Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.
Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.
Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
“Tadi masih ngobrol sebentar sama beberapa santri.”
Ia lalu duduk di kursinya sambil melepas peci perlahan. Ummi Hafizah lalu menuangkan teh hangat untuk suaminya sebelum akhirnya berkata,
“Oh iya abi.”
“Iya?”
“Baju koko dan sarung buat Shaka sudah ummi siapkan.”
Ustadz Haidar langsung menoleh.
“Alhamdulillah, terima kasih ya ummi.”
Ummi Hafizah mengangguk.
“Tadi malam ummi ambil beberapa yang masih bagus untuk Shaka.”
Hanindya yang sedari tadi diam langsung sedikit memperhatikan pembicaraan itu.
“Untuk Shaka?” tanyanya pelan dan membuat Ustadz Haidar mengangguk kecil sambil mengambil gelas tehnya.
“Iya.”
Hanindya terlihat berpikir sebentar. Nama itu kembali mengingatkannya pada lelaki tinggi berwajah keras yang tadi subuh berdiri di samping Ustadz Ilyas. Lelaki yang tampak begitu berbeda dari santri lain dan entah kenapa sejak tadi pagi Hanindya memang dibuat sedikit penasaran padanya. Bukan karena hal lain tapi karena ada sesuatu yang berbeda dari tatapan mata lelaki itu yang terlihat sangat lelah. Seperti seseorang yang sudah terlalu lama hidup dalam kekacauan. Hanindya akhirnya berkata pelan,
“Abi...”
“Hm?”
“Shaka itu santri baru ya?”
Pertanyaan itu membuat Ustadz Haidar menoleh pada putrinya.
“Iya.”
Hanindya kembali bertanya dengan hati-hati,
“Hanin baru lihat dia tadi subuh.”
Ustadz Haidar mengangguk pelan.
“Dia memang baru datang.”
“Dia akan tinggal di sini ya, Abi?”
“Iya,” jawab Ustadz Haidar tenang. “Dia akan belajar di pesantren ini.”
Hanindya diam sebentar. Pemuda itu akan belajar agama di pesantren ini? Entah kenapa ia sedikit terkejut mendengarnya, karena jujur saja penampilan Shaka memang tidak terlihat seperti orang yang terbiasa hidup di lingkungan pesantren. Namun Hanindya tidak bertanya lebih jauh, ia hanya mengangguk kecil sementara Ummi Hafizah yang duduk di samping suaminya diam-diam memperhatikan putrinya.
Ummi Hafizah tahu Hanindya memang mudah merasa iba pada orang lain. Ustadz Haidar lalu kembali berkata,
“Berikan Shaka waktu untuk menyesuaikan diri di pesantren ini, Abi yakin dia bisa menjadi santri dan pemuda yang baik di masa depan kelak.”
Hanindya perlahan mengangguk lagi.
“Iya abi.”
Suasana kembali tenang beberapa saat. Suara sendok dan piring kecil terdengar pelan di meja makan, lalu tiba-tiba Ustadz Haidar kembali berbicara.
“Hanin.”
“Iya abi?”
“Nanti abi minta tolong.” Hanindya langsung menoleh. “Tolong antarkan baju koko dan sarung itu ke kamar Shaka.”
Hanindya sedikit terdiam.
“Sekarang?”
“Setelah sarapan tidak apa-apa.”
Hanindya terlihat berpikir sebentar namun akhirnya mengangguk pelan.
“Iya abi." Jawab Hanindya yang membuat Ustadz Haidar tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
Pagi di pondok pesantren itu perlahan mulai benar-benar hidup.
Cahaya matahari yang tadi hanya muncul samar di ufuk timur kini mulai menyelinap masuk ke sela-sela pepohonan yang tumbuh di sekitar area pesantren. Embun subuh yang menempel di daun-daun perlahan menghilang tersentuh hangat matahari pagi. Dari kejauhan terdengar suara beberapa santri yang sedang berjalan menuju kelas sambil membawa kitab di tangan mereka. Ada yang bercanda kecil dengan temannya, ada juga yang berjalan sambil mengulang hafalan pelan-pelan.
Suasana pondok terasa damai. Sangat berbeda dengan pagi-pagi yang biasa dialami Shaka selama bertahun-tahun hidupnya.
Tidak ada suara motor liar. Tidak ada teriakan mabuk. Tidak ada asap rokok bercampur alkohol ataupun umpatan kasar yang biasa memenuhi telinganya setiap bangun pagi. Yang ada justru suara burung, langkah sandal para santri, dan lantunan ayat Al-Qur’an dari salah satu kamar yang pintunya sedikit terbuka. Dan anehnya, suasana itu membuat Shaka merasa semakin asing. Setelah kajian subuh selesai tadi, para santri akhirnya kembali ke asrama masing-masing untuk bersiap mengikuti kelas pagi. Beberapa santri yang tadi sempat menyapanya juga beberapa kali masih mencoba mengajak Shaka berbicara meski lelaki itu tetap menjawab seperlunya.
Kini Shaka berada di kamar kecil yang sementara ditempatinya di asrama putra.
Kamar itu sederhana sekali. Hanya ada kasur tipis di lantai, lemari kayu kecil di sudut ruangan, rak sederhana untuk menyimpan kitab, dan jendela kecil yang menghadap ke halaman belakang pesantren. Shaka duduk di pinggir kasur sambil menatap kosong jadwal kegiatan pesantren yang tadi diberikan oleh Ustadz Haidar.
Tangannya memegang lembaran kertas itu cukup lama. Shaka mengusap wajahnya dengan pelan. Ia masih sulit percaya kalau sekarang dirinya benar-benar tinggal di tempat seperti ini. Baru beberapa jam lalu ia masih merasa seperti orang asing yang tidak pantas berada di mushola itu. Namun sekarang ia malah duduk di kamar pesantren sambil memegang jadwal kehidupan baru yang sama sekali belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Pelan-pelan Shaka menghembuskan napasnya dengan kasar lalu matanya tanpa sadar kembali mengingat sosok perempuan berjilbab merah muda itu, Hanindya dan membuat rahangnya sedikit mengeras.
“Astaga...” gumamnya pelan sambil menunduk.
Kenapa sejak tadi wajah perempuan itu terus muncul di kepalanya? Padahal mereka baru bertemu beberapa jam lalu. Shaka langsung mengacak rambutnya frustrasi lalu berdiri dari duduknya. Ia mencoba mengalihkan pikirannya dengan bersiap menuju kelas pagi. Namun baru saja ia hendak bersiap siap, tiba-tiba—
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pelan terdengar dari pintu kamarnya dan membuat Shaka langsung menoleh cepat. Keningnya sedikit berkerut. Siapa yang datang ke kamarnya pagi-pagi begini? Untuk beberapa detik ia diam sebelum akhirnya berjalan mendekati pintu.
Tok... tok...
Suara ketukan itu terdengar lagi. Shaka langsung membuka pintu kamar tanpa banyak berpikir dan detik berikutnya tubuhnya langsung sedikit menegang. Di depan pintu berdirilah Hanindya. Untuk sesaat Shaka benar-benar terdiam.Perempuan itu berdiri dengan gamis panjang berwarna krem pagi ini. Tangannya memegang sebuah dus sedang berwarna coklat. Pandangannya tertunduk sopan seperti sebelumnya sementara Shaka justru mendadak merasa jantungnya berdetak aneh.
Astaga, kenapa Hanindya ada di depan kamarnya? Beberapa detik suasana terasa canggung, bahkan Shaka sampai lupa harus bicara apa. Hanindya sendiri tampak tetap tenang meski jelas menjaga sikapnya dengan hati-hati mengingat ia berdiri di area asrama putra. Ia tidak mengangkat pandangannya terlalu tinggi.
“Assalamualaikum,” ucap Hanindya dengan lembut.
Suara itu lagi, suara lembut yang entah kenapa selalu membuat Shaka mendadak gugup seperti orang bodoh. Shaka cepat-cepat tersadar.
“Wa... waalaikumsalam,” jawab Shaka dengan sedikit kaku.
Hanindya lalu berkata pelan,
“Abi meminta saya mengantarkan ini untuk kak Shaka.”
Pelan-pelan perempuan itu menyodorkan dus yang ada di tangannya dan membuat Shaka menatap dus itu beberapa detik sebelum kembali melihat Hanindya.
"Ini untuk saya?" tanya Shaka pelan dan membuat Hanindya mengangguk kecil.
“Di dalamnya ada beberapa baju koko dan sarung.” Suaranya tetap lembut dan tenang. “Ummi yang menyiapkannya.”
Dengan ikhtiar, tawakal dan kesabaran, setiap langkah menuju jodoh bisa menjadi jalan ibadah yang diridhai Allah.
Kondisi dalam hubungan percintaan barangkali tidak akan semulus kelihatannya.
Tentu saja setiap orang akan selalu berharap mendapatkan pasangan yang ia cintai dan mencintai dirinya. Akan tetapi, dalam hidup tentu harus realistis.
Tidak semua yang kita inginkan itu bisa terwujud.
Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui".
Percayakan kepada Allah yang Maha Mengetahui, Allah Sang Pemilik Hati Manusia. Jodohmu sudah diatur oleh-Nya...🤭
Sholawat ini diciptakan oleh Imam Bushiri, penyair sekaligus ulama yang tersohor di kalangan umat Muslim.
Kata burdah secara bahasa diartikan sebagai mantel.
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa burdah berasal dari kata bur’ah yang berarti shifa (kesembuhan).
Sholawat Burdah sendiri merupakan sajak-sajak pujian kepada nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, semangat perjuangan, dan sebagainya.