NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Maullll

"Pernikahan yang Tidak Diinginkan" bercerita tentang Kirana Putri, seorang wanita muda yang cantik dan berhati lembut, yang terpaksa harus menikah dengan Arga Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkenal dingin, tegas, dan tak tersentuh.

Pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah perjanjian bisnis dan kewajiban keluarga untuk menyelamatkan perusahaan ayah Kirana dari kebangkrutan. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah formalitas dan cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya, sementara bagi Kirana, ini adalah pengorbanan besar demi keluarganya.

Sejak hari pertama, rumah tangga mereka dipenuhi dengan kebekuan. Mereka hidup satu atap layaknya dua orang asing—saling menghormati tapi jauh dari kata dekat, sering bertengkar karena salah paham, dan masing-masing menyimpan perasaan terpaksa.

Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah sikap dingin dan pertengkaran, benih-benih perhatian mulai tumbuh perlahan. Mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: KETIKA KELUARGA LEBIH BERHARGA DARI SEGALANYA

(FLASHBACK: BEBERAPA JAM SEBELUM ARFAN LAHIR)

Suasana di Grand Ballroom Hotel Bidakara pagi itu terasa sangat megah dan penuh tekanan. Ribuan orang hadir memenuhi ruangan yang dihiasi bunga-bunga mewah dan pencahayaan yang sangat elegan. Spanduk besar bergambar logo perusahaan Wijaya Corp terpasang gagah di dinding utama, bertuliskan: "PELUNCURAN PROYEK ICONIC CITY - MASA DEPAN INDONESIA".

Ini adalah proyek terbesar dan termahal yang pernah digarap Arga seumur hidupnya. Nilainya mencapai triliunan rupiah, melibatkan beberapa investor dari luar negeri, dan disaksikan oleh pejabat tinggi negara serta ratusan awak media.

Di atas panggung, berdiri seorang pria tampan dengan setelan jas hitam yang sangat rapi, dasi yang sempurna, dan aura kepemimpinan yang sangat kuat. Dia adalah Arga Ganendra Wijaya.

Wajahnya tampak tenang, tatapannya tajam dan berwibawa. Dia sedang menyampaikan pidato pembukaan dengan suara yang lantang dan percaya diri.

"...dan dengan visi ini, kami yakin bahwa Iconic City tidak hanya akan menjadi pusat bisnis, tetapi juga menjadi rumah impian bagi ribuan keluarga di masa depan. Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada kami..."

Suara tepuk tangan gemuruh menggema di seluruh ruangan. Semua mata memandang kagum pada sosok muda yang begitu hebat memimpin perusahaan raksasa.

Di samping panggung, para asisten, manajer, dan tim hukum tampak tegang namun lega. Segalanya berjalan sesuai rencana. Acara berjalan lancar, sempurna, dan megah.

Namun, di balik ketenangan dan kesuksesan yang terpancar di luar, ada satu hal yang terus mengganjal di hati dan pikiran Arga.

Di dalam saku jasnya yang mahal itu, terselip sebuah ponsel yang menjadi nyawa kedua baginya. Sejak pagi, tangannya sering kali meraba-raba saku itu, memastikan ponsel itu ada di sana dan suaranya dalam mode getar paling keras.

Pikirannya terbagi dua. Sebagian ada di sini, di depan ribuan orang yang menuntut profesionalisme yang tinggi. Namun sebagian besar hatinya... melayang pulang ke rumah, menunggu kabar dari wanita yang paling dicintainya.

'Tuhan, lindungi Kirana dan bayi kita. Semoga semuanya lancar,' batin Arga berdoa dalam hati di sela-sela senyum profesionalnya.

Setelah pidato selesai, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan perbincangan santai dengan para investor asing. Arga harus tampil cerdas, menjawab setiap pertanyaan rumit dengan santai namun tajam.

"Mr. Wijaya, kami sangat terkesan dengan skala proyek ini. Bagaimana strategi Anda menghadapi resiko ekonomi global?" tanya seorang investor bule dengan logat tebal (ini orang bule tanya pakai bahasa inggris ya.🤭)

Arga tersenyum, siap menjawab dengan data yang sudah dihafalnya di luar kepala.

"Tentu saja, Sir. Kami melihat bahwa..."

DRRTTTT! DRRTTTT! DRRTTTT! GETARAN HP

Tiba-tiba, getaran kuat terasa di saku jas Arga.

Waktu seakan berhenti detik itu juga.

Senyum di wajah Arga lenyap seketika. Wajahnya yang tadi pucat pasi kini berubah menjadi lebih pucat lagi. Tangannya refleks merogoh saku dengan cepat.

Layar ponsel menyala, dan nama yang muncul membuat jantungnya seakan copot:

❤️ RUMAH ❤️

Ini panggilan dari rumah! Itu tandanya... waktunya sudah tiba!

Tanpa mempedulikan tatapan heran orang-orang di sekelilingnya, tanpa peduli dia sedang berbicara dengan orang penting, Arga langsung mengangkat telepon itu.

"Halo?! Sayang?! Kenapa?!" suaranya berubah total. Ketenangannya hilang, digantikan oleh nada panik yang tak bisa di disembunyikan.

Di seberang sana, terdengar suara napas memburu dan erangan sakit yang sangat menyakitkan.

"Ar... Argaaa... sakit... perutku sakit banget... kayaknya... kayaknya waktunya udah dekat, Ar..."

DEGHHH!!!

Jantung Arga serasa diremas dengan kuat.

"APA?! SEKARANG?!" teriaknya tanpa sadar cukup keras, membuat beberapa orang di dekatnya menoleh kaget.

"I... iya... cepetan ya Ar..." sambungan terputus.

Arga menatap layar ponselnya kosong sejenak. Dunia di sekelilingnya seakan menjadi bisu. Proyek besar, uang triliunan, pejabat, investor... semua itu tiba-tiba terasa tidak ada artinya sama sekali dibandingkan suara isterinya yang kesakitan tadi.

Dia sadar, dia berdiri di sini hari ini demi masa depan keluarganya. Tapi jika dia tidak ada di sana saat isterinya membutuhkannya, untuk apa semua kesuksesan ini?

Tanpa pikir panjang, Arga mengambil keputusan secepat kilat.

Dia menoleh ke arah asisten pribadinya yang berdiri cemas di belakang.

"Pak Arga, bagaimana? Acara belum selesai, tamu penting masih banyak..." bisik asistennya cepat.

Arga melepas dasinya dengan gerakan kasar namun tetap terlihat gagah, matanya berkilat tegas.

"Batal! Semuanya tunda atau alihkan ke Pak Herman!" perintah Arga tegas.

"Tapi Pak! Ini investor dari Jepang dan Eropa! Reputasinya..."

"REPUTASI BISA DIPERBAIKI! NYAWA DAN KELUARGA SAYA TIDAK BISA DIGANTI!" potong Arga keras, suaranya cukup terdengar membuat suasana menjadi hening.

"Katakan pada mereka, pemimpin perusahaan ini adalah manusia yang punya keluarga. Isteri saya sedang berjuang melahirkan anak kami, dan saya harus ada di sana. Kalau mereka menghargai saya, mereka akan mengerti. Kalau tidak, urusan belakangan!"

Arga tidak peduli lagi. Dia melangkah turun dari panggung dengan langkah lebar dan cepat. Orang-orang yang berada di jalannya otomatis minggir memberi jalan, menatap heran bercampur hormat melihat pemandangan itu.

Seorang CEO muda yang berani meninggalkan acara sebesar ini hanya demi berlari pulang ke isterinya.

"Pak Arga! Kunci mobilnya!" seorang staf menyerahkan kunci mobil sport mewahnya.

"Thanks!" Arga menyambarnya, lalu berlari menuju pintu keluar dengan kecepatan tinggi.

Di dalam lift, saat pintu tertutup, barulah topeng kuat itu sedikit runtuh. Arga menyandarkan punggungnya ke dinding lift, nafasnya memburu bukan karena kelelahan berlari, tapi karena rasa cemas yang luar biasa.

"Ya Allah... lindungi mereka... jangan biarkan apa-apa terjadi pada mereka... ampuni saya kalau saya tidak profesional hari ini, tapi saya tidak bisa kehilangan mereka..." bisiknya parau, tangannya gemetar menahan kekhawatiran.

Saat sampai di lobi, mobilnya sudah siap. Arga langsung melompat masuk, menyalakan mesin, dan melaju secepat kilat meninggalkan hotel mewah itu.

 

Di dalam mobil, adrenalin Arga memuncak. Kakinya menginjak pedal gas dalam-dalam. Jalanan kota yang biasanya macet, seolah memberi jalan bagi mobilnya yang melaju kencang.

Pikirannya melayang ke masa-masa indah bersama Kirana. Wanita sederhana yang mengubah hidupnya menjadi 180 derajat. Wanita yang sabar mendampinginya, yang memberinya anak-anak hebat, yang selalu ada saat dia susah maupun senang.

'Kamu harus kuat ya Sayang... tunggu Ayah... Ayah datang...'

Di sepanjang perjalanan, dia tidak henti-hentinya berdoa. Rasa bersalah bercampur rasa rindu dan takut bercampur menjadi satu.

Tiba-tiba teringat percakapan dia dengan Opa di Belanda dulu.

'Harta dan jabatan itu cuma titipan. Yang bakal bikin kamu tenang cuma keluarga.'

Betapa benar kata-kata itu saat ini. Di detik-detik kritis ini, dia tidak butuh uang, tidak butuh kekuasaan. Dia cuma butuh Kirana selamat, dan bayinya lahir dengan selamat.

Arga menyalip mobil demi mobil, klaksonnya berbunyi nyaring membelah hiruk pikuk kota. Fokusnya hanya satu: Rumah Sakit. Harus sampai!

 

(Sekarang kembali ke masa kini)

Suasana di ruang keluarga kembali hangat. Arfan yang sudah berusia beberapa bulan tertawa renyah di pangkuan Arga, sementara Kirana tersenyum manis melihat suami dan anaknya bermain.

Arga menatap wajah isterinya dalam-dalam, seolah ingin mengatakan betapa beruntungnya dia.

"Sayang..." panggil Arga pelan.

"Ya?" jawab Kirana lembut.

"Dulu waktu kamu lahiran Arfan, kamu tahu nggak? Ayah lagi di panggung gede banget, di depan ratusan orang penting," cerita Arga sambil mengelus punggung kecil Arfan.

"Terus?" tanya Kirana penasaran.

"Terus pas denger suara kamu di telepon, semua dunia rasanya langsung hancur dan terbentuk ulang. Semua yang penting di luar sana jadi nggak penting sama sekali," ucap Arga tulus. "Ayah lari ninggalin semua orang, ninggalin proyek triliunan, cuma buat buru-buru ke sini. Karena buat Ayah, kamu dan anak-anak itu jauh lebih berharga dari segalanya di dunia ini."

Mata Kirana berkaca-kaca mendengarnya. Dia memegang tangan suaminya yang besar dan kokoh itu.

"Kamu gila ya... tapi..." air mata bahagia menetes, "tapi aku bahagia banget dengarnya. Makasih ya Ar, udah selalu milih kita."

"Selamanya bakal milih kamu, Ran. Selamanya," janji Arga tegas.

Momen itu menjadi bukti nyata bahwa cinta sejati bukan hanya soal kata-kata manis, tapi soal pilihan. Dan Arga, tidak pernah salah memilih. Keluarganya adalah prioritas utama, selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!