NovelToon NovelToon
Hanya Bisnis, Sayang

Hanya Bisnis, Sayang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Action
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vanessa_Write

"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."

Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.

Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.

Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Menyusup Rumah Aman

Malam semakin larut ketika mobil SUV hitam yang dikemudikan Adrian perlahan memasuki kawasan perumahan tua di pinggiran faksi pusat. Daerah ini sangat sepi, didominasi oleh deretan bangunan bergaya kolonial yang dipisahkan oleh jarak yang cukup jauh dan rimbunnya pepohonan besar yang saling bertautan di atas jalanan tanah. Penerangan jalan yang minim, hanya mengandalkan lampu merkuri tua yang berkedip redup, yang membuat siluet mobil mereka menyatu sempurna dengan kegelapan malam.

Adrian mematikan seluruh lampu kendaraan beberapa puluh meter sebelum mencapai titik koordinat rumah aman tempat pengacara senior Malik diisolasi. Di balik kemudi, sepasang mata gelapnya langsung menyisir bangunan dua lantai bercat putih kusam di depan mereka. Dua buah mobil jip hitam tanpa logo terparkir melintang di halaman depan, sementara siluet tiga orang penjaga bersenjata lengkap tampak mondar-mandir di dekat teras dengan gestur yang sangat waspada.

"Mereka bukan personel resmi dari Komisi Tindak Integritas," desis Adrian rendah, suara baritonnya terdengar sedingin embun malam yang menusuk tulang. Tangan kirinya bergerak dengan tangkas, memeriksa isi magasin pistol kaliber sembilan milimeter di pangkuannya sebelum memasukkannya kembali dengan bunyi klik yang tegas.

"Mereka adalah tentara bayaran swasta bentukan Vanguard Maritim. Tugas mereka di sini bukan untuk melindungi keselamatan Malik, melainkan untuk memastikan pria tua itu tidak pernah melangkah keluar hidup-hidup dari rumah itu."

Elena yang duduk di sampingnya ikut mengamati situasi dengan saksama melalui celah kaca mobil yang diturunkan sedikit. Kemeja formalnya kini dilapisi kembali oleh rompi taktis tipis yang sempat ia ambil dari kompartemen rahasia di bagasi belakang mobil. Keberanian sejati seorang Alexander berkilat begitu pekat di matanya, menggantikan segala rasa cemas yang sempat mendera sepanjang perjalanan pelarian mereka.

"Tiga orang berjaga di area teras depan, dan berdasarkan denah standar rumah aman tipe ini, kemungkinan besar ada dua atau tiga orang lagi di dalam ruangan yang berjaga langsung di dekat Malik," analisis Elena dengan bisikan taktis yang teratur, memperlihatkan kecerdasan strategisnya. Ia menoleh menatap Adrian, lalu pandangannya turun ke arah lengan kanan suaminya yang masih terbalut perban baru di balik kemeja hitamnya. "Ingat janjimu di mobil tadi, Adrian. Jangan gunakan tangan kananmu untuk menembak atau menahan beban fisik apa pun. Biarkan aku yang membersihkan area sayap kiri."

Adrian melirik Elena, sepasang mata gelapnya menyipit tipis saat sudut lipatan bibirnya terangkat, membentuk guratan senyuman posesif yang sangat intens. "Aku memegang kemudi dengan tangan kiri, Putri Kecil. Dan tangan kiri ini juga sudah lebih dari cukup untuk menghabisi tikus-tikus faksi atas tanpa perlu mengotori perban baruku. Tetap berada tepat di belakang pundakku."

Tanpa menunggu lebih lama, keduanya membuka pintu mobil dengan gerakan yang sangat senyap. Memanfaatkan rimbunnya pepohonan dan bayangan gelap dari pagar tanaman, mereka menyelinap dengan langkah kaki yang nyaris tak terdengar, memotong jalur lurus menuju dinding samping bangunan rumah aman.

KRESEK

Salah satu penjaga bertubuh kekar di teras depan mendadak menghentikan langkahnya. Ia menoleh tajam ke arah semak-semak samping rumah, merasa mendengar gesekan ranting kering yang mencurigakan. Pria berbalut seragam taktis hitam tanpa atribut itu melangkah turun dari teras beton, mengangkat senjata otomatisnya ke depan dada dengan posisi siap tembak. Namun, sebelum ia sempat meneriakkan perintah siaga kepada dua rekannya, sebuah bayangan besar menyergapnya dari balik kegelapan malam.

Adrian bergerak secepat kilat. Menggunakan lengan kirinya yang kokoh dan bebas dari cedera, ia mengunci leher penjaga itu dari belakang dengan teknik cekikan militer yang mematikan. Mengabaikan tarikan perih pada otot pundak kanannya, Adrian menyentak tubuh pria itu ke belakang sementara lutut kirinya menekan pinggang bawah musuh hingga terdengar suara gemertak pelan. Penjaga itu langsung lemas, kehilangan pasokan oksigen, dan tumbang ke atas rumput tanpa sempat melepaskan satu tembakan pun ke udara.

Di saat yang sama, dua penjaga yang tersisa di atas teras menyadari hilangnya rekan mereka secara mendadak. Mereka langsung berputar arah, mengarahkan moncong senjata mereka ke sudut gelap taman. "Hei, ada penya—"

PUFT! PUFT!

Dua tembakan berperedam suara menyalak berturut-turut. Elena melepaskannya dengan sangat tenang dari balik pilar taman. Peluru-peluru berkaliber kecil itu menembus dada kedua penjaga tersebut secara bergantian dengan presisi yang mengejutkan, membuat tubuh mereka terjerembab bersandar di dinding teras, meninggalkan noda merah yang meleleh lambat di atas ubin semen.

Elena menurunkan moncong senjatanya, mengembuskan napas pendek sembari menoleh ke arah Adrian dengan senyuman menantang yang sangat elegan. "Sayap kiri bersih, Tuan Arsa. Persis seperti yang aku janjikan."

Adrian menatap istrinya dengan kilatan rasa takjub dan bangga yang mendalam di matanya. Elena bukan lagi sekadar wanita rapuh yang harus dikurung di dalam ruangan aman, wanita ini telah menjelma menjadi pasangan kekuatan yang sempurna di sisinya. Adrian melangkah maju, meraih pergelangan tangan Elena dengan remasan tangan kiri yang kuat dan hangat, menuntunnya menerobos masuk melalui pintu depan yang kini sudah tidak lagi memiliki penghalang.

Suasana di dalam rumah aman itu remang-remang, hanya diterangi oleh satu lampu gantung kuno di tengah ruang tamu.

Begitu mereka melangkah melewati koridor tengah, pemandangan di dalam ruang kerja langsung tersaji jelas. Seorang pria paruh baya berambut putih dengan setelan kemeja yang sudah kusut tampak duduk terikat kuat di sebuah kursi kayu. Pria tua itu adalah pengacara senior Malik, mantan ketua komisi hukum KTI yang sengaja diisolasi. Di belakangnya, seorang pria bertato raksasa di sepanjang lehernya sedang berdiri sembari memegang sebotol minuman keras.

Pria bertato itu tersentak kaget meLihat kehadiran Adrian dan Elena yang muncul bagai hantu dari kegelapan pintu masuk. Ia langsung bergerak panik, menjatuhkan botolnya hingga pecah berantakan dan hendak meraih pistol yang tergeletak di atas meja kayu di sampingnya. Namun, kecepatan reaksi Adrian berada di level yang berbeda.

Dengan satu gerakan sentikan tangan kiri yang luar biasa cepat dan presisi, Adrian melemparkan sebilah pisau taktis kecil yang tersembunyi di balik rompinya.

JLEB!

Pisau itu menancap tepat di tengah punggung tangan kanan pria bertato tersebut, memakukannya dengan keras di atas permukaan meja kayu. Jeritan kesakitan yang luar biasa tertahan keluar dari mulut pria itu.

Sebelum ia sempat menggunakan tangan kirinya untuk membalas, Elena sudah melangkah maju dengan cepat, mengayunkan popor pistolnya ke arah tengkuk pria bertato itu hingga tubuh raksasanya ambruk pingsan ke lantai.

Malik mendongak dengan napas terengah-engah, matanya terbelalak lebar seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan. "Adrian Arsa... Nyonya Elena... bagaimana bisa kalian sampai ke tempat ini? Seluruh jaringan media dan unit taktis di faksi pusat sedang memburu kalian sebagai buronan wilayah!"

Elena dengan cepat berlutut di depan Malik, menggunakan pisau taktis lain untuk memotong tali nilon tebal yang mengikat dada dan pergelangan tangan pria tua itu.

"Kami datang untuk membalikkan keadaan yang mereka manipulasi, Tuan Malik. Komisi Tindak Integritas telah disusupi oleh pejabat tinggi korup yang dibayar penuh oleh Vanguard Maritim untuk memalsukan bukti kita."

Malik menggosok pergelangan tangannya yang memar kebiruan setelah terbebas dari ikatan, ekspresi wajahnya yang lelah seketika berubah menjadi sangat serius dan dipenuhi oleh amarah hukum yang terendam. "Kalian benar. Begitu sisa data tingkat tiga yang kalian kirimkan kemarin sore masuk ke dalam server utamaku, faksi atas langsung bergerak agresif. Mereka menyuap dewan pengawas KTI untuk menonaktifkanku secara sepihak dan merilis pernyataan palsu ke media internasional. Mereka sengaja mengisolasiku di sini agar besok pagi tim IT mereka bisa menghapus sisa data itu dari server pusat secara permanen."

Adrian berdiri tegak di tengah ruangan, mengabaikan denyut perih dari luka jahitannya yang kembali terasa hangat oleh rembesan darah baru. Aura dominannya yang pekat kembali menyelimuti seluruh atmosfer ruangan, memberikan ketegangan taktis yang mutlak. Pria itu merogoh saku rompinya dengan tangan kiri, mengeluarkan sebuah perangkat pemancar satelit portabel berukuran kecil dengan antena enkripsi militer, lalu meletakkannya tepat di depan Malik.

"Mereka berhasil mengisolasi Anda dari sistem fisik KTI, tapi mereka tidak akan pernah bisa mengisolasi Anda dari jaringan satelit militer swasta milik Arsa Group," ucap Adrian dengan nada baritonnya yang tebal, lambat, namun sarat akan otoritas absolut yang tak terbantahkan. "Tuan Malik, gunakan perangkat pemancar ini untuk meretas masuk kembali ke dalam sistem inti hukum KTI menggunakan kode akses enkripsi tingkat tinggi milik Anda yang belum sempat mereka hapus. Kita ledakkan seluruh manifes suap Vanguard Maritim ke seluruh jaringan global malam ini juga."

Malik menatap perangkat satelit militer di depannya dengan binar mata yang kembali menyala, lalu ia mendongak, menatap Adrian dan Elena secara bergantian dengan senyuman penuh determinasi seorang penegak hukum sejati. "Gembok hukum palsu yang mereka buat untuk mencekik kalian... akan kita hancurkan berkeping-keping sekarang."

......BERSAMBUNG......

1
Bu Dewi
seru kak alur ceritanya😍😍😍👍
VanessaJournal: terima kasih atas support nya kak! 😊🙏🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!