Larasati, gadis desa sederhana, percaya bahwa pernikahannya dengan Reza Adiguna akan membawa kebahagiaan. Namun semua harapan itu hancur di hari ia melahirkan—anaknya direbut, dirinya diceraikan, dan ia dicampakkan tanpa sempat memeluk buah hatinya.
Sendiri dan hancur, Larasati berjuang bertahan hidup di tengah kota yang asing. Hingga takdir mempertemukannya dengan Hajoon Albra Brajamusti, pria yang dulu pernah dikenalnya tanpa sengaja.
Dengan keberanian yang tumbuh dari luka, Larasati menyamar sebagai ibu susu demi bisa dekat dengan anaknya kembali.
Di tengah perjuangannya, hadir perasaan yang tak pernah ia duga.
Apakah Larasati sanggup merebut kembali anaknya sekaligus menemukan arti cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Anak Kamu! 01
Eughhhhhh
Oweeeek
Tarikan nafas panjang di ruangan itu dan suara tangis bayi mendakan bahwa seorang anak telah lahir ke dunia. Larasati, wanita berusia 25 tahun tersebut tersenyum dengan haru saat sang anak yang dia kandung selama 9 bulan itu lahir dengan selamat.
Namun, kebahagiaannya itu sirna dalam sekejap saat suaminya masuk ke dalam ruang bersalin.
Laras pikir ia akan mendapat sebuah pelukan dan ciuman dari Reza Adiguna, setelah melahirkan buah hatinya.
Ekspektasi tidak seindah realita. Ungkapan itu agaknya benar-benar dia rasakan. Alih-alih mendapatkan ucapan terimakasih, Laras malah mendapat kata yang paling menakutkan di dunia ini bagi seorang istri.
"Laras aku jatuhkan talak ke kamu. Mulai sekarang kita bukan lagi suami istri. Di amplop ini ada dokumen perceraian kita. Cepat tanda tangani itu."
Doeeeeng
Rasa sakit melahirkan saja masih sangat terasa. Luka itu juga masih sangat basah. Perjuangan antara hidup dan mati juga baru saja dia lakukan, tapi suaminya malah menceraikannya.
Dokumen perceraian yang ada di samping brankar mendakan bahwa perceraian tersebut sudah dipersiapkan sejak lama.
"Kenapa Mas, kenapa kamu ngelakuin itu ke aku? Aku istrimu, selama ini kita udah sama-sama. Kita nggak pernah ribut, aku selalu patuh sama kamu. Terus kenapa kamu menceraikan ku tanpa sebab begini. Buah hati kita, anak kita baru saja lahir. Apa salahku, Mas? Apa salahku?" ucapnya lemah.
Tangis Laras langsung pecah. Pria yang dia anggap rumahnya itu ternyata tidak lah sesungguhnya rumah. Malah lebih mirip jurang dalam yang gelap.
"Anak kita? bukan, itu bukan anak kita. Atau tepatnya itu bukan anakmu. Itu adalah anakku dengan Eva. Kamu hanya bertugas untuk mengandung dan melahirkannya saja," kata Reza. Matanya menatap tajam ke arah Laras.
Jegleeeer
Bagai di sambar petir di siang bolong, Laras amat sangat terkejut dengan ucapan Reza. Dia menggelengkan kepalanya dengan kuat. Wanita itu bahkan mencubit tangannya, berharap bahwa ini adalah mimpi.
Namun rasa cubitan itu sakit yang bertanda bahwa semua ini nyata. Bukan mimpi ataupun halusinasinya.
"Nggak gitu, kamu bohong kan Mas. Eva, siapa dia? Terus mengapa anak yang baru saja kulahirkan bukan anakku. Jelas aku yang mengandungnya dan melahirkannya. Nggak, kamu pasti bohong kan, Mas. Kamu pasti cuma bercanda kan ya? Iya kan?"
Laras berusaha bangkit, tapi ternyata sulit karena area bawahnya masih sangat sakit sebab persalinan. Dia ingin meraih tangan Reza, dan berharap bahwa semua yang dikatakan suami atau lebih tepatnya mantan suaminya itu hanya gurauan semata.
Tapi mata Laras tentu tidak buta. Tatapan tajam dari Reza seolah berkata bahwa semua itu benar.
Tap tap tap
Suara langkah kaki datang mendekat. Seorang wanita muncul dengan menggendong bayi. Wanita itu terlihat anggun dan cantik. Dia lebih tinggi darinya. Kulit tubuhnya putih, wajahnya bersih tak ada cela. Rambutnya lurus sebahu. Sungguh wanita yang elegan khas wanita kaya.
"Ini Eva, dia adalah istriku. Dan anak ini adalah anak kami."
Jleb!
"Nggak Mas. Dia anakku. Aku mohon, dia anakku Mas. Jangan ambil anakku, aku mohon. Kamu boleh ceraikan aku, tapi jangan ambil anakku!"
Bruk!
Aaaarghhhh
Laras terjatuh dari brankar, dia tampak kesakitan. Tapi Reza sama sekali tidak peduli akan hal itu. Malah mata Reza seolah menatap dengan penuh kebencian.
"Aku menikahi mu hanya untuk mendapatkan anak ini. Sekarang tugasmu sudah selesai. Mulai sekarang, kita tak ada lagi hubungan. Ingat, dia adalah anak kami, bukan anakmu," ucap Reza tajam. Sungguh pria itu tidak berperasaan sama sekali. Bahkan melihat darah yang mengalir dari tubuh Laras pun dia hanya bergeming.
"Nggak Mas, tolong jangan bawa anakku. Kamu boleh ceraikan aku, tapi aku mohon jangan bawa anakku. Tolong biarkan aku melihatnya. Biarkan aku memeluknya. Aku ingin menyusuinya sebentar, aku mohon Nyonya. Aku mohon," ucap Laras sekali lagi.
Rengekan dari Laras sama sekali tidak digubris oleg Reza dan Eva. Mereka bahkan melenggang pergi tanpa menoleh ke belakang meskipun hanya sebentar. Mereka sungguh tidak punya hati.
Bruk!!!
Laras ambruk. Dia kehilangan kesadaran. Tim medis pun dengan cepat datang, menaikkan tubuh laras ke atas brankar dan melakukan tindakan.
Wanita yang baru melahirkan itu kehilangan kesadaran. Namun dia tidak sepenuhnya hilang pikiran. Di bawah alam sadarnya, bayangan tentang manisnya cinta dan hangatnya mahligai pernikahan.
Tawa bahagia yang menghiasi hari-harinya selama menikah juga terlintas. Perlakuan manis Reza, kelembutan pria itu dalam memperlakukan membuat Laras jatuh cinta sejatuh-jatuhnya.
Dia bahkan merasa bahwa dunia akan baik-baik saja meski hanya ada Reza di sisinya. Ayahnya sebagai orang tua terakhir yang dimiliki telah pergi untuk selama-lamanya belum lama setelah dirinya menikah. Sehingga bagi Laras, Reza adalah dunianya, Reza adalah rumahnya.
Hiks hiks
Ketika membuka mata, Laras menumpahkan semua air matanya. Kenangan indah dan manis itu kini lenyap sudah. Semua hancur berkeping-keping dan tak lagi bisa di satukan.
Beberapa petugas medis nampak iba melihat Laras yang terhanyut dalam kepedihan itu. Namun ada juga yang mencibirnya.
"Itulah nasib pelakor. Mau gimanapun bakalan menang istri sah kemana-kemana."
"Tapi gimanapun dia tetep kasihan, anaknya diambil begitu aja. Dia bahkan belum lihat sepeti apa anak yang dilahirkannya."
Ucapan-ucapan itu terdengar jelas di telinga Laras. Hatinya yang saat ini hancur semakin hancur. Ingin sekali dia berteriak bahwa dirinya bukanlah perebut suami orang. Namun apa daya, dia tidak punya kekuatan untuk itu. Lagi pula, percuma menjelaskan kepada orang lain tentang fakta yang sebenarnya.
Hiks hiks
Laras hanya bisa menangis. Dokumen perceraian itu hanya diliriknya sekilas. Mau ditandatangi atau tidak, toh sekarang dia dan Reza sudah tidak bisa lagi bersama. Talak 3 sudah dijatuhkan, itu bertanda dirinya sampai kapanpun tidak akan pernah bisa kembali lagi kepada pria itu.
Pedih, perih, sakit, Laras bahkan merasa tak sanggup untuk bernafas. Rasa sakit bagian bawahnya masih jelas bisa dirasakan, akan tetapi dia bahkan sama sekali tidak bisa melihat buat hatinya.
"Ya Allah, mengapa begini? Mengapa Engkau memberiku cobaan yang begitu berat? Apa salah ku? Apa kesalahan yang telah aku perbuat sehingga Engkau memberiku rasa sakit yang tiada kiranya ini. Lebih baik Kau cabut nyawaku sekarang juga agar rasa sakit atas semua penderitaan dan penghinaan ini tak kurasakan."
Darah dari alat vitalnya masih terus menerus keluar. Laras bahkan menerima darah tambahan. Tapi dia seolah tidak peduli. Dia sama sekali tidak ingin hidup. Dan bahkan jika dia mati karena kehabisan darah, itu malah akan jadi hal baik baginya.
Namun agaknya Tuhan berkehendak lain. Laras yang di rawat 2 hari penuh di rumah bersalin itu sudah kembali sehat tubuhnya tapi tentu saja tidak dengan psikisnya.
Jiwa Laras jelas terguncang dengan kenyataan buruk yang bertubi-tubi. Dia pun kembali ke rumah, rumah yang tentu saja bukan rumahnya karena itu adalah rumah pemberian Reza meskipun sudah atas namanya. Rumah yang kosong dan sunyi itu menjadi satu-satunya temannya saat ini.
"Mati, ya aku ingin mati saja sekarang. Aku tak sanggup untuk hidup. Aku ingin mati membawa semua rasa sakit ini."
TBC
Disclaimer:
Intinya dalam sebuah cerita itu ada sebabnya. Jadi jangan ada yang bilang, "seharusnya cari tahu dulu." "masa bisa nggak tahu?"
Ya kalau kayak gitu, nggak bakalan jadi cerita kan ya heheh.
Dan lagi, ada nama-nama karakter yang mungkin bakalan bikin kalian nggak suka atau menurut kalian terkesan aneh. Hal itu emang udah aku konsep kayak gitu ya. Jadi silakan dinikmati saja.
Kalau suka sila lanjut baca. Kalau tak suka tak apa, silakan di skip. Salam penuh cinta dari Author. Makasih.