Ia memiliki tanggung jawab baru sebagai seorang istri meskipun pernikahan itu terjadi secara mendadak.
“Iya, maaf ya, San,” ucap Arumi lirih. “Kalau saja rumahmu dekat, pasti aku antar. Tapi kamu tahu sendiri … sekarang aku tidak sendiri lagi. Aku harus cepat pulang. Aku juga harus menyiapkan makan untuk Mas Elang.”
Santi tersenyum mengerti. “Iya, aku paham kok. Kamu jangan merasa bersalah begitu. Aku juga sudah pesan ojek, sebentar lagi sampai.”
Arumi mengangguk.
“Kalau begitu aku pulang duluan, ya,” katanya lagi. “Aku tidak enak kalau pulang terlalu sore.”
“Iya, sana pulang. Hati-hati!” balas Santi.
Tanpa menunggu lama, Arumi segera menyalakan motornya dan melaju meninggalkan halaman kantor. Angin sore menerpa wajahnya, membawa perasaan yang entah kenapa terasa hangat.
Hanya butuh waktu sekitar lima belas menit, Arumi sudah sampai di kontrakan tempat ia tinggal bersama Elang.
Saat ia memarkir motornya, sebuah kebetulan terjadi.
Elang juga baru saja tiba, dengan sepeda motor tuanya yang sederhana.
Arumi segera menghampirinya.
“Assalamualaikum,” ucap Arumi lembut, sambil mengambil tangan Elang dan mencium punggung tangannya.
Kini, Elang tidak lagi terkejut seperti awa-awal pernikahan mereka
Awal pernikahan mereka , ketika Arumi melakukan hal yang sama, Elang sempat kebingungan. Bahkan ia sempat menarik tangannya dan justru memberikan uang kepada Arumi, mengira gadis itu meminta uang darinya.
Namun setelah Arumi menjelaskan bahwa itu adalah bentuk penghormatan seorang istri kepada suaminya, Elang akhirnya mengerti.
Meski begitu, uang yang sempat ia berikan tetap tidak ia ambil kembali. Ia meminta Arumi menyimpannya sebagai pegangan.
“Waalaikumsalam,” jawab Elang pelan, membiarkan Arumi mencium punggung tangannya.
“Mas baru sampai?” tanya Arumi.
“Iya, baru saja,” jawab Elang sambil menyandarkan motornya.
Arumi mengangguk. Mereka kemudian berjalan berdampingan masuk ke dalam kontrakan.
“Nanti Mas jualan?” tanya Arumi.
“Iya,” jawab Elang singkat. “Tapi nunggu Bima Dia yang akan menyiapkan semuanya.”
Arumi sedikit heran. “Mas Bima baik, ya. Dia mau menyiapkan dagangan untuk Mas.”
Elang tersenyum tipis. “Itu memang bagian dari tugasnya.”
Arumi menoleh. “Maksudnya?”
“Itu sudah jadi perjanjian kami,” jelas Elang. “Ada sistem bagi hasil.”
Arumi mengangguk pelan. Penjelasan itu cukup masuk akal baginya.
“Oh begitu,” ucapnya. “Kalau begitu Mas mandi dan istirahat dulu saja. Nanti kalau Mas Bima datang, Arumi panggil.”
“Iya,” jawab Elang.
Ia sempat menatap Arumi sejenak, lalu berkata, “Kalau kamu capek, tidak usah masak. Nanti aku pesan saja di warung langganan.”
Ucapan itu membuat hati Arumi terasa hangat.
“Tidak usah, Mas,” jawabnya lembut. “Arumi tidak terlalu capek hari ini. Justru hari ini terasa ringan.”
Elang mengernyit. “Kenapa?”
“Hari ini Arumi tidak dikerjai oleh Rani dan teman-temannya,” jawabnya. “Biasanya mereka selalu datang dan menyuruh Arumi ini itu.”
Elang tampak bingung. Ia mencoba mengingat.
“Rani?” tanyanya. “Siapa itu?”
Arumi menghela napas. “Mas lupa? Rani itu anak dari ibu tiri Arumi. Di kantor, dia jadi sekretaris direktur.”
Elang langsung mengangguk, mulai mengerti.
“Terus, apa yang mereka lakukan padamu?” tanyanya lagi.
Arumi terdiam sejenak, lalu mulai bercerita.
“Mereka sering menyuruh Arumi membeli makanan dan minuman,” katanya pelan. “Kadang juga menyuruh Arumi membersihkan ruangan mereka … padahal itu bukan tugas Arumi.”
Nada suaranya mulai terdengar berat.
“Bahkan, mereka sering melimpahkan pekerjaan mereka ke Arumi. Jadi Arumi harus lembur untuk menyelesaikannya. Tidak jarang Arumi pulang sampai jam sebelas malam.”
Elang terdiam. Wajahnya berubah.
Matanya membulat, menahan amarah yang tiba-tiba muncul.
“Apa?” ucapnya, suaranya meninggi. “Mereka berani melakukan itu padamu?”
Arumi menunduk.
“Mas, Arumi pernah melawan,” katanya pelan. “Arumi pernah menolak. Tapi …”
“Tapi apa?” tanya Elang cepat.
“Rani mengancam,” jawab Arumi lirih. “Kalau Arumi tidak mau, dia akan minta direktur untuk memecat Arumi… dan juga sahabat-sahabat Arumi.”
Elang mengepalkan tangannya.
“Kamu tidak apa-apa kalau dipecat?” tanyanya.
Arumi menggeleng. “Kalau Arumi sendiri, tidak apa-apa. Tapi tidak dengan teman-teman Arumi. Mereka punya keluarga, punya tanggungan. Arumi tidak mau mereka ikut kena imbasnya.”
Elang terdiam.
“Memangnya dia punya kuasa sebesar itu?” tanyanya lagi.
Arumi mengangguk pelan. “Rani itu … simpanan wakil direktur. Apa pun yang dia minta, pasti dikabulkan.”
Ucapan itu membuat suasana menjadi sunyi sejenak.
Namun Arumi segera menggeleng, mencoba mengusir perasaan tidak nyaman itu.
“Sudahlah, Mas,” katanya cepat. “Tidak usah bahas itu lagi. Arumi jadi kesal sendiri.”
Ia lalu tersenyum kecil.
“Mas mandi saja dulu. Arumi mau masak.”
Elang menatapnya sejenak, lalu mengangguk. Tanpa banyak bicara, ia menuruti.
Sementara itu, Arumi langsung menuju dapur kecil di kontrakan tersebut.
Ia mulai menyiapkan bahan-bahan sederhana yang ada.
Hari ini, ia hanya ingin memasak sayur kangkung dan telur goreng. Sementara ayam goreng sisa pagi tadi masih bisa dipanaskan kembali.
Meski sederhana, Arumi melakukannya dengan sepenuh hati.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia memasak bukan hanya untuk dirinya sendiri…
Tetapi untuk seseorang yang kini menyandang status sebagai suaminya.
Meskipun pernikahan itu terjadi secara mendadak …
Entah mengapa, perlahan Arumi mulai merasakan sesuatu yang berbeda.
Sebuah perasaan yang belum bisa ia jelaskan … namun mulai tumbuh, diam-diam, di dalam hatinya.